
'Ya Tuhan! Dia ini...Pak Rendy?'
Kedua bola mata Kirana langsung membola karena terkejut melihat sosok Rendy yang baru saja menolongnya dengan tidak percaya.
Rendy menarik kerah baju preman yang masih terduduk tak berdaya di trotoar dengan kasar dan menghajarnya lagi.
"Hajar terus Mas! Jangan beri ampun! Biar kapok!" Teriak ibu-ibu korban jambret tadi masih dengan jengkel.
"Ahh--"
"Ampun, ampun, gue kapok, jangan pukul lagi!"
Preman itu terus meminta ampun karena benar-benar merasa sangat kesakitan. Wajahnya sudah bonyok akibat di hajar oleh Rendy.
'Astaga! Bisa mati tuh preman kalau dihajar terus kayak gitu.' Batin Kirana sambil membungkam mulutnya sendiri melihat Rendy menghajar preman yang hampir menyerangnya tadi.
Beberapa warga setempat pun berdatangan dan menghentikan pria yang sedang menghajar si preman tersebut.
"Sudah Mas, cukup!" Ucap salah satu warga yang sudah berumur pada Rendy untuk menghentikannya.
"Bapak-bapak, cepat seret dia ke kantor polisi! Dia tadi menjambret tas saya dan hampir menyerang mbak ini!" Ujar ibu-ibu korban jambret sambil menunjuk-nunjuk ke arah si jambret.
"Oh, dia ini sudah sering bikin onar di daerah ini. Dan kemarin, dia bersama dua temannya juga membuat keributan di pasar!" Sambung warga yang menjadi saksi mata atas ulah si jambret yang merupakan preman pasar dan sangat meresahkan banyak orang.
Mereka pun segera mengamankan si jambret dan menggiringnya ke kantor polisi. Semua orang-orang yang menyaksikan juga membubarkan diri.
"Kamu baik-baik aja?" Tanya Rendy pada Kirana.
"Ah...i-iya, Pak Rendy. Te-terima kasih banyak sudah menolong saya." Jawab Kirana tergagap karena masih terkejut dengan kedatangan Rendy yang secara tiba-tiba dan juga sedikit takut setelah menyaksikan bagaimana Rendy menghajar preman tadi.
Namun, Kirana juga merasakan jantungnya yang kembali berdegup dengan cepat.
'Ya ampun, lama-lama aku bisa kena serangan jantung dadakan nih.' Ucapnya dalam hati sambil berusaha menormalkan kembali detak jantungnya.
"Aduh, masnya keren banget loh. Seperti super hero yang ada di film-film." Ibu-ibu korban jambret tadi merasa kagum dengan Rendy.
"Makasih, Bu. Apa ibu juga baik-baik saja?" Tanya Rendy dengan ramah.
"Alhamdulillah, saya baik-baik saja. Untung tadi ada mbaknya ini yang berani menghentikan si jambret sialan itu dan menyelamatkan tas saya." Jawab ibu-ibu itu juga merasa kagum dengan keberanian Kirana.
Kirana hanya tersenyum dengan wajah tersipu.
Rendy melirik sekilas ke arah Kirana lalu tersenyum. "Syukurlah kalau begitu."
"Masnya cocok banget loh sama mbaknya ini. Mbaknya cantik dan masnya ganteng. Semoga kalian berjodoh ya." Ucap ibu-ibu itu secara spontan menatap Rendy dan Kirana bergantian.
Wajah Kirana terasa memanas dan mungkin saat ini sudah memerah seperti tomat. Dia memalingkan wajahnya untuk menutupi rona merahnya sambil mengontrol detak jantungnya yang semakin cepat.
'Mustahil kalau sampai kami berjodoh, Bu.' Batinnya.
Kirana merasa sangat tidak mungkin jika mendapat jodoh seperti Rendy sang PresDir perusahaan terbesar dan terkenal itu. Kirana hanya seorang gadis biasa dengan kehidupan yang serba sederhana, jauh dari kata mewah.
Rendy hanya tersenyum menanggapi ucapan ibu-ibu itu.
"Sekali lagi terima kasih banyak ya, Mas, Mbak. Dan ini, ada sedikit uang buat mbaknya sebagai ucapan terima kasih saya karena sudah menyelamatkan tas saya ini." Ibu-ibu itu kembali berterima kasih dan ingin memberi imbalan berupa uang pada Kirana.
Ibu-ibu itu tersenyum haru. "Mbaknya baik sekali."
Rendy tanpa sadar memperhatikan Kirana. Dia menatap gadis itu dan hatinya sedikit mengagumi ketulusan Kirana. Terlebih lagi, melihat senyuman manis di bibir merah muda Kirana yang membuat Kirana terlihat semakin enak dipandang.
"Kalau begitu saya permisi dulu ya, saya harus segera pulang. Mari Mbak, Mas. Sekali lagi terima kasih banyak." Ibu-ibu itu segera pergi dengan buru-buru karena hari juga semakin sore.
Tin,Tin!
Terdengar suara klakson mobil dan
mobil mewah berwarna hitam milik Rendy yang dikendarai Beni berhenti di pinggir jalan. Beni segera turun dan menghampiri Rendy.
"Bos, apa terjadi sesuatu? Tadi, aku lihat ada keramaian di sini."
"Cuma ada preman yang bikin onar." Jawab Rendy datar.
"Terus, di mana premannya, Bos? Biar aku bereskan dia." Ucap Beni sambil melihat sekeliling.
"Kamu telat. Premannya udah dibawa ke kantor polisi sama warga." Jawab Rendy.
"Oh, maaf." Beni tidak lagi berbicara.
"Apa kamu mau pulang?" Tanya Rendy menatap Kirana membuat Kirana menjadi salah tingkah.
'Ya ampun, mimpi apa aku semalam sampai aku dipertemukan dengan cowok-cowok seganteng ini?' Batin Kirana sambil melebarkan kedua bola matanya menatap Beni.
"Ehem!" Beni sengaja berdeham, membuat Kirana kembali tersadar dan langsung memalingkan wajahnya.
Rendy hanya menggelengkan keplananya menahan tawa saat melihat tingkah Kirana yang seperti gadis polos yang tidak pernah melihat sosok laki-laki.
"Maaf, Mbak. Bos saya bertanya pada Anda."
"Hah?" Kirana terbengong menatap bingung pada Beni dan Rendy bergantian.
"Kalau mau pulang, saya bisa antar kamu." Ucap Rendy berniat memberi tumpangan pada Kirana.
"Kalau begitu, mari! Kami antar Mbak sampai ke rumah." Imbuh Beni dengan ramah meski wajahnya terlihat kaku.
"Ah...enggak usah. Nanti malah jadi ngerepotin. Lagi pula, saya masih ada urusan lain. Maaf dan terima kasih banyak sebelumnya ya. Kalau begitu saya permisi dulu. Mari!" Setelah berbicara, Kirana kemudian segera pergi.
'Bisa beneran kena serangan jantung kalau sampai mau diantar mereka.' Batin Kirana sambil berjalan dengan langkah cepat.
Karena hari semakin sore, Kirana juga harus segera membeli keperluannya kemudian pulang.
Rendy masih berdiri diam di tempatnya sambil memperhatikan langkah Kirana yang sudah tidak terlihat.
"Bos, apa perlu kita kejar gadis itu?" Tanya Beni yang langsung mendapat tatapan membunuh dari Rendy.
Beni pun langsung terdiam tidak berani berbicara sembarangan lagi.
................