Because, I Love You

Because, I Love You
#BILYS3 202



Weekend telah tiba, Pelangi terlihat lebih ceria dan riang gembira dari biasanya. Ia menuruni tangga dengan berlarian kecil, memakai celana levis di padukan kemeja yang sedikit longgar dari ukuran tubuhnya. Kemudian dia kenakan topi untuk menutupi rambutnya yang indah.


"Ma, om Kevin ada nelepon mama gak?"


"Eh, om Kevin? Memangnya bilang mau nelepon mama?"


"Dih, om Kevin. Sudah jam berapa ini?" Jawab nya sembari melirik jam di pergelangan tangannya.


"Cantik begini mau kemana?"


"Pelangi ada janji, Ma. Mau pergi ke pantai bareng om Kevin dan Joe,"


"Oh ya, hari ini? Ih, jahat ya. Mama gak diajak nih, Mama kan juga sudah lama tidak pernah menikmati suasana pantai."


"Ehm, mama yakin mau pergi bersama kita? Pelangi cuma bertiga loh, om Kevin dan Joe. Hihi,"


Aku mengernyit mendengarnya bertanya demikian, apakah kini puteri ku sedang ingin menggodaku dengan hadirnya Kevin???


"Pelangi..."


"Hahaha, ampun Ma. Pelangi hanya bercanda, ampun.."


Pelangi berlari hendak menuju teras depan. Namun sudah lebih dulu tertangkap oleh Kevin yang sudah memasuki ruang tamu.


"Astaga, Pelangi... Kau tidak apa-apa Nak?" Tanya Kevin saat menangkap tubuh Pelangi yang hampir tersandung.


"Hai, Om. Ehm, aku gapapa om. Sejak tadi aku menunggu om, nanti kita telat lihat sunsetnya. Joe sudah sejak tadi menunggu dirumahnya,"


"Iya, maafin om ya. Tadi kan harus nganterin tante Nia dulu sayang, ayo kita pergi sekarang." Ucap Kevin dengan mengusap lembut kepala Pelangi lalu mengajaknya segera pergi.


Sementara aku masih mematung menikmati pemandangan ini, seolah aku kembali diajak berpetualang ke masa lalu ku kembali. Sikap Kevin tidak pernah berubah, dia selalu hangat dan lembut juga penuh kasih sayang.


"Ma, ayo.."


"E,eh.. Ke,kemana?" Tanya ku kikuk, suara Pelangi membangunkan ku dari lamunan tadi.


"Dih, mama melamun ya? Hahaha," Pelangi tertawa setelah menggodaku. Sedangkan Kevin menatapku dengan mengangkat satu alisnya ke atas. Ini sungguh membuatku malu, rasanya malu sekali.


"Kau sendiri saja dirumah? Ini weekend, ku pikir Irgy dirumah."


"Ehm, Irgy sedang keluar kota pagi tadi. Jika kalian akan pergi ke pantai, ehm.. Ya sudah, pergi lah. Titip Pelangi ya,"


"Yakin nih, Ma. Gak ikut? Tadi mama bilang mau ikut, ih gimana sih mama?"


"Pelangi, ssst..." Aku sedikit mendecak kesal dengan melototinya.


"Hihihi, ya sudah. Nanti nyesel loh, sendirian dirumah saja."


"Mau ikut? Ya ayo, lagi pula kita perginya hanya bertiga saja. Pelangi dan Joe,"


"Tapi Vin, Nia..."


"Nia sedang ada urusan mendadak, dan aku sudah berjanji sebelumnya dengan Peri kecil. Jadi terpaksa aku tidak ikut serta menemani Nia. Lagi pula jika kau ingin ikut bersama kami ya gapapa, tapi Irgy..." Ucapan Kevin terhenti dengan bersuara lirih kemudian.


"Biar Pelangi saja yang nelepon papa dan minta izin," Ucap Pelangi menyela perbincangan kami. Kemudian dia merogoh ponsel di tas mini nya lalu mengutak atik layar ponselnya untuk melakukan panggilan.


Beberapa saat kemudian panggilannya terhubung.


"Halo pa, papa sibuk enggak?"


"Hemm... Ada apa nih, anak papa yang tercantik nelepon papa?" Jawab Irgy di ujung ponselnya.


"Ehm, tante Nia ikut juga?"


"Tante Nia ada urusan mendadak Pa, jadi kami cuma bertiga. Ayo lah, Pa. Kali ini aja deh, boleh ya... Boleh dong,"


"Hemm.. Ya sudah boleh, hati-hati ya kalian. Nanti sampai di pantai hubungi papa, ok sayang. Salam sama mama dan om Kevin juga pada Joe ya, jagain mama karena jauh dari papa."


"Pfffttt..."


Seketika Kevin menahan tawa nya untuk tidak lepas mendengar ucapan Irgy di ujung ponselnya yang terdengar dari speaker ponsel Pelangi.


"Siap, Pa. Pelangi akan jagain mama super ketat, Pelangi pastikan tidak akan ada yang berani meliriknya sedikitpun." Jawab Pelangi dengan tegas.


"Hahaha, baiklah. Hati-hati, Nak. Jangan lupa untuk mengabari papa setelah tiba di pantai ya."


"Ok, Pa. Pelangi matiin teleponnya dulu ya. Bye papa,"


Klik !!!


Panggilan telepon berakhir.


"Yuk, Ma." Ajak Pelangi kemudian.


"E,eh tapi..."


"Aduh mama, nanti sunsetnya keburu tenggelam ih mama.." Jawab Pelangi merengek manja.


"Fanny, kali ini saja menyenangkan hati peri kecil gapapa kan?"


"Ya sudah, ayo kita berangkat."


"Upz, tunggu." Ucap Kevin menghentikan ku.


"Ada apa lagi sih Om, ih udah jam berapa ini?"


Kevin mengabaikan pertanyaan Pelangi lalu melirikku dari atas kepala hingga ke ujung kaki. Membuatku sedikit salah tingkah.


"Kamu yakin? Pergi ke pantai dengan pakaian seperti ini?" Tanya Kevin yang baru ku sadari, aku sedang memakai baju santai ibu-ibu dirumah. Oh astaga, kembali aku dibuat malu.


"Hahaha, ya ampun mama. Maafkan Pelangi, jadi lupa. Habisnya terlalu semangat sih, ganti baju dulu ma. Pelangi tunggu di mobil dan om Kevin."


Tanpa banyak kata lagi aku berlari menaiki tangga menuju kamar pribadiku. Sesampainya di kamar dengan terburu-buru aku memilih baju yang pantas dan cocok untuk di kenakan saat kita di pantai untuk menikmati indahnya sunset.


Dengan tergesa-gesa aku hanya memoles bibirku dengan lipcream berwarna nude. Agar tidak terlalu mencolok, rasanya akan sangat tidak nyaman jika aku memakai make up berlebihan sedangkan aku pergi tanpa suami ku, justru bersama mantan kekasih ku dulu yang saat ini tengah menjalin hubungan pertemanan yang murni. Ya, ku rasa akan begitu selamanya.


Kemudian aku kembali keluar kamar dengan setengah berlari menuju halaman yang kini tengah terparkir mobil Kevin. Pelangi sudah duduk manis di kursi depan, tepat di samping Kevin yang akan menyupir. Tanpa menunggu aba-aba aku langsung memasuki mobil Kevin dan duduk di kursi belakang.


"Sudah siap?" Tanya Kevin menoleh ke belakang.


"Heem, ayo." Jawab ku singkat.


Kemudian ponsel Pelangi berdering. Dengan cepat Pelangi menerima panggilan telepon di ponsel nya.


"Aduh iya, iya. Ini sudah jalan, bawel deh ah. Tunggu dirumah, jangan kemana-mana lagi. Awas ya sampai pergi ke lain tempat,"


Aku tersenyum ringan menggelengkan kepala. Aku sangat tahu betul siapa yang membuat puteri ku sampai mengomel seperti itu.


Dalam perjalanan kerumah Joe lebih dahulu, Kevin hanya lebih banyak mengobrol dengan Pelangi. Mereka sesekali terbahak-bahak dengan ceria, entah apa saja obrolan mereka itu. Aku merasa jadi kambing congek di kursi belakang.


Ah ya ampun, pemandangan apa ini? Mereka terlihat sangat akrab dan dekat, layaknya ayah dan seorang anak. Kevin memang selalu mampu mencairkan suasana dimanapun dan dalam keadaan apapun.