Because, I Love You

Because, I Love You
#BILYS3 297



Bibi Yasmin segera membuka pintu setelah meyakini jika dua orang lelaki tersebut adalah teman Pelangi dan Lisa.


"Eh, apakah aku salah alamat?" Ujar Exelle setelah melihat bibi Yasmin yang membuka pintu.


Bibi Yasmin tersenyun mendengar kata Exelle yang seperti kebingungan. Begitupun Lucky yang berdiri di belakangnya hanya tersenyum tipis membungkukkan setengah badannya pada bibi Yasmin.


"Silahkan masuk, dua nona yang akan kalian temui sudah menunggu di dalam." Ujar bibi Yasmin mempersilahkan masuk. Seketika Exelle langsung menebar senyum karena merasa jika benar.


Kemudian Exelle memasuki ruangan di susul oleh Lucky tentunya. Melihat sekita ruangan yang begitu megah dan rapi.


"Hai, Ex." Sapa Lisa terlebih dahulu. Sementara Pelangi masih meneguk segelas air putih di meja makan. Karena entah kenapa dia jadi salah tingkah lebih dulu ketika mengetahui Exelle datang dengan saudara.


"Eh..." Lisa terkejut dengan mulut menganga, bahkan kedua bola matanya melotot ketika melihat sosok pria yang bertubuh tinggi tegap, lebih tinggi dari Exelle sedikit, rambutnya tersisir rapi, hidung mancung, senyuman khasnya yang membuat hati siapapun menatapnya bergetar namun merasa damai, dan dia yang berkulit putih tampak jelas di depan matanya.


Exelle kebingungan melihat Lisa yang berdiri mematung setelah menatap wajah saudaranya itu. Exelle menatap Lucky lalu mengerutkan keningnya. Kemudian Lucky memandang Lisa karena isyarat dari Exelle.


"Oh..." Ujarnya singkat namun menampakkan ekspresi yang terkejut pula dengan menunjukkan jari telunjuknya.


"Kyaaaaaaa......" Lisa teriak histeris berbalik badan lalu pergi menghampiri Pelangi yang masih di dapur. Sementara bibi Yasmin jadi ikut kebingungan juga melihat tingkah Lisa yang seolah melihat hantu di depan matanya.


Sampai di dapur Lisa memeluk erat tubuh Pelangi, melompat jingkrak-jingkrak, mendecak riang, sesekali menggoyang-goyangkan tubuh Pelangi, wajahnya berubah merah jambu, ia pegangi bagian dadanya dengan segala umpatan makian pujian dan kata-kata bahagia.


Pelangi terdiam sampai tak mampu bernafas bebas karena Lisa begitu memperlakukannya bak boneka lembut yang bisa di remas kapan saja.


"Sa, berhenti!" Ujar Pelangi ketika Lisa akan kembali mencubiti kedua pipinya.


"Princess cold, kau tidak akan percaya siapa yang aku lihat datang dengan Exelle malam ini. Itu dia, itu diaaa... Kyaaaaa... Aku hampir saja pingsan, bagaimana bisa? Bagaimana mungkin?"


"Ta,tapi siapa? Exelle datang dengan siapa? Kenapa kau berlagak seperti cacing kepanasan begitu?" Tanya Pelangi kebingungan.


"Huh.. huh.. huh..." Lisa mencoba mengatur nafasnya sejenak, menariknya dalam-dalam lalu mengeluarkannya perlahan lagi.


"Dia cowok yang jatuh cinta, tapi aku sudah menyerah. Karena dia begitu sukar di jinakkan, tapi entah kenapa dia tiba-tiba datang dengan Exelle malam ini."


"Huh... Lisa, kau ini. Ku pikir kau melihat hantu gentayangan di apartemen ini, ternyata cowok itu lagi." Jawab Pelangi dengan nafas lega.


Eh, tapi.. Kenapa dengan Exelle? Bukankah Exelle akan datang bersama saudaranya itu?


Bathin Pelangi pun bertanya-tanya.


"Ayo, kita temui Exelle." ujar Pelangi lagi sembari berjalan melangkah keluar dari dapur.


"Tunggu, tunggu." Lisa menarik tangan Pelangi untuk berhenti dulu.


"Ya ampun, Sa. Apa lagi? Aku sudah sangat lapar. Aku akan mengajak Exelle makan dulu setelah itu baru kita mengobrol, hum?" Jawab Pelangi.


"Aaah, Princess cold. Jantungku masih berdetak cepat nih, aaah aku malu. Penampilan ku malam ini biasa saja, iiih..." Lisa terus berdecak manja, seakan kedua kakinya menari-nari sembari menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Aihs, jika begitu kau tunggu disini saja." Titah Pelangi.


"Hai, Ex..." Sapa Pelangi ketika sudah sampai diruang tamu, dilihatnya Exelle masih berdiri membelakangi menatap seluruh ruangan, sesekali bibi Yasmin menemani mereka ngobrol sebentar.


Exelle menoleh begitupula dengan Lucky. Pelangi tertegun sejenak saat kedua mata mereka bertemu. Jantungnya berdetak kencang kembali, sementara Lisa sudah dengan malu-malu menempel padanya di belakang punggung Pelangi.


"Hai, cewek galak. Maaf aku datang terlambat, ini untukmu." balas Exelle sembari memberikan bunga yang di genggamnya tadi pada Pelangi. Pelangi terkejut dan menyadarkan dirinya dari hanyutan detak jantung.


"Cih, apaan? Kau mencoba menyogokku dengan bucket bunga ini?" Tanya Pelangi lagi dengan meraihnya dengan tangan sedikit gemetar.


Astaga... Kenapa tangan ku sampai gemetaran? Mudahan tidak ada yang menyadarinya.


"Heh, kenapa lu, Sa? Kabur begitu setelah melihat kami datang? Apakah penampilan kami seperti hantu?" Sapa Exelle kemudian pada Lisa. Sedangkan Lucky tersenyum tipis menatap sesekali pada Lisa dan Pelangi. Dia mengernyit setiap kali kedua matanya bertemu dengan Pelangi, hatinya sesak, ingin menangis, tapi berusaha dia tahan.


"E,eh.. Hai, cowok dingin. Apa kau melupakan ku? Kenapa kau belum menyapaku?" ujar Lisa kemudian pada Lucky.


Lucky menaikkan kedua alisnya keatas, lalu saling memandang dengan Exelle yang berdiri di sebelahnya.


"Huh, sudah ku duga. Kau tentu akan melupakan ku, padaha sampai saat ini aku masih mengingat jelas dirimu." Jawb Lisa dengan kesal.


"Kalian saling kenal? Eh, apa kau yakin sudah pernah bertemu dengan dia sebelumnya?" Bisik Exelle pada Lucky. Dengan ragu Lucky menggelengkan kepalanya.


"Iiiih, sangat tega. Kejam, cewek cantik sepertiku kau mudah melupakannya?" Lisa semakin kesal.


"Udah, udah. Jangan memaksanya, percuma. Kau akan kesal sendiri nantinya, haha tidak menyangka jika elu ternyata lebih dulu bertemu dengannya." Ucap Exelle melingkarkan tangannya pada bahu Lucky.


Pelangi masih terpaku dengan detak jantungnya yang terus berdetak kencang. Sembari diam-diam meremas jari jemarinya sendiri.


"Oh, ya. Cewek galak, kenalin. Dia... Dia saudara ku yang pernah ku ceritakan padamu sebelumnya, Luc-ky."


Sontak Pelangi mendongakkan wajahnya menatap ke arah Lucky.


"Ehm, dia.. Dia Pelangi, dan itu Lisa. Sahabatnya, mereka adalah dua wanita yang sejak kemarin aku ceritakan padamu."


Seketika pula, dengan perasaan yang sama. Lucky menatap Pelangi lekat-lekat, suasana hening seketika. Tak ada yang berani lebih dulu bicara. Mulut mereka sudah seperti terkunci, entah kenapa itu.


"Halo, halo. Kalian, maaf bibi mengganggu. Makan malam sudah siap sejak tadi, ayo kalian belum lapar?" tiba-tiba saja bibi Yasmin memulai bicara menyela keheningan mereka.


"E,eh... Ba,baik bi." Pelangi menjawabnya dengan gagap setelah tersadar kembali.


"Aah, sudah lah. Kita makan malam dulu, dan kau... Cowok dingin dan cuek, eh tidak. Aku baru tahu namamu, Lucky. Ya, nama yang keren. Sesuai dengan perawakanmu, aku masih belum selesai. Selesai makan nanti aku akan membuatmu mengingatku." Ujar Lisa mengancam menatap ke arah Lucky. Tak ada respon, hanya senyuman tipis. Dan tatapannya tetap mengarah ke Pelangi diam-diam seraya berjalan menuju ruang dapur mengikuti langkah Exelle yang berjalan menyusul Pelangi.


"Hei, cewek galak. Kau sangat cantik malam ini, aku belum pernah melihat langsung wajah mu yang cantik natural itu." Exelle berjalan dengan terus menggombali Pelangi dari belakang.


"Huh, gombal." Jawab Lisa kesal.


"Ah, elu Sa. Biarin gue bahagia dikit, dong."


"Hahaha, my Princess cold memang cantik secara alami. Aku yakin dia tidak akan kalah cantik dengan para mahasiswi lainnya saat di kampus nanti." Lisa kembali menjawab membalas ucapan Exelle.