
Krtakkksss!!!
Sebuah gelas memanjang yang sejak tadi Joe genggam dia lempar tepat di kepala Exelle hingga pecah. Sontak Exelle terkejut merasakan sakit perih dan seketika darah mulai mengalir membasahi rambutnya namun dia berusaha menahannya dan tetap menggendong kuat Pelangi.
"Exelle!!!" Teriak Jeni setelah menyadarinya. Ia menoleh ke arah Joe dengan kedua mata memerah. Tak bisa di nego lagi, Jeni menghuyungkan pukulannya sekuat mungkin meninju wajah Joe. Dia mengamuk bahkan dia menendang bagia perut Joe saat Joe hendak menahan setiap pukulannya. Berhasil Joe tersungkur jatuh di lantai, Jeni membabi buta dengan terus menginjaknya tubuhnya sembari Jeni menangis dalam teriakan.
Ini tentu mengundang perhatian para karyawan dan beberapa pengunjung. Jeni berteriak sembari menangis sementara Joe sudah meringkuk di bawah kaki Jeni. Sungguh diluar dugaan bukan? Joe menggila hanya karena satu wanita yang dia cintai menolaknya untuk kembali. Dalam hati Jeni sangat menyayangkan hal ini.
"Jen, hentikan Jen. Cukup, Jeni!!!" Kali ini Exelle yang berteriak menahan amarah Jeni yang memuncak. Beberapa staff karyawan dan keamaan datang, sudah mencoba menghalangi mereka, termasuk setiap pengunjung yang menjadikannya sikap Jeni pada Joe sebagai bahan tontonan mereka.
Lucas dan Lisa berlarian datang menghampiri, meski Lisa masih sedikit pusing akibat pengaruh obat tersebut. Tante Lucas sebagai pemilik kafe tersebut langsung menelpon Lucas, sudah tentu karena dia tahu bahwa mereka adalah teman-teman Lucas. Sebab awal mereka datang sempat menyapanya tadi.
"Oh my God, Jeni. Hentikan, sudah stop Jeniiiiii!!!" Lisa berteriak sekencang mungkin. Sementara Lucas menggigiti lima jarinya, karena dia sungguh terkejut.
Jeni langsung menghentikan aksinya setelah Lisa berteriak menyuruhnya berhenti, nafasnya terengah-engah menahan tangis dalam emosinya sejak tadi. Kedua matanya sangat merah, dia menoleh dengan tatapan seperti itu ke arah Lisa. Tentu Lisa sudah bisa menebaknya jika kali ini Jeni sedang marah besar. Lisa langsung memeluknya dengan erat tanpa menoleh ke arah Joe yang kini sudah di papah oleh dua staff karyawan di kafe itu.
"Pangeran ku, ah tidak. Kau terluka parah, cepat. Cepat bawa dia kerumah sakit terdekat!!!" Titah Lucas dengan gemetaran, dia kebingungan melihat kondisi Joe. Namun Joe masih dengan egonya memberontak lalu berteriak memaki Exelle yang sejak tadi menahan dengan sekuat tenaga untuk tidak terjatuh meski darahnya terus mengalir di rambut kepalanya hingga kini bajunya mulai basah oleh noda darah, masih tak ada yang menyadari hal itu.
"Kau berhasil membuat mereka membenciku, Ex. Semua ini karena kau, kau. Aku yang lebih dulu di sisi Pelangi, aku yang mencintainya, dia milikku. Tidak bisakah kau mengalah dan ergi saja dari kehidupan kami, heh?" Joe kemudian terduduk menekuk kedua kakinya, kedua lututnya masih tegak di lantai, Joe akhirnya menangis.
"Ah, pangeranku... Kau sangat menyedihkan, jangan begitu." Lucas hendak menghampirinya.
"Lucas!!!" Bentak Lisa. Lucas mengurungkan niatnya karena takut akan panggilan Lisa yang sudah tentu menahannya untuk jauh dari Joe. Ia mendecak pelan, dia merasa sangat kasihan pada Joe.
Dengan menarik nafas nya dalam-dalam, Exelle harus terpaksa mengatakan kenyataan yang dia pendam selama ini. Mau tidak mau, dia sudah sangat tidak tahan memendam rahasia besar ini. Dia sudah tidak peduli dengan apa yang akan terjadi saat ini.
"Sayang sekali, Joe. Walau bagaimanapun, sampai kapanpun, kita akan tetap saling berhubungan di dunia ini. Kau tidak berhak menyuruhku pergi dan menjauh dari kehidupanmu, jika pun itu aku harus mengalah dalam perasaan ini. Salahkan saja Tuhan, kenapa dia membiarkan ini semua terjadi."
Seketika Joe menatapnya terkejut, begitupun ketiga sahabat Jeni menoleh ke arah Exelle yang kini meringis menahan sakit di bagian kepalanya.
"Apa.. Yang... Kau bicarakan, hah?" Suara Joe terbata-bata.
Exelle menunduk lesu.
"Katakan saja, Brengsek. Jangan lagi kau mencoba mempengaruhi semuanya dengan berlagak bijak di depan ku. Aku tahu dalam hatimu saat ini sedang tertawa puas penuh kemenangan."
"Kita saudara satu ayah, Joe. Apa kau percaya itu?"
Degh!!!
"Hah, hahaha. Ahahaha, lelucon apa lagi ini." Balas Exelle. Sementara ketiga sahabat Pelangi bagaikan patung, dengan mulut menganga mereka tak mampu berkata-kata. Bahkan tenggorokan mereka sampai terasa kering.
"Akupun begitu, aku merasa ini hanya lelucon saja. Tapi nyatanya... Kau bisa tanyakan kebenaran ini pada mami mu, kenapa harus terjadi. Rasanya aku sangat ingin menolak hubungan darah ini, apa kau pikir aku tidak marah?" Lalu Exelle terhuyung dengan kedua tangan masih mencengkram kuat untuk menggendong Pelangi yang masih saja tak sadarkan diri.
"Ex..." Teriak Jeni dan Lisa menghampirinya, membantunya agar tidak terjatuh.
"Oh my God. Ex, kau berdarah." Lisa terkejut ketika mencium bau darah dan menyadari bahwa kini baju Exelle sudah ternoda darah.
Jeni pun melihatnya sampai melotot.
"Ex, ayo kerumah sakit. Kau terluka parah." Jeni kebingungan dan Lisa mulai ketakutan menyentuh bagian belakang kepala Exelle.
"Lucas, cepat siapkan mobil." Titah Lisa kembali pada Lucas. Dengan rasa kebingungan dan ketakutan antara Exelle dan Joe, akhirnya Lucas memilih untuk berlari keluar untuk menyiapkan mobil sesuai titah Lisa.
"Cih... Dia sungguh berhasil mengelabui semuanya dengan luka kecilnya itu. Dia berlagak sok suci dan pantas di kasihani." Ujar Joe dengan lirih menundukkan wajah, ingin... Ingin sekali berteriak lalu mengamuk.
Namun tanpa sadar dia terjatuh dan tergeletak begitu saja di lantai sementara Exelle sudah di giring oleh Lisa dan Jeni menuju mobil sembari memapah Pelangi yang di turunkan dari gendongan Exelle. Mereka mengabaikan Joe begitu saja, beberapa staff karyawan pun membawa Joe untuk segera kerumah sakit sesuai titah Lucas pada tante nya yang diam-diam menyempatkan diri menelponnya.
"Tunggu!!!" Ujar Exelle menghentikan langkahnya.
"Apa lagi Ex? Elu harus segera mendapatkan penanganan dokter." Bantah Lisa dengan cemas.
"Tolong. Salah satu dari kalian temani Joe kerumah sakit, dia juga terluka parah." Pintanya pada Lisa dan Jeni.
"Bodoh. Apa elu bodoh Ex, elu baru aja menyaksikan apa yang telah dia lakukan pada Pelangi juga elu?" Jeni menolak dan mengomelinya.
"Tapi Jen..."
"Kita gak mau tau, gak mau dengar alasan apapun lagi. Cepat masuk, Princess Cold juga harus segera sadar."
"Pliss, Sa... Jeni."
"Apa lagi sih?" Decak Lisa.
"Gue minta, kalian rahasiakan ini dari Pelangi. Gue, gue gak mau dia tahu semua ini hingga membuatnya membenci dan kecewa yang kedua kali. Ini akan menjadi hal yang sangat menyakitkan baginya nanti, dan antara gue dan Joe..."
"Lupakan, Ex. Gue ngerti, ayo kita kerumah sakit dulu. Elu bisa menjelaskannya nanti pada kita, tentang Pelangi... Gue pastiin ini akan jadi rahasia terdalam kita." Jawab Jeni sembari melirik ke arah Lisa. Dia mengangguk dengan pasti tanda Lisa menyetujui.