Because, I Love You

Because, I Love You
Episode 161



Aku bergegas keluar dari kantor Irgy, amarahku semakin meledak-ledak berada dalam satu ruangan dengan Irgy detik ini. Irgy menyusulku keluar ruangan, berusaha menggapai tangan ku.


"Sayang, tunggu. Ayo pulang bersama," Ucap Irgy dari belakang ku.


"Pak, rapat penting sebentar lagi di mulai." Ucap seorang laki-laki yang tak lain adalah sekretaris Irgy di kantor. Langkahnya terhenti mengejarku dengan keluhan nafas panjang.


Kemudian aku memencet tombol untuk keluar dari ruangan ini melalui lift menuju halaman depan. Sembari menunggu Khery menghampiriku.


"Kau sudah mau pulang?" Sapanya padaku.


"Bukan urusan mu aku mau pergi kemana, sebaiknya mulutmu kau pasang perekat saja. Dan jangan lagi berbicara padaku, kau mengerti?"


"Eh, apa salah ku Fanny? Aku hanya bertanya saja, kenapa kau begitu kasar berbicara padaku."


"Semua laki-laki sama. Termasuk kau," Jawab ku cetus sembari memainkan kedua kakiku, menunggu pintu lift terbuka yang begitu lama.


"Hahaha, kau pasti berantem dengan Irgy. Wah, apa Irgy sudah membuat suatu kesalahan besar kali ini? Dan tidak semua laki-laki itu sama Fanny, mereka memiliki porsi dan ukuran yang berbeda-beda."


"Diam !!! Jika terus berbicara aku akan merobek mulutmu." Aku meneriakinya, Khery terkejut hingga mundur satu langkah dari hadapan ku.


Lalu kemudian pintu lift terbuka, aku bergegas memasukinya. Khery hendak ikut serta dalam lift bersama ku, aku menahan pintu lift untuk tetap terbuka lebar.


"Tunggu disitu Khery, apakah selama beberapa akhir pekan kondisi penjualan di toko mengalami masalah?" Tanya ku dengan penuh rasa penasaran.


"Woooh, jadi karena ini kau bertengkar dengan Irgy? Cih, kekanakan." Jawab nya mengalihkan pandangan memutar-mutar kedua bola matanya ke atas. Melihatnya demikian aku semakin geram, berani-beraninya dia meledekku.


Ku raih sepatu hight heel ku sebelah yang ku kenakan di kaki kiriku, kemudian aku melemparnya tepat mengenai bagian dada Khery. Khery memekik melihat kembali ke arahku.


"Kau gila ya,"


"Cepat jawab, atau aku sungguh akan menghajarmu."


"Ya ya ya, aku hanya bercanda. Tapi apa kau sungguh tidak tahu, perusahaan kami hampir mengalami penurunan penjualan hingga mencapai 25%."


Ya ampun Tuhan, apa sebegitu parahnya?


"Ambilkan sepatu ku, cepat."


"Apa kau sedang mengalami masa menstruasi? Ya ampun. kau menyeramkan sekali Fanny." Jawab Khery sembari memberikan sepatu ku kembali dan ia hendak masuk. Namun dengan cepat aku melepas pintu lift untuk tertutup kembali sebelum Khery berhasil memasukinya berdua dengan ku.


Ya.. Dia terdengar meneriakiku, karena aku menutup lift begitu saja. Tanpa memberinya kesempatan memasuki lift berdua bersama mu, jika tidak. Aku bisa lebih sangar daritadi. Mulutnya bagai burung beo setiap kali bertemu dengan ku.


Bergegas aku memasuki mobil setelah sampai di halaman depan. Ku lirik jam di pergelangan tangan ku, sudah waktunya Pelangi pulang. Dengan cepat aku melajukan mobil keluar dari halaman lalu menuju sekolah Pelangi.


🌻🌻🌻


"Mama..." Panggil Pelangi dengan teriakan khasnya ketika aku sudah berdiri di halaman sekolah menunggunya.


Ah, melihat Pelangi kini sudah tumbuh semakin besar. Bayi mungil yang telah lama kami nantikan kehadirannya selama ini, bayi mungil yang sangat kami impikan selama ini, dia sudah tumbuh besar. Berlari dengan senyuman keceriaan, hatinya tentu sangat polos dan lugu. Di pikirannya tentu hanya ada keinginan untuk bermain dan bermain.


"Pelangi memelukku dengan erat dan penuh canda tawa hingga tanpa terasa air mata ku kembali menetes saat ku rasakan dekapannya yang begitu hangat dari tubuh mungilnya ini.


"Eh, mama. Kok nangis?" Tanya nya dengan wajah terkejut. Kemudian dia menyeka air mata ku, aku memejamkan mata merasakan kelembutan jemari mungilnya menyentuh pipi ku.


"Mama tidak apa-apa sayang, mama hanya tiba-tiba rindu pada oma baik. Mama ingin bertemu dengan oma baik," Jawab ku dengan menyeka air mata lalu melempar senyuman lebar.


"Iya ma, Pelangi juga rindu oma baik. Pelangi mau ketemu oma baik Ma.." Jawabnya menanggapi ku dengan antusias. Membuatku semakin memeluknya dan meneteskan air mata, kemudian tanpa sepengetahuan ku Lucky sudah menatapku sejak tadi di belakang Pelangi.


"E,eh... Lucky?"


Dengan cepat aku menghapus air mata ku. Dia terus menatapku sembari berjalan terus mendekatiku, kemudian dia memeluk ku. Aku terperangah akan sikapnya ini, dia menepuk-nepuk punggung ku dengan lembut.


"Jangan bersedih tante. Jangan menangis,"


Astaga Tuhan, apakah di dunia ini benar ada seorang anak yang sesempurna ini? Sedewasa ini? Atau jangan-jangan dia memiliki sebuah tombol seperti robot.


"Wanita cantik sangat di larang menangis tante. Itu akan memperbanyak kerutan di wajah mu." Ucap lagi setelah melepaskan ku dari dekapannya. Membuatku tertawa geli sejenak, Pelangi pun ikut tertawa seolah dia mengerti ucapan Lucky.


Sesaat aku merasa lega berada di dekat mereka.


"Terimakasih nak Lucky, kau sudah menghibur tante. Apa kau belum di jemput? Bagaimana jika tante mengantarmu pulang?" Tanya ku melihat sekitar.


"Saya disini Nona, tidak perlu mengantar tuan muda. Itu akan merepotkan,"


"Tidak apa, saya dengan senang hati mengantarnya pulang."


"Permisi..." Jawab wanita pengasuh itu memotong pembicaraan ku begitu saja. Aku termangu, dia begitu keras untuk di rayu.


"Sampai jumpa esok Pelangi. Sampai jumpa tante,"


Kemudian Lucky berlalu menaiki mobil mewah yang sudah menunggunya sejak tadi.


"Ayo nak, kita pulang." Ajak ku pada Pelangi.


"Ayo Ma, kita kerumah oma baik?"


"Tidak Nak, kita pulang kerumah dulu. Nanti kita telepon oma ya," Ucap ku menjelaskan dengan lembut dan menggendongnya sampai di mobil.


🌻🌻🌻


Tiba dirumah, aku langsung menelpon ibu setelah mengurus Pelangi.


"Halo, dengan siapa ini?" Terdengar suara wanita yang sudah pasti ini suara bibi Asri.


"Bi, ini Fanny. Kemana bunda? Ponselnya tidak bisa di hubungi.."


"Oh, nona Fanny. Apa kabar? Tunggu, biar bibi panggilkan. Beliau sedang di dapur, membuat kue."


"Kabar ku baik Bi, terimakasih." Jawab ku sembari menunggu.


"Halo, Fanny.. Bagaimana kabar mu Nak? Kau baik-baik saja? Bagaimana dengan Pelangi, Irgy bagaimana? Apa kalian sehat?"


"Bunda... Ah, jangan terlalu banyak menghujaniku dengan banyak pertanyaan. Aku bingung mau menjawabnya darimana dulu."


"Pelangi sedang bermain di ruang bermainnya di bawah, biar nanti ku panggilkan. Ehm, bunda... Apakah kau sibuk?"


"Oh tidak Nak, bunda sudah hampir selesai."


Mendengar suara ibu sudah membuatku kembali bergemuruh di hati, aku kembali menangis namun ku tahan. Walau begitu, bathin seorang ibu tidak bisa di abaikan dan dianggap remeh bukan?


"Bunda, Fanny ingin pulang. Apakah boleh?"


Lama tak terdengar jawaban dari suara ibu. Aku semakin terisak menjadi-jadi namun tetap ku tahan sekuat hati.


"Ada apa dengan mu Nak, apa kau bertengkar dengan suamimu?"


"Bunda, aku hanya ingin pulang. Aku dan Irgy baik-baik saja, jangan khawatir. Aku hanya rindu, ingin memelukmu bunda."


"Mama.. Mama.."


Kemudian Pelangi datang memasuki kamar ku begitu saja tanpa mengetuk lebih dulu, karena pintu sudah setengah terbuka. Dengan cepat aku menghapus air mata ku, Pelangi terpaku melihatku kedua mataku basah oleh air mata.


"Ada apa Nak, ayo sapa oma baik." Ucapku mengalihkan tatapannya yang terpaku padaku.


"Ah, oma baik? Yeay yeay... Halo oma, oma baik. Ini Pelangi."


"Oh cucu oma, yang paling cantik.. Apa kabar cucu oma?"


"Ah, ehm.. Pelangi ingin jumpa oma baik. Pelangi rindu, mama juga rindu sampai menangis."


"Mama sampai menangis? Hemm.. Mama cengeng, apakah Pelangi juga menangis?"


"Enggak dong. Pelangi kan anak hebat," Jawab pelangi sembari menggerak-gerakkan tangannya seolah sedang bercengkrama dengan orang di depannya langsung. Aku terharu melihatnya demikian ceria dan pintar, juga berani berceloteh.


"Bagus... Cucu oma memang anak hebat." Jawab Ibu dengan tawa kecil di ujung sana. Kemudian aku meraih ponsel ku kembali dari tangan Pelangi, aku memeluk Pelangi untuk berada di pangkuanku.


"Ya udah bunda, Fanny tutup dulu teleponnya ya. Tunggu Fanny sampai dirumah,"


"Tapi nak, kenapa mendadak? Ada apa? Kau datang dengan Irgy bukan?"


"Siapkan saja kamar untuk ku dan Pelangi ya bunda. Sampai nanti, bye..."


Klik !!!


Aku menutup panggilan telepon ku kemudian tanpa menjawab pertanyaan ibu kembali. Pelangi masih berada di pangkuan ku dan menatap pada ku dengan tatapan lugu nya.


"Pelangi, ayo kita kerumah oma baik."


"Sekarang ma?"


"Iya, sekarang. Kau mau?"


"Yeay yey mau ma, mau. Eh tapi papa ikut kan Ma?"


"Ehm, nanti... Nanti papa pasti menyusul. Kita berangkat kerumah oma baik lebih dulu, karena papa masih di kantor."


"Okkeh Ma, ayo ma.. Sekarang," Ajak Pelangi menarik-narik tanganku untuk segera keluar kamar.


"Eeeh, tunggu sebentar nak. Bantu mama mempersiapkan pakaian kita selama dirumah oma baik. Ok,"


"Siap !!!" Jawab Pelangi dengan hormat.


Setelah setengah jam mempersiapkan segalanya, aku terkejut melihat semua yang sudah tertata dan siap untuk di bawa.


"Nak, apa kita akan selamanya tinggal dirumah oma baik?"


"Ehm.. Enggak." Jawab Pelangi menggelengkan kepalanya.


"Lalu ini? Kenapa kau membawa semua mainan mu Nak?"


"Pelangi akan bermain dengan Lucky Ma,"


Aku tersenyum hangat mendengarnya berkata demikian. Aku lupa jika kini dia sudah bersekolah, aku harus membuatnya ijin untuk sementara waktu hingga mungkin sampai akhir pekan saja. Sampai hati dan pikiran ku tenang, dan bisa diajak kembali berpikir normal.


"Ehm, Nak. Dengan mama, besok Pelangi tidak akan masuk sekolah untuk beberapa hari ke depan. Jadi kita tidak akan bertemu Lucky dulu untuk sementara, kau mau kan?"


"Tapi ma, Lucky pasti sedih sendirian di sekolah."


"Lucky kan anak cowok, dia hebat dan tentu banyak temannya seperti Pelangi, hanya untuk beberapa hari saja nak. Hem..."


Pelangi menatapku dengan mata kosong, aku ragu apakah dia akan mengerti dan menuruti ku?


"Iya deh ma, ayo kerumah oma. Lets go," Ajak nya kemudian dengan tawa riang keluar kamar di susul oleh ku yang membawa koper besar menuruni anak tangga.


"Nyonya, nona kecil. Kalian, kalian mau kemana membawa koper besar begini?" Tanya bibi asisten menghentikan ku dan Pelangi.


"Mbok, kita mau kerumah oma baik. Yeay ye ye,"


Aku mengangguk pelan saat bibi asisten menatapku akan ucapan Pelangi.


"Tapi nyonya, kalian akan pergi naik taxi? Bukan kah perjalanan cukup jauh ke tempat tinggal nyonya besar?"


"Tak apa Bi, aku akan menyetir sendiri."


"Tapi nyonya, jika tuan tahu.. Dia pasti akan marah pada bibi tidak mencegah kalian. Bagaimana jika nanti nyonya kelelahan, bagaimana jika nanti nyonya dan nona kecil kenapa-napa di jalan?"


"Ehm, bibi... Sudah lah, jangan khawatir. Kami ada urusan penting, aku akan hati-hati di jalan bersmaa Pelangi."


"Tapi nyonya..."


"Bibi... Tak apa, jaga rumah baik-baik dan tuan juga jangan sampai terlambat makan nya ya, sementara saya dirumah ibu. Tolong perhatikan semua urusan tuan, jika tuan bertanya bibi tahu apa yang harus di jawab."


Kemudian aku kembali melangkah keluar rumah setelah berhasil meyakinkan bibi akan hal ini. Ya, aku pun khawatir. Ini pun pertama kalinya aku menyetir mobil sendiri dalam perjalanan yang memakan waktu berjam-jam di jalan.