Because, I Love You

Because, I Love You
#BILYS3 205



Dua hari kemudian, tiba waktu yang akan kembali menguras air mata setelah dua hari sebelumnya Pelangi dan si kembar menghabiskan waktu bersama setiap kali pulang sekolah hingga malam tiba.


Pagi ini, Kevin dan Nia sudah tiba di halaman rumah untuk berpamitan. Mengetahui hal ini, Pelangi sudah berlari dengan tangisan memeluk Kevin. Nia pun memeluknya saat Pelangi berada dalam dekapan Kevin, diam-diam aku tak kuasa melihat pemandangan ini. Air mata ku pun ikut terjatuh, namun dengan cepat aku menyekanya.


Kemudian si kembar pun ikut berlarian memeluk Kevin dan Nia yang sejak tadi merangkul tubuh puteri ku, Pelangi. Terasa sesak, mereka terlanjur begitu dekat dengan anak-anak ku. Ku rasakan tangan kanan Irgy perlahan merangkul bahu ku dari belakang, berniat menenangkan ku yang diam-diam sekuat tenaga mengontrol kesedihanku.


"Om, tante.. Jangan pergi, nanti siapa yang mengajak kami bermain diluar?" Ucap si kembar.


"Om, tante. Pelangi masih ingin bersama kalian disini, tidak bisakah lebih lama tinggal di Indonesia?" Ujar Pelangi dengan sesunggukan.


"Anak-anak om, maafkan om ya. Om harus kembali menjalankan tugas om di luar sana. Om janji, nanti akan selalu mengabari kalian ya."


"Kalian anak-anak pintar dan baik, jangan seperti ini. Tante jadi semakin berat berpisah dengan kalian, kalian harus janji akan selalu jadi anak baik dan pintar. Membanggakan kami semua disini, belajar yang rajin di sekolah. Hem," Ujar Nia kemudian, sembari mengecup pipi mereka satu persatu.


"Lalu kapan kita akan bertemu lagi?" Tanya si kembar.


"Suatu hari kami akan kembali mengunjungi kalian."


"Janji?"


"Kami janji, tapi kalian juga harus berjanji pada kami. Jadi anak yang baik dan pintar, ok." Ucapan Nia di balas anggukan tegas oleh anak-anak.


"Om..." Panggil Pelangi dengan suara lirih. Kevin tersenyum penuh kehangatan lalu menyeka air mata Pelangi yang terus mengalir.


"Cobalah untuk mengerti, Nak. Jangan menangis lagi, om dan tante sangat menyayangimu jua. Jangan membuat kami semakin berat, berjanjilah satu hal."


"Apa, om?" Tanya Pelangi dengan sesunggukan.


"Tetaplah menjadi sosok yang periang seperti peri kecil yang om kenal dulu, belajarlah mengendalikan semua hal yang membuat hati mu merasa diasingkan. Kau tidak sendiri, Nak."


"Iya, peri kecil om ini tidak akan mengecewakan uncle baik yang sejak kecil selalu menyayangiku."


Kevin tersenyum penuh keharuan hingga menitikkan air mata mendengar panggilan kata 'Uncle baik' kembali di ucapkan dari bibir mungil Pelangi. Kemudian memeluk tubuh sintal Pelangi kembali dengan erat lalu menciumi kepalanya seperti seorang ayah yang akan berpisah jauh dari anaknya.


"Semoga Tuhan selalu memberikan kebahagiaan dan perlindungan untuk mu, Nak. Kelak kau harus menjadi seorang dokter yang berhati tulus dan mulia."


"Kevin, sudah waktunya. Nanti kita terlambat ke bandara." Ucap Nia kemudian. Aku dan Irgy menghampiri mereka.


"Vin, terimakasih atas segalanya. Maafkan aku, yang tidak bisa menyuguhkan sesuatu yang lebih untuk kalian." Ucap Irgy memeluk tubuh Kevin. Mereka salimg merangkul bak seorang sahabat yang akan berpisah.


"Apa yang kau katakan, Irgy? Dengan segala kesempatan yang kau berikan padaku untuk selalu bersama anak-anak itu lebih dari cukup. Kau dan Fanny sungguh membuatku merasakan indahnya menjadi orang tua yang memiliki banyak anak."


"Hemm.. Hanya itu yang bisa ku lakukan. Semoga Tuhan mendengar ucapan mu ini, lalu setelah ini Nia akan segera hamil."


"Ku harap begitu, tuan Irgy. Terimakasih banyak atas semua kesempatan yang indah ini. Dan, Fanny.. Aku.."


Tanpa membiarkan Nia menyelesaikan ucapan nya aku memeluk tubuh Nia. Dia membalas pelukan ku dan menangis terisak. Ya, kami saling merangkul dan menangis.


"Fanny, terimakasih banyak. Kau telah membuatku merasakan indahnya menjadi seorang ibu meski itu hanya sesaat. Bermain dengan anak-anak mu membuatku merasa jika aku adalah seorang ibu dari mereka. Maafkan aku dengan keegoisan ini."


"Ssst... Jangan pernah berpikir demikian, Nia. Mereka juga anak-anak mu kan? Percayalah, kau pun akan merasakannya nanti."


"Ya, aku pun masih berharap demikian." Sahutnya dengan menangis sesunggukan.


Kevin mengeluarkan sebuah kotak perhiasan kecil, Nia tersenyum mengangguk ke arah ku. Pelangi menerimanya dengan ragu.


"Apa ini, om?"


"Bukalah, Nak." Ucap Nia sembari mengelus lembut rambut Pelangi.


Pelangi mengangguk menuruti ucapan Nia lalu membukanya. Lalu aku dan Irgy terkejut setelah melihat benda yang berkilauan di dalamnya, tampak Pelangi melihatnya dengan takjub dan mulut menganga.


"Om, i..ini.."


"Ya, itu batu kristal pelangi. Sesuai nama mu, Nak. Om sudah mendesainnya menjadi liontin dari kalung ini, bersediakah kau memakainya?"


"Vin, ini.. Ini sangat, woah. Bagaimana bisa kau memberikannya pada Pelangi?"


"Tak apa, Irgy. Aku mendapatkannya susah payah saat menghadiri acara pelelangan di Dubai satu tahun yang lalu."


"Tapi ini sangat berharga dan mahal, aku sangat kenal betul jenis bebatuan ini."


"Sssst... Sudah lah, ini hadiah ku untuknya yang kini sudah berusia 17 tahun."


"Kau menyukainya, Pelangi?" Tanya Nia kemudian dengan suara lembut penuh keibuan.


"Aku sangat menyukainya tante, sangat. Aku akan menyimpan dan menjaganya baik-baik, dan.. Terimakasih, om. Tente, kalian sangat baik."


Nia tersenyum hangat menanggapi ucapan Pelangi.


"Kevin, Nia. Aku..."


"Jangan katakan apapun lagi. Semoga suatu hari Tuhan mengizinkan kita bertemu kembali seperti saat ini." Ucap Nia menyela perkataan ku.


Lalu kemudian kami saling merangkul satu sama lain, Kevin dan Nia hendak memasuki mobil. Nia kembali menoleh ke arah kami dengan melambaikan tangan, namun tidak dengan Kevin. Dia terus berjalan ke arah mobil, langkahnys begitu berat.


Aku tahu, Vin. Kau sedang menyembunyikan kesedihan mu dalam perpisahan ini bukan? Aku tidak tahu, kapan kita akan bertemu kembali dengan mu. Sosok yang membuat kegembiraan di hati anak-anak kami, sosok hangat yang selalu membetikan ketenangan di hati anak-anak kami.


Aku bergumam dalam hati dengan segala penahanan hatiku yang mulai sesak. Tiba-tiba Pelangi berteriak memanggil nama Kevin. Membuat langkah Kevin terhenti seketika.


"Oom..."


Pelangi berlari kearah Kevin lalu memeluknya lagi. Dan benar saja, terlihat jelas oleh mata ku. Kevin menitikkan air mata kembali memeluk dan menciumi kepala Pelangi dengan penuh kasih sayang.


"Jaga diri baik-baik, om akan selalu mengawasimu walau tidak di sisimu setiap saat peri kecil om."


"Terimakasih sekali lagi, Om. Hati-hati, jangan lupakan Pelangi. Selalu kabari Pelangi ya, Om."


"Tentu, tentu Nak."


"Cih, apa ini?" Ucapku dengan menengadahkan kepala ku menatap langit. Aku tidak ingin air mata ini kembali jatuh.


Irgy melirikku, lalu di sandarkannya kepalaku di pundaknya. Kemudian Kevin dan Nia sudah memasuki mobil, Kami melambaikan tangan hingga mobil yang di tumpanginya menghilang dari pandangan kami. Sedang Pelangi dan si kembar semakin sesunggukan menangisi kepergian Kevin dan Nia yang harus kembali ke tempat tinggalnya semula.