
Setelah tiga hari berada disalah satu rumah sakit swasta yang ada di Bali, akhirnya Kirana bisa pulang ke Jakarta. Tentunya bersama sang kekasih yang selalu setia berada disampingnya.
Kini mereka berdua sudah duduk didalam pesawat. Kirana merasa terkejut saat Rendy mengajaknya naik pesawat. Ini pertama kalinya bagi Kirana dan dia mempunyai fobia takut ketinggian yang belum diketahui oleh Rendy.
"Kamu kenapa sih? Pucet banget." Tanya Rendy dengan memperhatikan Kirana yang sejak naik kedalam pesawat hanya diam.
Kirana sudah sering merepotkan Rendy. Bahkan Rendy meninggalkan pekerjaannya hanya untuk menemani dirinya. Tidak hanya itu. Rendy menanggung semua biaya rumah sakit juga kehidupan Kirana selama menjalani pengobatan.
Oleh karena itu dia tidak harus memberi tau Rendy dan hanya diam mengikutinya saja. Yang terpenting, dia bisa segera sampai di rumahnya yang terasa lebih nyaman.
Kirana henya menggeleng dan tersenyum, senyum yang dipaksakan. Dia tidak ingin membuat Rendy mencemaskannya. "Aku..baik-baik aja kok Mas. Cuma masih ngantuk. Oh, mungkin karena efek dari obat yang aku minum tadi."
"Ya udah, kamu tidur aja. Bentar lagi pesawatnya udah mau take off." Ucap Rendy sambil mengusap kepala Kirana.
Tubuh Kirana menegang dan dia mencengkram tangan Rendy begitu pesawat bergetar dan bergerak. Rendy langsung menoleh melihat Kirana yang semakin pucat juga berkeringat dingin. Tangan Kirana juga terasa sangat dingin. "Ki, kamu kenapa? Apa kamu takut naik pesawat?"
Kirana hanya mengangguk dan menutup matanya rapat-rapat. Cengkraman tangannya semakin kuat pada tangan Rendy yang mungkin akan membuat tangan Rendy terluka. "Astaga Ki! Kenapa kamu nggak bilang sih?" Rendy kemudian merangkul Kirana dan mendekapnya dalam pelukan untuk membuat Kirana merasa tenang."Nggak usah takut."
...
Akhirnya pesawat telah mendarat di Bandar Internasional Soekarno-Hatta. Rendy menggendong Kirana turun dari pesawat menuju pakiran dimana Beni sudah menunggu disana. Sudah ada yang membawakan koper mereka.
"Bos, Mbak Kirana!" Sapa Beni. "Mbak Kirana, aku turut prihatin dengan musibah yang menimpamu. Semoga lekas sembuh." Lanjut Beni dengan tulus.
"Makasih Pak Beni." Balas Kirana dengan senyum kecilnya.
Beni segera membukakan pintu mobil bagian penumpang untuk Rendy dan Kirana. Setelah Bosnya masuk, Beni menyimpan koper mereka dibagasi dan masuk dibagian kemudi lalu segera menyalakan mesin mobilnya.
Mobil pun melaju meninggalkan bandara menuju tempat tinggal Kirana.
"Kamu nggak usah mikir kerjaan kamu dulu sampai kaki kamu bener-bener sembuh." Ucap Rendy sambil menggenggam tangan Kirana.
"Nggak bisa gitu Mas. Aku --"
"Ini perintah dari pimpinan kamu atau kamu aku pecat?!" Tegas Rendy dengan serius memotong ucapan Kirana.
Kirana terdiam menatap Rendy dengan tatapan tidak suka. Kemudian memalingkan wajahnya sambil mendengus kesal.
Mulai deh!
Beni hanya melirik sekilas melalui spion didepannya.
Yang satu keras kepala, yang satunya lagi nggak mau dibantah.
Tak lama mobil sampai dipinggir jalan depan gang tempat tinggal Kirana. Beni segera turun lalu membukakan pintu untuk Rendy. Kemudian mengambil koper milik Kirana.
"Mas, aku malu kalau harus digendong terus. Aku pasti berat kan?" Ucap Kirana setelah Rendy turun hendak menggendongnya lagi.
Kirana terdiam dan tampak berfikir. Rendy benar, dia tidak mungkin berjalan sendiri saat ini. Kirana menghembuskan nafasnya dengan kasar dan raut wajahnya yang sedih terlihat jelas.
"Udah ayo, nggak apa-apa aku gendong. Berat kamu itu nggak seberapa." Ucap Rendy lalu menggendong Kirana tanpa menunggu jawaban darinya.
Kirana hanya bisa pasrah. "Makasih ya Mas. Maaf, udah selalu ngrepotin kamu." Ucapnya pelan setelah Rendy menggendongnya dan berjalan memasuki gang diikuti Beni yang membawakan koper milik Kirana.
Hari semakin sore dan langit tampak gelap karena tertutup awan mendung.
Ada beberapa warga setempat yang melihat Kirana digendong oleh Rendy. Rendy sudah terlihat tidak asing lagi dimata mereka karena sudah sering datang kekampung ini.
"Itu tuh, anak almarhum Yoga. Kelakuannya semakin bikin resah kampung kita aja." Ucap seorang laki-laki paruh baya kepada tetangganya yang saat ini mereka sedang nongkrong di warung kopi dekat gang.
"Iya, aku pernah beberapa kali lihat laki-laki itu pulang larut malam dari rumah almarhum Yoga." Sahut teman nongkrongnya yang juga tetangga dikampung ini.
Mereka yang melihat Kirana sedang membicarakannya dan berpikiran yang tidak tidak tentang Kirana.
Mungkin wajar saja, seorang perempuan sederhana yang tinggal sendirian dan sering didatangi laki-laki yang terlihat kaya, pasti akan berpikiran buruk. Bahkan diantara mereka ada yang melihat Beni saat mendatangi Kirana untuk menjemputnya dan mengantarnya ke restoran untuk makan malam bersama Rendy.
Ada juga yang selalu memperhatikan Kirana dan tau saat Kirana pergi kemudian tidak pulang. Pulang keesokan paginya dan terlihat sedikit berantakan. Waktu itu Kirana sedang menemani Rendy yang sakit. Tapi setelah Rendy terlihat sehat, malah dia yang harus dilarikan kerumah sakit karena alergi makanan laut.
Ternyata diam-diam mereka begitu memperhatikan Kirana. Mungkin bukan hanya Kirana saja, tapi semua warga yang tinggal dikampung ini karena mereka merupakan penjaga keamanan dikampung ini.
Beni membantu mengambil kunci rumah milik Kirana yang dia simpan ditas kecilnya dan membukakan pintunya.
"Kirana!" Seru Haris yang melihat Kirana digendong oleh Rendy lalu berlari menghampirinya.
Mereka bertiga yang ingin melangkah masuk kedalam menghentikan langkahnya dan menoleh kearah Haris.
"K kak Haris. Hai." Sapa Kirana dengan sangat gugup, canggung dan senyum kaku.
Rendy hanya diam mengernyirkan keningnya melirik Kirana lalu menatap Haris.
"Ki, kenapa kamu digendong sama dia? Apa terjadi sesuatu? Kamu sakit?" Tanya Haris yang terlihat mengkhawatirkan Kirana.
"Hey Bung! Saat ini, Kirana butuh istirahat. Sebaiknya jangan ganggu dia dulu!" Sahut Rendy dengan menatap tajam Haris karena merasa tidak suka dengan tatapan Haris yang sok perhatian ini.
"Heh! Aku lagi ngomong sama Kirana, kenapa kamu yang sewot?!" Balas Haris juga dengan mantap tajam Rendy.
Suasanan pun menjadi terlihat tegang dimata Kirana. Beni yang berdiri disamping Rendy hanya diam memperhatikan mereka.
"Eum, kak..begini, kakiku keseleo lagi dan aku kesulitan berjalan. Kebetulan ada Mas Rendy yang bantuin aku." Ucap Kirana yang berusaha untuk mencairkan suasana malah membuat Rendy semakin kesal. "Em..nanti kalau aku udah baikan, aku akan cerita ke kak Haris ya? Aku mau masuk dulu." Lanjut Kirana yang langsung menepuk pelan dada bidang Rendy untuk segera membawanya masuk karena dia takut kalau kedua lelaki tampan ini akan lanjut berdebat dan berakhir dengan babak belur karena berkelahi.
................