Because, I Love You

Because, I Love You
#BILYS3 305



Lisa tersenyum puas ketika foto yang berhasil di abadikan olehnya barusan sangat manis dan menggemaskan. Tapi ada satu yang membuatnya sedikit mendecak, ekspresi Lucky yang datar ketika menatap kamera.


"Kita ulang saja foto barusan. Ini sedikit menyebalkan, bisakah kau tersenyum sedikit saja di depan kamera?" ujar Lisa mengarahkan nada bicaranya pada Lucky.


"Oh, aku? Aah, baiklah. Maaf, aku.. Aku belum terbiasa." Jawab Lucky menundukkan wajahnya dengan suara lembut. Dengan seketika Exelle menarik saudaranya itu, lalu merangkulnya. Begitupun Lisa yang memeluk Pelangi dengan riang gembira, mereka saling menebar senyuman lebar.


Entah sudah berapa banyak Lisa mengajak Pelangi dan yang lainnya berfoto sejak tadi, dan dikirimnya pada Jeni dan Lucas.


"Sa, udah deh. Aku sudah lapar, makan yuuuk." Ujar Pelangi dengan lirih.


"Aduh, Princess cold. Maafkan aku, sayang. Ayo kita makan sekarang, nanti keburu dingin." jawab Lisa dengan tutur bahasa penuh kasih sayang. Ia merasa bersalah pada Pelangi.


"Hah, sepertinya makanan kita memang sudah dingin. Ayo cepat santap saja, selagi enak." Ujar Exelle dengan menyembikkan bibirnya.


"Iih. Maafkan aku, semua... Ayo kita makan, selamat makan malam." Dengan riang gembira Lisa segera menyantap makan malamnya, begitupula dengan Exelle.


Namun tanpa mereka sadari, Pelangi dan Lucky saling bertatapan sejenak. Seolah kedua manik mata mereka mengisyaratkan kata yang tak mampu mereka lontarkan. Lucky tersenyum ragu seraya mengangkat kedua alisnya ke atas. Sedang Pelangi mengatupkan kedua bibirnya rapat-rapat, lalu memalingkan wajahnya untuk segera menyantap makan malam.


🌻🌻🌻


Malam pun mulai beranjak dengan cepat. Jam sudah menunjukkan waktu yang mengharuskan Pelangi dan Lisa segera pulang. Tak banyak yang di perbincangkan oleh mereka, hanya Lisa dan Exelle yang selalu berisik mengisi keheningan. Lucky selalu saja diam menundukkan wajah, sementara Pelangi sudah tidak nyaman karena sejak tadi diam-diam dia menatap lekat wajah Lucky.


"Ayo, saatnya kita pulang." Ajak Exelle kemudian.


"Eh, tunggu sebentar. Ehm, hei cowok cuek. Bolehkah aku meminta nomor ponselmu? Selama ini aku pun sudah menyuruh orang untuk meminta nomormu, kau sangat pelit." Lisa kini sudah mulai mengomel.


Lucky tampak kebingungan, hatinya ingin menolak. Tapi sepertinya kali ini, tidak mungkin. Karena Lisa sudah tentu akan sangat memaksanya, tak peduli apapun itu.


"Kemarikan ponselmu. Aku yang akan menyimpannya." Jawab Exelle dengan cepat meraih ponsel Lisa, lalu memainkan jemarinya di atas layar ponsel Lisa.


"Cewek galak, sini. Berikan ponselmu juga, aku akan menyimpan nya juga untukmu." Ujar Exelle kemudian setelah memberikan ponsel Lisa ke tangannya kembali. Tampak jelas Pelangi terkejut, begitupula dengan Lucky.


"A,aku? Untuk apa, Ex?" tanya Pelangi canggung.


"Ayolah, kita berempat disini harus saling memiliki kontak masing-masing. Kita bisa menjadi keluarga nantinya bukan?"


"Tapi, Ex..."


"Aah, Princess cold. Udah deh, berikan saja ponselmu. Kita bisa saling berbagi informadi nantinya, atau bisa juga membentuk satu grup khusus." Sambung Lisa.


"Tapi, Ex..." Ujar Lucky dengan suara lirih.


"Kali ini tidak boleh menolak, ada apa dengan kalian ini? Mengapa sama-sama menolak? Apa kalian tidak saling menyukai?"


"Bukan begitu, Ex. Ku pikir nomor mu saja itu sudah cukup bukan?" Bantah Pelangi.


"Berikan saja ponselmu," ujar Exelle meraih ponsel Lucky, lalu menyimpan nomor dengan nama Pelangi di ponselnya. Kemudian dia memanggilnya, tentu saja Pelangi semakin berdebar-debar. Dengan terpaksa dia menyimpannya di ponselnya sendiri dengan nama Lucky. Meski jemarinya terasa begitu gemetaran mengetiknya.


🌻🌻🌻


Hari berganti hari begitu cepat. Sudah satu bulan berlalu, Pelangi menjadi mahasiswi baru di kampus kebanggaannya. Begitu pula, sudah satu bulan menikmati apartemen mewah yang Kevin sediakan untuknya, yang setiap hari membuatnya semakin betah. Karena makanan yang bibi Yasmin sediakan membuatnya merasakan aroma indonesia, segala ruangan yang selalu rapi dan bersih membuatnya merasa nyaman.


Pagi ini, jadwal kuliah sedang kosong. Oleh karena itu, Pelangi memilih untuk libur dan berdiam diri saja di apartemen. Karena semenjak mulai aktif di kampus, dia merasa semakin jarang pula memanjakan dirinya hanya sekedar duduk santai meluruskan kaki di sofa.


"Princess cold, ayo dong... Kita jalan-jalan, aku ingin keliling kota ini." Lisa merengek manja pada Pelangi, yang sejak tadi Pelangi acuhkan dengan bersantai ria di sofa.


"Ya ampun, Sa. Kota ini sangat luas dan besar, kau pikir hanya sebesar biji kacang? Bagaimana mungkin kau akan mengelilingi kota ini dalam waktu sehari saja."


"Tapi aku, bosan.."


"Aku sedang tidak ingin pergi keluar, Sa. Kau pergi saja ajak Exelle dan saudaranya itu, hihi." Jawab Pelangi menggodanya.


"Uugh.. Kenapa kalian begitu kompak sih, aku sudah mengajak Exelle. Dia bilang jika kau tidak ikut, dia pun tidak. Dan kau tahu itu, jika Exelle menolak pergi bagaimana aku bisa pergi dengan si cuek.." jawab Lisa mulai nyerocos ngomel, dengan ekpresinya yang memelas manja.


"Pfft... Maaf, Sa. Kita pun tidak sedang melakukan aksi mogok bersamaan, jadi jangan menyalahkan ku."


"Non, bibi Yasmin keluar sebentar ya. Bibi harus membeli stok bahan makanan di dapur, sudah pada habis."


"Wah, bi... Kebetulan sekali, Lisa sedang bosan di apartemen saja. Aku ikut bibi, ya." Kata Lisa dengan wajah sumringah menjawabnya.


"Oh, boleh, nona Lisa. Dengan senang hati. Bagaimana dengan nona Pelangi? Mau ikut?"


"Ehm..."


Pelangi berpikir sejenak. Sebetulnya dia sangat tidak semangat dan ingin di apartemen saja.


"Princess cold, ayoo... Ih, kita bisa belajar masak nantinya sama bibi Yasmin."


"Cih, masak apa? Masak air?" Kembali Pelangi menggodanya yang memaksanya lagi untuk keluar apartemen.


"Baiklah. Aku akan ikut, ayo." Jawab Pelangi pada akhirnya bersedia ikut.


"Eh, tunggu. Nona-nona, ini masih musim dingin. Kalian tidak ingin mengganti pakaian kalian dulu?" ujar bibi Yasmin menghentikan langkah mereka yang hendak keluar mendahului. Sontak saja, Pelangi dan Lisa saling menatap satu sama lain lalu menepuk kening mereka.


"Kita tidak sedang di negara kita." ujar mereka bersamaan, membuat bibi Yasmin jadi cekikikan menahan tawa akan tingkah mereka yang kini seperti anak kembar.


"Bi, 30 menit. Aku butuh merias diri dahulu, okey." Ucap Lisa sembari setengah berlari menuju kamar.


"Lisa, jangan gila. Kita hanya akan pergi ke pasar," susul Pelangi dari belakang.


"Berhenti menggodaku, di kota ini mana ada pasar. Dasar menyebalkan, aku akan membalasmu nanti." Jawab Lisa lantang.