
"Dokter, saya mau pulang aja. Saya udah merasa baikan." Pinta Kirana ketika dokter memeriksanya.
"Masalahnya, kondisimu masih sangat lemah. Apa kamu masih merasa sesak nafas?" Tanya dokter ingin memastikan.
Kirana menggeleng pelan. "Enggak dok. Cuma masih lemes dikit aja. Tapi saya mau pulang." Jawab Kirana dengan wajah memohon.
Dokter pun menghela nafasnya tidak ingin memaksa pasiennya. "Baiklah kalau itu mau kamu."
Dokter beranjak pergi setelah memeriksa Kirana. Selang infus dan oksigen juga sudah dilepas. Kirana merasa lega dan beranjak turun bersiap ingin segera pulang.
"Loh, kamu mau kemana?" Tanya Rendy begitu masuk melihat Kirana sudah tidak ada infus dan oksigen yang menempel ditubuhnya.
"Mau pulang. Makasih ya, udah bawa aku kesini dan diperiksa dokter. Aku juga minta maaf udah nyusahin kamu." Ucap Kirana dengan tersenyum tulusnya.
Rendy mengernyit tidak menggubris ucapan Kirana. Ia melihat wajah Kirana masih pucat. Gimana bisa dia mau pulang?
"Ben! Panggil dokternya lagi!" Tegas Rendy membuat Kirana menatap bingung kepadanya.
"Oke Bos." Jawab Beni.
"Eeeh tunggu! Kenapa mau panggil dokternya lagi? Aku udah dibolehin pulang kok. Aku udah baikan." Pekik Kirana menahan langkah Beni.
"Kamu ini nggak cuma keras kepala tapi juga ngeyel ya?!" Rendy kembali memarahi Kirana. "Cepat naik!" Tegas Rendy sambil mendorong pelan tubuh kecil Kirana untuk naik lagi ke ranjang rumah sakit.
Beni yang masih berdiri disana hanya memperhatikannya dengan wajah datar. Tidak tau harus bagaimana.
"Eeeeh Mas! Aku mau pulang! Aku udah bilang dokter barusan." Ucap Kirana sambil berbalik dan naik ke atas ranjangnya dengan wajah cemberut.
"Ben! Kamu ngapain masih diem aja disitu?" Rendy sedang marah dan Beni kena bentak juga olehnya.
Tanpa menjawab, Beni langsung bergegas pergi memanggil dokter.
Rendy menatap Kirana yang cemberut. Ia duduk didepannya. "Kamu masih pucet. Aku cuma khawatir aja kalo kamu kenapa-napa. Kamu jadi kayak gini juga gara-gara aku." Ucap Rendy melembut sambil mengusap sisi wajah Kirana menatapnya dengan rasa bersalah.
"Kamu tuh nggak ngerti Mas." Ucap Kirana dengan lemah.
"Nggak ngerti apa? Aku ngerti banget malah!" Ucap Rendy dengan penuh percaya diri.
"Ngerti apa coba?" Tanya Kirana dengan menaikkan dagunya menatap Rendy seolah sedang menantangnya.
Rendy tidak langsung menjawab tapi mencubit hidung Kirana dengan gemas.
"Aduh, aawh! Sakit Mas!" Pekik Kirana sambil memukul tangan Rendy dan Rendy terkekeh.
"Sebaiknya sekarang kamu istirahat. Nggak usah mikir biaya selama kamu dirawat." Ucap Rendy dengan sikap lembutnya membuat Kirana terbelalak.
Astaga! Apa dia punya Indra ke enam? Kok tau yang aku pikirin?
Batin Kirana menatap bingung Rendy.
"Kenapa? Itu kan yang jadi beban pikiran kamu sekarang?" Tanya Rendy dengan sedikit tersenyum.
Kirana mengerjapkan matanya lalu mengalihkan pandangannya kearah lain. Ia merasa sangat malu juga tidak bisa harus bicara apa lagi. Rendy sudah bisa menebak isi pikirannya saat ini.
"Permisi. Anda memanggilku kemari, apa ada keluhan lain?" Tanya dokter yang tiba-tiba sudah datang dan berdiri didekat tempat tidur.
Kirana dan Rendy menoleh bersamaan kearah dokter. Rendy bengkit berdiri terlihat begitu berwibawa.
"Apa dokter sudah mengijinkan dia pulang?" Tanya Rendy ingin memastikan.
"Iya benar. Karena pasien memaksa ingin pulang dan saya tidak berhak memaksanya. Tapi saya sudah menulis resep untuknya. Ini!" Jawab dokter juga dengan sikap wobawanya lalu menyerahkan resep obat yang dibutuhkan Kirana untuk rawat jalan.
"Baik Bos!" Seru Beni menerima kertas yang bertuliskan resep obat kemudian segera pergi untuk menebus obat sekaligus mengurus biaya administrasi untuk Kirana.
...
Akhirnya Rendy juga tidak ingin memaksa Kirana untuk dirawat inap dirumah sakit. Mereka sedang dalam perjalanan pulang.
Tubuh Kirana masih lemas dan dia tertidur. Tubuh kecilnya merosot kesamping hingga bersandar pada pintu mobil.
Rendy meraih tubuh kecil Kirana dengan hati-hati agar tidak terbangun, kemudian membawanya untuk bersandar didada bidangnya.
Beni yang duduk didepan menyetir, sejak tadi terus melirik kekaca spion memperhatikan dua orang yang duduk dibelakang dan menyunggingkan senyumnya.
Mobil telah sampai di basement apartemen Rendy. Beni turun dan membukakan pintu untuk Bosnya.
Rendy membopong Kirana dengan hati-hati dan membawanya turun dari mobil.
Merasa sudah selesai dengan tugasnya hari ini, Beni pun pamit kemudian pergi membiarkan Bosnya membawa Kirana.
Sesampainya di unit apartemen Rendy, dia membaringkan Kirana di ranjang king sizenya lalu menyelimutinya.
Sebenarnya Rendy sudah mengantuk sejak tadi setelah meminum obat penurun panas. Tapi rasa kantuknya hilang dan sekarang dia tidak bisa tidur.
Rendy beranjak pergi ke kamar satunya yang ia jadikan ruang kerja. Ia mengecek email dan melanjutkan pekerjaannya yang belum terselesaikan hingga ia tertidur dengan kepala bersandar diatas meja.
Kirana terbangun dan ia merasa terkejut karena ia berada dikamar Rendy. Dengan cemas dan panik, ia mengecek keseluruhan tubuhnya.
Kirana menghela nafas lega karena pakaiannya masih utuh. Sejak Rendy menciumnya lagi semalam dan ingin menyentuhnya, Kirana menjadi sering merasa cemas jika dekat dengan Rendy. Apalagi hanya berdua saja.
Kirana mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Rendy tapi ia tidak melihat bayangan laki-laki tampan itu didalam kamar. "Dimana dia?"
Kemudian Kirana melihat kearah jam dinding sudah jam tujuh. Ia terbelalak kembali karena ia harus bersiap untuk pergi kerja.
"Duuuh! Aku kesiangan ini!" Gumamnya dan segera beranjak turun dari tempat tidur lalu berlari keluar kamar.
'DUK! BRUK!'
"Aduh, aaawh!" Kirana mengaduh saat terjatuh dilantai.
"Astaga Kirana!" Seru Rendy kemudian masuk kedalam kamar dan berjongkok didepan Kirana meraih wajahnya dan memeriksanya.
"Apaan sih Mas?! Kamu kalo mau masuk bilang dong!" Kirana menangkis tangan Rendy lalu ia mengusap-usap keningnya yang terasa nyeri dan sedikit benjol karena terbentur pintu.
Saat ia berlari ingin keluar kamar tadi, bersamaan dengan Rendy yang membuka pintu. Akhirnya Kirana terbentur pintu lalu jatuh terjungkal.
"Ya maaf. Mana aku tau kalo kamu ada dibalik pintu tadi. Kamunya juga nggak bilang." Balas Rendy yang membuat Kirana mendengus kesal sambil cemberut dan mengusap-usap keningnya. "Sakit ya?" Tanya Rendy sambil menyentuh kening Kirana yang benjol dan sedikit menekannya.
"Aduh Mas! Sakit!" Pekik Kirana dan memukul tangan Rendy.
"Benjol tuh jidat kamu." Ucap Rendy dan Kirana semakin cemberut lalu bangkit berdiri.
Rendy lebih dulu bangkit berdiri dan memegangi lengan Kirana membantunya berdiri. "Ayo aku obatin." Ucap Rendy sambil menarik tangan Kirana.
"Nggak usah Mas. Aku harus pulang. Aku mau siap-siap kerja! Udah telat ini!" Tolak Kirana karena ia ingin cepat pulang untuk bersiap-siap berangkat kerja.
"Sebaiknya kamu nggak usah berangkat kerja dulu sampai kamu bener-bener pulih." Ucap Rendy. "Jangan ngeyel!" Lanjutnya ketika melihat reaksi Kirana yang tidak sejutu dengan ucapannya.
Kirana ingin protes tapi Rendy tidak memberi kesempatan untuknya bicara. Akhirnya, dengan sangat terpaksa Kirana menuruti atasannya ini yang menurutnya semakin menyebalkan.
................