Because, I Love You

Because, I Love You
#114



Setelah ijin libur selama dua minggu, Kirana sudah harus berangkat kerja lagi. Sebenarnya, hatinya masih sangat belum siap untuk berangkat ke kantor. Karena dia selalu teringat oleh Rendy dan disana tempat pertama kali dirinya bertemu dengan laki-laki tampan yang membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama.


Kirana harus tetap semangat meski tanpa Rendy yang selalu membuat hari-harinya menjadi lebih menyenangkan. Meskipun sering kali ribut jika bertemu. Tapi jujur saja, Kirana merasa begitu hampa dan merindukan sosok tampan kekasihnya yang hingga kini masih tidak ada kabar.


Entah bagaimana keadaan Rendy disana? Kirana hanya bisa terus berdoa, berharap agar Rendy cepat sembuh dan segera kembali lagi ke Jakarta.


Ketika Kirana masuk kedalam gedung megah perusahaan Pradipta, beberapa karyawan yang ada disana langsung melontarkan sindiran sindiran pedas.


Tapi, Kirana sudah merasa terbiasa dan lebih memilih untuk tidak mendengarnya. Anggap saja mereka iri kepadanya.


"Kayanya emang dia pembawa sial kali ya? Berita tentang kecelakaan Pak Rendy katanya, karena pagi itu Pak Rendy mau dateng ke rumah si cewek kampung itu. Tapi malah kena musibah."


"Jangan-jangan emang bener kalau cewek kampung itu pakai pelet, terus Pak Rendy jadi korbannya? Ih ngeri jadinya!"


"Aduh nggak mau deh deket-deket lagi sama si cewek kampung itu. Takut jadi tumbalnya!"


"Hahahaha!"


Mereka terus saja melontarkan perkataan-perkataan yang membuat hati Kirana mencelos.


Bagaimana bisa mereka berpikiran sampai seperti itu terhadapnya? Mana mungkin Kirana melakukan hal musrik semacam itu? Amit-amit deh.


Kirana hanya melirik sinis kearah mereka kemudian berjalan kearah lift.


'BRUKKK'


"Awwh!" Tubuhnya terjatuh kelantai karena ada yang menjegal kakinya.


"Hahahaha!" Mereka yang melihat malah menertawakan Kirana. "Rasain!"


Kirana meringis karena merasakan kaki kanannya sakit. Dia tetap berusaha untuk tetap bersabar dan kuat. Dia meraih tongkatnya dan berdiri. Tapi, dia merasa kesulitan.


"Astaga! Mbak Kirana!"


Semua karyawan yang tadi mencemooh Kirana dan menertawakan seketika terdiam dan segera pergi menuju ruangannya ketika mendengar seruan dari Beni yang langsung menghampiri Kirana.


"Pak Beni?!" pekik Kirana merasa terkejut sekaligus senang melihat Beni datang.


"Ayo Mbak, aku bantu." Beni segera membantu Kirana berdiri.


"Makasih Pak." Ucap Kirana setelah berdiri.


"Sama-sama Mbak." Balas Beni kemudian menatap Kirana dengan serius. "O ya, bisa kamu ikut aku? Ada hal penting yang mau aku sampaikan dari Bos."


"Dari Mas Rendy maksud kamu?" Tanya Kirana untuk memastikan dengan mata berbinar akhirnya dia akan segera mendapat kabar dari kekasihnya yang sudah sangat dirindukannya.


"Hm. Ayo ikut aku!"


Kirana pun mengikuti Beni sampai ke ruangan kantor Presiden Direktur.


Beni membuka pintu lalu mempersilahkan Kirana masuk kedalam. Ternyata didalam ada Pak Sony, orang kepercayaan Bagas-Papa Rendy selama ini yang membantu menggantikan posisi Rendy untuk sementara waktu mengurus perusahaannya ini.


Kirana terpaku saat masuk kedalam ruangan ini. Bayangan sosok Rendy yang tersenyum senang ketika melihatnya datang menemuinya selalu melintas dalam pikirannya.


"Ah iya Pak Beni?"


"Ayo silahkan duduk." Beni mempersilahkan Kirana duduk disofa.


"Hallo Kirana. Senang bertemu lagi denganmu." Sapa Pak Sony dengan ramah sambil berdiri sebelum Kirana duduk disofa.


"Eh Pak Sony. Iya Pak. Apa kabar?" Balas Kirana dengan senyum kaku.


"Baik. Kamu sendiri bagaimana dengan kakimu?" Tanya balik Pak Sony.


"Eum..saya masih harus pakai tongkat untuk berjalan sampai dua minggu kedepan Pak." Jawab Kirana.


"Semoga lekas sembuh ya?" Ucap Pak Sony.


"Terimakasih atas perhatiannya Pak." Ucap Kirana dengan sedikit menundukkan wajahnya.


"Sama-sama. O ya silahkan duduk! Kamu juga Ben!" Ucap Pak Sony kemudian mereka duduk di sofa. "Silahkan Ben kalau kamu mau menyampaikan sesuatu kepada Kirana!" Lanjut Pak Sony dan Beni mengangguk lalu menatap Kirana.


"Begini Mbak Kirana. Sebenarnya, orang tua Bos Rendy yang menyuruhku kembali ke Jakarta untuk menemuimu. Tadi pagi saat aku kerumahmu, tapi ternyata kamu udah pergi kerja. Jadi, aku langsung cari kamu kesini." Ucap Beni kemudian menghela nafasnya merasa bingung bagaimana menyampaikannya maksud kedatangannya ini kepada Kirana.


"Lalu, gimana keadaan Mas Rendy sekarang? Dia baik-baik aja kan?" Tanya Kirana dengan ekspresi tegang.


"Bos..koma." Jawab Beni dengan berat karena langsung melihat reaksi Kirana yang kemudian menangis tanpa suara.


"Apa??" Kirana begitu terkejut dan semakin bersedih. Dia juga tidak tau harus bagaimana. Rendy berada jauh darinya. Dia tidak bisa menemuinya untuk menjenguknya walau hanya sebentar saja.


"Kalau kamu bersedia ikut denganku ke Jerman, aku akan mengurus keberangkatanmu. Tapi, sebelum itu ........" Beni terdiam sejenak sambil memperhatikan Kirana.


"Tapi apa Pak Ben?" Tanya Kirana dengan tidak sabar.


"Kamu harus resign dari pekerjaanmu dulu." Jawab Beni dan Kirana kembali terkejut hingga matanya membulat.


"Resign??!" Pekik Kirana dengan tidak percaya.


"Em, begini Mbak. Orang tua Bos Rendy yang menyuruhku menyampaikan ini kepadamu. Bagaimanapun juga, kamu dan Bos hampir menikah. Kamu adalah calon istri Bos." Ucap Beni menjelaskan kepada Kirana. "Maksud mereka, mereka hanya ingin kamu sebagai calon istri dari Bos bisa berada didekatnya yang masih dalam keadaan koma. Siapa tau dengan adanya kamu didekatnya, Bos bisa segera siuman dan pulih." Lanjut Beni.


Kirana terdiam dan menundukkan wajahnya. Dia mengusap air matanya lalu menghela nafasnya dalam-dalam untuk menenangkan hatinya.


"Apa yang dikatakan Beni itu benar, Kirana. Mungkin, Mas Rendy sangat membutuhkan kehadiran seseorang yang begitu berarti dalam hidupnya untuk membantunya bangun dari koma." Sahut Pak Sony dengan tersenyum mendukung Beni.


Kirana masih terdiam. Dia menunduk dan mengusap air matanya sendiri yang masih terus mengalir. Jujur, dia sangat ingin melihat Rendy. Ingin tau bagaimana keadaannya sekarang. Tapi, untuk resign dia tidak mungkin melakukannya.


Menjadi karyawan kantoran disalah satu perusahaan terbesar ditanah air ini merupakan impiannya sejak lama. Meskipun dia begitu mencintai dan merindukan Rendy, dia tetap tidak bisa harus mengorbankan impiannya untuk menjadi wanita karir.


"Mbak Kirana. Kamu nggak perlu khawatir soal kerjaanmu. Orang tua Bos Rendy bersedia menanggung hidup kamu. Karena kamu sudah menjadi calon menantunya." Ucap Beni lagi membujuk Kirana.


"Tapi masih calon kan Pak Ben? Dan belum tentu juga kalau Mas Rendy itu jodoh aku. Buktinya, pernikahan kami aja batal. Dan aku minta maaf sebelumnya karena aku nggak mau menerima tawaran dari orang tua Mas Rendy." Ucap Kirana dengan serius menatap kearah Beni. "Em..maksudku, meski aku sangat ingin sekali bisa bertemu dan melihat Mas Rendy, aku tetap nggak bisa nerima tawaran itu. Aku ini bukan siapa-siapa mereka. Aku juga nggak mau hidup bergantung kepada orang lain." Lanjut Kirana dengan wajah sendu.


................