
"Kalau nggak bisa, biar aku yang ngomong!" Ucap Rendy sambil mengulurkan sebelah tangannya dengan menengadah bermaksud agar Kirana memberikan ponselnya kepada Rendy.
Kirana hanya diam menatap Rendy dengan perasaan kesal. Ia tidak akan membiarkan Rendy bicara dengan Haris.
"Sini HP kamu!" Ucap Rendy meminta ponsel Kirana.
"Enggak!" Tegas Kirana. "Kamu nggak bisa ngatur-ngatur aku seperti ini! Mungkin aku udah terima persyaratan dari kamu, tapi kamu juga udah terima persyaratan dari aku kan? Aku nggak mau kak Haris tau!" Lanjutnya dengan keras dan berani.
"Oh, jadi ini alasan kamu yang sebenarnya? Kamu mau hubungan kita dirahasiakan kesemua orang? Tapi ternyata kamu cuma mau merahasiakan ke Harismu itu. Kamu takut Harismu itu tau lalu kecewa sama kamu?" Tanya Rendy dengan tersenyum sinis menatap Kirana.
Kirana memejamkan matanya dan menghela nafasnya dalam-dalam untuk mengontrol kekesalannya pada Rendy lalu menatapnya kembali. "Terserah kamu mau berpikiran apa tentang aku! Aku mau pulang!" Ucap Kirana yang sudah merasa lelah harus berdebat dengan Rendy yang ternyata sangat menyebalkan.
Ia berjalan melewati Rendy begitu saja dengan cepat lalu keluar dari ruangan Rendy.
Rendy melonggarkan dasinya dan Beni tau kalau Bosnya ini sedang menahan kemarahannya.
"Bos, kalau kamu mau mbak Kirana pulang sama kamu, aku bisa kejar dia dan cegah dia biar nggak ketemu sama Haris." Ucap Beni yang selalu mengerti perasaan Bosnya.
"Nggak perlu." Ucap Rendy.
Karena ini masih permulaan, aku bebasin kamu dari hukuman, Kirana! Selanjutnya, aku nggak akan biarin kamu!
Lanjut Rendy dalam hati lalu berbalik dan pergi.
Hari sudah petang karena sudah hampir jam delapan malam. Kirana baru saja keluar dari perusahaan Pradipta Grup dan melihat Haris sudah menunggu didepan gerbang dengan tersenyum kepadanya.
Kirana berjalan menghampiri Haris. "Maaf ya kak, tadi masih ada sedikit pekerjaan yang ketinggalan." Ucap Kirana sedikit gugup karena harus berbohong lagi dengan Haris.
"Nggak apa-apa, nggak perlu minta maaf. Ya udah, ayo kita pulang." Ucap Haris dengan tersenyum lalu mereka menuju motor matic Haris yang diparkir di trotoar samping pintu gerbang perusahaan Pradipta Grup.
Haris menyodorkan helm kepada Kirana. "Kamu udah makan belum?" Tanya Haris.
"Belum kak. Aku sampai nggak sempet makan tadi." Jawab Kirana dengan mendengus.
"Gimana kalau kita mampir makan dulu? Aku punya langganan tempat makan yang enak." Ajak Haris sambil menaiki motor maticnya setelah memakai helmnya.
"Waaah, boleh kak! Aku udah laper banget nih." Jawab Kirana dengan tersenyum senang karena ia memang sudah sangat lapar.
Kirana segera membonceng Haris dan Haris juga segera menyalakan motor maticnya lalu melajukannya.
Tanpa mereka sadari, Rendy memperhatikan mereka terutama Kirana. Kirana terlihat begitu akrab dan dekat dengan Haris. Kirana juga terlihat terus tersenyum ceria saat bersama Haris.
Rendy merasa, apa ia salah memilih Kirana untuk dijadikan kekasihnya hanya untuk mengelabui semua orang terutama media agar berhenti membahas hubungannya dengan Olivia?
"Bos? Apa mau kita ikuti mereka?" Tanya Beni yang sejak tadi memperhatikan Bosnya.
"Nggak perlu. Kamu anter aku ke Club." Jawab Rendy kemudian berbalik dan berjalan menuju basement tempat mobilnya terparkir.
Beni pun mengantar Rendy ke Club malam yang sama saat pertama kali Rendy datang kesana.
Rendy sudah melepas jas dan dasinya. Ia juga menggulung lengan kemejanya hingga siku dan membuka satu kancing kemejanya. Tubuhnya yang tinggi tegap dan berotot, kulitnya yang putih bersih dengan memakai kemeja putih, terlihat semakin bersinar saat berjalan memasuki Club malam dengan pencahayaan lampu yang terlihat remang-remang.
Beni hanya mengikutinya berjalan dibelakangnya dengan waspada. Beni juga memiliki tubuh yang tinggi tegap juga berotot. Tidak kalah dengan Bosnya. Hanya saja sedikit lebih tinggi Rendy dibandingkan dengan Beni.
Tinggi Rendy 189cm, sedangkan Beni 184cm. Beni juga terlihat tampan meski tidak setampan Rendy. Banyak pasang mata terutama mata para wanita disana yang mengarah kepada kedua laki-laki tampan itu yang sedang berjalan melewati dance floor menuju meja bartender.
"Len, liat itu!" Seru seorang wanita menepuk bahu temannya yang bernama Lena sambil menunjuk kearah Rendy yang baru saja melewatinya.
"Apaan Ta?" Tanya Lena sambil mengikuti arah teluntuk temannya yang bernama Berta sambil terus berjoget.
"Siapa? Banyak kali cowok yang aku temuin!" Tanya balik Lena diselingi tawanya.
"Dasar! Nyesel ntar kamu kalau ada cewek lain yang nyamber si Rendy!" Ucap Berta dengan keras membuat Lena terbelalak dan menoleh kearah dimana Rendy berada.
"Maksud kamu, tadi itu Rendy?!" Teriak Lena dengan melotot pada Berta.
"Iya!" Balas Berta.
"Kenapa nggak bilang sih?! Awas mainggir!" Lena langsung mendorong Berta kesamping dan berjalan menuju meja bartender menghampiri Rendy.
"Woy, sialan kamu Len!" Pekik Berta yang hampir terjungkal karena didorong Lena begitu saja.
Rendy memesan red wine. Beni hanya memesan soft drink saja karena ia harus mengawasi dan menjaga sang Bosnya ini. Kalau saja Rendy minum sampai mabuk, dia bisa membantunya.
"Kenapa cuma pesen soft drink?" Tanya Rendy pada Beni.
"Aku cuma takut mabuk Bos." Jawab Beni dengan menyeringai.
"Temeni aku minum! Nggak usah khawatir. Aku nggak bakal mabuk dan nggak akan bikin kamu mabuk juga." Ucap Rendy yang meminta Beni menemainya minum.
Tanpa menolak dan membantah Bosnya, Beni pun tidak ragu untuk menemani Rendy minum.
"Hai Ren!"
Rendy dan Beni menoleh bersamaan menatap seorang wanita yang datang menyapa Rendy.
"Kamu?" Rendy sedikit memicingkan matanya saat melihat wanita cantik dengan pakaian yang sangat sexy menyapanya.
"Lena! Udah lupa ya sama aku?" Ucap Lena dengan menunjukkan wajah kecewa dan sedihnya.
"Oh. Nggak lah. Nggak mungkin aku lupa." Jawab Rendy dengan tersenyum ramah.
Beni yang duduk disamping Rendy hanya memperhatikan mereka yang terlihat sudah sangat akrab.
Ternyata Bos punya kenalan perempuan seperti ini? Aku nggak nyangka.
Batin Beni sedikit menggelengkan kepalanya lalu melanjutkan menikmati red wine yang dipesankan oleh Rendy.
Lena pun duduk disamping Rendy dengan tersenyum senang, karena ternyata Rendy masih mengingatnya. "O ya, kamu apa kabar? Lama nggak ketemu." Tanya Lena setelah duduk disamping Rendy dan memberi kode kepada bartender untuk memberinya minuman.
"Baik. Kamu sendiri apa kabar?" Tanya balik Rendy sambil meneguk red winenya.
"Sejak ketemu kamu, aku jadi galau tau nggak?!" Jawab Lena dengan mendengus membuat Rendy mengernyit. "Galau karena inget kamu terus!" Lanjut Lena yang melihat wajah bingung Rendy lalu tertawa dan Rendy hanya tersenyum sambil menggeleng menanggapinya.
"O ya, itu temen kamu ya?" Lanjut Lena yang melihat Beni duduk disamping Rendy disisi kanan Rendy.
Rendy menoleh kearah Beni lalu kembali menatap Lena. "Iya. Kenalin! Dia Beni." Jawab Rendy sambil memperkenalkan Beni pada Lena.
"Hallo mbak!" Sapa Beni dengan ramah dan sopan sambil mengangguk melambaikan tangannya pada Lena.
"Hallo juga! Panggil aja Lena nggak usah pake mbak. Aku belum setua itu kali!" Balas Lena lalu tertawa.
Mereka pun mengobrol santai sambil minum. Terlihat begitu akrab.
................