
"Ki, gimana? Bu Farah ngomong apa sama kamu? Kamu dimarahin ya?" Tanya Yolanda sedikit berbisik pada Kirana.
Kirana mendengus kesal dan menggeleng. Ia hanya tidak menyangka kalau Bu Farah akan bertanya tentangnya dan Rendy. Dan Kirana bisa melihat wajah sadisnya tadi yang seperti tidak menyukainya kalau ia dekat dengan Rendy.
"Beneran kamu nggak dimarahin Bu Farah? Muka kamu kesel gitu. Pasti karena tadi kamu telat dateng." Ucap Yolanda lagi yang masih memperhatikan raut wajah Kirana yang tamak kesal sekaligus gelisah.
"Aku nggak apa-apa kok Yol." Jawab Kirana dengan tersenyum kemudian mereka fokus dengan pekerjaannya kembali.
...
"Bos, apa kamu yakin meminta mbak Kirana jadi pacar kamu?" Tanya Beni dengan serius menatap Rendy yang sedang membaca dokumen.
Rendy mengangkat wajahnya dan menatap Beni. "Apa aku keliatan becanda?" Tanya balik Rendy.
"Kalau Bu Nadine tau, beliau pasti akan senang Bos." Ucap Beni sedikit menyunggingkan senyumnya.
Rendy mengernyit. "Kamu ini jangan sok tau!" Ucap Rendy dengan mendengus.
Beni pun kembali diam kemudian ia berpamitan pergi untuk melakukan pekerjaannya. Rendy kembali fokus dengan dokumennya.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Rendy melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya ternyata sudah jam makan siang.
Tok Tok Tok!
"Masuk!" Seru Rendy dan Siska membuka pintu lalu masuk menghampiri Rendy.
"Pak Rendy mau keluar untuk makan atau mau saya pesankan saja?" Tanya Siska.
"Saya mau makan diluar." Jawab Rendy lalu meraih ponselnya diatas meja.
"Baik Pak, kalau begitu saya permisi." Ucap Siska yang diangguki Rendy kemudian segera keluar.
Rendy menghubungi Kirana baru tersambung sudah langsung diangkat oleh Kirana.
"Ya Pak?"
"Sepertinya kamu semangat banget ngangkat telepon dari saya." Ucap Rendy dengan tersenyum.
"Kebetulan aja saya sedang pegang HP Pak. Ada apa Pak Rendy telepon saya?" Ucap Kirana menyangkal.
"Jangan bilang kalau kamu lupa!" Tegas Rendy seketika membuat Kirana terpaku dan terdiam.
"Setelah makan siang nanti, kamu keruangan saya!" Ucap Rendy kembali saat Kirana terdiam lalu menutup teleponnya sebelum Kirana menjawab.
Rendy menyimpan ponselnya disaku jasnya lalu beranjak keluar dari ruangan kantornya.
...
"Duuuh! Gimana ini?" Gumam Kirana dengan gelisah.
Kirana sedang ditoilet ketika menerima telepon dari Rendy, karena ia tidak ingin Rossa dan Yolanda tau atau mendengar pembicaraannya dengan sang Presdir tampan idola semua karyawan wanita disini.
Sudah pasti kedua teman Kirana tersebut akan membrondong pertanyaan kepadanya dan terus memaksa Kirana untuk menjawabnya.
Kirana keluar dari toilet dan kembali menuju kantin untuk makan siang. Siang ini, ia tidak berselera makan dan hanya mengaduk-aduk makanannya sambil melamun.
"Ki!" Panggil Yolanda sambil menepuk tangan Kirana yang duduk dihadapannya.
"Euh? Ya? Kenapa Yol?" Tanya Kirana dengan wajah bingung.
"Kamu kenapa sih? Dari tadi aku perhatiin kamu sering ngelamun. Ada masalah?" Tanya Yolanda penuh perhatian.
Rossa hanya diam mendengarkan dan memperhatikan mereka sambil makan.
Andai saja Rendy memiliki perasaan sama sepertinya, mungkin Kirana tidak akan merasa ragu dan gelisah seperti ini dan mungkin akan lebih mudah memberi jawaban yang diharapkan oleh Rendy tanpa banyak berfikir.
Tapi Kirana juga merasa kalau itu sangat mustahil. Rendy hanya ingin dia membantunya saja. Bukan karena menyukainya apalagi mencintainya.
Selesai makan siang, Kirana bersama Yolanda dan Rossa kembali ke ruangan kantornya. Kirana menunggu semua karyawan kembali sibuk dengan pekerjaannya dulu baru dia akan keruangan Pak Presdir.
Saat ia kembali ke meja kerjanya, ponselnya bergetar dan ada panggilan masuk lagi dari Rendy. Kirana menoleh kearah Yolanda dan Rossa memastikan mereka sedang fokus dengan pekerjaannya. Kemudian Kirana mengangkat telepon dari Rendy.
"Ya Pak? Ada apa?" Tanya Kirana dengan berbisik.
"Jangan membuat saya menunggu kamu Kirana!" Tegas Rendy membuat Kirana menelan ludahnya dan semakin cemas.
"I..iya, saya segera kesana." Jawab Kirana lalu menutup sambungan teleponnya dan beranjak keluar dari ruangan kantornya.
Yolanda dan Rossa yang tadinya sedang fokus dengan pekerjaannya, pandangan mereka langsung tertuju pada Kirana yang sudah pergi keluar terlihat terburu-buru. Mereka berdua saling menatap dan menggedikan bahunya tidak mengerti dengan sikap Kirana hari ini. Lalu mereka memilih kembali fokus dengan pekerjaan mereka.
Kirana tidak ingin para karyawan melihatnya sedang berkeliaran dijam kerja. Apalagi melihatnya sedang menuju ruangan Pak Presdir. Bisa heboh seluruh isi perusahaan ini membicarakannya.
Kirana mengendap-endap saat berjalan menuju lift.
"Hah?!" Tiba-tiba ia terkejut karena ada yang menepuk pundaknya dari belakang.
"Mbak Kirana lagi ngapain? Main petak umpet ya?" Tanya Beni yang sengaja ingin mengejek Kirana.
"Hisss! Pak Beni bikin kaget aja!" Ucap Kirana dengan kesal sambil membalas menepuk lengan Beni.
"Kalau gitu maaf udah bikin kaget." Ucap Beni dengan menyeringai.
"Saya mau ke ruangan Pak Presiden Direktur!" Ucap Kirana sambil mendengus kesal.
"Oh. Saya juga." Balas Beni dengan melirik Kirana. "Sebaiknya pakai lift eksklusif aja biar aman juga cepat." Ajak Beni sambil berbalik namun Kirana mencegahnya.
"Eh Pak, tapi..."
"Tenang aja, mbak Kirana nggak usah khawatir. Pak Rendy nggak akan marah. Mari!" Sahut Beni dengan cepat dan Kirana hanya mengangguk lalu mengikuti langkah Beni menuju lift pribadi untuk Pak Presdir sambil terus menengok sekeliling semoga tidak ada yang melihatnya.
Sesampainya dilantai paling atas tempat dimana ruangan kantor Pak Presdir berada, Kirana masih berjalan dibelakang Beni mengikuti Beni menuju ruangan Pak Rendy.
Siska yang melihat Kirana langsung beranjak menghadang ketika Beni dan Kirana sudah sampai didepan pintu ruangan Pak Presdir.
"Eh tunggu!"
Beni mengernyit menatap Siska yang menghadangnya.
"Emm..maaf Pak Beni. Kenapa dia mengikuti Bapak?" Tanya Siska dan Beni sekilas menoleh kebelakang kearah Kirana yang hanya diam memperhatikan.
"Pak Rendy yang nyuruh dia kesini. Sebaiknya kamu urus aja pekerjaanmu dan jangan ikut campur dengan urusan Pak Bos!" Tegas Beni dengan menatap lurus Siska.
Seketika Siska mundur dua langkah tidak bicara lagi.
Beni membuka pintu ruangan Pak Preadir lalu menoleh menatap Kirana. "Mbak Kirana, silahkan masuk!" Beni mempersilahkan Kirana masuk.
"Terimakasih Pak Beni." Ucap Kirana lalu melangkah masuk.
Siska menatap Kirana dengan tatapan penuh kebencian dan tanda tanya karena ia sangat penasaran kenapa Pak Rendy menyuruhnya datang ke ruangannya. Biasanya kalau Pak Rendy ingin memanggil karyawan atau siapapun itu melalui dirinya. Tapi saat menyuruh Kirana datang untuk menemui Pak Presdir bahkan Siska sama sekali tidak mengetahuinya. Apa Pak Rendy mengundangnya secara pribadi?
Siska tidak tau harus berbuat apa. Ia juga tidak mungkin melarang Kirana kalau memang Pak Presdir yang menyuruhnya datang. Ia menghela nafasnya berat lalu berbalik dan kembali ke mejanya untuk melakukan pekerjaannya kembali dengan perasaan yang tidak tenang.
................