
Tak lama kemudian, Lisa sudah siap dengan segala
penampilannya yang selalu ingin tampil mempesona. Pelangi yang hanya mengenakan
baju kemeja berpadukan celana levis lalu menutupinya lagi dengan long cardigan
untuk melindungi tubuhnya dari cuaca dingin di kota itu, pagi ini.
“Sa, ku bilang kita hanya akan pergi ke pasar tradisioal
saja. Tapi penampilanmu itu, astaga.” Lagi da lagi Pelangi menggoda sahabatnya
itu.
“Iiih, bibi Yasmin. Lihat si Princess cold. Dia menggodaku
terus sejak tadi. Apakah kita sugguh akan pergi ke pasar tradisional? Aku belum pernah pergi ke
tempat seperti itu…” jawab Lisa dengan wajah pucat.
“Hihihi, astaga. Sudah nona, jangan menggoda nona Lisa lagi.
Disini tidak ada pasar tradisional nona, jika ingin tunggu saja tuan Kevin
datang kemari lalu mengantar kalian, karena tempatnya sangat jauh.” Ujar bibi
Yasmin menjelaskan.
“Hahaha. Astaga, ayolah Sa. Kenapa kau sungguh percaya
ucapan ku, aku hanya bercanda.”
“Huh, kau sudah tertular kejahilan Exelle. Btw, ku perhatikan
kalian semakin serasi.” Balas Lisa sembari melewati Pelangi berjalan lebih
dulu.
“Apaan sih, Sa. Jangan mulai deh!” jawab Pelangi dengan
cemberut menyusul langkah Lisa bersamaan dengan bibi Yasmin. Lisa merasa puas
melihat Pelangi demikian, higga kini mereka tiba di halaman bawah.
“Ehm, bi. Kita pergi jalan kaki?” Tanya Pelangi.
“Apakah nona keberatan? Bibi terbiasa berjalan kaki jika
membeli segala bahan makanan dan untuk memasak di dapur. Itu membantu
meregangkan otot-otot kita untuk tetap sehat.” Ujar bibi Yasmin.
“Ehm, baiklah bi. Aku suka ide itu, sekalian aku ingin
menikmati udara pagi di sepanjang jalan ini.” Jawab Pelangi mengiyakan dengan
senyuman.
“Huhft, syukurlah kali ini aku tidak kecolongan dengan
memakai sepatu kets.” Ujar Lisa dengan nafas lega. Mendengar hal itu bibi Yasmi
dan Pelangi cekikikan.
Lalu mereka berjalan beriringan di sepanjang jalan trotoar
yang tampak sangat bersih dengan berbagai macam tanaman buga-bunga dan
pepohonan hijau mebuat mata terasa segar memandanginya. Sesekali, Lisa memotret
Pelangi diam-diam untuk di abadikan di ponselnya. Dan lalu mengajaknya berfoto
bersama dengan bibi Yasmin pula, mereka menikmati suasana pagi ini dengan hati
bahagia.
Tak berapa lama kemudian, mereka tiba di sebuah pusat
belanja yang begitu besar, bersih ligkungan halaman depannya dan tampak
beberapa mobil dan sepeda berjejer hampir memenuhi halaman parkir.
“Woah, ini keren. Sepertinya tempat ini sangat di jaga ketat
kebersihannya, karena itu sangat ramai di kunjungi.” Ujar Lisa terperangah
sembari berjalan masuk ke dalam ruangan.
Bibi Yasmin mengajak Pelangi dan Lisa untuk pergi ke bagian
pusat penjualan daging segar dahulu, lalu beralih mencari beberapa sayur mayur,
segala macam bumbu, hingga tiba di bagian pusat segla macam buah segar.
Melihat buah strawberry yang begitu besar dan merah merekah,
Pelangi langsung saja mendekatinya lalu menyentuhnya. Hingga tanpa sadar
meubruk tubuh seseorang.
“Oh?” Pelangi terkejut melihat siapa yang di tubruknya
barusan.
“E,eh.. maaf, aku tidak sengaja.”
“Eh, tidak. Aku, aku lah yang menakbrakmu tadi. Maafkan
aku,” ujar Pelangi dengan gugup. Sembari memejamkan kedua matanya dia bergumam
dalam hati. Dia Lucky, karena hanya dia lah yang mampu membuat Pelangi gugup
demikian.
Aaakh, sial. Kenapa aku bertemu
dengannya juga disini? Membuatku takut saja. Eh tapi…
“Oh…” Jawabnya singkat.
“Ka,kau sendiri?” tanya Pelangi mencoba lebih akrab.
Sontak Pelangi menatapnya tajam.
“Si,siapa yang kau maksud kekasihku? Cih, aku bahkan belum
mengatakan hal apapun pada Exelle. Aaah, aku baru sadar. Kau disini pasti
karena ingin bertemu dengan sahabatku Lisa, bukan? Dih, sok cuek. Padahal…”
balas Pelangi menggerutu.
“Maaf, apakah ucapanku tadi menyinggungmu? Kau sepertinya
marah padaku.
Oh Tuhan, apa-apaan aku ini? Apakah
barusan aku sedang marah? Enggak kan?
“E,eh.. Enggak, siapa yang marah? Aku, aku hanya bertanya,
karena aku datang bersama Lisa.” Jawab Pelangi dengan salah tingkah melihat ke
kanan dan ke kiri juga ke belakang. Namun Lisa tidak tampak bersamanya, dia
baru menyadari jika saat ini hanya ada
dia dan Lucky saja berhadapan.
Melihat Pelangi seperti kebingungan, dia mengangkat kedua
alisnya ke atas, seolah sedang ingin menghujani Pelangi dengan banyak
pertanyaan. Mereka saling menatap satu sama lain untuk yang kesekian kalinya.
Membuat debaran jantung mereka kian semakin terasa.
“Kau… suka buah ini?” tanya Lucky mencoba mengalihkan saat
menyadari wajah Pelangi kian memerah karena menahan malu.
“Ah, eh… ya, aku sangat menyukainya sejak kecil. Menurutku
inilah buah yang terbaik dan paling segar.” Jawab Pelangi sembari
menggaruk-garuk rambut di kepalanya. Lucky semakin terhentak mendengar hal itu,
bahkan ekspresi nya saat ini mengingatkannya pada Pelangi di masa kecil.
“Kau… mirip dengan seorang gadis kecil di masa kecilku.”
Jawab Lucky degan spontan melontarkan kata seperti itu.
Oh Tuhan, apa yang ku katakan barusan?
Mengapa aku mengatakannya?
“Eh, teman masa ke-cil?” Pelangi terkejut bukan main. Kini
kedua matanya sudah berkaca-kaca.
Apakah… apakah dia orang yang sama
Tuhan? Pliss… Itu tidak mungkin.
“Eh, cowok cuek? Kau disini juga? Ya ampun, senangnya.”
Tiba-tiba saja Lisa muncul dari belakang, dengan cepat Pelangi
menyeka air matanya untuk tidak terlihat oleh Lisa lalu berpura-pura memilih
buah strawberry. Lisa tampak sangat sumringah menatap wajah Lucky yang tetap
tampak tenang.
“Ha,hai.. Iya, aku… Ehm, ingin memilih buah. Stok dirumah
sedag habis, jadi aku membelinya.”
“Ehm, eh Princess cold. Ih, kau ini. Apa kau tidak melihat
si cowok cuek ini, mengapa tidak memanggilku?”
“Iya, maaf. Aku juga baru menyadarinya jika kau menghilang di
belakangku barusan,” jawab Pelangi sembari terus memilih buah di depannya lalu
memasukkanya ke kantong plastik. Dia sengaja tak menoleh sedikitpun, karena
hatinya saat ini masih kacau serta kedua telinganya terus berdengug suara Lucky
yang menyebutnya mirip denga teman masa lalunya.
“Hah, kau ini. Eh lalu dimana Exelle, apakah dia tidak ikut?”
Tanya Lisa kembali seraya medongakkan kepala mencari-cari sosok Exelle.
“Dia masih tertidur lelap saat aku hendak mengajaknya pergi,
ku tidak tega membangunkannya.” Jawab Lucky sembari melirik ke arah Pelangi.
Jawaban Lucky membuat Pelangi memelototinya, karena dia merasa
telah di kerjai oleh Lucky tadi. Pelagi hendak menegurnya, dia sudah mulai
membuka mulut untuk mengeluarkan suara. Namun, dia berusaha menahan dirinya
kembali setelah melihat Lisa enggan memalingkan wajahnya dari hadapan Lucky.
“Ehm, aku duluan ya. Kalian lanjut mengobrol saja, aku akan
menyusul bibi Yasmin.” Ujar Pelangi dengan cepat melewati mereka.
“Eeeh, tunggu aku. Ih, nyebelin. Princess cold, tunggu aku.”
Ucap Lisa memanggil Pelangi dan meninggalkan Lucky begitu saja. Setelah itu,
tampak Lucku memegang dadanya. Dia merasa jika sejak tadi jantungnya hampir
saja melompat keluar ketika berada di dekat Pelangi.