
"Masuk aja Om." Rendy mempersilahkan Om Fahri masuk dan menuju kamar.
Om Fahri terpaku sejenak saat masuk kedalam kamar karena ini kedua kalinya ia kemari dan ada seorang wanita yang terbaring dikamar Rendy.
"Jangan mikir yang enggak-enggak Om." Ucap Rendy lagi ketika melihat Om Fahri terdiam menatap kearah ranjang.
"Rendy, apa kamu sering membawa pulang perempuan?" Tanya Om Fahri dengan heran.
"Sebaiknya Om periksa dia dulu. Aku takut dia kenapa-kenapa." Jawab Rendy yang merasa cemas.
Om Fahri juga merasa saat ini bukan waktunya bertanya. Ia segera memeriksa kondisi Kirana. "Apa yang terjadi sampai dia pingsan?" Tanya Om Fahri.
"Dia alergi makanan laut Om. Tadi gatal-gatal, terus muntah dan pingsan." Jawab Rendy.
"Kenapa tadi ditelepon kamu nggak bilang?" Tanya Om Fahri lagi sedikit marah.
"Maaf om, aku keburu panik tadi." Ucap Rendy.
"Sebaiknya sekarang juga kamu segera bawa dia ke rumah sakit Ren! Sepertinya alerginya cukup parah dan dia harus mendapat penanganan khusus." Ucap Om Fahri setelah memeriksa Kirana dan denyut nadi Kirana melemah.
Wajah Rendy pun seketika berubah menjadi tidak baik. Ia semakin cemas dan khawatir. Ia segera membawa Kirana ke rumah sakit dan sesampainya disana, Kirana langsung diberi oksigen.
Rendy menunggu didepan ruangan pemeriksaan sambil berjalan mondar mandir. Kemudian ia menghubungi Beni untuk datang kerumah sakit.
Sesampainya dirumah sakit, Beni mempercepat langkahnya menghampiri Rendy. "Bos, apa yang terjadi? Kamu udah sehat?" Tanya Beni dan memperhatikan Rendy yang sudah terlihat berenergi kembali.
"Aku udah dapet vitamin dari Kirana tadi. Malah sekarang gantian dia." Jawab Rendy.
"Mbak Kirana? Dia sakit apa Bos? Tadi dia sehat-sehat aja." Tanya Beni lagi menatap penuh menyelidik pada Rendy.
"Aku nggak tau dia punya alergi makanan laut. Tadi aku pesenin dia makanan laut." Jawab Rendy dengan wajah penuh penyesalan dan rasa bersalah.
"Tapi, kenapa mbak Kirana nggak bilang kalo dia punya alergi makanan laut?" Tanya Beni lagi membuat Rendy melirik sinis kepadanya.
"Banyak tanya kamu ya? Nanti kamu tanya aja sama dia!" Jawab Rendy dengan mendengus sinis.
Beni terdiam lalu mengusap tengkuknya dan menipiskan bibirnya. Ia juga merasa khawatir tau Kirana alergi hingga dibawa kerumah sakit. Sudah pasti parah.
"Ehm..Bos. Boleh tanya lagi?" Tanya Beni setelah terdiam sesaat dengan menyengir.
"Apa?" Rendy menoleh dengan sinis.
"Vitamin dari mbak Kirana, apa aku boleh minta? Sepertinya aku..." Tanya Beni seketika membuat Rendy melotot kepadanya dan Beni tidak melanjutkan kalimat terakhirnya lalu kembali bungkam.
Namun ia mengulum senyumnya menahan tawa. Beni tau vitamin yang dimaksud oleh Rendy dan ia hanya ingin menggoda Bosnya saja. Ternyata Reaksi Rendy membuat Beni merasa yakin kalau Bosnya ini sudah benar-benar jatuh hati pada Kirana.
"Ya udah. Aku mau balik dulu. Kamu disini jagain dia." Ucap Rendy sambil bangkit berdiri.
"Loh Bos. Tapi, kamu mau ngapain?" Tanya Beni.
"Aku mau mandi. Kamu kabarin aku aja kalo udah boleh masuk kedalam." Jawab Rendy kemudian melangkah pergi.
Baru dua langkah, ia berhenti lalu berbalik menatap Beni. "Ingat Ben! Jangan masuk dulu sebelum aku dateng!" Ucap Rendy penuh peringatan pada Beni.
"Oke Bos." Jawab Beni dengan menghela nafasnya.
Rendy kemudian segera pergi. Seharian ini ia belum mandi dan merasa risih meski tidak berkeringat.
Beni menggelengkan kepalanya merasa sangat heran kepada Bosnya. Apa Rendy akan cemburu kepadanya kalau ia dekat dengan Kirana?
Dekat dalam artian tidak seperti yang Rendy atau orang pikirkan. Sejak awal, Beni sudah menganggap Kirana sebagai adiknya sendiri. Maka dari itu, Beni juga terlihat perhatian terhadap Kirana. Ia akan merasa khawatir kalau terjadi sesuatu dengan Kirana.
"Dokter, bagaimana keadaan pasien didalam?"
"Apa kamu kelurganya?" Tanya dokter tersebut.
"Ehm..iya. Aku kakaknya." Jawab Beni sedikit ragu tapi akan lebih baik ia mengatakan sebagai kakaknya Kirana.
"Adikmu masih belum sadar. Denyut nadi dan nafasnya masih lemah dan dia harus dirawat inap." Ucap dokter memberitau keadaan Kirana.
"Apa pasien sudah boleh dijenguk?" Tanya Beni lagi.
"Silahkan. Tapi pasien akan dipindahkan ke kamar rawat inap setelah ini." Jawab dokter mempersilahkan Beni melihat Kirana.
Tapi Beni tidak mungkin masuk kedalam sebelum Rendy kembali. "Terimakasih dok. Aku akan melihatnya nanti setelah pasien dipindahkan saja."
"Baiklah. Kalau begitu saya tinggal dulu. Permisi." Pamit dokter dengan ramah dan Beni hanya mengangguk saja.
Beni segera menghubungi Rendy dan tak lama Rendy datang setelah Kirana dipindahkan ke kamar rawat inap.
"Dokter bilang apa tadi?" Tanya Rendy sambil berjalan menuju kamar rawat Kirana.
"Denyut nadi dan nafas mbak Kirana sangat lemah, jadi dia harus dirawat inap." Jawab Beni apa adanya.
Rendy sedikit mengangguk dengan wajah datar. Ia merasa sangat bersalah. Tapi ia juga merasa kesal. Kenapa Kirana tidak memberitaunya kalau punya alergi makanan laut?
Rendy dan Beni masuk kedalam kamar rawat Kirana. Rendy menatap dengan dalam wajah Kirana yang terlihat pucat dan sedikit bengkak akibat alergi dan terdapat selang oksigen untuk membantunya bernafas. Lalu ia menarik kursi dan duduk disamping tempat tidur Kirana.
Beni hanya berdiri diam selangkah dibelakang Rendy menatap Kirana.
Harusnya, Kirana merasa sangat beruntung banyak yang menyayanginya. Tetapi juga tidak sedikit yang tidak menyukainya ditempat kerja karena menganggapnya sebagai perempuan yang suka cari perhatian dan menggoda pimpinan perusahaannya.
Mereka hanya merasa iri dan tidak tau yang sebenarnya saja. Kirana berusaha untuk selalu bersabar dan diam karena ia menyadari siapa dirinya. Tapi kalau mereka sudah keterlaluan, Kirana juga tidak akan tinggal diam. Ia berhak untuk membela dirinya sendiri.
"Berapa hari dia harus dirawat inap?" Tanya Rendy tanpa mengalihkan pandangannya pada Kirana.
"Dua sampai tiga hari Bos." Jawab Beni dan Rendy hanya sedikit mengangguk.
Kirana perlahan membuka matanya lalu mengerjapkannya beberapa kali untuk menyesuaikan pandangannya. Ia merasa ada benda diwajahnya dab menyentuhnya.
"Jangan dilepas!" Tegas Rendy dan Kirana menatap Rendy lalu melihat ke sekelilingnya.
"Ini..dirumah sakit ya?" Tanya Kirana dengan bingung sambil bangun ingin duduk.
Rendy segera beranjak dan membantunya. "Iya. Kamu tiduran aja." Ucap Rendy tapi tetap membantu Kirana duduk dan menarik bantal lalu ia letakkan dipunggung Kirana.
"Kenapa bawa aku kerumah sakit sih? Aku nggak apa-apa kok." Ucap Kirana terdengar begitu lemah.
Rendy menekan tombol untuk memanggil perawat kemudian duduk didepan Kirana menatapnya. "Nggak apa-apa gimana? Kalo aku telat bawa kamu kesini, aku nggak tau apa yang akan terjadi. Lagian kamu sih! Kenapa nggak bilang kalo punya alergi makanan laut?" Ucap Rendy dengan wajah galaknya memarahi Kirana.
Kirana menundukkan wajahnya merasa sangat bersalah karena tidak memberitau Rendy dan malah merepotkannya seperti ini. "Maaf..aku..aku udah laper banget dan nggak enak kalo nolak makanan yang udah kamu pesenin." Ucap Kirana dengan menunduk merasa sangat sedih sekaligus bersalah.
Rendy menghela nafasnya lalu meraih tangan Kirana. "Lain kali nggak perlu lagi merasa nggak enak nggak enakan sama aku. Mulai sekarang, kalo kamu ada apa-apa atau butuh apapun, kamu bilang sama aku!" Ucap Rendy dengan serius menatap Kirana.
"Permisi, silahkan keluar sebentar. Dokter akan memeriksa pasien dulu." Seru perawat yang baru saja masuk bersama dokter yang tadi menangani Kirana.
Rendy dan Beni pun keluar menunggu didepan kamar rawat Kirana.
................