
Vanessa merasa sangat kesal karena Rendy langsung memutuskan sambungan teleponnya begitu saja setelah ia bertanya tentang keberangkatannya besok ke Jakarta. Ia berniat ingin mengantarnya sampai ke bandara untuk salam perpisahan.
Keesokan paginya, Rendy sudah sampai di bandara dengan setelan jasnya yang begitu rapi membuatnya semakin tampan dan terlihat sangat berwibawa. Ia langsung naik ke dalam pesawat pribadinya. Dalam pikirannya, ia terus memikirkan Olivia. Ia ingin segera sampai ke Jakarta dan menemuinya.
Setibanya di Jakarta setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih satu jam, yang ingin dilakukan Rendy adalah menemui Olivia. Beni yang sudah kembali dari kampung halamannya, sudah menunggu Rendy di bandara. Ia segera menghampiri bosnya dan membawakan koper yang dibawa Rendy.
"Apa udah beres Bos masalah di Surabaya?" Tanya Beni sambil berjalan menuju parkiran mobilnya.
"Iya." Jawab Rendy singkat kemudian ia masuk kedalam mobil dibarisan penumpang.
Beni menaruh koper milik Rendy di bagasi kemudian ia masuk kedalam mobil dibagian kemudi. Semenjak Beni menjadi asisten pribadi sekaligus bodyguard Rendy, Pak Salim sudah jarang mengantar jemput Rendy.
"Antar aku ke apartemen Fortuna." Ucap Rendy memberi perintah kepada Beni dengan wajah dinginnya.
"Oke Bos." Jawab Beni.
Beni melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju apartemen Fortuna tempat tinggal Olivia. Beni sesekali memperhatikan Rendy yang tampak melamun menatap kearah kaca jendela seperti sedang memikirkan sesuatu dan wajahnya juga tampak gelisah.
Ia yakin kalau Bosnya ini sedang memikirkan kekasihnya. Siapa lagi kalau bukan Olivia?
Beni sedikit menyunggingkan senyumnya dan menggelengkan kepalanya.
Ia hanya merasa heran kepada Bosnya ini. Kenapa Bosnya ini bisa sejatuh cinta ini kepada wanita seperti Olivia?
Meski Beni laki-laki normal, namun hatinya tidak memungkiri untuk memuji ketampanan dan kehebatan Rendy.
Tapi untuk urusan hati, Beni menilai Rendy terlalu bodoh karena masih mempertahankan hubungannya dengan Olivia bahkan begitu mempercayainya.
Terkadang cinta memang bisa bikin orang jadi konyol! Ucap Beni dalam hati.
Sesampainya di basement parkiran apartemen Fortuna, Rendy langsung turun dari mobil dan berjalan menuju lift tanpa menunggu Beni membukakan pintu mobilnya.
Beni hanya duduk diam didalam mobil menunggu Bosnya yang terlihat sedang gelisah dan terburu-buru ingin menemui kekasihnya.
...
Rendy telah berdiri didepan pintu unit apartemen Olivia. Ia menekan bell berkali-kali namun pintu tak kunjung dibuka dari dalam. Olivia juga tidak memberi tau Rendy sandi apartemennya, jadi Rendy tidak bisa langsung masuk begitu saja.
Setelah beberapa kali memencet bell dan merasa bahwa Olivia memang tidak ada didalam, Rendy pun memutuskan untuk pergi. Ia turun menuju basement parkiran mobilnya kembali dengan wajah yang sudah tampak semakin gelisah juga emosional.
Beni yang melihat bosnya keluar dari lift, ia segera turun dan membukakan pintu untuknya.
"Kita pulang!" Ucap Rendy sambil masuk kedalam mobilnya.
"Baik Bos." Jawab Beni sambil menutup pintu mobilnya dan segera naik dibagian kemudi.
Dalam perjalanan, Rendy merasa hatinya tidak tenang. Pikirannya terus tertuju pada Olivia yang tidak bisa ia hubungi sejak ia pergi ke Surabaya. Olivia seperti menghilang begitu saja.
Sesampainya dikediaman Pradipta, Rendy langsung masuk kedalam rumah dan langsung naik keatas menuju kamarnya tanpa memperhatikan Bi Sumi yang menyambut kedatangannya. Rendy seolah tidak melihat dan tidak mendengar sapaan Bi Sumi membuat Bi Sumi menatap aneh kepadanya.
"Bi, ini koper Bos Rendy." Ucap Beni yang masuk dengan membawa koper milik Rendy.
"Kamu langsung bawa aja keatas." Jawab Bi Sumi menyuruh Beni dan Beni mengangguk lalu naik keatas.
"Ada apa Bi?" Tanya Beni sambil menoleh.
"Apa yang terjadi dengan Den Rendy?" Tanya Bi Sumi dan Beni hanya mengedikkan pundaknya membuat Bi Sumi mendengus kemudian berbalik dan pergi ke dapur.
Beni menghela nafasnya lalu kembali berjalan naik keatas menuju kamar Rendy.
Tok! Tok! Tok!
Beni mengetuk pintu kamar Rendy dan Rendy langsung membukakan pintunya.
"Ini Bos, koper anda." Ucap Beni sambil menyodorkan koper kepada Rendy dan Rendy meraihnya kemudian langsung menutup pintunya tanpa peduli dengan Beni.
Beni terpaku sejenak kemudian berbalik dan pergi.
Rendy termenung sejenak.
"Sebaiknya aku ke perusahaan aja!" Gumamnya yang tidak ingin terus memikirkan Olivia yang masih tidak bisa dihubungi. Lebih baik, ia menyibukkan diri diperusahaan.
...
Sore harinya, diperusahaan Pradipta Grup.
Kirana masih belum menyelesaikan pekerjaannya karena Yolanda sedang cuti dan Rossa sudah ijin untuk pulang lebih awal karena ada urusan keluarga dan Kirana harus lembur hari ini untuk menyelesaikan pekerjaannya sendirian.
Ia telah memberi tau Haris kalau dirinya mungkin pulang malam belum tau jam berapa. Ia tidak bisa memastikan pekerjaannya selesai sampai jam berapa dan menolak Haris saat menawarinya untuk menjemputnya nanti, karena Kirana merasa sangat tidak enak juga tidak ingin merepotkan Haris meski Haris sendiri sama sekali tidak pernak merasa direpotkan hanya untuk menjemput Kirana.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Kirana merasa sangat lapar, namun pekerjaannya sudah hampir selesai, jadi ia menahan rasa laparnya dan melanjutkan pekerjaannya.
Ada sepasang mata yang sedari tadi mengintip dari balik pintu kaca. "Kamu memang cantik Kirana." Gumamnya dengan menyeringai sambil terus menatap Kirana dari balik pintu kaca, kemudian ia segera berbalik dan bersembunyi ketika Kirana menoleh kearahnya.
Kirana merasa matanya pedih juga berat karena seharian ini ia terus menatap layar komputer. Perutnya juga terasa perih karena menahan lapar dan rasa kantuk yang sudah mulai menyerangnya, membuatnya tidak bisa konsentrasi mengerjakan pekerjaannya.
"Gimana bisa selesai kalau laper dan ngantuk begini? Hufff!" Gumam Kirana. "Bikin kopi aja kali ya?" Lanjutnya lalu bangkit dan berjalan menuju pantry untuk membuat kopi dan mencari cemilan disana sekedar untuk mengganjal rasa laparnya malam ini.
Saat ia berjalan melewati koridor, tiba-tiba ada yang memeluk dan membekap mulutnya dari belakang membuatnya sangat terkejut sekaligus ketakutan. Namun ia tidak bisa berteriak karena mulutnya dibekap erat oleh siapa ia tidak tau karena tidak bisa melihatnya.
Tubuh kecil rampingnya terseret dan ia dibawa masuk ke sebuah ruangan yang sudah gelap karena semua lampu di perusahaan telah dipadamkan, hanya beberapa ruangan tertentu yang masih menyala.
"Eemmmh!" Kirana berusaha ingin berteriak dan terus memberontak. Namun ia merasa tidak berdaya karena sejak siang ia belum makan dan tubuhnya merasa begitu lelah.
Ya Tuhan tolong aku! Teriak Kirana dalam hati.
Kirana hanya bisa terus berteriak dalam hati.
'BRUGH!'
"Aahk!" Pekik Kirana saat tubuhnya didorong keras kedepan hingga tersungkur diatas meja. Ia pun segera berbalik mencoba melihat siapa yang telah membekapnya dan menyeretnya ke ruangan gelap ini.
Tapi sayang, Kirana tidak bisa melihatnya karena ruangan ini sangat gelap.
................