Because, I Love You

Because, I Love You
#BILYS3 273



Ke esokan harinya, Exelle tanpa sengaja bertemu Joe di suatu pusat perbelanjaan. Tampak Exelle sedang mencoba sebuah parfum. Begitupun Joe yang baru saja memasuki pusat perbelanjaan tersebut. Joe sedikit terkejut, lalu kemudian dia menyeringai saat mereka saling bertatapan.


"Ex, kemarilah! Kau pasti suka ini."


Abelia muncul dengan menyemprotkan satu botol parfum ke leher Exelle. Dia sedikit menghindar karena takut mengenai wajahnya.


Sontak Joe bertepuk tangan. Mendengar hal itu Exelle mengernyit, begitupun dengan Abelia yang seketika menoleh ke belakang. Karena dia tidak mengetahui keberadaan orang di depan Exelle yang ternyata musuh bebuyutan Exelle.


"Woah, kau memang hebat Ex." Ujar Joe dengan tepukan tangan lagi.


"Aaakh, sial. Dia pasti berpikir macam-macam." Jawab Exelle dengan lirih, mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.


"Kenapa, Ex? Kau merasa jika ketahuan belangmu? Ternyata kau memang benar playboy. Sungguh baji****!" Joe mulai mengumpat.


"Hei, siapa kau? Kasar sekali. Ex, kau memgenalnya?" Ucap Abelia yang lalu bertanya dengan kebingungan pada Exelle.


"Hmm... Dia teman ku." Jawab Exelle singkat.


"Hah? Teman? Hahaha. Teman duel maksudnya?" Jawab Exelle dengan tawa jahat.


"Lia. Kau sudah selesai kan? Ayo kita pulang, aku sudah selesai juga." Ajak Exelle pada Abelia, mengabaikan ucapan Joe yang mulai memancing emosi dan beranjak pergi ketika Abelia menyanggupi.


"Hei, kau. Brengsek!" Umpat Joe kembali.


"Ex, dia mengumpatmu lagi. Kenapa kau diam saja hah? Di sekolah tidak ada yang berani demikian padamu, dia siapa? Kenapa kau malah menghindarinya? Kau takut?" Abelia mulai cerewet. Exelle terus saja berjalan mengabaikan pertanyaan yang di lempar untuk nya.


"Hei, kau. Apa kau tuli hah?" Joe mengejar langkah Exelle lalu mendorongnya dari belakang. Exelle hampir terjatuh maju ke depan.


"Ex..." Abelia memekik.


"Cih, apa kau berusaha untuk menjadi pusat perhatian sekarang? Kau menyalahkan ku karena kedekatanku dengan Maria. Lalu kau? Apa ini hah?"


"Apakah salah paham itu adalah penyakitmu selama ini, Joe?"


"Jangan berbelit kata kau, Ex."


"Lalu apa yang kau pikirkan melihat ini? Kau berpikir dia pacarku?" Tanya Exelle dengan menunjuk ke arah Abelia.


"Heh, bukan kah kau memang suka mendekati semua cewek? Aku tidak heran akan hal itu. Tapi aku tidak suka dengan caramu yang sok suci pada ku, kau berlagak seolah hanya mencintai Pelangi tapi di belakang kau pun jauh lebih buruk dariku."


"Tunggu. Apa masalah kalian disini hah? Dan siapa Pelangi itu?" Abelia kebingungan.


"Hahaha. Hei, kau. Gadis cantik, apakah kau tidak tahu jika pacarmu ini sedang mengejar serta ingin merebut pacarku, Pelangi. Dia bahkan berlagak seolah sungguh hanya mencintai Pelangi saja."


"Ex...Kau merebut kekasih orang? Apakah aku salah dengar?" Tanya Abelia lagi menghadap ke arah Exelle dengan satu alis naik ke atas.


"Aku memang sedang jatuh cinta pada seorang cewek, Lia."


"So what? Jadi itu benar? Kau keterlaluan."


"Pffft..." Joe menahan tawa, namun dalam hatinya dia merasa puas.


"Lia, ayo pulang dulu. Aku akan menjelaskannya di jalan saja." Exelle menarik tangan Abelia namun Abelia justru menahan kedua kakinya untuk tidak melangkah. Exelle menoleh dan menatapnya heran.


"Lia, jangan bilang jika kau ingin aku membahasnya disini juga. Di depan dia?" Tanya Exelle dengan menunjuk wajah Joe.


"Hindarkan telunjukmu dari hadapan ku. Jangan berlagak sombong lagi, kau sudah ketahuan olehku. Hah, memang Tuhan akan selalu menolong hambanya yang tulus." Ujar Exelle dengan bangga pada dirinya sendiri.


"Ex, kau tahu aku menyukaimu selama ini kan?" Kata Abelia dengan suara lirih.


"Waow, pertunjukan seru nih. Aku tidak boleh melewatinya, hahaha." Lagi-lagi Joe menyela dengan menyombongkan diri.


"Apa maksudmu, Ex?"


Exelle menarik nafasnya begitu dalam saat Abelia terus memaksanya berkata dan menjawab nya di depan Joe. Dalam hati Exelle tidak ingin mempermalukan Abelia, selama ini Exelle sudah tahu dan mendengarnya. Jika Abelia menyukai serta mengejarnya, namun Exelle hanya menganggapnya teman biasa.


Kebetulan hari ini mereka pergi bersama ke sebuah pusat perbelanjaan karena Exelle merasa punya hutang janji yang belum sempat ia penuhi dengan ajakan Abelia saat itu. Abelia sangat baik dan tidak pernah mencolok meski dia sangat menyukai Exelle, itu sebabnya Exelle masih berteman baik dengannya. Terlebih lagi, Abelia adalah siswi yang terjenius di kelas Exelle.


"Ayolah, kita pergi dulu dari sini." Ajak Exelle untuk yang kesekian kali.


"Tidak. Jawab aku Ex, apakah kau tahu jika aku menyukaimu selama ini hah?"


Exelle menatapnya tanpa kata. Lalu melirik ke arah Joe yang menyembikkan bibir nya seolah mencibir.


"Baiklah, Ex. Sebaiknya kau pilih saja, aku atau cewek itu?" tanya Abelia tiba-tiba.


Hah... Aku sudah menduga hal ini akan di pertanyakan oleh Abelia. Aku sungguh tidak ingin membuatnya malu di depan Joe saat ini, bagaimana aku akan menolaknya?


"Jawab Ex!!!" Abelia sedikit berteriak dengan nada tinggi.


"Maafkan aku, Abelia." Jawab Exelle dengan terpaksa.


Abelia memejamkan kedua tangannya dengan tarikan nafas panjang. Dia sudah menduganya, air matanya mengalir. Karena pada akhirnya Dia harus menerima kenyataan yang dia takutkan selama ini.


"Aku sudah lama mencari sosok yang aku inginkan, dan itu hanya ada pada Pelangi." Jawab Exelle kemudian. Tentu saja, Joe terhentak mendengar hal itu. Dia mulai geram, tidak menyangka jika Exelle akan menjawab hal itu.


"Baiklah, Ex. Aku mengerti, aku menyerah, aku tidak akan berjuang lagi untuk mengejarmu. Terimakasih untuk hari ini, aku tidak menyangka jika ini akan menjadi hari terakhir aku dekat dengan mu."


"Hei, ayolah. Apa kau akan menyerah begitu saja, apa kau tidak mendengarnya hah? Dia merebut pacarku, dia menyukai pacarku."


"Diam kau!!! Semua karena kau, jika bukan karena sejak tadi kau mengumpat dan menyebut nama Pelangi, aku tidak akan di permalukan seperti ini." Kemudian Abelia pergi dengan tangisannya. Exelle tak dapat berkata apa lagi.


"E,eh... Dasar gila, kenapa dia menyalahkanku."


"Kau lihat, Ex. Apa yang terjadi barusan? Kau bahkan tidak bisa juga menghargai perasaan orang lain. Kau hanya mementingkan kepuasan ego mu saja. Lalu bagaimana kau berpikir jika kau sungguh mencintai Pelangi."


"Halo bro. Jaga bicara mu, jangan mengajariku. Aku peringatkan kau, apapun caranya aku tidak akan pernah membiarkan kau merebut hati Pelangi, Ex. Atau aku akan benar-benar membuatmu menyesal." Jawab Joe dengan sombong. Lalu beranjak pergi dari hadapan Exelle.


"Tunggu Joe!!!"


"Apa lagi hah?" Jawab Joe menghentikan langkahnya.


"Apakah kau pernah berpikir jika kita memiliki satu kesamaan? Selera kita sama bukan? Mencintai satu wanita yang sama. Bagaimana jika andai, aku ini adikmu? Apa kau akan mengalah demi persaudaraan kita?"


Joe terhentak dengan membelalakkan matanya. Seketika bulu kuduknya merinding mendengar hal itu, entah kenapa Joe merasa ucapan Exelle seolah menikamnya kali ini.


"Apa kau bermimpi, Ex? Kau menjadi saudaraku? Hahaha itu tidak mungkin."


"Aku bilang jika mungkin bukan, andaikan demikian apa yang mau kau lakukan, Joe?"


"Ti-dak a-kan per-nah!" Jawab Joe mantap dengan menjabarkan ucapannya dengan sangat jelas, seolah bibirnya menari dengan lihai.


Exelle tersenyum tipis, namun dalam hatinya ia sedikit sedih. Mendengar hal itu dari mulut Joe, walau itu kenyataannya.


"Baiklah, Joe. Terimakasih untuk jawaban itu. Sampai jumpa kembali, hati-hati saat mengemudi." Exelle beranjak pergi lebih dulu melanjutkan langkah kakinya menuju halaman parkir.


"Hey, brengsek. Apa yang kau bicarakan itu hah? ingat itu. Aku tidak akan pernah menyerah." Teriak Joe saat langkah kaki Exelle sudah beranjak jauh.


Begitupun aku, Joe. Aku tidak akan menyerah akan cintaku.


Bathin Exelle dengan mantap.