Because, I Love You

Because, I Love You
#BILYS3 253



Sementara di lain tempat. Exelle kian semakin akrab dengan Pelangi, mereka lebih sering bertemu dan jalan berdua, menikmati hoby berdua yang ternyata mereka hampir memilikinya bersama.


"Pelangi, bagaimana jika nanti malam kita dinner di restoran?" Exelle mencoba mengajak bicara Pelangi dengan nada serius. Tak seperti biasanya, yang selalu banyak bercanda dan tawa lepas.


"Hem, restoran? Sejak kapan? Biasanya juga ngumpul di kafe Lucas, bukan?"


"Ah, ayo lah. Sekali saja, aku ingin menikmati makan malam dengan mu. Berdua saja, mau kah?" Tanya Exelle kembali.


"Cih, ada apa? Apa kau sedang berusaha merayuku? Atau... Kau ingin mengutarakan perasaan?"


"Hah... Apakah sangat jelas?"


Pelangi justru tercengang mendengar Exelle menanggapinya demikian.


"Ja,jadi.. Kau sungguh ingin mengutarakan perasaan mu? Padaku?" Pelangi mulai terlihat kikuk.


"Eeeh... Apakah kau keberatan jika aku mengutarakannya?" Tanya Exelle dengan lugu.


"Pfft... Hahaha, hahaha..."


Pelangi tertawa lepas tak terkendali, mengundang perhatian orang sekitar. Karena saat ini ia sedang berada di toko buku khusus komik.


"Sssttt... Pelankan suaramu, apa ada yang lucu???"


"Ups, maaf. Aku hanya tidak bisa menahan diri untuk tidak mentertawakan mu."


Exelle tampak memanyunkan bibirnya, melihat Pelangi yang justru meledeknya karena ucapan tadi.


"Aku menyukaimu, Pelangi. Kau tahu itu, jika sejak awal aku memang menyukaimu. Dan mungkin rasa suka itu sudah berubah lebih dalam."


Degh!!!


Pelangi kian semakin salah tingkah. Dalam hatinya sudah menduga hal ini akan terjadi, namun berusaha dia tetap bersikap sewajarnya saja. Agar tidak menimbulkan perasaan yang kian semakin dalam di hati Exelle.


"Ex, maafkan aku. Sejak awal bukan kah aku sudah bilang jika aku tidak ingin lagi menjalani hubungan berpacaran. Hubungan ku sebelumnya cukup membuatku enggan lagi untuk menjalin hubungan berpacaran, ternyata... Sahabatan itu lebih enak, jauh lebih saling melengkapi bukan?"


"Tapi, Pelangi..."


"Sudah lah, Ex.. Aku tidak ingin membahas ini lagi, kau tidak ingin membuatku sedih bukan?"


Exelle menundukkan wajahnya lesu. Selama ini dia sudah bersedia menahan diri untuk tidak selalu menyatakan perasaan nya pada Pelangi. Rasa suka yang berubah menjadi cinta dan timbulnya rasa ingin memiliki di hatinya.


"Bailah. Ayo, kita pulang saja. Ini sudah hampir sore." Ajak Exelle kemudian dengan memaksakan diri untuk tersenyum menatap wajah Pelangi.


"Ex, terimakasih selalu mengerti mauku. Memahami ucapan ku, kau memang teman yang baik."


Mungkin aku harus lebih sabar menunggumu, suatu hari nanti kau pasti menjadi milikku bukan? Ini hanya soal waktu saja.


"Hahaha, ayolah. Jangan serius begitu, semua baik-baik saja." Jawab Exelle mencoba menenanhkan kecemasan Pelangi yang terlihat jelas di wajahnya.


.


.


.


.


.


Malam pun tiba, kegelisahan dan ketakutan mulai menyerang Abel. Sementara Ammar masih menunggu jawaban yang pasti dari Abel, dia berdiam diri saja di hotel. Walau Hana begitu memaksanya untuk pergi ke berbagai tempat di Indonesia. Terutama di mall, dalam hati nya tersirat pikiran licik. Berharap akan bertemu dengan Irgy dan Fanny.


"Honey, mau sampai kapan kita hanya berdiam diri di kamar ini? Aku bosan." Hana mulai mendecak kesal karena sejak tiba di hotel kembali dia hanya berdiam diri di kamar menemani Ammar berkutat dengan sebuah laptop.


"Buang jauh-jauh pikiran licikmu itu, Hana. Aku tahu betul apa yang kau pikirkan saat ini. Maka itu, aku sengaja memilih hotel ini. Disini sudah menyediakan semua fasilitas yang kau inginkan, agar kau tidak lagi keluar untuk alasan lain."


"Huh..."


Hana mengaduk dengan kaki berdecak di lantai.


"Aku ingin ke pantai."


"Tidak!!!"


"Tuan, kenapa kau terlihat takut untuk melangkahkan kaki keluar hah? Seakan kau begitu takut terlihat oleh banyak orang saat berdiri di luar. Atau, kau takut jika bertemu dengan..."


Ammar menatap Hana dengan sigap.


"E,eh.. Baiklah, aku tidak akan menyebutkan namanya." Jawab Hana, dengan suara pelan.


"Aku semakin yakin jika kau takut bertemu dengan Fanny, huh." Ucap Hana kembali dengan suara lirih. Beruntung Ammar tidak mendengarnya, kemudian Hana keluar kamar untuk berjalan-jalan sendiri di sekitar hotel.


Abel pun tak kalah gelisahnya, dia mencoba terus menepis keyakinannya jika sosok anak remaja yang di temuinya ketika itu adalah putera Ammar.


Tok tok tok...


"Joe, Joe... Apa kau di kamar? Mami masuk ya."


Abel mengetuk pintu kamar Joe terlebih dahulu, tanpa jawaban kemudian Abel menerobos masuk membuka pintunya. Dilihatnya Joe sedang berbaring dengan sebuah earphone menutupi kedua telinganya.


"Joe!!!" Abel membentak puteranya dengan berdiri di hadapan Joe.


"Eh, mami. Ada apa?" Joe terkejut melihat Abel sudah berdiri di depannya sembari melepaskan earphone nya.


"Apa kau ingat anak laki-laki yang saat itu bersama Pelangi di mall?"


Joe mengerutkan keningnya, mencoba mengingatnya kembali. Dan tak butuh waktu banyak, Joe langsung menangkapnya.


"Oh, Exelle. Huh, kenapa mami bertanya tentangnya? Apa mami juga menyukainya?"


"Jangan bercanda. Mami serius!" Bantah Abel.


"Aku tidak suka mendengar mami menyebut namanya saja di depanku."


"Apa kau tahu dimana dia bersekolah?"


"Mami, apa mami sungguh menyukai nya juga?"


"Astaga, apa kini kau menilai mami menyukai laki-laki brondong?"


"Lalu untuk apa mami menanyakannya? Tumben..." Tanya Joe dengan acuh.


"Mami hanya ingin memastikan sesuatu darinya."


"Apa?" Tanya Joe dengan sigap.


"Aakh, kau tidak akan mengerti. Ini urusan para orang tua, tolong mami dong."


"Gak mau!!!" Bantah Joe.


"Joe..." Abel mendecak manja di depan puteranya itu.


"Aku gak mau bantuin mami jika itu tentang Exelle. Apa mami lupa bagaimana dia menyakiti dan mengancamku merebut Pelangi, Mi."


"Iya, iya mami tahu. Mami hanya ingin tahu alamat sekolahnya saja, bisa kan?"


"Gak janji." Jawab Joe dengan cetus.


"My baby boy, my honey, my sweety handsome. Ayolah, nanti mami tambahin uang jajan mu."


"Gak."


"Aaah, Joe. Pliss, bantuin mami. Kali ini saja, hem?"


"Ogah!!!" Joe masih saja menolaknya lalu menutupi wajahnya dengan bantal.


"Uuugh, menyebalkan sungguh. Dia semakin mirip dengan ayahnya jika begini."


"Mami, sejak kapan aku memanggil daddy dengan sebutan Ayah?" Kembali Joe menampakkan wajahnya di balik bantal.


"E,eh... Maksud mami, ya. Daddy mu, hehe."


"Huuuh, payah. Kebanyakan nonton drama sih, kebawa suasana kan?" Ledek Joe pada Abel.


"Ih. Mulai mengejek ya, kamu ini. Awas, mami akan kurangi jatah uang jajanmu bulan ini.


"Mamiii... Jangan dong, aaah... Aku harus banyak mengeluarkan uang untuk saat ini, mi. Banyak buku yang harus ku beli untuk menjadi dokter yang hebat seperti keinginan Daddy."


"Tapi mami lebih ingin kau menjadi anak yang penurut saja."


"Hah, baiklah. Aku akan mencarikan alamat sekolah Exelle untuk mami,"


"Sungguh?" Seketika Abel berbinar-binar menatap wajah Joe.


"Hmm..." Jawab Joe dengan berdehem saja. Nadanya begitu malas terdengar.


"Aaaah, mami sudah yakin. Kau memang lebih mirip dengan mami, bukan dengan yang lainnya. Emmmuach..." Abel merangkul puteranya dengan sebuah kecupan di kedua pipinya.


Paling tidak, aku harus memastikannya sendiri lebih dulu. Jika memang anak itu adalah Exelle putera Ammar. Entah bagaimana aku akan mengungkapkan semua ini.