Because, I Love You

Because, I Love You
#BILYS3 307



Sejak malam itu, Pelangi selalu memikirkan apa yang di


lontarkan oleh Lucky. Dia mulai meyakini jika apa yang dipikirkannya selama ini


adalah benar. Beberapa kali ia merubah posisi tidurnya, sehingga membuat Lisa


terbangun.


“Apakah ada hal yang mengganggumu, Princess cold?” tanya


Lisa sembari mengucek kedua matanya.


“Eh, Sa. Maafkan aku, jika aku mengganggu tidurmu.”


“Ada apa? Katakan saja jika ada hal yang membuatmu sulit


tidur. Aku akan mendengarkan keluh kesahmu.” Ujar Lisa lagi. Kemudian Pelangi


berbaring saling berhadapan dengan Lisa.


“Sa, apakah dia sungguh kriteria yang kau cari selama ini?”


“……..”


Lisa terdiam sejenak, menatap Pelangi dengan hanya


mengedipkan kedua matanya berkali-kali.


“Sa, kau tahu siapa yang ku maksud bukan?”


“Si cowok cuek?” tanya Lisa, lalu Pelangi mengangguk dengan


ragu.


“Hah, entahlah. Ini rasa suka atau hanya obsesi, sebab sejak


pandangan pertama kami saat itu.. dia sudah membuat jantungku berdetak lebih


cepat. Hanya saja, sepertiya sulit untuk meluluhkan hatinya yang begitu dingin


dan tidak peka. Bahkan tidak banyak bicara, membuatku bosan.”


“Apakah sungguh seperti itu yang kau pikirkan? Aku rasa, dia


hanya kurang kurang percaya diri dan sedikit tertutup.” Jawab Pelangi.


Memndengar Pelangi berkata demikian, yang seolah memuji dan mengenal Lucky


lebih jauh, Lisa menatapnya lekat.


“Tunggu, apakah sejak tadi kau memikirkan laki-laki ku


sehingga tidak bisa tidur dengan nyenyak?”


“Cih, apaan sih? Jangan gila. Aku hanya bertanya dan ingin


tahu jawabanmu saja, huh. Sudahlah, aku mengantuk.”


Tiba-tiba saja Pelangi memutar badannya lagi lalu menutupnya


dengan selimut, wajahnya saat ini mendadak berubah panas dan nafasnya sedikit


tak beraturan. Ini pertama kalinya dia membohongi sahabatnya itu.


“Princess cold, aku hanya bercanda. Jangan marah begitu,


maafkan aku jika menggodamu demikian. Iiih berbaringlah menghadapku seperti


tadi, ayo!!!” ujar Lisa menggoyang-goyangkan tubuh Pelangi.


“Aduh, Lisa… Aku mengantuk, sudahlah. Lupakan saja, aku


tidak marah. Selamat tidur, miss beauty.”


“Hmm.. baiklah, aku akan tidur lagi. Mimpi indah,


sahabatku.” Jawab Lisa dengan nada lirih.


Pagi telah tiba, aktifitas mereka di kampus berjalan seperti


biasa. Pelangi dan Lisa sudah mulai terbiasa dnegan segala hal baru yang mereka


jalani dan lewati selama tinggal di kota itu, dengan kampus baru, ligkungan


baru, teman-teman baru, dan segala makanan khas yang awalnya berbeda di lidah


mereka.


“Hai…” sapa Exelle ketika Pelangi sedang duduk santai di


sebuah taman di kampus, Pelangi sedang duduk dengan beberapa teman baru juga


ada Lisa tentunya. Sementara Lisa sedang asyik berpose semanis dan secantik


mungkin untuk mencari perhatian beberapa cowok bule.


“Hai, Ex.” Balas Pelangi saat melihat Exelle datang.


“Maaf, jika aku mengganggu waktumu. Aku perlu bicara


sebentar, apakah tidak keberatan?”


“Oh, ehm… bicara tentang apa?” tanya Pelangi dengan


menaikkan  salah satu alisnya.


“Ehm…” ucapan exelle terhenti, dan melirik ke beberapa


teman-teman Pelangi. Dan itu membuat Pelangi peka seketika jika Exelle mungkin


hanya ingin berbicara dengannya berdua saja.


 “Ada apa, Ex?” tanya


Pelangi setelah sampai di tempat yang sedikit jauh dari beberapa temannya tadi.


Exelle menatapnya begitu lekat dan tampak enggan segera mengeluarkan suaranya.


“Ehm, maafkan aku. Malam nanti aku harus segera kembali  ke Indonesia, oma sedang di rawat di rumah


sakit. Dia memintaku segera pulang dulu, tapi aku…”


“Tapi apa, Ex? Pulanglah segera, kau harus menjaga dan


merawat beliau saat ini.”


“Aku… aku mengkhawatirkanmu bagaimana disini tanpaku,


meskipun… ehm, aku sudah meminta saudaraku Lucky menjagamu selama aku belum


kembali.”


“Hey, apa yang kau pikirkan, Ex? Aku baik-baik saja, ada


Lisa, ada bibi yasmin yang selalu di sisiku. Kau tidak perlu khawatir.”


“Apapun itu, aku akan tetap merasa khawatir.” Jawab Exelle


“Hah, ayolah. Aku bukan anak kecil lagi, Ex. Aku bisa


menjaga diriku sendiri, pulanglah.”


Exelle menarik nafasnya dalam-dalam. Lalu Pelangi mencoba melempar


senyuman manisnya untuk menenangkan hati Exelle saat ini.


“Hah, entah kenapa. Senyuman mu itu selalu menenangkan bagi


setiap orang yang memandangnya. Aku bisa sedikit lega saat ini.”


“Cih, kau masih saja bisa menggombal dalam keadaan seperti


ini. Tenang saja, jangan mengkhawatirkanku.”


“Baiklah, aku harus segera kembali ke kelas. Dan ingat,


sellu kabari aku saat kita berjauhan nanti. Jangan sungkan meminta tolong pada


saudaraku.”


“Itu tidak perlu, ku rasa. Cepatlah, kembali ke kelasmu. Dan


hati-hati Ex, saat kau akan kembali ke Indonesia, semoga oma mu lekas sembuh.”


Ujar Pelangi.


“Terimakasih, Cewek galak.” Jawab Exelle singkat.


Lalu mereka berjalan beriringan hendak menuju kelas


masing-masing, karena jam kuliah selanjutnya akan segera di mulai kembali. Saat


mereka hendak akan saling berpisah, dengan sigap Exelle menarik pergelangan


tangan Pelangi. Dengan cepat Pelangi menoleh melihat ke arah tangannya itu,


perlahan kemudian menatap wajah Exelle.


“Apakah.. Saat kita berjauhan nanti, kau akan merindukanku?”


“Hmm… dasar gombal, pertanyaan konyol. Udah ah, jangan


menggodaku lagi.” Ujar Pelangi menepis tangan Exelle dengan Pelan.


“Hah, baiklah. Kau juga tidak akan percaya dengan apapun


yang akan aku katakan nanti,” jawab Exelle dengan senyuman paksa.


“Udah, ah. Aku masuk kelas dulu, ya. Kabari aku saat kau


sudah tiba di Indonesia.”


“Yess!!!” Exelle sangat gembira mendengar ucapan Pelangi


yang menyuruhnya memberi kabar, itu berarti, Pelangi sangat mempedulikannya.


Melihat hal itu membuat Pelangi tertawa cekikikan.


“Umh. Aku, ehm… aku akan pasti akan segera mengabarimu,


masuklah!” ujar Exelle memberi titah. Wajahnya sudah bersemu merah tersipu


malu.


Pelangi mengangguk dan berlalu pergi, baru saja melangkahkah


kaki dua langkah Exelle memanggilnya kembali. Pelngi menoleh dengan malas,


seraya memanyunkan bibirnya kesal.


“Aku akan sangat merindukanmu.” Ujar Exelle melambaikan


tangan. Pelangi tersenyum nyengir kemudian.


Saat tiba dirumah Exelle, Lucky menghampirinya dengan wajah


sedih. Exelle tersenyum diujung bibirnya menatap wajah saudaranya itu.


“Gak perlu memasang wajah sedih begitu, aku juga tidak akan


lama di Indonesia.”


“Bagaimana jika aku ikut saja ke Indonesia, aku tidak harus


ikut tinggal dirumah mu, aku mengerti. Aku bisa tinggal di hotel nantinya,


bukan?” jawab Lucky, ini adalah ucapannya yang kesekian kali sejak mendengar


Exelle akan kembali ke Indonesia.


“Apa kau yakin, papa akan mengizinkanmu ikut bersamaku?


Jangan membuat papa marah, lagipula aku punya tugas khusus untukmu. Dan kau


tidak oleh menolaknya, aku tidak akan menerima alasan apapun.”


Lucky mengerutkan keningnya ketika mendengar apa yang Exelle


katakan.


“Aakh, Ekspresi apa itu hah?” tanya Exelle dengan nada


lantang.


“E,eh… Maaf, maafkan aku.” Jawab Lucky menundukkan wajahnya.


Melihat hal itu, Exelle langsung merangkulnya dan menepuk-nepuk bahu Lucky.


“Maukah kau, membantuku untuk selalu menjaga dan melindungi si


cewek galak untukku?” tanya Exelle sembari meregangkan pelukannya.


“Tapi, Ex?’


“Ssssttt… aku bilang tadi apa? Aku tidak akan menerima


alasan apapun itu. Lagipula, kau hanya perlu memantaunya dari jauh. Ayolah, kau


hanya perlu membantuku untuk menjaga calon adik  ipar. Hhihi,”


“Kita, kita hanya beda beberapa bulan saja. Mana bisa di


sebut adik ipar” jawab Lucky membantah. Membuat Exelle semakin terbahak-bahak.


“Jadi, kau mau menrima permintaan ku bukan?”


“Maaf, aku..”


“Yess. Terimakasih, saudaraku.” Jawab Exelle memotong ucapan


Lucky. Dalam hati Lucky bergumam, ini hanya sebentar saja bukan? Tak apa, hanya


sampai Exelle kembali .