
Pelangi mengabaikan pertanyaan Exelle yang mendettenya. Dalam hati ia menyadari jika selama menjalin hubungan berpacaran dengan Joe, terlebih sering kumpul bersama dengan yang lainnya layaknya sahabat. Bedanya hanya lebih mesra, Joe selalu romantis tak pandang keadaan dimanapun mereka berada. Apakah memang seperti itu pacaran yang sebenarnya???
"Hai, cewek galak. Apa yang kau pikirkan? Aku sedang bertanya."
"Ish.. Lagi lagi kau memanggilku dengan sebutan itu,"
"Hahaha, maafkan aku. Aku hanya lebih suka memanggilmu dengan sebutan itu. Bagiku itu panggilan kesayangan khusus, hihi."
"Hah, terserah kau saja. Ayo kita pulang," Jawab Pelangi dengan memutar bola matanya ke atas. Exelle mengikutinya dari belakang, terus menggodanya dengan menyebutnya 'cewek galak'. Sesekali mereka bersenda gurau layaknya teman akrab, namun terkadang Pelangi juga bersikap kasar untuk membuat batasan hubungan diantara mereka.
🌻🌻🌻
POV JOE
Joe mondar mandir di kamarnya dengan menggengam erat ponsel di tangannya. Sesekali ia ingin melakukan panggilan telepon pada Pelangi, namun di urungkannya lagi. Berkali-kali pula ia mengetik beberapa kata pesan singkat, namun lagi-lagi dia hapus dan diurungkan niatnya itu.
Tok tok tok...
Terdengar suara ketukan pintu dari luar kamarnya.
"Siapa?" Tanya Joe dengan cetus.
Tidak ada jawaban, justru pintu kamarnya terus di gedornya berulang kali. Joe kesal, ia pun beranjak untuk membukakan pintu. Setelah di bukanya pintu, Joe semakin kesal saat dilihatnya Maria berdiri dengan tersenyum nyengir.
"Hah, apa lagi?" Tanya Joe setelah menghela nafas kesal.
"Joe, kau tidak keluar kamar sejak pagi tadi. Apa kau marah pada ku?
"Ya, aku marah pada mu. Kau penyebab pacar ku marah sampai saat ini."
"Sungguh? Jadi kau berpikir begitu? Kau jahat, Joe. Hanya karena gadis stupid itu kau marah padaku."
"Maria. Berhenti mengatainya bodoh, dia adalah yang terbaik. Bertahun-tahun aku menunggu untuk bisa bertemu kembali dengannya. Tapi kau justru mengacaukan nya, kau yang jahat padaku disini."
"Hikzt... Huwwaaa..." Maria menangis keras di depan kamar Joe sehingga mengundang perhatian Abel yang kini hanya dia lah yang tinggal di rumah, sementara kedua orang tua Maria keluar bersama suaminya ke kantor untuk menandatangani sebuah kontrak proyek.
"Ya ampun, Maria. Ada apa, baby?" Tanya Abel dengan langsung memeluk tubuh Maria.
"Aunty, Joe memarahiku hanya karena gadis lain marah padanya." Maria sesunggukan mengadukan semua nya.
"Cih, dasar manja. Ngadu aja terus..." Joe bersuara lirih.
"My baby boy, ayo dong. Jangan berantem mulu kalian dirumah ini, Maria hanya sebentar saja disini, hargai ah. Dia jauh-jauh datang kesini harusnya kau berbuat baik Nak."
"Mami, pliss.. Jangan selalu membelanya demikian,"
Abel terhentak hingga meringkuk tubuhnya ketika Joe kini berani membentaknya dengan suara nada tinggi, tidak seperti biasanya. Itu menandakan jika Joe sungguh dalam hati yang tidak nyaman saat ini.
"Maria, pergilah ke kamar. Aunty perlu berbicara dengan Joe, hem.."
"Tapi aunty, Maria ingin jalan-jalan dengan Joe."
"Sudah lah, nanti aunty yang akan menemanimu jalan-jalan. Kita shoping sepuasnya, oke baby."
"Iih, sebel." Maria mendecak kesal melangkah pergi.
Tampak Abel menarik nafasnya dalam-dalam menatap tajam wajah puteranya, Joe. Sementara Joe mulai ketakutan karena telah membentak Abel untuk yang pertama kalinya.
"Mi, i'am sorry. Aku tidak bermaksud membentak mami tadi," Ucap Joe dengan suara lirih, menampilkan wajah yang di penuhi rasa bersalah.
"Huhft.. Ada apa sebenarnya?"
Joe memutar tubuhnya dengan memegangi kepalanya, kemudian berjalan menuju sisi ranjang. Dia hempaskan tubuhnya begitu saja dengan wajah sedikit murung. Abel mengikutinya dari belakang kemudian duduk di sisinya, menyentuh bahu bidang puteranya itu.
"Belum baikan dengan Pelangi?"
Joe mengangguk.
"Kau sudah mencoba menjelaskan pada nya, siapa Maria?"
"Sudah mami. Tapi, Maria... Aakh, dia sungguh keterlauan. Dia begitu cerewet dan selalu mengumpat pada Pelangi."
"Hemm.. Jadi Pelangi sedang cemburu?"
"Aku juga cemburu, aku salah mi. Aku sudah sedikit kasar padanya di mall saat itu. Aku benci melihatnya bersama cowok gila itu."
"Exelle?"
"Hah, bahkan mami juga mengingat namanya. Membuatku muak saja, dia selalu mengejar Pelangi mami. Dia berani menyatakan perasaannya di depanku."
Tentu aku akan mengingat betul nama anak itu, sebab namanya membuatku gemetaran. Namanya mengingatkan ku pada Ammar dan mending Eliez, tapi itu tidak mungkin.
"Oke my boy, kau ini laki-laki. Kau harus berjuang demi wanita mu, jangan cengeng. Jika pun kau harus melawan Exelle, lakukan. Asal jangan sampai melukai dirimu sendiri, sayang."
"Lalu aku harus bagaimana, mami?"
"Jelaskan pada Pelangi, kau dan Maria tidak ada hubungan apapun. Maria hanya teman biasa, tidak ada yang special. Apa kau bisa menjelaskannya demikian?"
"Tapi bagaimana dengan Maria, Mi?"
Abel mengernyit. Dia kembali menatap wajah puteranya sejenak.
"Atau jangan-jangan... Kau juga menyukai Maria?"
"Oh, No. Apa yang mami pikirkan? Maria hanya teman baik ku, aku menganggapnya seperti saudara ku. Terlebih seperti adik ku, mami."
"Iiih... Dasar bodoooh, ingat!! Maria itu seumuran dengan mu, dia manja dan mudah terbawa perasaan. Hati-hati dan jaga sikapmu, jangan sampai kebaikan mu dinilai salah olehnya." Abel menjelaskan dengan menarik hidung puteranya.
"Aduh aduh, mami. Sakiiit, jangan selalu menarik hidungku."
"Sebab kau menggemaskan."
"Tapi, Mi.. Sampai kapan Maria akan tinggal dirumah kita? Ini sudah lebih dari tiga hari seperti janji mami."
"Sssttt... Pelankan suaramu, nanti Maria dan yang lainnya mendengar ucapanmu ini." Abel menutup mulut Joe, membekapnya dengan tangan Abel.
"Sebaiknya bersikap baiklah dulu pada Maria saat ini, karena daddy mu sedang melakukan kerja sama dengan orang tua Maria."
"Hah, baiklah. Aku mengerti,"
"Anak pintar!" Jawab Abel mengusap kepala Joe lalu mengecup pipinya.
"Ih, mami. Apaan sih, jangan lagi suka menciumi ku. Aku bukan bayi lagi, aku risih." Protes Joe dengan menghapus pipinya bekas kecupan maminya barusan.
"Duuh, iya deh. Yang udah punya pacar, yang udah dewasa. Mami paham, eitz.. Jujur pada mami, ehm..."
Abel menatap kembali kedua mata puteranya saat ini, sedangkan Joe sudah siaga untuk mendengarkan pertanyaan konyol apa lagi yang akan di lontarkan oleh maminya itu.
"Kau sudah berhasil mencium pacarmu, Pelangi? Hihihi."
"Mami, woah.. Sungguh. Aku tidak percaya mami akan bertanya hal intim seperti ini," Jawab Joe dengan kikuk dan salah tingkah.
"Hahaha, aah.. Ayolah, jujur pada mami. Apakah kau sudah berhasil memberikan satu kecupan manis untuk Pelangi?"
"Ti-tidak. Kami pacaran sehat, mi. Kami juga masih seperti sahabat kok, walau sudah berpacaran."
"Hemm... Sungguh???" Abel melototinya. Membuat Joe semakin salah tingkah, menggaruk-garuk kepalanya mencoba memalingkan wajahnya dari tatapan melotot maminya.
"Hah, mami. Udah deh, jangan menggodaku lagi. Lebih baik mami keluar deh, sekarang. Hus hus..." Joe mendorong maminya segera keluar kamar.
"Heeei, anak bandel. Kau pikir mami kambing di usir seperti itu hah?" Bantah Abel dengan langkah malas.
"Tunggu. Ehm, sebaiknya kau hampiri Maria ke kamarnya. Pasti dia masih menangis saat ini, tenangkan hatinya."
"Haduh, masalah baru lagi deh." Jawab Joe dengan helaan nafas berat.
Kemudian Joe menurut untuk pergi menuju kamar tamu yang di sediakan untuk Maria sejak awal kedatangannya.
Joe mengetuk pintu kamar tempat Maria sedang menangis saat ini. Berulang kali di ketuk belum juga di bukanya pintu kamar, Joe mencoba membukanya sendiri melalui gagang pintu. Dan benar saja, pintu nya tidak dikunci. Joe memasuki kamar saat dilihatnya Maria menangis diatas kasur berpangku pada kedua tangannya bertelungkup.
"Kebiasaan burukmu selalu saja tidak pernah mengunci pintu kamar, ini bukan dirumah mu. Bagaimana jika nanti ada orang lain atau orang jahat yang memasuki kamar dan mengganggumu?"
"Orang jahat itu sudah masuk kamar saat ini," Jawab Maria cetus.
"Iya deh, iya. Aku minta maaf, jangan menangis lagi." Ucap Joe merayunya. Dengan berdiri di sisi ranjang melempar senyuman pada Maria.
"Aku tidak mau memaafkan mu."
"Hemm, sungguh? Ya sudah, aku keluar kamar kalau begitu." Joe hendak beranjak pergi. Dengan cepat Maria bangun dari posisinya, lalu menarik tangan Joe.
"Aku memaafkan mu." Ucapnya dengan cepat.
"Hehe, harusnya begitu. Sudah lah, jangan menangis lagi. Dasar cengeng,"
"Joe, apa kau sungguh sangat menyukai gadis itu?"
"Siapa? Pelangi?"
"Aku tidak mau mengingat namanya."
"Hah, kau sungguh aneh. Pertanyaan macam apa itu, tentu aku sangat menyukainya, bukan hanya itu. Aku sangat mencintainya juga, Maria."
Mendengar hal itu, Maria melepaskan rangkulannya pada lengan Joe.
"Aku tidak menyukainya, dia sangat dingin dan menyebalkan. Dia juga mudah berteman dengan laki-laki lain, terlebih lagi dengan Exelle. Kau tahu, Ex adalah cowok idaman dan juga playboy sewaktu kami di SMP dulu. Banyak cewek yang mengejarnya, dan dengan mudah dia mau menerimanya sebagai pacar."
Joe mengepalkan kedua tangannya, kembali ia tersulut api cemburu. Setelah mendengar Maria menjelaskan bagaimana sosok Exelle dulu.
"Lalu apa beda nya dengan mu? Kau berteman baik dengan nya, kau sangat akrab dan bahkan kau langsung memeluk nya saat pertama kali bertemu di restoran."
"Aaah, apa kau jealous melihatku memeluknya?" Kini Maria mencoba menggodanya dengan mencolek dagu Joe, Joe menepisnya.
"Cih, mimpi. Siapa yang cemburu, aku hanya kesal. Alu tidak ingin kau jadi korban nya, dia sungguh laki-laki brengsek dan sombong." Jawab Joe mengumpat dengan mengalihkan tatapannya dari Maria yang memandanginya sembari senyum-senyum.
"Hemm... Sung-guh... Kau tidak cemburu melihatku dekt dengan cowok tampan seperti Ex?"
"Hah, tampan? Katakan dengan jujur. Apakah dia sungguh lebih tampan dariku?"
"Tentu saja dia yang lebih tampan dan menggemaskan, wajahnya yang imut itu, gadis mana mana yang tidak akan tertarik. Sedangkan kau, hahaha kau berkumis. Kau sedikit tua dilihat, hahaha." Jawab Maria meledekinya, meski itu bukan jawaban dari hatinya.
"Apa? Kau bilang aku tua? Awas kau..." Joe berlari mengejar Maria di kamarnya. Mereka berkejaran mengelilingi ruangan kamar hingga berantakan, Maria terus saja mengatakan jika Joe lebih tua karena kumisnya.
Joe menghentikan langkahnya untuk mengejar Maria, nafasnya sedikit ngos-ngosan. Kali ini dia sungguh kesal karena merasa jika dia sungguh lebih tua, dia berpikir mungkin sebaikny mencukur kumis tipisnya itu. Untuk lebih terlihat menarik di depan Pelangi, meski itu bukan menjadi salah satu alasan.
Maria mengerutkan kedua alisnya, melihat Joe berubah cemberut karena ledekan Maria. Kemudian Maria mendekatinya perlahan, menghampiriny untuk lebih dekat dengan posisi Joe berdiri di sisi ranjang saat ini.
"Joe, maafkan aku. Aku hanya bercanda,"
Joe diam dengan mengenduskan nafas kesal, membuang wajah dari hadapan Maria yang berdiri di hadapannya saat ini.
"Joe..."
Cup!!!
Maria mengecup bibir Joe singkat ketika dia menarik wajah Joe untuk di hadapkan padanya. Sontak Joe terkejut dengan kedua mata melotot hingga membuatnya mundur satu langkah lebih jauh.
"Maria, kau..."
"Bagiku kau tetap lebih tampan dari siapapun, Joe."
"Ku tidak peduli bagaimana kau menilaiku. Tapi apa yang kau lakukan barusan, itu sangat ku sesali. Apa yang mau lakukan itu sungguh keterlaluan Maria." Joe mulai berbicara dengan intonasi nada tinggi lagi.
"Apa yang salah? Aku hanya mengecup bibir mu saja bukan? Memangnya kenapa?"
"Maria, kau ini wanita. Jangan sembarangan mencium laki-laki yang bukan pacarmu, terlebih lagi kau tau aku sudah memiliki pacar saat ini. Haruskah aku mengulang kembali ucapan ku jika aku sudah memiliki pacar?"
"Aku tidak peduli, Joe. Bagiku kau tetap sahabat ku, kau teman ku."
"Maria, come on. Ini Indonesia, jangan kau samakan dengan kehidupan diluar sana. Sebuah kecupan berarti sangat mendalam di negar ini, apa kau tahu itu?"
"Lalu apa arti kecupan yang ku berikan padamu tadi?" Tanya Maria dengan tersenyum sinis.
"Aku.. Aku akan melupakannya, aku anggap kau tidak melakukannya padaku." Joe kembali melangkah untuk segera keluar dari kamar Maria.
"Joe, tunggu!!!"
"Apa lagi hah?" Jawab Joe dengan cetus.
"Maafkan aku, jangan marah. Kita biasa hidup dan tinggal bersama di LN, kau dan aku justru sering berada dalam satu kamar. Peluk dan cium sudah sering bukan? Lalu kenapa baru kali ini kau permasalahkan, Joe?"
Joe menarik kembali nafasny dalam-dalam. Menatap Maria yang kini terlihat kesal serta terheran-heran.
"Itu dulu, Maria. Sebelum aku akhirnya memilih tinggal di Indonesia dan kini aku sudah memiliki pacar, aku harus menjaga perasaannya saat ini." Joe menjelaskannya dengan suara lirih.
"Apakah saat ini gadis itu tahu jika aku menciummu barusan? Tidak bukan?"
"Maria, kau belum memahami arti pacaran yang sesungguhnya. Walau dia tidak melihatnya, tapi aku tetap harus menjaga kesucian hubungan kami. Itu lah arti cinta yang sesungguhnya, Maria."
"Haaah, baiklah baiklah Joe. Aku minta maaf, tapi... Bisakah kita tetap berteman biasa seperti saat di LN dulu, Joe?"
"Aku selalu menganggapmu sahabat baik ku, Maria. Kau baik, kau selalu ada untuk ku saat di LN dulu. Kau pula yang selalu setia menemaniku kemanapun aku pergi saat aku merasa jenuh."
"Jika begitu, anggap saja kecupan tadi adalah tanda pertemanan kita seperti biasanya."
"Baiklah. Kali ini saja,"
Dengan berat hati Maria mengangguk, meski dia tidak berjanji untuk tidak akan melakukannya lagi.