
Lisa dan Jeni menyusul Pelangi ke toilet. Di lihatnya
Pelangi sedang membasuh wajahnya di wastafel. Lalu Lisa dan Jeni saling menatap
satu sama lain.
“My Princess cold, kau baik-baik saja kan?” Tanya Lisa
dengan sangat berhati-hati.
Pelangi menoleh, di pandanginya kedua sahabatnya yang kini
menatapnya dengan ekspresi kacau.
“Jika aku menangis di hadapan kalian saat ini, apakah kalian
akan mentertawakan ku?” Tanya Pelangi dengan suara serak. Sontak Lisa dan Jeni
merangkul tubuh Pelangi dengan erat. Pelangi mulai terisak menahan tangis.
“Katakan, apakah aku sungguh seburuk itu harus dibandingkan dengan cewek sakit itu?” Tanya Pelangi
dengan merengek.
“Hey, tidak ada yang mampu menandingi segalanya yang ada
pada Princess kami ini. Hanya orang yang buta saja yang berani membandingkanmu
dengan cewek lain, terlebih dengan cewek segila Maria itu.” Jawab Lisa berusaha
menenangkan hati Pelangi saat ini.
“Pelangi, jangan sedih lagi. Air mata ini terlalu berharga
untuk dibuang hanya demi cowok brengsek seperti Joe.” Ujar Jeni dengan
menyentuh kedua pipi Pelangi. Di sekanya air mata yang membasahi kedua pipi
Pelangi.
“Benar kata Jeni, air mata ini terlalu berharga sayang. Joe
tidak pantas kau tangisi seperti ini, atau… jangan bilang jika kau sebenarnya
masih mencintainya, Pelangi?”
“Tidak. Aku tidak lagi mencintainya, sejak awal aku selalu
ragu akan perasaan ini. Tapi disisi lain, Joe…”
“Sssttt… Jika kau sungguh tidak mencintainya, berhenti
menangisinya seperti ini.” Ucap Jeni menyemangatinya.
“Jeen… Aku tidak ingin menangisinya, tapi aku sangat kecewa.
Hati ku sakit mendengar ucapan Joe tadi, apa yang harus ku lakukan saat ini
hah?”
“Keluarkan saja semua kekesalan di hatimu saat ini, kau bisa
memakinya. Kau bisa melontarkan umpatan yang paling pantas untuknya, atau… Kau
juga bisa mengutuknya.” Ujar Jeni kembali untuk menghiburnya.
Pelangi terdiam sesaat, seolah sedang berpikir dan
bertanya-tanya dalam hatinya.
“Dia seperti kera,” Ucap Pelangi singkat.
“Mongkey???” Tanya
Lisa dan Jeni bersamaan.
Lalu Pelangi menampilkan gaya seekor Kera di wajahnya, tepat
di hadapan dua sahabatnya itu. Sontak mereka tertawa terbahak-bahak bersama dan
kembali saling merangkul penuh kasih dan sayang. Ya, pada akhirnya Pelangi
kembali ceria seketika. Dalam hatinya hanya bergumam lirih, mengingat apa yang
Joe lakukan padanya.
Ya, inilah yang aku
takutkan sejak awal. Memang sebaiknya hubungan kami sejak awal terjalin sebagai
sahabat saja. Ah, bodohnya aku. Aku terlalu menuruti egoku saat itu, menjadikan
Joe sebagi pacar. Dan saat ini, aku bahkan kehilangaan dua peran penting
sekaligus dalam hidupku. Kekasih hati dan sahabat baik, iya bukan? Ah, tak apa. Menjadi sahabat saja rasanya
tidak mungkin lagi. Aku sudah cukup memiliki tiga sahabat baik dan setia,
selalu memahami ku, selalu
*************
Waktu terus berjalan, hingga satu bulan
kini telah berlalu. Setelah putus dari Joe, Pelangi tetap menjalani hari-hari
di sekolah seperti biasa. Tetap dengan tawa ceria, sikap jahilnya, tawa lepas
dan terkadang kegilaannya dengan ketiga sahabatnya di sekolah yang selalu setia
memberinya semangat jika putus dengan seorang pacar tidak berarti segalanya
harus berakhir dengan tragis pula. Tadinya, ku pikir.. Setelah putus dari Joe,
Pelangi akan kembali menjadi pribadi
yang dingin dan tertutup seperti dulu. Nyatanya tidak demikian, hanya saja…
Antara aku dan Abel, kini tak lagi sedekat dulu. Ku sadari setelah Pelangi
memutuskan hubungan cintanya dengan Joe.
menghubungiku, mengajakku berbicara tentang anak-anak kami. Tapi ternyata, Abel
justru menjauh dariku. Dan itu membuatku semakin berpikir jika Abel sengaja
membiarkan semua ini begitu saja. Sama seperti apa yang dia lakukan saat dengan
Ammar dulu. Padahal sejak awal kami memiliki keinginan yang sama, Joe dan
Pelangi harus bersama hingga mereka tumbuh dewasa lalu sukses bersama.
“Ma… Pelangi berangkat sekolah, bye mama.” Pamitnya setelah
mencium kedua pipiku. Kemudian berlalu pergi melajukan mobilnya.
.
.
.
.
.
Tiba di sekolahnya…
Seperti biasa, selalu tak terpisahkan dari canda tawa ketiga
sahabatnya. Itu yang membuat Pelangi mampu mengacuhkan sikap Joe di sekolah
yang kadang masih diam-diam mencuri pandang padanya, terkadang menjahilinya
dari jarak jauh, karena sejak mereka putus, Joe kini menjauh dari mereka. Hanya
Lucas yang masih sesekali menghampiri Joe.
Di tengah canda tawa dan obrolan mereka berempat di kantin,
sejak seminggu terakhir Lisa selalu saja sibuk dengan ponsel dan terkadang pun
Lisa berpindah posisi seakan tak ingin terganggu atau diganggu oleh kebisingan senda gurau para sahabatnya.
“Sa, sibuk bener sih daritadi?” Tanya Pelangi dengan heran.
“Duuh, Princess kita ketinggalan berita penting nih. Tolong
jelasin dong, Jeen…” Jawab Lisa dengan menggoda Pelangi.
“Dih, males gue. Pamer aja terus, pangeran berkuda poni
khayalan elu.” Imbuh Jeni dengan kesal.
“Oh, jadi Miss beauty kita udah punya pacar?” Jawab Pelangi menerka.
“O’oh, Princess cold.
Lisa kita akhirnya akan melepas status jomblo akutnya.” Ujar Lucas dengan menyembikkan
bibirnya.
“Sungguh??? Wah, bagus dong.”
“Huht… Andai saja, memang demikian. Tapi sayangnya, cowok
itu sungguh sulit sekali di dekati. Gak peka-peka tau gak sih, capek gue ksih
kode mulu.” Lisa mengadu dengan bibir sedikit manyun.
“Pffttt… Lagian, elu suka nya sama robot. Mana bisa peka
sama cewek bawel dan ribet kayak elu,” Jeni kembali meledeknya. Sontak Pelangi
dan Lucas tergelak tawa begitu lepas, hingga mengundang perhatian semua murid
yang sedang menikmati jam istirahat di kantin.
“Ehm, semoga saja. Dia tidak akan segila Joe, yang dulunya
hidup di LN. Hahahahaha,”
Lagi-lagi Jeni menggoda serta meledek Lisa. Membuat Lisa
semakin kesal merengek manja.
“Princess cold, Jeni meledekku. Dia iri hanya karena aku
lebih dulu melepas status jomblo ku ini.”
“Ehm… kacian, cini peluk.” Ujar Pelangi mengulurkan
tangannya dan merebahkan tubuh Lisa di pundaknya.
“Ku rasa Jeni benar, berhati-hatilah menjalin hubungan
dengan cowok yang tinggal di LN. kita tidak tahu bagaimana dia selama jauh dari
kita bukan?” Ucap Pel;angi kembali dengan suara yang lembut, ia tak ingin
menyinggung peraaan sahabatnya itu, yang kini sepertinya telah jatuh cinta
terhadap seseorang yang tinggal jauh disana.
Kemudian Lisa beranjak pada posisinya yang sedang bersandar
manja pada bahu Pelangi. Ia menatap sejenak wajah Pelangi, kemudian mengangguk
pelan dengan menarik nafas dalam-dalam.
“Aaakh… Kalian, bisakah tenang saja dan jangan
mengkhawatirkanku dulu? Ayolah, lagipula aku bertemu dengan cowok itu hanya dua
kali saja, itupun karena tidak sengaja. Dan jujur saja, aku ini sedang berusaha
untuk memperoleh nomor ponsel
pribadinya. Maka itu, jangan meledekku terus.” Ujar Lisa dengan wajah lesu.