
"Saya bersedia membantu Pak Rendy." Ucap Kirana dengan serius tanpa ragu. "Lagi pula, Pak Rendy sudah banyak membantu saya." Lanjut Kirana yang merasa berhutang budi pada Presdir tampannya ini karena sudah beberapa kali membantunya dan terakhir saat kejadian malam itu.
Kirana tidak akan pernah melupakan Rendy yang telah menyelamatkan kehormatannya yang hampir direnggut oleh laki-laki bejat macam Bima.
"Kirana, saya tulus membantu kamu dan kamu jangan pernah merasa berhutang budi kepada saya." Ucap Rendy dengan menatap Kirana. "Jangan jadikan beban dihati dan pikiran kamu. Saya nggak akan memaksa kamu untuk membantu saya. Mungkin masalah saya ini akan berlanjut, kalau kamu memang bersedia membantu saya, selanjutnya kamu juga harus siap dengan resikonya." Lanjut Rendy memperingatkan Kirana untuk berfikir lagi karena ia tidak mau membuat orang lain terlibat dalam masalah pribadinya ini. Apalagi membebani orang tersebut dengan masalah yang dihadapinya.
"Boleh saya tau, apa resiko yang akan saya tanggung kalau saya bersedia membantu Anda?" Tanya Kirana yang ingin mempertimbangkan kembali.
Rendy menghela nafasnya lalu tersenyum. "Resikonya, mungkin kamu bisa menjadi pacar saya beneran." Jawab Rendy dengan terkekeh pelan membuat Beni yang sedang mengemudi hampir tersedak ludahnya saat mendengarnya.
Kirana terbengong dan terpaku sesaat. "A..apa?" Kirana merasa terkejut namun ia segera mengalihkan pikirannya lalu tertawa merasa lucu. "Ternyata Pak Rendy juga punya selera humor yang cukup baik." Ucap Kirana mengalihkan hati dan pikirannya yang tiba-tiba tersanjung dengan jawaban Rendy. Tapi ia berusaha untuk tidak mempercayainya dan menganggap itu hanya lelucon saja.
Mana mungkin seorang Rendy menjadikan dirinya sebagai pacarnya? Untuk pacar pura-pura mungkin bisa diterima, tapi untuk menjadi pacar sungguhan? Rasanya sangat mustahil bagi Kirana. Kirana memandang antara Rendy dengan dirinya bagai langit dan bumi. Sangat tidak mungkin.
"Terserah kamu menganggapnya serius atau enggak. Kita juga nggak tau bagaimana nantinya. Yang jelas, untuk saat ini saya butuh jawaban kamu. Kamu bersedia atau tidak?" Tanya Rendy kembali dengan serius menatap Kirana.
Kirana kembali terdiam sejenak dan tampak berfikir lalu ia mengangguk. "Saya bersedia." Jawab Kirana tanpa ragu.
"Termasuk bersedia menerima resiko yang saya bilang tadi?" Tanya Rendy setengah serius.
Kirana menatap Rendy dan ia kembali mengangguk. "Iya Pak. Saya bersedia. Toh itu juga nggak mungkin." Jawab Kirana diselingi kekehannya merasa itu hanya sebuah lelucon saja.
Rendy tersenyum dan mengangguk. "Oke! Karena kamu sudah bersedia, kamu nggak bisa lagi untuk berubah pikiran." Ucap Rendy dengan menatap Kirana.
"Saya mengerti." Ucap Kirana.
"Ben, berhenti dulu dibutik yang ada diujung sana." Titah Rendy pada Beni.
"Baik Bos!" Jawab Beni.
Mobil mewah Rendy pun berhenti didepan butik ternama. Ia melepas jas dan dasinya lalu menggulung lengan kemejanya hingga siku.
"Ayo turun." Ucap Rendy pada Kirana.
"Hah?" Kirana terbengong sejenak lalu mengikuti Rendy turun dan berjalan dibelakangnya masuk kedalam butik tersebut.
"Selamat datang! Ada yang bisa saya bantu?" Sapa seorang karyawan wanita butik tersebut dengan ramah ketika Rendy dan Kirana masuk.
"Tolong bantu pilihkan gaun yang cocok untuk dia." Ucap Rendy membuat Kirana kembali terbengong dan terbelalak.
"Pak Rendy, kenapa saya harus memilih gaun?" Tanya Kirana dengan melebarkan matanya.
"Kamu pilih saja gaun yang menurutmu cocok untuk kamu pakai. Saya nggak mungkin mengajak kamu menemui seseorang dengan pakaian kamu yang seperti ini. Terlalu sederhana." Ucap Rendy sambil memperhatikan penampilan Kirana dari ujung rambut hingga ujung kaki.
Kirana mendengus dan merasa kesal. Ia sudah menyetujui dan bersedia membantu Pak Presdir tampannya ini. Tidak ada alasan untuknya untuk menolak perintah dari sang atasan tampannya ini karena ia juga sudah menerima segala resiko yang akan dihadapinya. Mungkin termasuk merubah penampilannya ini ketika bersama Rendy.
"Memangnya siapa yang ingin ditemui Pak Rendy? Apa perlu banget ya, saya harus merubah penampilan saya ini?" Tanya Kirana ingin tau.
"Nanti kamu juga tau. Cepat sana, pilih gaun yang cocok dan nyaman kamu pakai." Ucap Rendy.
"Mari kak, saya bantu anda." Ucap karyawan wanita tadi dengan senyum ramah dan Kirana mengangguk lalu mengikuti langkah karyawan wanita itu untuk memilih gaun.
"Ini kak, gaun-gaun ini adalah brand terbaru yang dirancang oleh desainer ternama dari Korea." Ucap karyawan wanita tersebut dengan tersenyum menunjukkan beberapa gaun yang belum lama dikirim dari Korea.
Kirana pun menatap takjub dengan keindahan dan kecantikan gaun-gaun itu. Sangat bagus! Ia pun menyentuh dan kainnya terasa begitu lembut juga nyaman pastinya jika dipakai.
Kirana meraih gaun yang berwarna salem. Dress dengan full bahan brukat lapis furing dan model bawah payung. Lengan pendek dan panjang sedikit diatas lutut.
"Ini juga bagus kak. Kelihatannya sangat cocok dengan Anda. Anda bisa mencobanya dulu. Mari saya antar ke ruang ganti." Ucap karyawan tersebut dengan ramah.
Kirana tidak langsung setuju. Ia melihat bandrol harga yang menggantung digaun tersebut kemudian matanya terbelalak. "Oh ya ampun! Semahal ini?" Pekiknya dengan tidak percaya. Gaun yang terlihat sederhana ini ternyata harganya selangit.
"Harganya sesuai dengan bahan dan modelnya kak. Dan ini dirancang langsung oleh desainer ternama dari Korea. Butik ini termasuk butik yang memberi harga lebih murah dibandingkan dengan butik yang lain dikota ini. Anda bisa mengeceknya kak." Ucap Karyawan wanita tersebut menjelaskan dengan sopan dan sangat ramah pada Kirana.
Lebih murah apanya? Harga selangit gini dibilang murah?
Batin Kirana merasa dirinya sangat kampungan sekali karena sama sekali tidak tau menau tentang fashion.
"Emm..maaf ya, sepertinya saya nggak cocok pakai ini." Lanjut Kirana dengan tersenyum kaku sambil menaruh kembali gaun tersebut ditempat semula.
Ia kemudian berbalik dan menghampiri Rendy. Rendy yang sedang duduk membaca majalah melihat Kirana dengan mengernyit. "Kenapa belum ganti?" Tanya Rendy dengan santai.
"Pak Rendy, gimana kalau saya pakai pakaian saya ini saja? Saya nggak pernah pakai gaun dan pasti akan jelek kalau memakainya." Ucap Kirana membuat Rendy menutup majalah yang sedang ia lihat lalu bangkit berdiri.
"Kamu belum mencobanya, gimana bisa ngomong kalau kamu jelek? Coba mana gaun yang udah kamu pilih tadi?" Tanya Rendy lalu berjalan melewati Kirana menuju etalase besar yang menyimpan banyak gaun yang dilihat oleh Kirana barusan.
"Apa tadi dia udah milih gaunnya?" Tanya Rendy kepada karyawan wanita yang tadi menemani Kirana memilih gaun.
"Ini tadi yang dipilih oleh kakak cantik itu kak." Jawab Karyawan wanita itu dengan tersenyum sambil mengambilkan gaun yang tadi sempat dipilih oleh Kirana.
Rendy meraihnya dan melihatnya. "Lumayan bagus." Gumamnya setelah mengamati gaun tersebut.
"Kirana!" Ia memanggil Kirana dan Kirana segera menghampirinya.
"Iya Pak?" Jawab Kirana.
"Ternyata selera kamu cukup bagus. Kamu coba pakai ini." Ucap Rendy sambil menyidorkan gaun tersebut pada Kirana.
"Tapi Pak. Ini..."
"Nggak ada tapi-tapian. Jangan membuang waktu lagi. Saya masih banyak pekerjaan. Cepat kamu pakai ini." Ucap Rendy dengan nada perintah memotong ucapan Kirana.
Kirana terpaksa meraih gaun itu lagi dan segera menuju ruang ganti untuk mamkai gaun tersebut.
Rendy memunggu sambil melihat-lihat gaun lalu mengambil beberapa dan menyerahkan kepada karyawan wanita tadi untuk membawanya ke kasir.
Tak lama, Kirana keluar dari ruang ganti sudah memakai gaun yang dipilihnya tadi dengan menunduk terus memperhatikan gaun yang menempel ditubuh rampingnya ini. Ia merasa sangat tidak PD karena memang tidak pernah memakai gaun apalagi gaun semahal ini.
Mungkin jika ia mengumpulkan gajinya selama setahun, masih kurang untuk membeli gaun ini. Gaun yang terlihat sederhana ini ternyata sangatlah mahal.
................