
Jam istirahat pelajaran Pelangi berlari menuju perpustakaan. Seperti biasa, setiap kali hatinya merasa tidak tenang dan kacau. Dia selalu menyendiri di ruang perpustakaan, dengan membaca banyak buku hingga pikirannya tak terkontrol lagi oleh hatinya yang sedang kacau.
"Hey, mau kemana si jutek, kalian tidak ikut?" Tanya Joe pada ke tiga sahabat Pelangi.
"Seperti biasa, sepertinya mood Princess Cold hari ini sedang rusak. Dan sudah di pastikan dia akan pergi kemana," Ujar Lisa.
"Duuh, kita sudah bersahabat lama. Tapi my Princess Cold belum pernah berbagi pada kami saat dia seperti ini." Jawab Lucas dengan wajah cemberut.
"Sudah lah, ada kalanya Pelangi kita memprivasi masalahnya sendiri. Kita jangan mengganggunya, itu akan sedikit melegakan untuk nya bukan?" Ujar Jeni menyimpulkan.
"Tapi, ada apa? Kenapa dengan Pelangi? Dan kemana dia akan pergi? Bukan kah ini jam istrahat, bagaimana jika dia sakit karena telat untuk makan siang."
"Sebaiknya kau jangan mencoba untuk menghampirinya di ruang perpus kali ini, Joe. Atau tidak, kau akan habis di hajarnya." Ujar Lisa.
"Hemm... Jadi dia diruang perpus, ehm.. Ayo, kita ke kantin." Joe tampak seolah akan merencanakan sesuatu, namun kemudian dia mengajak ke tiga sahabat Pelangi menuju kantin.
Setelah berbincang-bincang sembari menikmari makan siang mereka di kantin, Joe tergesa-gesa menghabiskan makanan nya. Membuatnya sampai tersedak, dan dengan sigap Jeni memberikannya sebotol air mineral. Sementara Lisa dan Lucas tercengang akan sikap Jeni yang begitu peduli dan memperhatikan Joe.
"Thank you, Jen. Aku duluan ya, kalian lanjutkan saja dulu. Aku ada hal yang harus ku selesaikan dahulu, ok. Selamat makan siang," Ujar Joe yang kemudian beranjak pergi.
"Tapi, Joe.. Aku.." Ucapan Jeni terhenti ketika Joe hanya melambaikan tangan sementara Lucas dan Lisa menatap Jeni dengan tajam.
"Jen, jujur deh sama kita-kita. Elu suka sama Joe?" Tanya Lisa dengan nada serius.
"E,eh.. Aku, aku.. Bukan kah aku sudah menjelaskan sebelumnya, jika aku hanya..."
"Ah, sudah lah. Aku hanya tidak ingin kau terluka di awal hatimu jatuh cinta," Jawab Lisa lagi.
"A,apa maksudmu, Sa?"
"Sepertinya Joe sangat menyukai Princess cold kita, dan entah kenapa feeling ku begitu kuat. Aku merasa jika kali ini Joe akan memenangkan hati nya, tapi.. Ah entah lah."
"Tapi Joe bilang hanya ingin berteman saja dengan Pelangi, tidak lebih." Jeni membantah ucapan Lisa dengan menekan nada bicaranya.
"OMG Jeens, kau baru saja marah? Apa kau sungguh marah pada kami, Jeens?" Lucas menyeru kemudian bertanya dengan nada mendette. Membuat Jeni memucat seketika, Lisa semakin percaya dengan kata hatinya saat ini.
"Jen, udah deh. Aku tegaskan sekali lagi, jatuh hati pada seseorang yang tidak memiliki perasaan sama pada kita itu sangat menyakitkan, jika pun Joe adalah sosok cowok type mu. Urungkan saja niatmu, aku tidak ingin melihat para sahabatku terluka katena patah hati. Khususnya KAU, Jen. Kau masih terlalu polos perihal hubungan cinta, sebelumnya kau tidak pernah mengenal kata pacaran bukan?"
Jeni terdiam menundukkan wajahnya ketika Lisa yang selama ini dia anggap kekanakan dengan sikap manja nya itu. Kini berubah serius dengan tatapan yang begitu lekat.
"Iih, kalian apaan sih. Lagian, si Joe tidak akan jatuh hati pada siapapun. Karena dia, hanya milikku... Hahaha," Ujar Lucas berusaha mencairkan keheningan yang cukup menegang.
"Lucaaasss !!!"
Kemudian Lisa dan Jeni berteriak dengan lantang akan ucapan Lucas yang terdengar konyol dan menjijikkan bagi mereka.
🌻🌻🌻
Di ruang perpustakaan, Pelangi duduk sendiri diantara beberapa murid lainnya. Ia sengaja memilih kursi di pojok, agar saat dia ingin melampiaskan segalanya dengan air mata tidak akan ada satupun yang melihatnya.
Kembali Pelangi terbayang masa kecilnya, ketika dia sedang sibuk sendiri selalu Lucky yang menemani dan mengajaknya banyak bicara hingga membuatnya sampai lelah.
Air mata Pelangi menetes hingga akan terjatuh membasahi lembaran buku yang berada di tangannya, tatapannya kosong..
Namun diam-diam, tanpa Pelangi sadari. Air mata nya jatuh membasahi telapak tangan Joe yang sengaja dia tengadahkan tepat di bawah dagu Pelangi dari arah samping.
"Jadi air mata ini yang selalu ada di balik sikapmu yang selalu dingin pada semua orang? Diam-diam kau menangis sendiri tanpa sebab, entah apa masalah mu itu."
Dengan terkejut dan sigap Pelangi menoleh ke arah suara yang mengajaknya bicara. Ia menyadari jika Joe sudah menampung air mata nya di telapak tangan nya. Dan cepat-cepat Pelangi menyekanya. Joe tersenyum mengalihkan tatapannya yang semula dari Pelangi.
"Udah deh, untuk apa di hapus. Lagi pula air mata mu sudah ku tangkap dengan tangan ku, apakah ini perlu ku simpan di museum khusus benda langka? Hihihi."
"Kau sungguh gila, Joe. Untuk apa kau kemari hah?" Ujar Pelangi setengah berbisik, seraya menggertakkan giginya. Ia benar-benar kesal dan tidak menyangka jika Joe adalah orang pertama yang melihatnya diam-diam menitikkan air mata. Bahkan Joe merupakan baru saja dia kenal di sekolah ini.
"Nih, habis nangis pasti kau lapar dan haus." Ujar Joe sembari memberinya sebotol minuman dan sepotong roti yang sengaja dia beli diam-diam saat di kantin.
Pelangi memalingkan wajah dari pemberiannya itu, Joe tampak menarik nafasnya dalam-dalam.
"Huhft... Makanan dan minuman ini tidak salah, mereka bukan musuh mu. Makan lah, jika kau bersikeras menolaknya. Kau bisa membuangnya, tapi kau juga pasti tahu. Membuang makanan begitu saja tidak baik, iya bukan?" Ujar Joe kembali dengan meletakkan nya di depan Pelangi.
"Boleh aku duduk disini bersama mu?" Tanya Joe kembali. Namun Pelangi masih terdiam tanpa jawaban.
"Ehm, baiklah Langi. Aku tidak akan mengganggu mu," Joe hendak pergi.
Joe terlihat senang, dia tersenyum puas lalu membalikkan badannya kembali menghadap Pelangi. Mata mereka kembali bertemu.
"Apa kau mengizinkan ku duduk disini bersamamu?" Ujar Joe dengan antusias.
"Terimakasih untuk roti dan minumannya. Rasanya sangat tidak sopan jika aku tidak mengucapkan kata terimakasih atas pemberian seseorang."
"Astaga, sepertinya aku terlalu GR. Ku pikir kau akan menyuruhku duduk menemanimu disini, hah."
"Boleh saja, tapi dengan satu kesepakatan. Dan ini berlaku hanya sekali untuk selamanya,"
"Wow, sepertinya ini sangat serius." Jawab Joe berusaha menerka dengan senyuman di wajahnya yang berpangku pada lengannya di hadapan Pelangi.
"Jangan meledekku, jangan menggoda ku, dan jangan membeberkan pada semua termasuk ketiga sahabatku atas apa yang kau lihat tadi." Ujar Pelangi dengan tegas.
"Pffttt... Hahaha,"
"Ssssssttt.. Hai kau, pelankan suaramu. Mengganggu saja, ini ruang perpus." Seorang murid lainnya menegur Joe dengan marah karena Joe tertawa begitu lepas. Tanpa menyadari keberadaannya kini dimana.
"Oh ya ampun, dasar kau menyebalkan. Sekali lagi kau menertawaiku, aku akan meninjumu."
"Owh, upz. Baik lah, aku tidak akan tertawa lagi. Baiklah maafkan aku, Langi."
"Ish... Berhenti menyebutku dengan nama panggilan itu, Joe."
"Kenapa Pelangi, kenapa kau begitu membenci nama panggilan itu. Aku menyukainya," Ujar Joe dengan tatapa serius pada Pelangi, membuat Pelangi terdiam mengatupkan kedua bibirnya.
"Apakah ada seseorang yang mengatakannya lebih dulu dari ku, atau..."
"Jangan sok tahu dengan hidup ku, Joe."
"Lalu kenapa? Kenapa kau selalu marah, dan sikapmu terlalu berlebihan Pelangi. Hey, kita satu sekolah bahkan satu kelas saat ini. Tidak kah wajar jika kita berteman akrab satu sama lain?"
"Bukan kah kau sudah menjadi bagian dalam teman-teman ku, setiap kali kami berkumpul bersama kau bahkan selalu ada juga bukan? Apakah itu belum cukup?"
"Tidak, Pelangi. Itu belum cukup bagi ku, apakah kau tidak lelah dengan sikap mu yang dingin itu? Apa kau tidak merasa lelah harus berdiam diri seperti ini, menanggung semua sendiri, menangis diam-diam sendiri. Entah apa masalah berat itu, tapi bisakah kau berbagi pada ku atau paling tidak pada sahabat mu. Mereka begitu menyayangimu, kau tidak pernah tahu bagaimana mereka selalu merasa bersalah dan cemas saat kau memilih diam sendiri seperti ini. Apa itu yang dibilang sahabat hah?"
"Diam !!! Jangan mengatur ku seperti itu. Siapa kau hah? Bahkan mereka sahabat dekat ku selama ini, tidak pernah mengaturku demikian."
"Kau.. Berubah Langi, aku sedih melihatmu seperti ini."
"Kenapa kau selalu berkata seolah kita pernah saling kenal dulu, jangan membuat cerita konyol."
"Jadi kau memanggilku hanya untuk berdebat seperti ini? Kau sungguh gadis yang dingin. Aku tidak tahu apakah sebelumnya pernah ada seseorang yang betah akan sikap mu yang seperti ini? Atau mungkin tidak pernah ada karena kau begitu keras hati dan dingin. Sikap mu ini terkadang membuat semua orang tidak menyukaimu, Langi."
Mendengar hal itu, Pelangi mengepalkan tangannya dengan gemetaran. Dan melempar minuman serta sepotong roti di hadapannya ke arah Joe, membuat Joe terkejut kemudian Pelangi beranjak pergi. Dengan cepat Joe mengejarnya, dengan tergesa-gesa Joe berusaha meraih tangan Pelangi untuk menghentikannya.
"Maafkan aku, jika aku keterlaluan tadi."
"Lepaskan tangan ku," jawab Pelangi dengan cetus menepis tangan Joe.
"Ku mohon maafkan aku, Langi. Eh maksud ku, Pe-la-ngi."
"Sudah lah, tidak penting lagi. Pikiran dan hatiku sudah cukup rumit dengan hal-hal yang konyol selama ini, aku tidak ingin menambahkannya lagi dengan ucapan gila mu tadi."
"Ya, aku memang gila. Mungkin jika kita bisa berteman akrab dan saling berbagi, aku biss sedikit waras. Hehe,"
"Cih, terserah kau saja."
"Yess, kata terserah aku anggap kau menyetujui untuk berteman akrab dengan ku seperti du..."
"Apa aku berkata demikian hah? Aku bahkan tidak mengiyakannya. Aku sudah cukup memiliki sahabat baik seperti Lucas, Lisa dan Jeni."
"Tapi aku tidak. Aku hanya akan merasa cukup dan betah berada disini jika kau mau berteman dengan ku, hem.."
"Aaarrght... Terserah kau, Joe. Kau sungguh mengganggu ku, aku muak terus saja kau ikuti dengan ucapan mu yang selalu memohon."
"Aku tidak akan berhenti sebelum apa yang aku inginkan aku dapatkan, sama seperti pertemanan kita saat ini."
Kemudian Pelangi pergi begitu saja melewati Joe, tampak Joe melompat dan menari sejenak. Dia merasa berhasil membuat Pelangi menerimanya untuk berteman lebih akrab.
Aku sudah tidak tahan lagi, Langi. Tapi aku harus terpaksa dan bisa hingga waktu yang tepat untuk membuatmu mengingatku kembali. Maafkan aku...