Because, I Love You

Because, I Love You
Episode 133



Abel sudah memberikan tatapan yang menggelikan melihatku keluar dari kamar lebih dulu dengan pakaian yang ku gunakan dikala musim kemarau.


Dengan cepat Abel menarik kerah baju ku ketika aku melewatinya. Kemudian dia terperangah sejenak lalu tertawa cekikikan tanpa henti.


Aku memelototinya dengan sangat tajam.


"Upz, hihihi." Ujar Abel kemudian.


Tak berapa lama kemudian Irgy menyusul keluar dari kamar dengan kemeja yang sedikit terbuka di bagian dadanya. Ia menggandeng jas di lengan tangan kanannya.


"Selamat pagi tuan Irgy, wow.. Sepertinya bunga di musim kemarau sedang bermekaran pagi ini." Sapa Abel pada Irgy.


Irgy salah tingkah menebar senyum tipis menanggapi godaan Abel yang mengerjainya.


"Papaaaa..." Teriak Pelangi sembari berdiri lalu Irgy menangkapnya dalam pelukan.


"Cantiknya papa, sudah bangun."


"Pa, ayo kita main."


"Ehm, papa harus kembali ke kota sayang. Jadi tidak bisa menemani Pelangi bermain dulu, kecuali jika kita kembali ke kota pagi ini."


Tampak Pelangi memasang wajah sedih ketika Irgy mengajaknya pulang.


"Pelangi mau dicini, cama kakak Tama." Jawab Pelangi dengan suara lesu.


"Baiklah, Pelangi disini dulu bareng oma baik dan kakak Tama. Ayo kita sarapan dulu,"


Pelangi mengangguk dengan cepat kemudian turun dari pelukan Irgy. Lalu bibi Asri datang dengan sepiring makanan untuk menyuapi Pelangi.


"Nak, pagi ini kau akan langsung kembali ke kota?" Sapa ibu di sela kami menyantap sarapan pagi.


"Iya bu, di kantor masih banyak kerjaan yang harus di selesaikan." Jawab Irgy dengan lembut dan santun.


"Tapi Fanny dan Pelangi..."


"Tak apa, mereka akan disini dulu. Pelangi masih ingin bersama oma baiknya," Jawab Irgy kembali dengan senyuman.


Ku lihat Abel menyimak obrolan Irgy dengan ibu dengan sesekali melirikku tanpa berani ikut menyela obrolan kami. Sesekali ia menyuapi puteranya dan menatap kembali ke arah ku, aku memberikan isyarat tanya padanya. Dia hanya menggelengkan kepalanya menatapku.


Setelah selesai sarapan pagi, Irgy berpamitan untuk segera kembali ke kota besar. Pelangi dengan pelukan manja menciumi pipi papanya lalu bergelayutan manja pada lehernya.


"Papa, ti-ti ya." Celotehnya.


"Siap bos. Jangan nakal dan merepotkan oma baik ya, ngerepotin mama dikit gapapa deh." Jawab Irgy setengah berbisik di telingah Pelangi. Kemudian Pelangi menanggapinya dengan tertawa cekikikan.


Aku mengantarkan Irgy sampai di teras depan, sebelum memasuki mobil aku menggendong Pelangi dari dekapan Irgy.


"Sayang, hati-hati dan jaga diri." Ujarku memperingatinya.


"Hmm.. Kau yang seharusnya jaga diri baik-baik selama jauh dariku istriku." Jawab Irgy. Ku tanggapi dengan sebuah senyuman manis untuk nya, meyakinkannya dengan anggukan mantap kemudian.


Cup !!!


Sebuah kecupan singkat mendarat di seluruh wajahku, kemudian begitu juga dengan Pelangi. Irgy melakukan hal yang sama pada puteri kami.


"Papa pulang dulu, ingat pesan papa?"


"Iya pa.." Sahutku sembari menoleh ke arah Pelangi. Memberikannya arahan untuk menyanggupi pesan Irgy.


"Ya Pa." Celoteh Pelangi.


Lalu Irgy melambaikan tangannya sembari memasuki mobilnya. Perlahan melajukannya dan dalam sekejap menghilang dari pandangan.


🌻🌻🌻


POV


"Kau kenapa yank? Marah?" Tanya Kevin pada istrinya, Nia. Yang sejak tiba dirumah hanya diam seribu bahasa, ini tak seperti biasanya.


Nia masih membungkam mulutnya sendiri, tanpa menjawab pertanyaan suaminya.


"Nia..." Panggil Kevin sengan menekan nada bicaranya. Membuat Nia menolehnya seketika, ia paham betul dengan sikap suaminya saat ini jika sudah mulai kesal dengan tingkah nya.


"Fanny, untuk apa dia hadir di rumah duka?" Tanya Nia yang pada akhirnya mengeluarkan suaranya.


"Oh Tuhan, jadi kau marah sejak tadi karena kedatangan Fanny?"


"Aku hanya tidak tahu lagi, di satu sisi hatiku mulai percaya jika Fanny bukan wanita seperti yang ku pikirkan setelah pak Ammar menco..."


Nia menghentikan ucapannya, dalam hati Ia bergumam.


"Apa yang telah Ammar lakukan sayang?" Tanya Kevin dengan wajah serius.


"E,eh tidak. Maksud ku Fanny tidak seperti yang sudah di ceritakan oleh nona Eliez padaku. Tapi, mengingat nona Eliez pergi tanpa mendapatkan kepedulian dari pak Ammar. Lalu Fanny hadir di rumah duka, bukankah ini suatu kebetulan? Aku jadi kembali berpikir jika Fanny dan pak Ammar memang masih ada hubungan khusus."


Kevin melangkah lebih dekat menghampiri tubuh Nia dan memeluknya dengan hangat. Nia membalas pelukan Kevin dengan erat.


"Ugh, istriku.. Harus berapa kali ku katakan padamu, jika Fanny bukan lah wanita demikian."


Mendengar jawaban suaminya tersebut, Nia melepas pelukannya dengan cepat. Membuat Kevin bertanya-tanya dalam hati kembali.


"Apa benar kau adalah bagian dari masa lalu Fanny?"


Kevin menghela nafas dalam-dalam.


"Baiklah. Jika ku jawab dengan jujur apakah kau akan memilih untuk percaya padaku dan merubah semua pikiran burukmu tentang Fanny?"


Nia terkejut akan jawaban suaminya.


"Sepertinya tidak. Ekspresimu menjelaskan begitu." Ucap Kevin kembali.


"Apa benar kau pernah memiliki hubungan special dengan Fanny dulu, sayang?"


Kevin mencoba tetap tenang dan menatap wajah istrinya yang kembali di penuhi rasa kesal bercampur penasaran yang kian memuncak.


"Kemarilah, ayo kita duduk dulu." Jawab Kevin menarik tubuh Nia menuju sofa mini di kamarnya. Kevin mencoba menenangkannya dahulu, dengan berusaha menetralisir amarah Nia Ia langsung menarik tubuh Nia terduduk dalam pangkuannya.


Nia mendecak kecal saat terduduk di pangkuan suaminya.


"Ku tanyakan sekali lagi, apa kau sungguh akan mempercayaiku?" Tanya Kevin kembali dengan tatapan lembut.


Nia mengangguk ragu, kemudian Kevin tersenyum puas. Merasa jika kali ini Ia akan berhasil memenangkan hati istrinya. Mengurangi rasa kebencian dia hatinya terhadap wanita yang dulu hingga kini masih sangat ia perhatikan.


Sebelum menceritakan segalanya Kevin mencoba memagut mesra bibir Nia dengan lembut, wajah Nia merona menahan malu akan sikap suaminya yang selalu lembut. Lalu kemudian Kevin kembali menceritakan semua yang pernah terjadi dengan bahasa yang sangat apiik, sengana Ia lakukan untuk membuat Nia tidak terbawa suasana mood yang buruk.


Setelah Kevin menceritakan semuanya, setelah dengan susah payah Ia menahan diri untuk tidak meluapkan segala isi hatinya, tak terduga Nia menitikkan air matanya di hadapan Kevin. Membuat Kevin terperangah sejenak lalu menyeka air mata yang membasahi pipi istrinya.


"Mengapa mau menangis sayang? Maafkan aku." Ucap Kevin dengan kecupan hangat di kening Nia.


"Apakah sampai saat ini kau masih menyisihkan separuh hatimu untuk Fanny, Kevin?" Tanya Nia sesunggukan.


Kevin kembali terperangah dan terdiam sesaat. Ia mencoba untuk tidak gegabah dalam memberikan jawaban yang tepat. Karena kenyataannya dalam hati Kevin masih ada getaran cinta untuk Fanny.


"Kau sudah hadir memberikan warna baru di hidupku sejak awal hingga kini. Lalu bagaimana hatiku masih tetap tertuju pada Fanny, sayang?" Jawab Kevin sembari menyentuh lembut pipi Nia.


"Aku mencintaimu, kau telah membuatku jatuh hati sampai detik ini. Jangan mengkhianatiku, aku tidak menyangka jika pak Ammar yang begitu ku agungkan dan ku kagumi memiliki hati yang bejat dan ********. Ku yakin nona Eliez sudah salah paham, itu karena nona Eliez sangat mencintai pak Ammar. Tapi sayang sekali, cintanya begitu membuatnya buta." Ucap Nia dengan kesal. Terlihat begitu penuh amarah dan kebencian dari sorot kedua matanya.


"Ssssttt... Jangan terus membahasnya, aku cemburu." Jawab Kevin mengerjainya.


Nia mengatupkan kedua bibirnya menahan rasa malu dan getaran di hati nya yang kian semakin terasa saat Kevin mendekatkan wajahnya, sengaja berbisik manja di telinganya.


"Sayang, apa kau sudah melewati masa bulananmu?" Bisik Kevin kembali menggoda Nia. Sengaja Ia lakukan untuk semakin meyakinkan hatinya.


Nia mengangguk ragu. Lalu menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Sayang, bisakah mau tidak selalu berbicara terang-terangan begitu? Ini masih sore. Tidak bisakah menantinya hingga malam nanti."


Kevin terbahak-bahak mendengar jawaban istrinya yang begitu polos.


Dalam hati Kevin bergumam,


Harusnya aku sudah memberikannya anak, mungkin dengan begitu perlahan aku akan benar-benar melupakan Fanny dalam hidupku.


"Sayang, mandi dulu." Ucap Nia mengagetkan lamunan Kevin.


"Ayo kita mencobanya di kamar mandi, aku akan memandikanmu." Kembali Kevin menggoda istrinya, lalu menggendong tubuhnya menuju kamar mandi.


Nia memekik lembut kemudian mengalungkan kedua tangannya di leher Kevin.


"Siapa takut?" Balas Nia. Kevin menyeringai merasa inilah saatnya dia akan melakukan sesuatu yang lebih estra dari sebelumnya.


Setelah berjam-jam di kamar mandi, akhirnya Nia keluar lebih dulu dengan sebuah handuk piyama membaluti tubuh mungilnya. Langkahnya sedikit gontai menuju kursi yang tersedia di hadapan meja rias. Lalu Ia terduduk dengan helaan nafas panjang.


Nia menatap wajah dan lehernya hingga bagian dadanya yang di penuhi tanda kissmark. Ia tersipu malu dengan menepuk-nepuk lembut kedua pipinya. Lalu ia mendecak manja dengan senyum-senyum sendiri mengingat apa yang sudah terjadi saat di kamar mandi tadi.


Berkali-kali hatinya memuji kegagahan suaminya yang berbeda dari biasanya. Membuat Nia merasakan degub jantungnya terus meningkat hingga sekujur tubuhnya kembali merinding. Nia mulai berharap kehadiran seorang malaikat kecil menghiasi rumah tangganya kali ini. Karena dia sedang dalam masa subur saat ini.


Namun sejenak Ia terhentak, mengingat kisah yang sudah Fanny alami. Dan kebodohan apa yang ia dapatkan dari perlakuan Ammar padanya. Dalam hatinya ia bergumam kembali...


Fanny, maafkan aku. Saat kita mungkin di pertemukan kembal nanti, aku janji akan bersikap lebih baik lagi padamu. Semoga Tuhan membalas semua rasa sakitmu di masa lalu, dengan memberikan kebahagiaan padamu bersama keluarga kecilmu.