
Sejak malam itu, Pelangi selalu memikirkan apa yang di
lontarkan oleh Lucky. Dia mulai meyakini jika apa yang dipikirkannya selama ini
adalah benar. Beberapa kali ia merubah posisi tidurnya, sehingga membuat Lisa
terbangun.
“Apakah ada hal yang mengganggumu, Princess cold?” tanya
Lisa sembari mengucek kedua matanya.
“Eh, Sa. Maafkan aku, jika aku mengganggu tidurmu.”
“Ada apa? Katakan saja jika ada hal yang membuatmu sulit
tidur. Aku akan mendengarkan keluh kesahmu.” Ujar Lisa lagi. Kemudian Pelangi
berbaring saling berhadapan dengan Lisa.
“Sa, apakah dia sungguh kriteria yang kau cari selama ini?”
“……..”
Lisa terdiam sejenak, menatap Pelangi dengan hanya
mengedipkan kedua matanya berkali-kali.
“Sa, kau tahu siapa yang ku maksud bukan?”
“Si cowok cuek?” tanya Lisa, lalu Pelangi mengangguk dengan
ragu.
“Hah, entahlah. Ini rasa suka atau hanya obsesi, sebab sejak
pandangan pertama kami saat itu.. dia sudah membuat jantungku berdetak lebih
cepat. Hanya saja, sepertiya sulit untuk meluluhkan hatinya yang begitu dingin
dan tidak peka. Bahkan tidak banyak bicara, membuatku bosan.”
“Apakah sungguh seperti itu yang kau pikirkan? Aku rasa, dia
hanya kurang kurang percaya diri dan sedikit tertutup.” Jawab Pelangi.
Memndengar Pelangi berkata demikian, yang seolah memuji dan mengenal Lucky
lebih jauh, Lisa menatapnya lekat.
“Tunggu, apakah sejak tadi kau memikirkan laki-laki ku
sehingga tidak bisa tidur dengan nyenyak?”
“Cih, apaan sih? Jangan gila. Aku hanya bertanya dan ingin
tahu jawabanmu saja, huh. Sudahlah, aku mengantuk.”
Tiba-tiba saja Pelangi memutar badannya lagi lalu menutupnya
dengan selimut, wajahnya saat ini mendadak berubah panas dan nafasnya sedikit
tak beraturan. Ini pertama kalinya dia membohongi sahabatnya itu.
“Princess cold, aku hanya bercanda. Jangan marah begitu,
maafkan aku jika menggodamu demikian. Iiih berbaringlah menghadapku seperti
tadi, ayo!!!” ujar Lisa menggoyang-goyangkan tubuh Pelangi.
“Aduh, Lisa… Aku mengantuk, sudahlah. Lupakan saja, aku
tidak marah. Selamat tidur, miss beauty.”
“Hmm.. baiklah, aku akan tidur lagi. Mimpi indah,
sahabatku.” Jawab Lisa dengan nada lirih.
Pagi telah tiba, aktifitas mereka di kampus berjalan seperti
biasa. Pelangi dan Lisa sudah mulai terbiasa dnegan segala hal baru yang mereka
jalani dan lewati selama tinggal di kota itu, dengan kampus baru, ligkungan
baru, teman-teman baru, dan segala makanan khas yang awalnya berbeda di lidah
mereka.
“Hai…” sapa Exelle ketika Pelangi sedang duduk santai di
sebuah taman di kampus, Pelangi sedang duduk dengan beberapa teman baru juga
ada Lisa tentunya. Sementara Lisa sedang asyik berpose semanis dan secantik
mungkin untuk mencari perhatian beberapa cowok bule.
“Hai, Ex.” Balas Pelangi saat melihat Exelle datang.
“Maaf, jika aku mengganggu waktumu. Aku perlu bicara
sebentar, apakah tidak keberatan?”
“Oh, ehm… bicara tentang apa?” tanya Pelangi dengan
menaikkan salah satu alisnya.
“Ehm…” ucapan exelle terhenti, dan melirik ke beberapa
teman-teman Pelangi. Dan itu membuat Pelangi peka seketika jika Exelle mungkin
hanya ingin berbicara dengannya berdua saja.
“Ada apa, Ex?” tanya
Pelangi setelah sampai di tempat yang sedikit jauh dari beberapa temannya tadi.
Exelle menatapnya begitu lekat dan tampak enggan segera mengeluarkan suaranya.
“Ehm, maafkan aku. Malam nanti aku harus segera kembali ke Indonesia, oma sedang di rawat di rumah
sakit. Dia memintaku segera pulang dulu, tapi aku…”
“Tapi apa, Ex? Pulanglah segera, kau harus menjaga dan
merawat beliau saat ini.”
“Aku… aku mengkhawatirkanmu bagaimana disini tanpaku,
meskipun… ehm, aku sudah meminta saudaraku Lucky menjagamu selama aku belum
kembali.”
“Hey, apa yang kau pikirkan, Ex? Aku baik-baik saja, ada
Lisa, ada bibi yasmin yang selalu di sisiku. Kau tidak perlu khawatir.”
“Apapun itu, aku akan tetap merasa khawatir.” Jawab Exelle
“Hah, ayolah. Aku bukan anak kecil lagi, Ex. Aku bisa
menjaga diriku sendiri, pulanglah.”
Exelle menarik nafasnya dalam-dalam. Lalu Pelangi mencoba melempar
senyuman manisnya untuk menenangkan hati Exelle saat ini.
“Hah, entah kenapa. Senyuman mu itu selalu menenangkan bagi
setiap orang yang memandangnya. Aku bisa sedikit lega saat ini.”
“Cih, kau masih saja bisa menggombal dalam keadaan seperti
ini. Tenang saja, jangan mengkhawatirkanku.”
“Baiklah, aku harus segera kembali ke kelas. Dan ingat,
sellu kabari aku saat kita berjauhan nanti. Jangan sungkan meminta tolong pada
saudaraku.”
“Itu tidak perlu, ku rasa. Cepatlah, kembali ke kelasmu. Dan
hati-hati Ex, saat kau akan kembali ke Indonesia, semoga oma mu lekas sembuh.”
Ujar Pelangi.
“Terimakasih, Cewek galak.” Jawab Exelle singkat.
Lalu mereka berjalan beriringan hendak menuju kelas
masing-masing, karena jam kuliah selanjutnya akan segera di mulai kembali. Saat
mereka hendak akan saling berpisah, dengan sigap Exelle menarik pergelangan
tangan Pelangi. Dengan cepat Pelangi menoleh melihat ke arah tangannya itu,
perlahan kemudian menatap wajah Exelle.
“Apakah.. Saat kita berjauhan nanti, kau akan merindukanku?”
“Hmm… dasar gombal, pertanyaan konyol. Udah ah, jangan
menggodaku lagi.” Ujar Pelangi menepis tangan Exelle dengan Pelan.
“Hah, baiklah. Kau juga tidak akan percaya dengan apapun
yang akan aku katakan nanti,” jawab Exelle dengan senyuman paksa.
“Udah, ah. Aku masuk kelas dulu, ya. Kabari aku saat kau
sudah tiba di Indonesia.”
“Yess!!!” Exelle sangat gembira mendengar ucapan Pelangi
yang menyuruhnya memberi kabar, itu berarti, Pelangi sangat mempedulikannya.
Melihat hal itu membuat Pelangi tertawa cekikikan.
“Umh. Aku, ehm… aku akan pasti akan segera mengabarimu,
masuklah!” ujar Exelle memberi titah. Wajahnya sudah bersemu merah tersipu
malu.
Pelangi mengangguk dan berlalu pergi, baru saja melangkahkah
kaki dua langkah Exelle memanggilnya kembali. Pelngi menoleh dengan malas,
seraya memanyunkan bibirnya kesal.
“Aku akan sangat merindukanmu.” Ujar Exelle melambaikan
tangan. Pelangi tersenyum nyengir kemudian.
Saat tiba dirumah Exelle, Lucky menghampirinya dengan wajah
sedih. Exelle tersenyum diujung bibirnya menatap wajah saudaranya itu.
“Gak perlu memasang wajah sedih begitu, aku juga tidak akan
lama di Indonesia.”
“Bagaimana jika aku ikut saja ke Indonesia, aku tidak harus
ikut tinggal dirumah mu, aku mengerti. Aku bisa tinggal di hotel nantinya,
bukan?” jawab Lucky, ini adalah ucapannya yang kesekian kali sejak mendengar
Exelle akan kembali ke Indonesia.
“Apa kau yakin, papa akan mengizinkanmu ikut bersamaku?
Jangan membuat papa marah, lagipula aku punya tugas khusus untukmu. Dan kau
tidak oleh menolaknya, aku tidak akan menerima alasan apapun.”
Lucky mengerutkan keningnya ketika mendengar apa yang Exelle
katakan.
“Aakh, Ekspresi apa itu hah?” tanya Exelle dengan nada
lantang.
“E,eh… Maaf, maafkan aku.” Jawab Lucky menundukkan wajahnya.
Melihat hal itu, Exelle langsung merangkulnya dan menepuk-nepuk bahu Lucky.
“Maukah kau, membantuku untuk selalu menjaga dan melindungi si
cewek galak untukku?” tanya Exelle sembari meregangkan pelukannya.
“Tapi, Ex?’
“Ssssttt… aku bilang tadi apa? Aku tidak akan menerima
alasan apapun itu. Lagipula, kau hanya perlu memantaunya dari jauh. Ayolah, kau
hanya perlu membantuku untuk menjaga calon adik ipar. Hhihi,”
“Kita, kita hanya beda beberapa bulan saja. Mana bisa di
sebut adik ipar” jawab Lucky membantah. Membuat Exelle semakin terbahak-bahak.
“Jadi, kau mau menrima permintaan ku bukan?”
“Maaf, aku..”
“Yess. Terimakasih, saudaraku.” Jawab Exelle memotong ucapan
Lucky. Dalam hati Lucky bergumam, ini hanya sebentar saja bukan? Tak apa, hanya
sampai Exelle kembali .