Because, I Love You

Because, I Love You
#BILYS3 306



Tak lama kemudian, Lisa sudah siap dengan segala


penampilannya yang selalu ingin tampil mempesona. Pelangi yang hanya mengenakan


baju kemeja berpadukan celana levis lalu menutupinya lagi dengan long cardigan


untuk melindungi tubuhnya dari cuaca dingin di kota itu, pagi ini.


“Sa, ku bilang kita hanya akan pergi ke pasar tradisioal


saja. Tapi penampilanmu itu, astaga.” Lagi da lagi Pelangi menggoda sahabatnya


itu.


“Iiih, bibi Yasmin. Lihat si Princess cold. Dia menggodaku


terus sejak tadi. Apakah kita sugguh akan pergi ke  pasar tradisional? Aku belum pernah pergi ke


tempat seperti itu…” jawab Lisa dengan wajah pucat.


“Hihihi, astaga. Sudah nona, jangan menggoda nona Lisa lagi.


Disini tidak ada pasar tradisional nona, jika ingin tunggu saja tuan Kevin


datang kemari lalu mengantar kalian, karena tempatnya sangat jauh.” Ujar bibi


Yasmin menjelaskan.


“Hahaha. Astaga, ayolah Sa. Kenapa kau sungguh percaya


ucapan ku, aku hanya bercanda.”


“Huh, kau sudah tertular kejahilan Exelle. Btw, ku perhatikan


kalian semakin serasi.” Balas Lisa sembari melewati Pelangi berjalan lebih


dulu.


“Apaan sih, Sa. Jangan mulai deh!” jawab Pelangi dengan


cemberut menyusul langkah Lisa bersamaan dengan bibi Yasmin. Lisa merasa puas


melihat Pelangi demikian, higga kini mereka tiba di halaman bawah.


“Ehm, bi. Kita pergi jalan kaki?” Tanya Pelangi.


“Apakah nona keberatan? Bibi terbiasa berjalan kaki jika


membeli segala bahan makanan dan untuk memasak di dapur. Itu membantu


meregangkan otot-otot kita untuk tetap sehat.” Ujar bibi Yasmin.


“Ehm, baiklah bi. Aku suka ide itu, sekalian aku ingin


menikmati udara pagi di sepanjang jalan ini.” Jawab Pelangi mengiyakan dengan


senyuman.


“Huhft, syukurlah kali ini aku tidak kecolongan dengan


memakai sepatu kets.” Ujar Lisa dengan nafas lega. Mendengar hal itu bibi Yasmi


dan Pelangi cekikikan.


Lalu mereka berjalan beriringan di sepanjang jalan trotoar


yang tampak sangat bersih dengan berbagai macam tanaman buga-bunga dan


pepohonan hijau mebuat mata terasa segar memandanginya. Sesekali, Lisa memotret


Pelangi diam-diam untuk di abadikan di ponselnya. Dan lalu mengajaknya berfoto


bersama dengan bibi Yasmin pula, mereka menikmati suasana pagi ini dengan hati


bahagia.


Tak berapa lama kemudian, mereka tiba di sebuah pusat


belanja yang begitu besar, bersih ligkungan halaman depannya dan tampak


beberapa mobil dan sepeda berjejer hampir memenuhi halaman parkir.


“Woah, ini keren. Sepertinya tempat ini sangat di jaga ketat


kebersihannya, karena itu sangat ramai di kunjungi.” Ujar Lisa terperangah


sembari berjalan masuk ke dalam ruangan.


Bibi Yasmin mengajak Pelangi dan Lisa untuk pergi ke bagian


pusat penjualan daging segar dahulu, lalu beralih mencari beberapa sayur mayur,


segala macam bumbu, hingga tiba di bagian pusat segla macam buah segar.


Melihat buah strawberry yang begitu besar dan merah merekah,


Pelangi langsung saja mendekatinya lalu menyentuhnya. Hingga tanpa sadar


meubruk tubuh seseorang.


“Oh?” Pelangi terkejut melihat siapa yang di tubruknya


barusan.


“E,eh.. maaf, aku tidak sengaja.”


“Eh, tidak. Aku, aku lah yang menakbrakmu tadi. Maafkan


aku,” ujar Pelangi dengan gugup. Sembari memejamkan kedua matanya dia bergumam


dalam hati. Dia Lucky, karena hanya dia lah yang mampu membuat Pelangi gugup


demikian.


Aaakh, sial. Kenapa aku bertemu


dengannya juga disini? Membuatku takut saja. Eh tapi…


“Oh…” Jawabnya singkat.


“Ka,kau sendiri?” tanya Pelangi mencoba lebih akrab.


Sontak Pelangi menatapnya tajam.


“Si,siapa yang kau maksud kekasihku? Cih, aku bahkan belum


mengatakan hal apapun pada Exelle. Aaah, aku baru sadar. Kau disini pasti


karena ingin bertemu dengan sahabatku Lisa, bukan? Dih, sok cuek. Padahal…”


balas Pelangi menggerutu.


“Maaf, apakah ucapanku tadi menyinggungmu? Kau sepertinya


marah padaku.


Oh Tuhan, apa-apaan aku ini? Apakah


barusan aku sedang marah? Enggak kan?


“E,eh.. Enggak, siapa yang marah? Aku, aku hanya bertanya,


karena aku datang bersama Lisa.” Jawab Pelangi dengan salah tingkah melihat ke


kanan dan ke kiri juga ke belakang. Namun Lisa tidak tampak bersamanya, dia


baru menyadari jika saat ini hanya  ada


dia dan Lucky saja berhadapan.


Melihat Pelangi seperti kebingungan, dia mengangkat kedua


alisnya ke atas, seolah sedang ingin menghujani Pelangi dengan banyak


pertanyaan. Mereka saling menatap satu sama lain untuk yang kesekian kalinya.


Membuat debaran jantung mereka kian semakin terasa.


“Kau… suka buah ini?” tanya Lucky mencoba mengalihkan saat


menyadari wajah Pelangi kian memerah karena menahan malu.


“Ah, eh… ya, aku sangat menyukainya sejak kecil. Menurutku


inilah buah yang terbaik dan paling segar.” Jawab Pelangi sembari


menggaruk-garuk rambut di kepalanya. Lucky semakin terhentak mendengar hal itu,


bahkan ekspresi nya saat ini mengingatkannya pada Pelangi di masa kecil.


“Kau… mirip dengan seorang gadis kecil di masa kecilku.”


Jawab Lucky degan spontan melontarkan kata seperti itu.


Oh Tuhan, apa yang ku katakan barusan?


Mengapa aku mengatakannya?


“Eh, teman masa ke-cil?” Pelangi terkejut bukan main. Kini


kedua matanya sudah berkaca-kaca.


Apakah… apakah dia orang yang sama


Tuhan? Pliss… Itu tidak mungkin.


“Eh, cowok cuek? Kau disini juga? Ya ampun, senangnya.”


Tiba-tiba saja Lisa muncul dari belakang, dengan cepat Pelangi


menyeka air matanya untuk tidak terlihat oleh Lisa lalu berpura-pura memilih


buah strawberry. Lisa tampak sangat sumringah menatap wajah Lucky yang tetap


tampak tenang.


“Ha,hai.. Iya, aku… Ehm, ingin memilih buah. Stok dirumah


sedag habis, jadi aku membelinya.”


“Ehm, eh Princess cold. Ih, kau ini. Apa kau tidak melihat


si cowok cuek ini, mengapa tidak memanggilku?”


“Iya, maaf. Aku juga baru menyadarinya jika kau menghilang di


belakangku barusan,” jawab Pelangi sembari terus memilih buah di depannya lalu


memasukkanya ke kantong plastik. Dia sengaja tak menoleh sedikitpun, karena


hatinya saat ini masih kacau serta kedua telinganya terus berdengug suara Lucky


yang menyebutnya mirip denga teman masa lalunya.


“Hah, kau ini. Eh lalu dimana Exelle, apakah dia tidak ikut?”


Tanya Lisa kembali seraya medongakkan kepala mencari-cari sosok Exelle.


“Dia masih tertidur lelap saat aku hendak mengajaknya pergi,


ku tidak tega membangunkannya.” Jawab Lucky sembari melirik ke arah Pelangi.


Jawaban Lucky membuat Pelangi memelototinya, karena dia merasa


telah di kerjai oleh Lucky tadi. Pelagi hendak menegurnya, dia sudah mulai


membuka mulut untuk mengeluarkan suara. Namun, dia berusaha menahan dirinya


kembali setelah melihat Lisa enggan memalingkan wajahnya dari hadapan Lucky.


“Ehm, aku duluan ya. Kalian lanjut mengobrol saja, aku akan


menyusul bibi Yasmin.” Ujar Pelangi dengan cepat melewati mereka.


“Eeeh, tunggu aku. Ih, nyebelin. Princess cold, tunggu aku.”


Ucap Lisa memanggil Pelangi dan meninggalkan Lucky begitu saja. Setelah itu,


tampak Lucku memegang dadanya. Dia merasa jika sejak tadi jantungnya hampir


saja melompat keluar ketika berada di dekat Pelangi.