Because, I Love You

Because, I Love You
Episode 142



Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, namun Pelangi masih belum juga beranjak untuk tidur pulas di kamarnya. Dia masih begitu asyik berkutat sejak tadi dengan mewarnai banyak gambar segala benda sekitar. Sesekali dia masih bergelayutan manja pada Irgy di ruang TV.


Sedang Irgy yang sejak tadi sudah terdengar beberapa kali menghembuskan nafas panjang, melirik ke arah ku seolah ingin aku mencari cara agar Pelangi segera tidur. Sehingga Irgy bebas lalu melakukan hal yang sudah sangat dia nantikan sejak pagi tadi.


Aku mengangkat setengah kedua bahuku ke atas, yang menandakan bahwa aku tidak berbuat lebih. Meski ini adalah kali pertama Pelangi tak kunjung tidur meski sudah lewat jam waktu tidurnya.


"Pelangi, apakah kau belum mengantuk Nak?"


Pertanyaan ini entah sudah berapa kali Irgy ucapkan sedaritadi. Hingga lagi-lagi aku tertawa dibuatnya.


"Belum pa, Pelangi masih ingin mewarnai. Pelangi juga masih banyak pasien yang mengantre, tuh..." Jawabnya sembari menunjuk beberapa boneka yang dia tata rapi berderetan bak seorang pasien yang sesungguhnya. Sedangkan dia menatap serius beberapa gambar di hadapannya.


Terlihat jelas Irgy mengeluh nafas panjang kembali. Lalu merebahkan tubuhnya bersandar pada sisi sofa tempatku duduk santai dengan sepiring potongan buah di tangan ku.


"A'aaa"


Aku mencoba menyuapinya sepotong buah apel. Namun Irgy menolak dengan wajah sedikit lesu.


"Buah apel sangat baik untuk kesehatan khususnya untuk kebugaran tubuh suami ku."


"Tunggu saja. aku akan membalas ledekan mu ini sayang," Jawab Irgy setengah berbisik.


"Oh ya, baik lah. Sepertinya sudah tiba giliran mu itu," Ucapku pada Irgy sembari menunjuk ke arah Pelangi yang sudah tertidur dalam posisi duduk berpangku pada meja belajarnya.


"Aaarght... Akhirnya, tiba giliran ku. Yesss !!!" Ucap Irgy dengan semangat.


"Ssssttt !!! Sayang, pelankan suaramu. Jika Pelangi terbangun bukan tanggung jawab ku lagi," Jawabku setengah berbisik.


Irgy mengangguk seraya merangkak menghampiri Pelangi lalu perlahan menggendongnya hingga ke kamar Pelangi. Perlahan menidurkannya, memakaikan selimut tebal dan mengatur suhu pendingin di kamar Pelangi.


Tak berapa lama kemudian Irgy keluar dari kamar Pelangi setelah aku menyusulnya ke atas. Irgy melempar senyuman puas padaku, langkahku terhenti menatapnya.


"Bagaimana dengan Pelangi?"


"Dia sudah tertidur sangat lelap. Sekarang saatnya... Kita yang mengukir malam menjadi lelah hingga pagi." Ucap Irgy sembari menggendong ku memasuki kamar pribadi kami.


"Sayang, kau selalu saja genit. Kita sudah bukan pasangan yang baru saja menikah, jangan begini.. Ini membuatku malu." Ucap ku sembari mencubit bagian dadanya.


"Memangnya kenapa? Meski kita pasangan yang sudah lama menikah, tapi keharmonisan kita harus lebih mengesankan."


"Kau memang selalu pintar memutar kata, aku mencintaimu suamiku." Ku kecup mesra bibir suamiku ini. Lalu perlahan dia menurunkan ku dari gendongannya tadi.


Kami berciuman saling memberikan perlawanan, perlahan Irgy membuka piyama tidurku. Dia mulai beraksi, aku mulai terhanyut dengan setiap sentuhan lembutnya hingga tanpa ku sadari entah kapan semua pakaian ku telah lepas tergeletak di lantai.


Lalu kami mulai memadu kasih, meluapkan segala curahan dan hasrat bercinta kami, tanpa lelah walau keringat mulai membasahi sekujur tubuh. Ah, sepertinya malam ini sungguh akan menjadi malam yang panjang dan lebih indah dari malam biasanya.


Hingga menjelang pagi, mataku sedikit terasa basah oleh percikan air yang jatuh tepat di kelopak mataku. Perlahan aku berusaha membuka mata yang masih terasa enggan terbuka lebar.


"Ah, ehm.. Aku masih sangat ngantuk yank," Jawab ku dengan suara sedikit serak.


"Apa kau lupa satu hal, jika saat ini kau sudah berperan ganda. Pelangi harus pergi ke sekolah loh," Jawab Irgy sembari mengusap lembut kepalaku, sesekali ia mengecupnya dari bibirnya yang masih terasa dingin karena dia sudah mandi lebih dulu.


"Hemm.. Aku tahu itu, maka dari itu aku sudah berkata cukup padamu bukan? Tapi kau lagi dan lagi memintanya diulang. Aku hampir saja tidak mampu menggerakkan sekujur tubuhku lagi pagi ini.


"Hahaha, apa kini kau memujiku sayang?" Jawab Irgy dengan tawa kecil, dia meledekku kembali.


"Cih, aku bahkan menyebutnya lebih dari sekedar pujian." Dengan malas-malasan aku beranjak bangun dengan mata masih terpejam. Lalu Irgy mengecup bibirku dan menekannya begitu lama, membuatku seketika membuka mata dengan melotot.


"Ayo, aku akan memandikan mu." Ucap Irgy kemudian.


"Tidak tidak, jangan. Aku bisa mandi sendiri, tidak perlu. Kau.. Eh, kau pergi saja ke kamar Pelangi. Bangunkan dia jika masih tidur,"


"Hahaha, sayang. Ini baru jam 5 pagi, tidak perlu terburu-buru membangunkan gadis kecil kita."


"So what? Jadi ini masih pagi buta? Iiih kau menyebalkan. Kau sengaja mengerjaiku, aku masih lelah dan mengantuk." Jawab ku mendecak kesal lalu kembali bergumul dengan selimut.


Irgy tertawa cekikikan merasa puas telah berhasil mengerjaiku. Namun dia ikut serta masuk ke dalam selimut bersamaku, Memelukku dengan tubuhnya yang mulai terasa hangat.


Tak berapa lama kemudian waktu telah benar-benar pagi. Aku sudah siap dengan segala dandanan ku yang semenjak menikah menjadi hal utama yang ku haruskan. Aku terpaksa memakai baju yang benar-benar menutupi bagian dadaku, ini untuk menghindari pertanyaan serta penglihatan yang akan mengundang hal gila akan tanda kissmark dari perbuatan Irgy.


Selesai sarapan, Irgy langsung siap-siap hendak pergi ke kantor. Sedangkan Pelangi sudah siap, rapi, wangi, dan bersih dengan segala perlengkapannya menuju sekolah di bantu oleh bibi asisten segera memasuki mobil pribadiku.


"Pelangi, papa pergi ke kantor dulu ya. Tidak boleh nakal dan jahil disekolah, harus menurut dan ramah pada guru di kelas ya." Ucap Irgy dengan tegas terhada Pelangi lalu memeluknya.


Mereka cipika cipiki layaknya seorang kekasih yang tak ingin terpisahkan saja. Huh, kadang aku sangat cemburu dibuat oleh tingkah mereka sebagai ayah dan anak. Sangat erat dan penuh kasih sayang manja.


"Pa," Panggil Pelangi ketika Irgy segera memasuki mobil.


"Ada apa lagi gadis kecil papa?" Ucap Irgy dengan senyuman hangat.


"Uang jajan. Pelangi mau minta uang jajan," Celotehnya.


"Hey, Nak. Uang jajan mu sudah mama siapkan." Ucap ku dengan mengeluarkan uang lembaran berwarna biru.


"Aaah... Papa, tambahin. Mama pelit," Jawabnya mengadu pada Irgy.


Lalu Irgy menbuka dompetnya, ia mengeluarkan satu lembaran merah untuk uang Jajan Pelangi hari ini. Dengan cept aku berteriak dan menahannya.


"Stop !!! " Bantahku, namun dengan cepat Pelangi sudah meriahnya dengan riang gembira.


"Yee ye ye, papa emang terbaaaik. Thank you Pa,mmuach." Jawab Pelangi yang kemudian mencium pipi papa nya sembari mencium punggung tangannya dengan hormat.