
30 menit kemudian, Pelangi mohon izin untuk pergi keluar sebentar. Dengan alasan akan pergi ke toilet, untuk menghindari rasa curiga di hati Joe. Meski tidak kepada ketiga sahabatnya yang sangat tahu betul, kemana Pelangi hendak pergi.
"Langi, kau mau kemana? Aku masih ingin kau menyuapiku buah." Ujar Joe menahan Pelangi.
"Astaga, kau sudah menghabiskan dua buah apel dengan ukuran besar Joe." Jawab Pelangi dengan protes.
"Haih, kau sangat manja saat sakit. Aku yang akan menyuapimu nanti," Ujar Jeni menyela. Sedangkan Lisa mengedipkan matanya pada Lucas untuk membantu Pelangi agar tidak tertahan oleh Joe.
"Eh, pangeran ku. Ayo lah, Princess cold sudah sring menjengukmu kemari bukan? Apa kau tidak merindukan ku, Joe?" Ujar Lucas dengan merengek manja.
"Aaah, baiklah. Bagaimana bisa aku menolakmu, sayang." Jawab Joe menggoda Lucas.
Terimakasih kalian, sungguh luar biasa.
Ujar Pelangi bergumam dalam hati. Lalu dia beranjak pergi dengan cepat hendak menuju restoran, dimana Exelle sudah menunggunya dengan duduk menis menyeruput segelas orange jus.
Tak berapa lama kemudaian, Pelangi memasuki ruangan dan mencari-cari sosok Exelle yang sudah menunggunya. Dilihatnya di pojok depan sana, Exelle sedang duduk melamun di tempat yang sama saat kemarin menemani Pelangi makan siang.
"Ah, sepertinya itu menjadi tempat favoritenya mulai saat ini." Ucap Pelangi menggelengkan kepalanya lalu berjalan menghampiri Exelle.
Tanpa menunggu aba-aba lagi, Pelangi langsung menghempaskan tubuhnya dengan duduk di hadapan Exelle. Membuat Exelle terjaga dari lamunannya sejak tadi.
"Lagi-lagi kau melamun." Ucap Pelangi dengan membenahi posisi duduknya.
"Eh, Pelangi." ujar Exelle spontan.
"Katakan, apa yang akan kau sampaikan? Jangan bilang jika kau ingin mengutarakan perasaan mu kembali. Aku bosan,"
"Hah, kau benar-benar. Kenapa kau begitu ingin sekali menolakku tanpa memikirkan dahulu?" Tanya Exelle dengan nada serius.
"Hem, jadi benar kau ingin mengungkapkan perasaan mu kembali? Huh, ya ampun." Balas Pelangi menepuk keningnya.
Sontak Pelangi menatap Exelle dengan ekspresi terkejut. Kemudian tersenyum dengan helaan nafas panjang.
"Sejak awal kau dan Joe tidak pernah baik, hubungan kalian selalu dipenuhi salah paham dan perkelahian. Seperti anak kecil, tapi untuk kali ini..." Ucapan Pelangi terhenti dan menatap wajah Exelle yang sudah meringis. Matanya seolah penuh harap, Pelangi tidak akan mencercanya.
Pliss, Pelangi. Jawab tidak, pliss ku harap kau tidak mempercayainya.
"Hah, sudah lah. Joe sudah sadar kembali, dia sudah melewati masa kritisnya. Jangan membahasnya lagi."
Exelle menghela nafas lega dengan memejamkan kedua matanya, lalu terlihat mengalir tetesan bening membasahi pipinya.
"Ex... Kau, menangis???"
"Aku lega. Kau tidak membenciku dan percaya padaku."
Ex... Ini pertama kalinya aku melihat sisi lemahmu. Eh, kenapa aku begitu sesak melihat nya begitu sedih? Apakah dia sungguh takut aku akan membencinya?"
"Kau ternyata cengeng, aah... Apa kau tidak malu menangis di depan seorang cewek?"
"Cih... Apa kau meledekku?" Jawab Exelle dengan menyeka dan mengucek kedua matanya.
"Kau memang cengeng."
"Ya, ya. Aku cengeng, aku menyebalkan, dan aku jelek, kau puas?"
"Hahaha, sangat puas." Jawab Pelangi dengan tawa cekikikan.
"Aaah, sial. Tunggu lah sebentar disini, aku harus ke toilet. Perut ku sangat sakit." Ujar Joe memegangi perutnya tiba-tiba kemudian membuang gas beracun di depan Pelangi yang tanpa sengaja. Membuat Pelangi menahan bau mengibas-ngibas wajahnya akibat bau tak sedap.