Because, I Love You

Because, I Love You
#BILYS3 236



Setelah puas bercanda dengan Pelangi sejak tadi, yang sengaja ku lakukan untuk membuatnya tenang kemudian. Perlahan aku mencoba untuk mengajaknya bicara lagi, bukan lagi sebagai seorang ibu. Aku mencoba untuk menjadi sahabatnya kali ini.


"Pelangi, ada apa dengan mu dan Joe, Nak?"


Ekspresi Pelangi kembali berubah setelah mendengar pertanyaan ku.


"Ehm, entah lah Ma. Sepertinya kali ini Pelangi sudah keterlauan."


Aku mengernyit akan jawabannya.


"Mama harap, jangan berlarut-larut dalam setiap masalah yang kalian hadapi saat ini. Apa lagi itu tentang perasaan cemburu,"


"Mama... Iiih, diam-diam apakah mama sudah membahas hal ini dengan Joe tanpa sepengetahuan Pelangi?"


"Tidak, anak ku. Kau pikir mama tidak pernah muda dulu? Hahaha, mama bisa membacanya dari raut wajahmu saat menatap Maria tadi."


"Dih, mama sok tahu ah. Itu tidak seperti yang mama pikirkan, aku tidak..."


Aku menatapnya dengan mencondongkan wajah ku lebih dekat dengan nya. Dia menghentikan ucapannya lalu menutup wajahnya sendiri dengan kedua tangannya.


"Mama, iih apaan sih. Jangan meledekku begitu."


"Hihihi, ehhem. Mama pun dulu sama sepertimu Nak, memiliki rasa cemburu pada orang yang kita sayangi, terlebih lagi sebagai pacar. Itu wajar, itu berarti kita sungguh merasa bahwa dia adalah milik kita. Asal, jangan sampai cemburu buta. Itu tidak baik,"


"Huhft..."


Pelangi mengeluh nafas panjang.


"Jadi beneran nih, lagi cemburu?"


"Pelangi tidak suka melihat Maria selalu nempel manja pada Joe, Ma. Sementara Joe menikmatinya, huh.. Dasar cowok. Dia juga cemburu melihat Exelle selalu mengejarku, sedangkan dia? Apa??? Bukan kah sama saja."


"Oh ya? Apakah Maria gadis yang seperti itu?"


"Exelle bilang, dia memang sedikit manja. Dan Joe tahu itu, itu sebabnya dia terbiasa dengan sikap Maria. Tapi aku tidak suka melihatnya Ma, aku kesal."


"Hahaha, hmm... Mama jadi mengingat masa lalu waktu muda dulu. Sebaiknya kau berbicara terus terang pada Joe, Nak. Sebagai pacar kau pun berhak melarangnya terlalu dekat dengan teman wanitanya."


"Sungguh begitu, Ma? Apakah Pelangi boleh melarangnya?"


"Hemm.. Kau berhak. Jikapun Joe tetap bersikeras menanggapi sikap Maria seperti biasa di depan mu, lebih baik... Kalian sudahi. Salah paham dan cemburu yang berlebihan di awal hubungan tidak baik. Sebaiknya kau fokus pada sekolahmu saja, itu jauh lebih baik."


Pelangi tampak terkejut kembali setelah aku berkata demikian. Sebab, aku tidak ingin puteri kesayangan ku merasakan apa yang dulu aku rasakan di masa lalu. Ya, saat itu aku pernah merasa dilema oleh kehadiran wanita yang kini telah menjadi sahabat baik ku, Abel. Tidak kah ini seperti terulang di masa lalu? Putera kesayangan Abel telah menyakiti hati puteriku.


"Tapi ma, aku dan Joe baru menjalin hubungan berpacaran beberapa bulan saja terakhir ini. Kami pasti hanya terbawa emosi sesaat kan, Ma." Bantah Pelangi, aku bisa menebaknya jika dia sangat takut untuk putus hubungan dengan Joe.


"Jika begitu, selesaikan segera Nak. Jangan pernah menghindar atau merasa bersalah sendiri."


Pelangi mengangguk ragu. Kemudian aku keluar dari kamar nya, membiarkannya sendiri berpikir dengan tenang.


Maafkan mama, Nak. Mungkin mama sedikit lebih kekanakan saat ini. Tapi sungguh, mama tidak ingin kau merasakan apa yang sudah mama rasakan lebih dulu di masa lalu. Karena menahan rasa cemburu diam-diam itu sangat menyakitkan.


🌻🌻🌻


16.15 sore.


Tiga hari berlalu, dan liburan di sekolah sudah akan segera berakhir. Joe dan Pelangi masih tetap saling berdiam diri, tanpa telepon dan pesan singkat yang mereka coba lakukan.


"Uuugh, Joe. Kau menyebalkan, apakah kau marah padaku? Kenapa tidak ada pesan sekalipun darimu hah?"


Pelangi kesal, sementara sejak tadi selalu menatap layar ponselnya sembari berbaring di atas kasur.


"Aku cewek, gak mungkin dong aku duluan yang menghampirinya. Sedangkan dia yang memulainya lebih dulu, eh tapi... Bagaimana jika dia justru asyik bersama Maria, atau memanjakan Maria yang genit itu?"


Pikiran Pelangi mulai kacau, membayangkan hal yang buruk tentang Joe dan Maria. Hatinya semakin sesak dan kesal, memukul-mukul bantal yang di hadapannya. Seolah dia bayangkan itu adalah Joe dan Maria.


Tring...


Nada pesan di ponselnya berbunyi. Dengan cepat Pelangi melihatnya, sebuah notif muncul di layar, pesan singkat dari Exelle yang kini sudah dia simpan nomornya dengan nama 'cowok gila'.


Hai, cewek galak. Apa kau mau pergi bersamaku sore ini? Aku mau pergi ke tempat khusus penjualan buku komik.


"Hah, ku pikir ini Joe. Hikzt, apakah Joe sungguh telah melupakan ku? Bagaimana jika kami sungguh akan lutus setelah ini? Apakah aku sanggup berhadapan dengan nya saja di kelas?"


Kembali ponselny berdering. Kali ini panggilan telepon dari Exelle, membuatnya terbangun dari lamunan sesaat. Dari pikiranny yang kacau setiap kali ia memikirkan Joe.


"Halo, cewek galak." Sapa Exelle ketika panggilannya terjawab oleh Pelangi.


"Hemm, ya." Jawab Pelangi singkat.


"Mau tidak? Ayo lah, sekali ini saja. Kau tidak akan menyesal, aku yakin justru kau akan ketagihan membaca nantinya. Komiknya selalu ter-update dan keluaran terbaru."


Dalam hati Pelangi berpikir, sepertinya ini akan sedikit membuatnya terhibur dari kejenuhan serta dari segala pikiran buruk membayangkan Joe dan Maria selalu bersama.


"Hemm, baiklah. Kita bertemu disana saja, kau bisa mengirimkan alamatnya di pesan nanti." Jawab Pelangi menyetujui.


"Yes!!! Akhirnya, oke. Aku akan mengirimkan alamatnya sebentar lagi." Exelle begitu girang mendengar Pelangi menerima ajakannya.


Panggilan berakhir. Pelangi bergegas mengganti bajunya dan segera meraih kunci mobil serta menggandeng tas mini miliknya. Pelangi sedikit berbeda dengan ku, yang di usianya sudah mengenal berbagai alat make up meski itu hanya sebuah liptint di bibir, cream sunblok di wajah, serta sabun khusus pembersih wajah. Pelangi hanya mengenal sebuah parfum saja, beruntung dia memiliki wajah yang halus mulus bak kulit bayi. Bibirnya yang ranum, memerah. Tidak perlu lagi dia poles dengan pewarna bibir, dia lebih terlihat natural.


"Ma, aku pergi dulu sebentar."


"Mau kemana, Nak?" Tanya ku saat berpapasan dengannya yang baru saja menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa.


"Ke toko buku sebentar."


"Sendiri???"


Langkah kaki Pelangi berhenti, dan menoleh ke belakang untuk melihatku.


"Bareng Exelle, Ma. Dia mengajakku, ternyata kita memiliki hoby yang sama Ma. Boleh kan?"


"Sudah izin Joe?"


Pelangi menggelengkan kepalanya dengan ragu.


"Huhft... Jika Joe tahu akan semakin rumit nantinya, Nak."


"Gapapa deh, Ma. Nanti aku akan menjelaskannya,"


Itupun jika dia mau peduli lagi padaku.


Bathinnya.


"Baiklah, baiklah. Mama tidak akan ikut campur urusan anak muda, tapi ingat. Hati-hati dan jangan gegabah, paham?"


"Iya, Ma. Makasih ya, Ma. Mama emang yang terbaik, emmuach." Pelangi pergi setelah mengecup hangat pipiku.


🌻🌻🌻


Tiba di tempat sesuai alamat yang Exelle kirimkan melalui pesan tadi. Pelangi keluar dari mobil lalu melihat sekitar toko tersebut.


"Dorrr!!!"


Tiba-tiba Exelle mengagetkannya dari belakang. Sontak Pelangi membelalakkan kedua matanya karena terkejut, hampir saja dia merasa spot jantung.


"Dasar cowok gila. Kau mengejutkan ku, Ex." Bentak Pelangi.


"Hahaha, maaf. Sebab kau terlihat kebingungan saat keluar dari mobil, apa yang kau pikirkan? Apa ini pertama kalinya mau datang ke tempat beginian?"


"Aah, kau ini. Tapi memang iya sih, aku baru tahu jika di indonesia pun ada tempat khusus penjualan buku komik. Ku pikir ini hanya ada di LN sana,"


"Oh ya? Hahaha, telat deh. Kau pernah tinggal di LN?"


"Eh, ehm.. Ti-dak. Seseorang pernah menceritakannya padaku dulu." Ekspresi wajah Pelangi berubah masam.


"Ayo, kita masuk!" Seolah Exelle bisa menangkap ekspresinya, dengan cepat dia mengalihkan.


"Ayo!!!"


Mereka berjalan beriringan sembari sesekali Exelle menggodanya sepanjang kaki mereka melangkah menuju ke dalam ruangan. Hingga tiba di dalam ruangan, Pelangi sedikit terperangah melihat ruangan sekitar yang di penuhi oleh banyak buku-buku komik terkenal dan keluaran terbaru. Bahkan edisi limitied pun sudah ada disini.


Seakan kedua mata Pelangi enggan berkedip, melihat ke setiap sudut dan rak buku. Di dalam ruangan juga ada tempat khusus untuk duduk santai jika ingin membacanya disini, aroma khas bau kertas yang baru saja tercetak tercium menyengat di kedua lubang hidungnya.


Dia melihat sekitar begitu takjub hingga terpisah dari Exelle. Pelangi kebingungan, namun berusaha mengalihkannya dengan terus melihat-lihat dan mencari buku-buku komik favoritnya. Ia berdiri di satu rak buku khusus komik fantasi dari kerajaan zaman kuno.


Kemudian di sela membacanya sejenak, dia seolah terbawa arus menuju zaman kuno. Dia begitu serius mendalami isi cerita dalam komik tersebut, beberapa saat kemudian pandangannya terhalangi oleh satu buku komik yang sengaja diletakkan pada pandangannya.


"Ini!!!" Exelle tersenyum lebar memberinya buku komik tersebut.


Pelangi terdiam sesaat memandangi buku komik pemberian Exelle yang kini di raihnya.


"Komik itu bercerita tentang perjalanan seorang wanita yang ingin menjadi dokter hebat." Ucap Exelle kembali menjelaskan.


"Cih, sungguh??? Bukan kah disini tertera genre Romantis dan aksi?"


"Astaga, walau disitu tertera demikian apa kau akan merasa bahwa itu cerita romantis? Kau baca saja dulu. Aku sudah membayarnya. Aku yakin kau akan menyukainya nanti," Ujar Exelle penuh percaya diri.


Pelangi membolak balik buku komik tersebut dalam genggamannya, dilihat nya berapa bandrol nominal buku komik tersebut. Setelah dilihatnya berkali-kali, mulutnya kini menganga bagai bentuk huruf O.


"Semahal ini?" Tanya Pelangi tidak percaya.


"Hemm, apakah mahal?"


"Gila, ini mah terlalu mahal Ex. Sebaiknya kau kembalika saja,"


"Dih, norak atau pelit sih ini cewek? Kau tenang saja. Aku sudah membayarnya, oh Tuhan..."


"Cih, enak aja mengataiku norak dan pelit. Mau ku hajar nih?"


"Ampun, ampun!!! Ya, habisnya.. Kau terlihat polos dan bodoh sekali. Selama kau berpacaran apa pacarmu tidak pernah sekalipun membawamu ke tempat yang sesuai seleramu?"


Pelangi terdiam, menatap Exelle yang melemparinya tanya demikian. Selama ini Joe memang tidak pernah sekalipun tahu, hoby nya yang suka membaca buku komik diam-diam.