
"Duduk!" Rendy mempersilahkan Kirana duduk disofa.
Kirana pun duduk dan Rendy memilih untuk duduk disampingnya. Kirana pun menggeser tubuhnya dan membuat jarak pada Rendy.
Rendy melirik dan terkekeh pelan. "Kenapa? Kamu takut saya apa-apain?" Tanya Rendy merasa lucu melihat sikap Kirana saat sedang bersamanya.
"Hah? Eng..gak. Lagi pula, nggak mungkin Pak Rendy mau ngapa-ngapain saya kan?" Jawab Kirana dengan tergagap dan jantung yang mulai berdegup tak beraturan.
Astaga! Kenapa sih dia selalu bikin aku jantungan gini?
Gumam Kirana dalam hati sambil mencoba menormalkan detak jantungnya.
"Ok! Karena sudah bukan dijam kerja, nggak perlu lagi bicara formal." Ucap Rendy sambil menyandarkan punggungnya kebelakang dan tampak santai.
"Sebenarnya, ada apa Pak Rendy meminta saya kesini lagi?" Tanya Kirana yang tidak ingin berlama-lama dekat dengan Rendy.
"Pertama, jangan panggil Pak!" Tegas Rendy dengan menatap Kirana.
"Tapi..
"Nggak ada tapi-tapian! Ini perintah!" Sahut Rendy menghentikan ucapan Kirana.
"Saya sebagai karyawan yang menghormati pimpinan saya dan...
"Dan nggak perlu bicara formal! Kamu dan aku." Sahut Rendy kembali menyambar ucapan Kirana dengan menatapnya lekat. "Kita udah resmi pacaran Kirana. Meski aku pimpinan kamu, setidaknya setelah jam kerja selesai kita bisa bicara layaknya..sepasang kekasih?" Lanjut Rendy sambil mendekatkan wajahnya menatap Kirana di kata-kata terakhirnya.
Seketika Kirana menjauhkan diri kesamping lalu bergeser. Jantungnya kembali berdegup dengan kencang bahkan lebih kencang dari sebelumnya.
"Emm..maaf Pak, emm maksud saya..emm aku.." Kirana menjadi tergagap hingga tidak bisa bicara dengan benar dan ia merasa sangat kesal lalu bangkit berdiri lalu menghela nafasnya dalam-dalam. "Begini Pak! Bisa nggak, duduknya jangan deket-deket?" Ucap Kirana dengan cepat dan terlihat kesal.
Rendy kembali terkekeh geli dengan tingkah Kirana yang menurutnya sangat lucu. Ia baru pertama kali berhadapan dengan gadis sepolos Kirana yang terlihat takut berdekatan dengannya atau mungkin dengan semua laki-laki? Oh tidak! Kirana hanya bisa dekat dengan Haris. Ya, Haris! Laki-laki itu sepertinya sangat dekat dengan Kirana. Mungkin karena sudah saling kenal sejak kecil.
"Kamu ini kenapa sih Kirana?" Tanya Rendy dengan santai menatap Kirana yang menjadi salah tingkah.
"Saya merasa nggak nyaman aja Pak. Maaf!" Jawab Kirana dengan gugup.
"Harus berapa kali aku peringatkan ke kamu? Jangan panggil Pak! Dan ngomong santai aja seperti kamu ngomong sama pacar kamu itu, siapa namanya?"
"Kak Haris maksud Bapak?"
"Nah itu dia."
"Dan saya juga udah beri tau ke Pak Rendy kalau dia bukan pacar saya!" Tegas Kirana merasa kesal.
"That's right! Karena sekarang kamu pacar aku!" Ucap Rendy dan Kirana melirik sinis padanya. "Udah sini duduk!" Rendy menarik tangan Kirana dan membuat Kirana jatuh ke pangkuannya.
"Aaahh!" Pekik Kirana saat jatuh dipangkuan Rendy dengan memeluk lehernya dan wajahnya berada sangat dekat didepan wajah tampan Rendy membuat Kirana terbelalak dan terpaku tak mampu bergerak.
Rendy pun terdiam dan terus menatap wajah Kirana yang ternyata terlihat cantik dan manis saat dilihat begitu dekat seperti ini. Tanpa sadar, Rendy semakin mendekatkan wajahnya ingin mencium Kirana.
"Ehem!"
Entah sejak kapan Beni sudah masuk memperhatikan mereka lalu berdehem sengaja ingin menghentikan Bosnya yang terlihat ingin mencium Kirana.
Seketika Kirana dengan cepat bangkit berdiri dan memalingkan wajahnya yang merona merasa sangat malu. Kemudian kembali duduk disamping Rendy tapi dengan jarak.
"Sepertinya, aku datang disaat yang nggak tepat." Ucap Beni dengan menyeringai.
"Kamu memang selalu mengganggu Ben!" Ucap Rendy dengan mendengus.
"Terimakasih." Ucap Rendy dengan tersenyum menerima berkas yang berisi persyaratan yang diminta olehnya tadi.
"Sama-sama Bos." Jawab Beni lalu duduk disofa seberang mereka.
Rendy membuka dan membaca isi persyaratannya sekilas lalu menoleh kearah Kirana yang duduknya mojok diujung sofa membuatnya mengernyit menatap Kirana lalu terkekeh pelan.
"Kirana?" Rendy memanggil Kirana.
"Hah? Ya?" Jawab Kirana sedikit terkejut sambil menoleh dengan wajah yang masih merona.
"Aku beri kesempatan sama kamu, apa kamu mau menambah persyaratanmu lagi?" Tanya Rendy dengan serius menatap Kirana.
Kirana mengerjap lalu tampak berfikir.
"Mbak Kirana, kamu bisa tulis persyaratanmu disini." Sahut Beni sambil menyodorkan selembar kertas beserta pulpen kepada Kirana.
"Makasih Pak Beni." Ucap Kirana sambil menerima selembar kertas beserta pulpen dari tangan Beni.
"Sama-sama." Ucap Beni.
Kirana langsung duduk bersimpuh dilantai meletakkan kertas tersebut diatas meja dan siap menulis beberapa persyaratan yang akan diberikan kepada Rendy.
Rendy dan Beni pun bersamaan memperhatikan Kirana dengan mengernyit lalu saling tatap sekilas.
"Kirana, kamu bisa duduk disana dan menulis dimeja kerjaku." Ucap Rendy dengan menatap Kirana dengan aneh.
"Nggak perlu Pak. Begini jadi mengingatkan masa kecil saya saat belajar mengerjakan PR dirumah." Ucap Kirana diselingi kekehannya membuat Rendy menghela nafasnya dan mengangguk.
"Kalau gitu terserah kamu aja." Ucap Rendy dan membiarkan pacar barunya yang terlihat sangat polos dan unik ini bersimpuh dilantai untuk menulis.
Beni hanya mengulum senyumnya saja melihat tingkah Kirana yang polos dan apa adanya dan terkadang juga terlihat konyol.
Tak lama, Kirana telah selesai menulis beberapa persyaratan untuk Rendy. Ia bangkit berdiri dan menyodorkan kertas yang sudah berisi tulisan beberapa persyaratan darinya kepada Rendy. "Ini Pak. Saya sudah menulis beberapa persyaratan untuk Bapak." Ucapnya.
Rendy menoleh menatapnya lalu mengambil kertas tersebut dan membacanya. Rendy mengerutkan keningnya lalu menoleh menatap Kirana kembali yang masih berdiri dan Kirana hanya menyengir melihat ekspresi Rendy.
"Ini..kamu.." Rendy sampai kesulitan berucap setelah membaca beberapa persyaratan yang diberikan Kirana kepadanya.
Rasanya ingin sekali tertawa. Rendy dibuat bingung sekaligus merasa terhibur dengan persyaratan dari Kirana.
Yang pertama Kirana menulis: Harus merahasiakan kesemua orang kalau dia adalah pacarnya termasuk ke media, kedua: Selalu menjaga jarak, ketiga: Selalu menjaga jarak, keempat: Dilarang selingkuh, dan yang kelima: Saling memberi kabar.
"Gimana menurut Pak Rendy dengan persyaratan saya?" Tanya Kirana dengan wajah polosnya.
"Hanya ini?" Tanya Rendy dan Kirana mengangguk dengan tersenyum manis. "Untuk persyaratan yang kedua dan ketiga, aku keberatan." Ucap Rendy lagi dengan serius menatap Kirana.
"Terserah Pak Rendy. Yang jelas mau nggak mau, Pak Rendy harus tetap terima persyaratan dari saya!" Tegas Kirana tanpa ragu.
Rendy menghela nafasnya panjang tidak tau harus setuju atau tidak, ia tidak menghiraukannya.
"Kalau gitu, giliran kamu baca persyaratan dariku." Ucap Rendy sambil menyodorkan berkas yang berisi persyaratan darinya kepada Kirana.
Kirana menerima berkas tersebut lalu kembali duduk dan membacanya dengan serius.
Kirana terbelalak saat membaca persyaratan dari Rendy lalu menoleh dan menatap Rendy yang juga sedang menatapnya dengan menyeringai. Kirana mengulang lagi untuk membacanya.
................