Because, I Love You

Because, I Love You
#BILYS3 281



Suasana mulai bising oleh suara Lucas, Lisa, dan Jeni yang bergantian menyanyikan sebuah lagu. Diam-diam Joe melirik Pelangi, hatinya bergetar, jantungnya serasa terhenti berdetak menatap wajahnya. Mereka duduk bersebrangan. Pelangi sengaja mengambil posisi duduk yang berjauhan dengannya.


"Langi, kau mau coba duet dengan ku?" Ajak Joe pada Pelangi.


"Eh? Aku? Hahaha. Tidak, kau saja yang bernyanyi. Aku tidak bisa." Ujarnya menolak ajakan Pelangi.


"Aah, ayolah. Aku tahu kau juga suka bernyanyi."


"Iya, ayolah Princess cold. Kau harus menyanyi juga, kita akan mendengarnya. Ayo dong," Ajak yang lainnya bergantian memaksa Pelangi untuk bernyanyi.


Pelangi melempar tatapan tajam pada mereka, sehingga mereka tersenyum nyengir dan tidak lagi berani memaksa.


"Hah, baiklah. Aku saja yang akan mewakili Pelangi bersenang-senang dan menyanyi." Jawab Joe dengan lantang lalu mengedipkan mata nakal ke arah Pelangi.


"Dasar!!!" Ujar Pelangi singkat.


Lalu kemudian Joe menyanyikan beberapa lagi romantis yang sepertinya sengaja untuk di persembahkan pada Pelangi. Terkadang Joe berduet dengan Lisa dan Lucas bergantian, sementara Pelangi tidak ada reaksi apapun. Dia fokus bermain dengan ponselnya, terkadang senyum cekikikan dan terkadang hanya menggelengkan kepala.


Joe mulai kesal ketika melihat Pelangi hanya fokus pada ponselnya saja. Tatapan Joe yang begitu kesal bahkan saat dia sedang berduet dengan Lisa, tertangkap oleh Jeni. Dan sepertinya memang hanya Jeni yang memperhatikan gerak gerik gelagat Joe saat menatap Pelangi.


Siapa, siapa yang sejak tadi membuat Pelangi tersenyum ceria begitu? Apakah itu Exelle? Jika benar demikian. Aku tidak boleh lengah sedikitpun.


Bathin Joe kesal.


Sedangkan di tempat yang berbeda. Exelle masih merasakan hal aneh, hatinya terus gelisah, hatinya terus dipenuhi bayangan Pelangi, ingatan akan ucapan Joe yang sudsh jelas mengancamnya. Sembari dia berkutat dengan ponsel nya, sengaja ia lakukan untuk terus mengirim pesan singkat pada Pelangi. Bercerita lucu, bercerita horor, menggombal, teka-teki dan banyak obrolan lainnya dari yang tidak penting sampai yang membosankan serta konyol agar Pelangi tetap fokus padanya saja.


"Ex, wah... Kau ini, malah sibuk dengan ponsel saja sejak tadi." Protes salah satu temannya.


"Eh, oh.. Haha, ya ya. Sory, kalian lanjutkan saja lah. Malam ini aku akan traktir semuanya, kalian boleh menambah makanan dan minuman yang kalian inginkan."


"Sungguh? Woah, gitu dong. Yu hu, ayo kita kuras habis sampai meledak Black card bos kita, Exelle." Seru beberapa teman Exelle menjadi profokator.


Exelle hanya tersenyum nyengir. Tak apa bagi nya menghabiskan banyak uang asal biss terus memantau Pelangi dari jauh. Itu yang mencuat dalam pikiran Exelle saat ini.


🌻🌻🌻


Di kafe tempat Joe dan yang lainnya merayakan hari kelulusan mereka. Pelangi masih asyik sendiri, karena rasa penasaran Joe berhenti untuk bernyanyi sepuasnya. Lalu kembali duduk di tempatnya semula dengan menghembuskan nafas kesal.


Perbincangan dimulai kembali, dengan banyak hal konyol dan senda gurau. Sesekali mereka saling melempar wajah sedih, Jeni memutuskan untuk tetap melanjutkan kuliah di kota ini, begitu juga dengan Lucas. Hanya Lisa dan Pelangi yang memantapkan hati untuk menempuh pendidikan tinggi akademis kedokteran di LN. Kampus impian setiap calon mahasiswa baru, namun tidak semua bisa lolos menginjakkan kaki secara resmi menjadi mahasiswa di dalamnya.


"Ah, ehm... Ya, tentu. Aku tidak mungkin membiarkan Pelangi ku sendiri disana, lagi pula.. Aku sudah banyak pengalaman mengenai kehidupan diluar negeri. Paling tidak kalian tidak akan mudah di bohongi oleh orang-orang yang baru kalian kenal disana." Jelas Joe berlagak seperti team guide dalam perjalanan travelling.


"Wah... Sepertinya kau memang tidak akan mudah menyerah." Ujar Lisa lagi menggodanya.


Belum sempat memberikan komentar, baru saja Pelangi hendak membuka suara, ponselnya berdering sebuah panggilan masuk. Dan Pelangi menatap layar ponselnya sejenak lalu kemudian tersenyum sembari menerima panggilan itu.


"Kenapa, Ex?" Ujar Pelangi dengan nada lembut. Sontak Joe menarik nafasnya dalam-dalam. Lagi dan lagi, Jeni meliriknya.


"Kau masih di kafe?" Tanya Exelle di ujung ponselnya itu.


"Ehm, ya. Mungkin kami akan pulang larut malam."


"Oh ya? Astaga. Apa tidak apa? Apakah harus selama itu?" Joe bertanya dengan nada cemas.


"Ya.. Ya gapapa, Ex. Memangnya kenapa? Ini hanya sekali, kok. Kau juga masih party kan?"


"I,iya. Tapi kan, kesehatanmu juga penting. Ehm, bagaimana jika aku &Â¥*%-+#*Â¥*#?"


"Apa, halo ha.. Halo, Ex." Pelangi tak bisa lagi mendengar suara Exelle karena di tempat Exelle mengadakan party saat ini, salah satu temannya sedang menyalakan musik yang sangat keras.


"Ex... Halo..." Pelangi mengulang ucapannya seraya menyentuh layar pilihan speaker ponsel.


"Tunggu aku. Ja-ngan puu-lang terrr-lalu laaaarut, aku... akan... menjemputmu." ujar Exelle dengan suara lebih keras.


Pelangi tercengang, dia menoleh ke arah teman-temannya hingga tatapannya terhenti pada pandangan Joe yang tentu sudah sangat terbakar api cemburu. Pelangi tak ingin membuat semua kacau, jadi dia berniat untuk menolaknya.


"Tapi Ex. Aku sudh bawa mobil sendiri, tidak perlu kau datang menjemput."


"Tak apa, aku akan mengikutimu dari belakang. Atau mungkin kita bisa beriringan membawa mobil masing-masing pada saat jalanan sepi."


"Hahaha. Ya baiklah, aku akan mengabarimu saat pulang nanti. Terimakasih, " Jawab Pelangi meyakinkan. Lalu panggilannya Berakhir.


Joe semakin geram. Namun sekuat tenaga Dia tahan hingga keringat mulai membasahi tubuhnya meski di dalam ruangan itu begitu dingin dan sejuk karena udara AC.


Ada yang aneh dengan Joe malam ini. Sejak tadi dia sedikit aneh. Tapi, apa itu?


Hanya Jeni yang mengerti sikap Joe yang tak sama seperti biasanya.