Because, I Love You

Because, I Love You
#BILYS3 257



Melihat oma nya terjatuh tak sadarkan diri, Exelle terpaksa harus kembali dan membopong oma nya untuk di bawa ke rumah sakit segera.


"Oma, oma. Bangun oma, maafkan Exelle..." Ia masih berusaha menyadarkan oma nya dengan menepuk-nepuk kedua pipinya. Namun nihil, oma nya masih tak sadarkan diri.


"Aaakh, sial. Mbok... Oma pingsan, cepat kemari bantu aku!" Teriak Exelle memanggil asisten dalam rumahnya. Lalu dengan cepat si mbok berlari menghampiri Exelle yang sudah memapah oma nya dalam pangkuannya.


"Tuan muda, ada apa dengan nyonya besar?" Tanya si embok panik.


"Cepat panggil orang-orang kita diluar, bantu aku bawa oma ke mobil. Kita harus ke rumah sakit!"


Dengan tergesa-gesa lagi si embok memanggil beberapa orang penjaga yang bekerja serta bertugas di rumah semegah ini. Tentu saja mereka yang bertugas di luar tidak akan pernah tahu kesulitan di dalam karena mereka sudah menjalani sebuah janji tidak mudah masuk dan ikut campur dengan urusan majikan di dalam rumah semegah itu.


Tak berapa lama kemudian, tiba di rumah sakit terbesar yang tak lain milik mereka saat ini. Diketahui siapa yang harus di tangani semua para dokter terbaik berhamburan untuk menanganinya dengan cepat.


Exelle menunggu diluar dengan penuh kecemasan, sementara beberapa dokter dan perawat sedang menangani oma nya di dalam ruangan.


"Tuhan, pliss... Jangan sampai oma kenapa-napa, saat ini aku hanya memilikinya saja selain opa." Ucapnya dengan menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Tuan muda, tenanglah sedikit. Nyonya besar pasti akan baik-baik saja." Ujar si mbok mencoba menenangkannya.


"Mbok, tolong jangan beritahu opa dulu. Aku tidak ingin semua jadi runyam." Titahnya pada asisten sekaligus juga yang menemaninya bermain sejak ditinggal Eliez meninggal dulu.


"Baik, tuan muda." Jawab si mbok pelan.


Ceklekk!!!


Seketika Exelle menoleh ketika mendengar suara pintu terbuka dari ruangan tempat oma nya di tangani oleh para dokter tadi.


"Dok, bagaimana dengan oma saya?" Tanya Exelle dengan wajah panik setelah melihat dokter tersebut keluar dari ruangan.


"Tenanglah, oma mu baik-baik saja. Dia hanya sedikit shock, harapa menjaganya baik-baik. Usianya sudah rentan terkena serangan jantung, kau mengerti tuan muda?" Ujar Dokter itu menjelaskan.


Exelle menghela nafas lega meski kedua kakinya sedikit terhuyung hingga ia hampir terjatuh.


"Hei, nak. Tenanglah, kau baik-baik saja?" Tanya dokter itu kembali dengan cemas.


"A,aku... Baik-baik saja, Dokter. Aku hanya, sedikit trauma dengan perihal apapun saat dirumah sakit." Jawabnya.


Dokter itu kemudian mengernyit, melirih ke arah si mbok. Dan di tanggapi anggukan pelan seakan menjelaskan sebuah kebenaran yang tidak bisa di jelaskan dengan kata-kata.


"Kau putera pertama dari mendiang dokter Eliez, bukan?"


"Ah, ya." Jawab Exelle singkat.


"Kau seharusnya calon dokter yang hebat seperti ibu mu."


"Dok, bisakah aku menemui oma di dalam?" Tanya nya kemudian, mengabaikan ucapan dokter tadi.


"Oh, eh... Silahkan, tapi tunggu lah beberapa menit lagi. Beliau masih dalam pengaruh obat."


Exelle mengabaikan ucapan dokter itu lalu menerobos masuk ke dalam ruangan. Dilihatnya Oma nya terbaring dengan sebuah selang infus terpasang menggantung di sebelahnya.


"Oma... Maafkan Exelle, sudah membuat oma sakit." Ujarnya dengan suara serak, dia genggam erat tangan oma nya. Diciuminya berkali-kali, membolak balik telapak dan punggung tangan oma nya yang sudah berkulit tipis nan keriput.


"Saat ini aku hanya mempunyai oma dan opa, aku sangat takut oma."


"Exelle..."


Beberapa saat kemudian, terdengar suara oma nya yang lemah memanggil namanya. Sontak Exelle beranjak bangun untuk lebih dekat dengan wajah oma nya.


"Oma, oma sudah sadar? Apa ada yang sakit?" Tanya nya dengan panik seraya menyentuh pipi oma nya.


"Tidak, nak. Oma tidak sakit lagi, maafkan oma." Jawab nya dengan lirih, mengedipkan kedua matanya dengan tersenyum memaksa menatap wajah cucu nya itu.


"Oma, maafkan Exelle. Maafkan Exelle..." Tiada hentinya Exelle mengucap kata maaf.


"Cucu oma, berhenti minta maaf sayang. Oma baik-baik saja, jangan menangis lagi."


Seketika Exelle memeluk tubuh oma nya yang masih terbaring lemah, dia menangis sesunggukan. Di tepuk tepuk nya punggung cucunya itu kemudian dengan lembut, dengan penuh kasih sayang.


"Nak... Maukah kau berjanji satu hal?"


Mendengar kata dari oma nya tersebut, Exelle meregangkan pelukan nya pada tubuh oma nya. Lalu menatap dengan sendu, matanya masih sembab dan basah oleh air mata.


"Jangan pernah berpikir kau akan meninggalkan oma, apapun yang terjadi. Kau satu-satunya milik kami di keluarga ini, kau pewaris tunggal segalanya yang kami miliki saat ini."


Exelle meringis dengan tarikan nafas dalam-dalam. Dia sedikit merasa terbebani, mengingat hal yang diucapkan oleh Abel. Yang kini masih saja terngiang jelas di telinganya.


"Uhuk uhuk, uhhuk..."


Dia terhentak dalam diamnya, setelah mendengar oma nya terbatuk-batuk. Dengan cepat dia meraih segelas air putih yang terletak di atas meja, tepat di samping nya.


"Oma, minumlah." Titahnya dengan lembut, membantu oma nya setengah bangun dari posisinya.


"Apakah kau mau berjanji, cucu ku?"


"Tapi oma, aku..."


"Apa kau tidak sayang lagi dengan oma?"


"Oma, saat ini yang aku miliki hanya oma dan opa. Tentu aku sangat menyayangi kalian."


"Jika begitu, jangan tinggalkan kami, Nak."


Exelle kembali terdiam. Dalam hatinya begitu sesak, hasrat ingin memaksakan diri bertanya hal yang sama. Dimana ayahnya saat ini, jika sudah mungkin pergi untuk selamanya bersama mendiang ibu nya. Itu kan jauh lebih baik, namun jika nyatanya masih hidup. Exelle harus mencarinya, dia rindu, dia ingin mendekapnya.


Yah, ini hanya sementara saja bukan? Demi kesehatan oma dulu. Setelah itu, aku akan tetap diam-diam mencari tahu hal yang sebenarnya.


"Baiklah, Oma. Aku berjanji, yang penting saat ini oma harus cepat pulih ya. Jangan sakit begini, atau aku akan sangat bersedih nantinya."


"Kau memang cucu kebanggaan kami, terimakasih Nak. Kau masih mau mempercayai dan memilih tetap tinggal disisi oma."


Exelle tersenyum tipis, dengan terpaksa ia harus mengangguk tegas dan tersenyum lebar. Meski dalam hatinya dia masih bimbang dan bersikeras akan mencari tahu yang sebenarnya.