
POV II
Nia membuka matanya perlahan, pandanganny begitu kabur melihat sekeliling ruangan yang membuatnya berpikir dimana dia sedang berada. Kepalanya begitu pening terasa, hingga pandangannya tertuju pada punggung sosok lelaki yang di kenalnya.
Nia terbatuk-batuk.
"Sayang, kau sudah sadar?"
Seketika Kevin menoleh dan menghampirinya. Nia mulai menyadari jika dia sedang berada di sebuah ruangan media saat ini.
Nia menatap wajah Kevin dan mendorongnya dengan tangisa keras ketika Kevin memeluknya. Kevin terkejut akan sikap istrinya ini, dia tetap memaksa memeluk tubuh Nia.
"Tenang lah sayang, gapapa. Mungkin Tuhan belum mengizinkan anak itu lahir di tengah kita, akupun terpukul mendengarnya. Tapi jangan begini, jangan membuatku semakin sedih dan merasa bersalah."
Nia menghentikan isakan tangisnya setelah mendengar ucapan Kevin, dia tidak mengerti maksud ucapan suaminya itu.
"A..apa maksudmu?" Tanya Nia dengan gemetaran.
"Kau pasti begitu lelah, sehingga kau mengalami pendarahan di kamar mandi di hotel tempat mu menginap malam tadi. Dan calon bayi kita, sudah tiada." Jawab Kevin dengan kedua matanya yang mulai memerah, ia berusaha menahan tangis dan kekecewaan.
"A..aku.. Ha-mil?"
Nia membelalakkan kedua matanya, kali ini dia sungguh terkejut mendengarnya. Dia belum menyadarinya jika sedang hamil, dan Nia kembali mengingat semua kejadian terakhir sebelum dia terjatuh pingsan.
Nia menjambak rambutnya sendiri dan mengamuk dengan teriakan histeris. Membuat Kevin terkejut dan ketakutan, dia berusaha menenangkan Nia. Namun Nia semakin menggila, dia berlaku kasar dan meminta Kevin jangan menyentuhnya dengan tangisan dipenuhi sikap ketakutan pada diri Nia.
Ini membuat Kevin kebingungan dan segera memanggil dokter. Tak berapa lama dokter dan beberapa perawat datang setengah berlari lalu berusaha menenangkan tubuh Nia yang terus mengamuk dengan teriakan. Lalu seorang dokter memberikan suntikan penenang melalui infusnya.
Tak berapa lama kemudian Nia terkulai lemas dan perlahan menutup matanya, Kevin semakin panik dan cemas mondar mandir di depan pintu ruangan tempat Nia di rawat. Sesekali ia menoleh di balik kaca pintu yang hanya sepetak saja terpasang
Saat diketahui dokter keluar dari ruangan, dengan cepat Kevin menghampirinya dengan segala kecemasan dan kepanikan.
"Dok, bagaimana dengan kondisi istri saya?" Tanya Kevin.
"Maaf, apakah sebelumnya istri anda mengalami suatu kejadian yang buruk?" Doktet berbalik tanya pada Kevin, yang membuatnya terkejut.
"Kejadian buruk, Dok?"
"Ya, karena.. Sepertinya, kondisi istri anda saat ini sangat buruk. Dia mengalami semacam sindrom pasca traumatik yang hebat,"
Wajah Kevin memucat, sekujur tubuhnya bagai terpaku. Setiap aliran darahnya seolah memanas saat ini.
"Apakah ini berhubungan dengan kegugurannya saat ini Dok?" Tanya Kevin kembali dengan bibir gemetaran.
"Ehm, itu bisa jadi. Namun sebelum itu, bisa jadi pasien juga pernah mengalami hal semacam pikiran atau tindakan yang buruk."
"Apakah yang harus saya lakukan pada istri saya Dok?"
"Pasien butuh penanganan dan perawatan khusus dari beberapa team medis lainnya, berikan dia dukungan mental yang positif dan terus hibur hatinya. Namun..."
"Namun apa Dok, katakan !!!"
Di sela pikirannya yang kacau, hati Kevin terasa hancur. Namun ia masih berusaha tegar di hadapan dokter.
"Ini butuh waktu yang tidak sedikit untuk membuatnya berangsur-angsur pulih. Jadi, sabar ya tuan."
Kevi tersungkur mendengar hal itu.
"Tuan, tuan.. Anda baik-baik saja?"
Dokter menegurnya dengan cemas.
"Tak apa Dok, saya baik-baik saja. Saya hanya, saya hanya..."
"Tuan, sebaiknya anda jangan menunjukkan sikap menyerah di hadapan istri anda. Saya dan team lainnya akan berusaha semaksimal mungkin untuk kesembuhan istri anda."
"Te..terimakasih Dokter," Jawab Kevin dengan air mata yang mulai terbendung di kedua matanya.
"Sabar ya Tuan, saya permisi dulu."
Kevin hanya mengangguk akan ucapan dokter tersebut. Lalu Kevin mencoba menetralisir dan berusaha untuk menormalkan kembali pikiran nya yang kacau balau.
Perlahan Kevin memasuki ruangan, dilihatnya Nia tertidur dengan tenang dan pulas. Wajahnya yang memucat, membuat hati Kevin merasakan perih yang teramat dalam. Dia tidak menyangka hal ini akan menimpa istrinya yang selalu ceria juga bawel setiap harinya.
Kevin mengecup lembut kening istrinya, lalu perlahan meraih kemudian menggenggam erat tangan mungil Nia.
"Aku pernah merasakan takut yang teramat hebat, ketika ku melihat Fanny terbaring koma saat itu. Ku pikir, jika itu hari terakhir aku menggenggam erat tangannya. Aku pastikan akan ikut menyusulnya juga, tapi sepertinya Tuhan masih berpihak padaku. Jadi ku mohon Nia, jangan membawaku ke suasana yang sama seperti saat itu lagi."
Ujar Kevin sembari menciumi tangan Nia yang di genggamnya.
"Aku baru saja hendak membuka hatiku seutuhnya padamu, tapi kenapa justru kau membuatku kembali mengingat Fanny. Aku seolah berada di lingkaran masa lalu ku bersama Fanny kembali. Masa dimana hati ku selalu di penuhi rasa takut dan gelisah tak menentu."
Di tengah kegusaran Kevin, ponsel Nia berdering. Yang saat itu Kevin temukan tergeletak begitu saja, dan belum sempat ia membukanya sejak tadi.
"Hallo," Jawab Kevin setelah menerima panggilan telepon yang di ketahuinya dari rekan sekolah tempat Nia mengajar.
"Apakah ini suami bu Nia?" Tanya seseorang dari ujung panggilan tersebut.
"Ya, saya Kevin suaminya. Ada apa bu?"
"Terimakasih banyak bu, sudah dengan siaga langsung menghubungi saya. Mohon untuk mendoakan untuk kesehatan beliau agar segera pulih dalam waktu dekat."
"A..apa? Jadi sampai saat ini beliau belum sadarkan diri?" Tanya wanita tersebut dengan panik.
"Nia keguguran sehingga dia mengalami sedikit gangguan mental Bu, eh tapi bolehkah saya bertanya sesuatu?"
Tiba-tiba terbersit dalam pikiran Kevin untuk menanyakan hal yang konyol.
"Oh Tuhan, kasihan bu Nia. Semoga segera membaik, tapi hal apa yang ingin anda tanyakan tuan?"
"Apakah sebelumnya Nia mendapat masalah buruk atau perlakuan kasar atau mungkin terjadi sesuatu yang tidak baik disaat seminar berlangsung?"
"Eh, tidak. Kami selalu bersama kemanapun pergi, kecuali saat kita akan beristirahat. Kami pergi ke kamar masing-masing. Dan kami juga sempat bertemu pak Ammar, dan... Bu Nia memang sedikit aneh saat itu."
Degh !!!
Tanpa sadar Kevin mengeluatkan kata umpatan. Yang membuat wanita itu terkejut, lalu tanpa berkata apapun lagi Kevin mematikan panggilan tersebut.
Ammar, ku harap kau tidak melakukan suatu ancaman yang gila pada Nia untuk membalaskan dendammu padaku di masa lalu.
Lalu dengan tangan gemetaran Kevin mencoba mencari nama kontak Ammar di ponsel istrinya, berharap benar jika Nia masih menyimpanya. Dan benar saja, terpampang jelas nama Ammar di layar ponsel Nia. Tanpa menunggu lama Kevin melakukan panggilan telepon pada Ammar.
"Halo,"
Ammar menjawab dengan cepat dan sedikit cetus.
"Dimana kau? Aku ingin menemuimu?" Tanya Kevin dengan nada dingin.
"Siapa?"
"Aku Kevin, kita harus bertemu hari ini juga. Dimana kau saat ini, aku yang akan menghampirimu. Cepat katakan?"
"Wow, sepertinya kau rindu padaku ya. Baiklah, temui aku di restoran Xxx. Aku hanya memiliki sisa waktu 20 menit saja, jika lebih dari itu. Maaf, aku sibuk. Aku tidak akan menunggumu."
Bip bip bip...
Panggilan terputus begitu saja dari Ammar.
Lagakmu selalu kasar dan sombong Ammar. Aku selalu bersyukur Fanny bisa lepas dari genggaman mu.
Dan dengan cepat Kevin hendak menemui Ammar. Dia melajukan mobilnya di jalan begitu cepat ketika sudah keluar dari rumah sakit. Disertai amarah dan kegusaran dalam hatinya, Kevin mencoba tetap tenang. Ia tahu betul sikap Ammar. Kali ini dia tidak akan gegabah lagi, karena selain angkuh dan congkak. Ammar begitu licik.
Sampai di restoran yang Ammar katakan di telepon tadi, Kevin langsung menemukan sosoknya yang sedang menyeruput secangkir kopi di sertai kebiasaannya merokok.
"To the point saja. Ada apa?" Ucap Ammar ketika Kevin langsung duduk di hadapannya.
"Apa kau tau siapa Nia?" Tanya Kevin.
Ammar menyeringai menatap tajam mata Kevin yang saat ini juga menatapnya dengan sikap dingin.
"Tentu. Siapa yang tidak mengenal bu Nia, dia wanita muda yang cerdas dan gigih. Semua guru-guru di sekolah bahkan selalu memujinya di hadapanku."
"Bukan itu jawaban yang aku inginkan Ammar." Jawab Kevin dengan cetus.
"Lalu? Kau ingin jawaban jika aku saat ini sedang mengincar istri orang, begitu? Dengan statusku yang sekarang? Hahaha, kau terlalu memujiku Kevin."
Dalam hati Kevin bergumam dan menyeringai menatapnya.
Oh Tuhan, bisakah aku merobek mulutnya yang selalu congkak itu? Dia begitu percaya diri.
"Sepertinya kau bangga dengan status mu saat ini, semoga kau bisa menyandangnya dengan baik sebagai seorang SUGAR DADY."
"Oh ya? Heh, lagi-lagi kau memujiku Kevin. Apa kau datang kesini hanya untuk memberikan penghormatan untukku? Kau bilang saja, upah apa yang kau minta?"
"Ammar, aku peringatkan padamu. Jika terjadi hal yang buruk pada Nia saat ini, aku tidak akan segan lagi padamu. Kau akan mengenal siapa Kevin yang sesungguhnya."
"Oh, mau membuatku takut. Lagi pula apa yang ku lakukan pada Nia? Apakah dia mengadukan sesuatu yang buruk tentangku? Apakah dia sudah beralih profesi sebagai pembawa berita?"
"Ammar !!!" Reflek Kevin menekan nada nya menyebut nama Ammar. Membuat Ammar menatap menghentikan tangannya yang sejak tadi berusaha menghidupkan Api di ujung batang rokoknya.
"Aku sibuk. Pergi dari sini sekarang juga, sebelum aku mengotori tangan ku untuk mengusirmu keluar. Aku sedang tidak ingin bersikap lebih padamu saat ini." Jawab Ammar dengan lantang mengusir Kevin untuk segera enyah dari hadapannya.
"Aku datang kemari hanya untuk memberimu peringatan yang terakhir kalinya. Jika kau berani memperlakukan Nia dengan buruk, aku akan..."
"Dia bukan Fanny, jadi untuk apa aku merebutnya lagi darimu hah? Kau pikir Nia seberharga itu dimata ku Vin? Hahaha, aku geli mendengarnya."
"Apapun itu, aku pastikan kau akan menanggung akibatnya. Dan tolong, belajar untuk tidak lagi menyebut nama Fanny dari mulut kotormu itu, aku tak sudi mendengarnya."
Sembari berdiri, Kevin hendak pergi dari hadapan Ammar. Namun sejenak Ammar menghentikan langkah Kevin.
"Tunggu, apa kau masih mencintai Fanny?" Tanya Ammar.
"Urus saja hidupmu yang hancur itu. Tak perlu mengurusi kehidupan ku," Jawab Kevin kemudian berlalu pergi dari hadapan Ammar begitu saja.
Sedang disisi lain, Ammar menyeringai sembari menyeruput kembali secangkir kopi yang telah menemaninya sejak tadi.
"Apa yang terjadi dengan Nia? Haha, bukan kah dia menikmati permainan ku saat malam itu? Bahkan dia sampai mencakar dan memberikan bekas gigitan manja di dadaku ini. Dasar wanita munafik,"