Because, I Love You

Because, I Love You
#BILYS3 246



Lisa dan Jeni menyusul Pelangi ke toilet. Di lihatnya


Pelangi sedang membasuh wajahnya di wastafel. Lalu Lisa dan Jeni saling menatap


satu sama lain.


“My Princess cold, kau baik-baik saja kan?” Tanya Lisa


dengan sangat berhati-hati.


Pelangi menoleh, di pandanginya kedua sahabatnya yang kini


menatapnya dengan ekspresi kacau.


“Jika aku menangis di hadapan kalian saat ini, apakah kalian


akan mentertawakan ku?” Tanya Pelangi dengan suara serak. Sontak Lisa dan Jeni


merangkul tubuh Pelangi dengan erat. Pelangi mulai terisak menahan tangis.


“Katakan, apakah aku sungguh  seburuk itu harus dibandingkan dengan cewek sakit itu?” Tanya Pelangi


dengan merengek.


“Hey, tidak ada yang mampu menandingi segalanya yang ada


pada Princess kami ini. Hanya orang yang buta saja yang berani membandingkanmu


dengan cewek lain, terlebih dengan cewek segila Maria itu.” Jawab Lisa berusaha


menenangkan hati Pelangi saat ini.


“Pelangi, jangan sedih lagi. Air mata ini terlalu berharga


untuk dibuang hanya demi cowok brengsek seperti Joe.” Ujar Jeni dengan


menyentuh kedua pipi Pelangi. Di sekanya air mata yang membasahi kedua pipi


Pelangi.


“Benar kata Jeni, air mata ini terlalu berharga sayang. Joe


tidak pantas kau tangisi seperti ini, atau… jangan bilang jika kau sebenarnya


masih mencintainya, Pelangi?”


“Tidak. Aku tidak lagi mencintainya, sejak awal aku selalu


ragu akan perasaan ini. Tapi disisi lain, Joe…”


“Sssttt… Jika kau sungguh tidak mencintainya, berhenti


menangisinya seperti ini.” Ucap Jeni menyemangatinya.


“Jeen… Aku tidak ingin menangisinya, tapi aku sangat kecewa.


Hati ku sakit mendengar ucapan Joe tadi, apa yang harus ku lakukan saat ini


hah?”


“Keluarkan saja semua kekesalan di hatimu saat ini, kau bisa


memakinya. Kau bisa melontarkan umpatan yang paling pantas untuknya, atau… Kau


juga bisa mengutuknya.” Ujar Jeni kembali untuk menghiburnya.


Pelangi terdiam sesaat, seolah sedang berpikir dan


bertanya-tanya dalam hatinya.


“Dia seperti kera,” Ucap Pelangi singkat.


“Mongkey???” Tanya


Lisa dan Jeni bersamaan.


Lalu Pelangi menampilkan gaya seekor Kera di wajahnya, tepat


di hadapan dua sahabatnya itu. Sontak mereka tertawa terbahak-bahak bersama dan


kembali saling merangkul penuh kasih dan sayang. Ya, pada akhirnya Pelangi


kembali ceria seketika. Dalam hatinya hanya bergumam lirih, mengingat apa yang


Joe lakukan padanya.


Ya, inilah yang aku


takutkan sejak awal. Memang sebaiknya hubungan kami sejak awal terjalin sebagai


sahabat saja. Ah, bodohnya aku. Aku terlalu menuruti egoku saat itu, menjadikan


Joe sebagi pacar. Dan saat ini, aku bahkan kehilangaan dua peran penting


sekaligus dalam hidupku. Kekasih hati dan sahabat baik, iya bukan? Ah, tak apa. Menjadi sahabat saja rasanya


tidak mungkin lagi. Aku sudah cukup memiliki tiga sahabat baik dan setia,


selalu memahami ku, selalu


*************


 Waktu terus berjalan, hingga satu bulan


kini telah berlalu. Setelah putus dari Joe, Pelangi tetap menjalani hari-hari


di sekolah seperti biasa. Tetap dengan tawa ceria, sikap jahilnya, tawa lepas


dan terkadang kegilaannya dengan ketiga sahabatnya di sekolah yang selalu setia


memberinya semangat jika putus dengan seorang pacar tidak berarti segalanya


harus berakhir dengan tragis pula. Tadinya, ku pikir.. Setelah putus dari Joe,


Pelangi akan kembali  menjadi pribadi


yang dingin dan tertutup seperti dulu. Nyatanya tidak demikian, hanya saja…


Antara aku dan Abel, kini tak lagi sedekat dulu. Ku sadari setelah Pelangi


memutuskan hubungan cintanya dengan Joe.


menghubungiku, mengajakku berbicara tentang anak-anak kami. Tapi ternyata, Abel


justru menjauh dariku. Dan itu membuatku semakin berpikir jika Abel sengaja


membiarkan semua ini begitu saja. Sama seperti apa yang dia lakukan saat dengan


Ammar dulu. Padahal sejak awal kami memiliki keinginan yang sama, Joe dan


Pelangi harus bersama hingga mereka tumbuh dewasa lalu sukses bersama.


“Ma… Pelangi berangkat sekolah, bye mama.” Pamitnya setelah


mencium kedua pipiku. Kemudian berlalu pergi melajukan mobilnya.


.


.


.


.


.


Tiba di sekolahnya…


Seperti biasa, selalu tak terpisahkan dari canda tawa ketiga


sahabatnya. Itu yang membuat Pelangi mampu mengacuhkan sikap Joe di sekolah


yang kadang masih diam-diam mencuri pandang padanya, terkadang menjahilinya


dari jarak jauh, karena sejak mereka putus, Joe kini menjauh dari mereka. Hanya


Lucas yang masih sesekali menghampiri Joe.


Di tengah canda tawa dan obrolan mereka berempat di kantin,


sejak seminggu terakhir Lisa selalu saja sibuk dengan ponsel dan terkadang pun


Lisa berpindah posisi seakan tak ingin  terganggu atau diganggu oleh kebisingan senda gurau para sahabatnya.


“Sa, sibuk bener sih daritadi?” Tanya Pelangi dengan heran.


“Duuh, Princess kita ketinggalan berita penting nih. Tolong


jelasin dong, Jeen…” Jawab Lisa dengan menggoda Pelangi.


“Dih, males gue. Pamer aja terus, pangeran berkuda poni


khayalan elu.” Imbuh Jeni dengan kesal.


“Oh, jadi Miss beauty kita udah punya pacar?” Jawab Pelangi menerka.


“O’oh, Princess  cold.


Lisa kita akhirnya akan melepas status jomblo akutnya.” Ujar Lucas dengan menyembikkan


bibirnya.


“Sungguh??? Wah, bagus dong.”


“Huht… Andai saja, memang demikian. Tapi sayangnya, cowok


itu sungguh sulit sekali di dekati. Gak peka-peka tau gak sih, capek gue ksih


kode mulu.” Lisa mengadu dengan bibir sedikit manyun.


“Pffttt… Lagian, elu suka nya sama robot. Mana bisa peka


sama cewek bawel dan ribet kayak elu,” Jeni kembali meledeknya. Sontak Pelangi


dan Lucas tergelak tawa begitu lepas, hingga mengundang perhatian semua murid


yang sedang menikmati jam istirahat di kantin.


“Ehm, semoga saja. Dia tidak akan segila Joe, yang dulunya


hidup di LN. Hahahahaha,”


Lagi-lagi Jeni menggoda serta meledek Lisa. Membuat Lisa


semakin kesal merengek manja.


“Princess cold, Jeni meledekku. Dia iri hanya karena aku


lebih dulu melepas status jomblo ku ini.”


“Ehm… kacian, cini peluk.” Ujar Pelangi mengulurkan


tangannya dan merebahkan tubuh Lisa di pundaknya.


“Ku rasa Jeni benar, berhati-hatilah menjalin hubungan


dengan cowok yang tinggal di LN. kita tidak tahu bagaimana dia selama jauh dari


kita bukan?” Ucap Pel;angi kembali dengan suara yang lembut, ia tak ingin


menyinggung peraaan sahabatnya itu, yang kini sepertinya telah jatuh cinta


terhadap seseorang yang tinggal jauh disana.


Kemudian Lisa beranjak pada posisinya yang sedang bersandar


manja pada bahu Pelangi. Ia menatap sejenak wajah Pelangi, kemudian mengangguk


pelan dengan menarik nafas dalam-dalam.


“Aaakh… Kalian, bisakah tenang saja dan jangan


mengkhawatirkanku dulu? Ayolah, lagipula aku bertemu dengan cowok itu hanya dua


kali saja, itupun karena tidak sengaja. Dan jujur saja, aku ini sedang berusaha


untuk memperoleh nomor  ponsel


pribadinya. Maka itu, jangan meledekku terus.” Ujar Lisa dengan wajah lesu.