
Tiba dirumah kian sudah larut malam, Irgy menggendong Pelangi memasuki rumah sementara aku membawa koper kami yang lebih dulu Irgy mengeluarkan untuk tidak membuatku kesusahan.
"Tuan-Nyonya, saya sudah membersihkan kamar kalian dan nona kecil." Sambut bibi asisten.
"Ehm, terimakasih bi. Kami istrahat dulu,"
"Apa perlu saya siapkan teh hangat nyonya dan tuan?"
"Ehm, boleh deh bi. Bawakan cemilan juga ya, bawakan ke kamar."
"Baik nyonya." Jawab bibi asisten yang kemudian berlalu cepat menuju dapur.
Tiba di kamar, aku langsung merebahkan diri diatas kasur yang sudah berhari-hari ku tinggalkan.
"Ah, nyaman sekali..." Ujarku mengeluh.
Kemudian terdengar suara pintu kamar yang dibuka pelan, ku lirik sejenak Irgy memasuki kamar dengan melempar senyum padaku. Aku mengabaikan kemudian beranjak bangun dari kasur. Irgy mendekatiku dengan langsung mendekap tubuh ku, menyandarkan kepala ku di pundaknya.
"Kau sudah ngantuk?"
"Terlalu lelah jadi gak bisa tidur, aku meminta bibi membawakan teh dan cemilan untuk menetralisir keletihan ku."
"Hemm.. Baik lah, aku akan menemanimu sebelum tidur."
Tok tok tok...
"Tuan, nyonya. Saya bawakan teh dan cemilan."
Terdengar suara bibi asisten kemudian setelah mengetuk pintu kamar lebih dulu.
Kemudian Irgy beranjak bangun untuk membuka pintu kamar, dan meraih nampan yang bibi asisten bawakan.
"Terimakasih ya bi," Ucap Irgy, kemudian bibi asisten mengangguk berlalu pergi.
Aku langsung menyeruput teh hangat dan mencicipi cemilan tersebut. Begitupun dengan Irgy, kami berbincang banyak hal untuk masa depan anak-anak kami nantinya. Dan semua impian serta khayalan ku ingin berkunjung ke LN seperti yang lainnya. Sejak dulu aku memang ingin sekali menginjakkan kaki di negeri orang diluar sana.
Irgy yang mendengar ku terus mengkhayal dan tersenyum dengan tatapan kosong, seolah aku membayangkan benar-benar ada di tempat wisata yang dengan beberapa bangunan menakjubkan diluar sana. Kemudian Irgy mengecup keningku dengan mesra, seraya berkata...
"Aku mencintaimu, aku tidak berjanji namun akan berusaha memberikan yang terbaik dari semua yang kau impikan ini."
"Aku tidak inginkan semua itu. Aku hanya berharap kau akan memberikan semua kesetiaan dan cinta kasih serta sayangmu juga kejujuran mu, tidak pernah kau kurangi sedikitpun sampai akhirnya kita menua bersama nantinya."
"Itu pasti sayang, aku akan melakukannya tanpa kau memintanya." Jawab Irgy sembari mengecup punggung tangan ku. Kemudian kami mulai melepas lelah dan ngantuk di ranjang pribadi kami, malam kian semakin larut. Diluar sedang turun hujan, membuat suasana di kamar sejuk dan terasa dingin sekali. Membuat kami tertidur lelap dalam satu selimut yang sama hingga waktu menjelang pagi tiba.
🌻🌻🌻
Pagi ini Pelangi begitu semangat bangun pagi, tanpa aku atau Irgy yang membangunkannya lebih dulu. Kami tersenyum geli melihat tingkahnya yang sudah tidak sabar ingin pergi ke sekolah.
"Pagi ini, papa yang akan mengantarmu ke sekolah." Ucap Irgy pada Pelangi saat kami sedang sarapan pagi.
"Sayang, aku saja. Aku juga rindu pada Lucky, hihi."
"Haaft, lagi lagi anak itu. Kalian para wanita sungguh membuatku cemburu dengan anak itu." Jawab Irgy mengeluh nafas panjang.
"Karena dia memang membuat orang-orang di sekitarnya jadi rindu ingin segera bertemu. Sikapnya yang selalu lembut membuatku merasa dia sungguh akan menjadi sosok laki-laki idaman nantinya."
"Ya ya ya, huh. Beruntung sekali dia masih anak-anak, jika dia lelaki dewasa sepertiku. Aku akan mengirimnya ke samudera dan menenggelamkannya, agar kalian hanya melihatku saja sebagai laki-laki sempurna."
"Cih, gombal. Habiskan saja sarapan mu, jangan terus merayuku begitu. Lucky memang anak yang manis," Jawab ku dengan melempar senyum genit. Membuat Irgy menggigit sendok makannya saat menelan makanan. Membuatku semakin ingin menjahilinya saja.
"Ayo ma, ke sekolah." Ucap Pelangi dengan buru-buru meminum satu gelas susu tanpa menghabiskan sarapannya lebih dulu.
"Eh, habiskan dulu sarapannya Nak. Ini masih belum terlambat datang kesekolah, ayo.. Lagi sedikit." Ujarku menghentikannya yang sudah beranjak turun dari kursi.
"Pelangi ingin bertemu Lucky, Ma." Jawab nya dengan lugu.
"Astaga Tuhan, Pelangi. Ayo habiskan sarapannya dulu, setelah itu baru pergi kesekolah ya." Jawab Irgy menambahkan.
"Aaaah, Pelangi sudah kenyaang." Jawab nya merengek manja.
"Tapi mama masih belum menghabiskan sarapan mama Nak, papa juga masih makan."
Pelangi terdiam dengan wajah sedih menunduk, masih berdiri di tempat dengan kaku. Aku saling melirik dengan Irgy sejenak, kemudian dengan cepat kami menghentikan sarapan.
"Ehm, baiklah. Jangan nakal di sekolah ya, jangan membuat keributan dan turuti apa kata guru. Ok anak pintar?" Ucap Irgy sembari memeluk dan mengecup kening Pelangi dengan penuh kasih sayang.
"Okkeh pa, siap." Jawab nya dengan semangat.
"Sayang, hati-hati mengemudi ya. Aku juga akan pergi ke kantor setelah ini," Ujar Irgy pada ku.
"Baiklah sayang, jangan khawatir. Aku masih kuat dan sehat, hihi." Balas ku dengan mengecup bibirnya lebih dulu tiba-tiba. Dia terkejut kemudian tersenyum puas, mengecup keningku kembali.
Selama di perjalanan terlihat Pelangi sudah sangat tidak sabar ingin segera sampai di sekolah untuk bertemu dengan Lucky, tampak jelas beberapa kali dia menghela nafas panjang ketika kami berada sempat terjebak macet sejenak.
Sampai mini sudah tiba di pintu gerbang depan sekolah, Pelangi dengan cepat turun dari mobil dan berdiri melihat sekeliling. Dia mulai menoleh ke kanan dan ke kiri, hingga mendongakkan kepalanya ke halaman sekolah juga ke tempat lainnya.
"Pelangi, ini masih terlalu pagi. Lucky pasti belum sampai, tunggu sebentar lagi Nak." Ucap ku pada nya. Aku tahu dia sudah sangat merindukan Lucky, begitu pula dengan ku, Lucky adalah teman laki-laki yang selalu baik dan menemani Pelangi bermain selama di sekolah ini.
Sudah 10 menit berlalu, Pelangi menantikan sosok Lucky tak kunjung terlihat batang hidungnya. Meski sudah terlihat bosan dengan mondar mandir di depan pintu gerbang, aku yang masih setia menunggunya sejak tadi jadi mulai jenuh.
Kemudian datang seorang wanita yang sudah sangat ku kenal setelah bertemu dengannya hampir setiap hari di jam sekolah Pelangi. Eh tapi, mengapa dia datang seorang diri saja? Dimana Lucky???
"Selamat pagi nona, akhirnya anda muncul juga dengan tuan puteri Pelangi."
"E,eh.. Ada, ada apa? Dan Lucky dimana? Apakah hari ini tidak masuk?" Tanya ku heran setelah melihatnya tampak menghela nafas panjang melihatku dengan Pelangi.
"Tante, dimana Lucky?" Tanya Pelangi kemudian. Wanita pengasuh itu tersenyum hangat pada Pelangi.
"Nona, sebelumnya saya ingin tahu kemana saja anda dan tuan puteri pergi beberapa hari ini? Maafkan saya jika terlalu ingin tahu dan mencampuri urusan anda."
"Eh, tidak apa.. Bi, eh mbak, eh"
"Nama saya Lulu. Saya seorang pengasuh sekaligus suster yang terpilih untuk menjaga tuan muda Lucky, jadi anda boleh memanggil saya dengan sebutan apapun Nona." Jawab nya menyela ucapanku dengan lembut serta penuh hormat.
Gila, bahasanya sungguh berkelas cara penyampaiannya. Ternyata dia juga seorang suster, berapa dia di gaji untuk tugas itu jika memang suster pilihan? Semakin menakjubkan saja. Ah, aku jadi hampir lupa dengan pertanyaan ku. Aku dibuat terperangah sejenak oleh nya. Bahkan dia memperlakukan kami bak majikannya juga, penuh hormat dan santun.
"Lalu dimana Lucky?"
"Tuan muda sedang sakit, beberapa hari setelah tuan puteri Pelangi tidak datang lagi ke sekolah, tuan muda terus mencari dan menunggu di sekolah. Tuan muda jadi mogok makan juga, selalu meminta untuk bertemu dan bermain dengan tuan puteri Pelangi."
"Oh Tuhan, ini sungguh mengejutkan meski terdengar konyol."
"Mama, Lucky sakit. Ayo kita kerumah nya, Pelangi harus memeriksanya dan memberinya obat. Pelangi kan dokter," Ucap Pelangi dengan merengek manja mengayun-ayunkan tangan ku dengan tatapan penuh harap.
Aku tersenyum dan mengusap kepalanya dengan lembut kemudian menatap pada suster Lulu.
"Jika begitu antarkan kami menjenguk Lucky. Agar dia kembali sehat dan pulih." Jawab ku menanggapi.
"Ehm, mohon maaf nona. Tempat kediaman tuan muda tidak mengizinkan sembarang orang masuk meskipun melalui koneksi orang dekat dari tuan muda sendiri. Begitupun kami, tidak memperbolehkan tuan muda pergi ke suatu tempat yang belum terjangkau kebersihan juga perlindungannya kecuali ke sekolah ini. Yang sudah di jaga ketat oleh para bodyguard pilihan keluarga tuan muda secara diam-diam."
Gila, apakah Lucky sungguh tinggal di kerajaan atau kastil? Hahaha, aku ingin teriak.. Aku sudah ingin gila, bisa-bisa aku mati penasaran nantinya.
"Oleh karena itu nona, saya ingin bertanya pada tuan puteri Pelangi. Apakah ada hal yang bisa membuat tuan muda percaya jika Tuan puteri sudah kembali ke sekolah?" Tanya nya kembali sembari menatap Pelangi dengan senyuman, sementara Pelangi hanya menatapnya dengan tatapan lugu.
"E,eh.. Aku, aku tidak tahu. Tapi aku akan menanyakannya."
Dia mengangguk cepat akan jawaban ku.
"Nak, ehm.. Kita tidak bisa berkunjung kerumah Lucky. Saat ini Lucky sudah di rawat oleh banyak dokter dan suster disana. Kita bisa menunggunya disini saja besok, Lucky pasti sudah sembuh. Jadi, apakah kau.. Ada yang ingin di sampaikan pada Lucky? Untuk menyemangatinya." Jawab ku dengan perlahan mengeluarkan kata untuk membuatnya mengerti ucapan ku.
"Ehm..."
Pelangi tampak sedang berpikir, kedua bola matanya di putar-putar ke atas. Aku tidak tahu apa yang sedang di pikirkannya itu.
"Ada ma," Jawabnya kemudian setelah aku dan suster Lulu saling menatap heran dan menunggu reaksinya. Tampak Pelangi sedang mengeluarkan sebuah pensil dengan hiasan kepala Minnie mouse di atasnya.
"Kasih ini saja ma, supaya dia bisa ketawa." Aku mengerutkan kedua alis ku seketika akan jawaban Pelangi, entah apa yang di maksudnya ini. Aku tidak ingin bertanya lebih lanjut karena bel masuk kelas sudah terdengar dari dalam sana.
"Ehm, suster. Aku tidak tahu apakah ini akan membantu Lucky percaya jika Pelangi sudah kembali ke sekolah, dan aku.. Ehm, aku tidak bisa menceritakan secara detail kemana selama beberapa hari kami pergi. Itu adalah privasi kami,"
"Baik, baik nona. Saya akan memberikan ini segera kepada Tuan muda, semoga ini sangat membantunya. Saya permisi dulu nona, dan tuan puteri. Semangat belajar nya ya," Ujarnya dengan antusias kemudian berpamitan pada ku dan juga Pelangi.
Setelah Pelangi berlari memasuki halaman sekolah menuju kelasnya. Aku juga dibuat termangu oleh percakapan serta penjelasan suster Lulu tadi. Ini seperti mimpi, tapi ini nyata bukan???