
Keesokan harinya.
Hari ini hari sabtu dan Kirana libur. Setelah bersih-bersih rumah dan mandi, Kirana melihat ponselnya ternyata tidak ada notifikasi pesan dari Rendy.
Kirana menghela nafas. "Kenapa dia nggak kasih kabar sih?" Gumamnya merasa cemas.
Kirana meletakkan ponselnya dan pergi kedapur untuk membuat sarapan.
"Yaaaah habis.." Kirana lupa belanja bulanan karena akhir-akhir ini dia sering kerja lembur. Tidak sempat belanja untuk mengisi kulkasnya.
Hanya tersisa roti tawar dan susu. Dia pun sarapan dengan yang ada.
Selesai sarapan, Kirana kembali ke kamar untuk ganti baju kemudian pergi.
Saat keluar ada Haris sedang mengelap motor maticnya yang baru selesai dicuci dihalaman rumahnya. Seperti biasa, dia akan selalu menyapa Kirana kalau Kirana keluar dari rumah. "Hai Kirana! Mau kemana?" Serunya.
"Hai kak! Aku mau ke supermarket." Jawab Kirana dengan tersenyum.
Haris kemudian meletakkan kanebonya dan menghampiri Kirana. "Aku anter kamu ya? Kebetulan aku juga mau beli sesuatu."
"Oke deh. Kalau gitu aku tunggu kak Haris."
...
Selesai membersihkan diri, Haris segera pergi bersama Kirana. "Gimana kalau kita ke Mall aja? Sekalian jalan-jalan, Ki. Biar nggak bosen." Ucap Haris sambil melirik Kirana dari sepion motornya.
"Terserah kak Haris aja. Yang penting aku bisa belanja buat keperluan sehari-hari." Jawab Kirana.
"Siap my princess!" Seru Haris yang sudah berani merubah panggilan untuk Kirana.
"Apaan sih kak!" Seru Kirana sambil memukul punggung Haris dan keduanya tertawa.
Tak lama, mereka sampai di parkiran Mall terbesar di kota ini.
Mereka berjalan masuk bersama sambil berbincang dan becanda. Haris yang lebih sering melontarkan candaan ke Kirana untuk menghiburnya, karena dia mengira kalau Kirana masih dalam keterpurukan karena ditinggal Rendy yang hingga kini masih tidak ada kabar.
"Ki, mau jalan-jalan dulu atau mau langsung belanja?" Tanya Haris.
"Jalan-jalan dulu juga boleh." Jawab Kirana.
Haris kemudian meraih tangan Kirana dan menggenggamnya. "Kalau gitu, kita ke timezone!" Haris pun menarik tangan Kirana yang ia genggam membuat Kirana sedikit terkejut dan merasa tidak nyaman dengan sikap Haris.
Tapi, Kirana tidak ingin terlalu memikirkannya. Dia pun hanya diam dan mengikuti langkah Haris.
Saat berjalan ingin menaiki eskalator, tiba-tiba Kirana menghentikan langkahnya karena melihat Rendy yang sedang berjalan kearahnya bersama adiknya disampingnya.
Haris merasa terkejut melihat sosok Rendy. "Ki! Dia? Dia itu..." Seru Haris sambil menunjuk kearah Rendy dan berhenti bicara saat Rendy berdiri dihadapannya.
Sedangkan Kirana hanya diam menatap Rendy dengan tatapan tidak mengerti.
"Kak, kita kan bisa naik lift! Ngapain kesini sih?" Rengek Nayla sambil memeluk lengan Rendy. "Loh, dia ini bukannya karyawan kakak yang semalam itu kan?" Lanjutnya saat menatap Kirana.
"Kebetulan sekali kita ketemu disini." Ucap Rendy terdengar ramah tapi sorot matanya menunjukkan kalau dia sedang marah karena tidak suka melihat Kirana bersama Haris.
"Bro! Kamu..em syukurlah kalau kamu baik-baik aja." Ucap Haris yang juga berusaha ramah.
Rendy kemudian menatap tangan Kirana yang digenggam oleh Haris.
Menyadari tatapan tidak suka dari Rendy, Kirana pun langsung melepas genggaman tangan Haris ditanggannya. "Selamat siang Pak Rendy." Sapa Kirana dengan formal sengaja ingin memberitau Rendy kalau dirinya juga sedang marah.
Rendy hanya mendengus sinis tidak menjawab sapaan Kirana.
"Kak, ayo ah!" Nayla pun menarik Rendy untuk pergi dari sana.
Rendy seolah tidak peduli dengan Kirana. Dia berbalik dan mengikuti ajakan adiknya. Karena semalam Rendy sudah mengiyakan kalau dirinya ingin mentraktir belanja sang adik tersayangnya ini. Jadi, disinilah mereka saat ini berada.
"Kak, kakak ngapain sih perhatian banget sama karyawan kakak itu? Jangan bilang kalau kakak suka sama dia ya! Nggak banget deh!"
"Nay! Kamu bisa nggak sih, ngomong yang baik dikit? Kakak nggak suka kamu selalu menilai orang dari luarnya aja!" Rendy memarahi adiknya yang selalu bersikap sombong dan suka semena-mena ini.
Tapi, meski begitu, Rendy tetap sangat menyayangi adiknya ini. Apapun keinginan Nayla, Rendy akan berusaha menurutinya.
Tapi, Rendy akan memarahinya saat adiknya mulai merendahkan orang lain. Entah kenapa sikap adiknya ini sangat berbeda dengannya. Meskipun Rendy juga terlihat sedikit sombong, setidaknya dia masih bisa menghargai orang lain dan tidak sembarangan menilai orang tanpa tau kenyataanya.
Kalau tidak? Mana mungkin dia bisa tertarik dengan Kirana yang datang dari kampung sampai seperti ini.
...
Ditampat lain, Kirana menjadi pendiam dan tidak asik saat diajak bermain game oleh Haris.
"Ki, melamun lagi?"
Kirana menghela nafasnya panjang. Kemudian menggeleng pelan. "Aku mau belanja dulu ya kak terus pulang." Ucapnya dengan lesu.
Haris hanya bisa memakluminya. Dia pun mengantar Kirana masuk ke pusat perbelanjaan yang ada didalam Mall.
Kirana mendorong troli, tapi Haris mengambil alih menjadi dia yang mendorongnya.
Kalau dilihat, mereka seperti sepasang suami istri saja.
"Biar aku yang dorong, kamu silahkan ambil apapun yang mau kamu beli." Ucap Haris dengan tersenyum.
Kirana terkekeh geli. "Kak Haris ngomongnya seolah mau bayarin belanjaan aku aja deh."
"Hahaha..kalau kamu mau, aku bayarin belanjaan kamu, Ki."
Kirana masih tertawa dan menggelengkan kepalanya. "Makasih, tapi nggak perlu kak. Aku udah mampu bayar sendiri kok."
"Sombongnya astaga."
Mereka pun kembali tertawa bersama hingga menarik perhatian beberapa pengunjung disana.
Tanpa Kirana sadari, Rendy terus menatapnya sambil mengepalkan tangannya menahan kemarahannya.
"Kak, ayo dong ih malah bengong!" Seru Nayla yang melihat kakaknya hanya berdiri diam saja.
"Kamu duluan, kakak ada urusan sebentar." Ucap Rendy kemudian pergi begitu saja meninggalkan Nayla.
"Loh kak! Kak Rendy mau kemana?!" Teriak Nayla yang juga membuat beberapa pengunjung menatap kearahnya. Dia pun hanya mencebikkan bibirnya merasa sangat kesal.
Karena tidak ingin merasa malu, dia pun melanjutkan belanjanya. Mengambil semaunya tanpa melihat harga dan memasukkan ke dalam trolinya.
Kirana yang seperti sedang menimbang sesuatu ditangannya, dia tanpak sangat serius. "Cuma beda merk aja tapi kualitasnya sama. Harganya lebih murah yang ini." Gumamnya dengan pelan kemudian menaruh barang yang dibelinya ke dalam troli dan mengembalikan barang lainnya yang dirasa lebih mahal ke tempat asalnya.
"Pantes aja kamu suka lama kalau pergi belanja. Ternyata begini ya?" Ucap Haris dengan heran dan kagum dengan Kirana yang terlihat bijak dalam memilih sesuatu.
"Hehe..kita kan juga harus pinter Kak. Banyak barang yang harganya murah tapi kualitas tetap oke." Ucap Kirana sambil berjalan dan melihat lihat barang yang ingin dibelinya lagi.
"Eh!" Pekik Kirana karena terkejut saat Rendy tiba-tiba menarik pergelangan tangannya. "Mas, kamu apa-apaan sih? Lepas!" Kirana menghempaskan tangan Rendy tapi tidak terlepas karena Rendy menggenggamnya dengan erat.
"Hey Bro! Lepasin! Jangan kasar sama perempuan!" Seru Haris yang merasa tidak rela melihat Kirana diperlakukan kasar oleh Rendy.
"Ini bukan urusanmu!" Ucap Rendy dengan menatap tajam Haris. "Aku mau ngomong sama kamu!" Lanjutnya kemudian menarik Kirana pergi.
"Eh Mas! Lepas! Aku lagi belanja! Kamu apa-apaan sih?!" Kirana berusaha memberontak tapi dia menyadari tatapan para pengunjung yang terus menatapnya dengan aneh.
Dia pun mendengus kesal dan terdiam mengikuti langkah Rendy keluar dari pusat perbelanjaan.
................