Because, I Love You

Because, I Love You
#69



Sudah hampir jam dua belas siang. Kirana sudah merasa baikan. Tubuhnya juga sudah tidak lemas. Bentol-bentol ditubuh dan wajahnya juga sudah menghilang.


Dia merasa sangat bosan hanya diam saja dirumah. Dia terkejut karena ponselnya berdering sangat kencang. Ponsel barunya yang dia beli dari Beni dengan kredit belum sempat dia setting volume nada deringnya.


Ada panggilan masuk dari Rossa. Kirana segera mengangkatnya. "Ya Ros?"


"Ki, gimana keadaan kamu? Kata Bu Farah, kamu sakit ya? Sepulang kerja nanti, aku sama Yola mau ke rumah kamu."


Ucap Rossa dengan cepat dan terdengar cemas.


"Aku udah baikan kok Ros. Boleh, kalo kalian mau dateng kerumah. Sekalian bawaan makanan ya."


Ucap Kirana dengan terkekeh.


"Dasar! Pinter banget cari kesempatan!"


Gerutu Rossa dengan becanda.


"Ya biar aku nggak repot-repot nyiapin makanan buat kalian. Kan akunya lagi sakit."


Ucap Kirana dengan berlagak lemah.


"Iya iya! Ntar aku bawain makanan yang banyak deh biar kamu puas!"


Ucap Rossa merasa gregetan dengan temannya ini.


Setelah mengobrol sebentar, mereka mengakhiri panggilan telepon mereka. Dan Kirana merasa lapar.


"Kirana?"


Kirana mendengar ada suara Bunda Siti yang memanggilnya dari luar. Dia segera beranjak keluar dari kamar dan membuka pintu rumahnya. "Bunda? Ada apa Bun? Ayo Bun masuk dulu." Tanya Kirana sambil mempersilahkan Bunda Siti masuk.


Mereka masuk dan duduk diruang tamu. "Aku buatin minum dulu ya Bun." Ucap Kirana dan Bunda Siti menahan tangannya.


"Nggak usah Ki. Kamu duduk sini."


Kirana pun duduk disamping Bunda Siti. Melihat Bunda Siti seperti ini, sepertinya ada sesuatu yang serius yang ingin dibicarakan.


"Oya, kemarin sore kamu pergi sama siapa?" Tanya Bunda sudah tidak sabar karena sejak semalam merasa gelisah dan kepikiran setelah melihat ada seorang laki-laki yang mendatangi Kirana lalu mengajaknya pergi.


Kirana terpaku sesaat dan hatinya merasa cemas. Tapi Kirana tetap berusaha untuk tenang. "Kemarin itu..temen aku Bun." Jawab Kirana dengan sedikit tersenyum.


"Bener cuma temen?" Tanya Bunda Siti dan Kirana mengangguk dengan sedikit tersenyum. "Terus kamu pergi kemana sama temen kamu? Dan pulang jam berapa?"


Kirana merasa terkejut dan tidak menyangka kalau Bunda Siti akan menanyakan ini kepadanya. Apa salah kalau Kirana merasa Bunda Siti ini sudah mengganggu privasinya?


Meski Kirana sudan menganggap Bunda Siti seperti ibunya sendiri, tidak seharusnya Bunda Siti menginterogasinya seperti ini dan ingin tau apa saja yang dilakukannya dan dengan siapa dia pergi.


"Kemarin ada temen aku yang sakit dan aku menjenguknya. Aku baru pulang larut malam karena kebetulan temen aku sendirian, jadi aku temenin dia dulu." Jawab Kirana setengah jujur dan setengah berbohong.


"Oh pantesan aja, Bunda semalem nungguin kamu tapi kamunya nggak pulang-pulang dan Bunda ketiduran." Ucap Bunda diselingi kekehannya sambil mengusap lengan Kirana.


Kirana hanya tersenyum kaku.


Untung aja tadi pas sepi nggak ada yang liat aku pulang.


Batin Kirana dengan menghela nafas lega.


"O ya Ki, kamu hari ini nggak berangkat kerja? Kenapa?" Tanya Bunda Siti lagi.


"Eum..aku..aku ambil cuti akhir bulan Bun. Sebenarnya tadi pengen ke makam ayah. Tapi nggak jadi. Mungkin besok pagi aja sekalian belanja kepasar." Jawab Kirana dengan berbohong.


Sebenarnya bukan sifat Kirana yang suka berbohong. Tapi dia merasa harus melakukannya untuk kebaikannya sendiri. Kirana takut kalau saja Bunda Siti melaporkannya kepada ibunya dan membuat ibunya khawatir.


"Oh gitu. Kamu udah makan belum? Ke rumah Bunda yuk, kita makan siang bareng." Ajak Bunda dengan penuh perhatian.


Sikap Bunda Siti yang sejak dulu selalu baik dan sangat menyayanginya ini membuat Kirana merasa sangat bersalah harus berbohong kepadanya. Tapi, Kirana hanya tidak ingin membuat orang-orang terdekatnya khawatir. Atau mungkin akan berpikiran buruk tentangnya.


"Em..nggak usah Bun, nanti jadi ngerepotin." Ucap Kirana yang masih selalu merasa tidak enak hati.


"Ya ampun Kirana! Kamu ini apa-apaan sih? Kamu udah seperti anak Bunda sendiri dan Bunda nggak pernah merasa direpotkan sama kamu! Udah ayo!" Ucap Bunda sambil berdiri dan menarik Kirana, tidak memberinya kesempatan untuk menolak.


Sesat kemudian terdengar suara motor matic milik Haris dan Bunda Siti tersenyum lebar. "Nah itu Haris pulang!" Serunya dengan sumringah.


Kirana hanya memaksakan senyumnya.


"Loh ada tamu jauh ya? Kamu nggak kerja Ki?" Seru Haris ketika masuk keruang makan melihat Kirana duduk bersama Bundanya.


"Aku lagi cuti kak." Jawab Kirana tidak terus terang.


"Oh. Pantes aja, tadi pagi aku panggil-panggil kamu, kamunya nggak nyaut. Pasti kamu masih tidur ya?" Tanya Haris sambil menarik kursi dan duduk diseberang Kirana. Bunda Siti terus tersenyum memperhatikan anak sulungnya yang terus memandangi Kirana.


"Em..iya kak. Kan kesempatan aku bisa bangun siang." Jawab Kirana sedikit tergagap karena lagi-lagi dia berbohong.


"Ya udah, kamu makan yang banyak. Nih aku ambilin buat kamu." Ucap Haris sambil menusuk daging rendang lalu meletakkannya di piring Kirana.


"Makasih kak."


"Iya Kirana, kamu makan yang banyak biar sehat. Ini sayurnya juga." Sahut Bunda Siti juga mengambilkan. sayur untuk Kirana dengan tersenyum merasa sangat senang seperti sudah punya mantu.


"Makasih Bun. Tapi nggak perlu diambilin begini. Aku bisa sambil sendiri kok." Ucap Kirana dengan tersenyum senang karena Bunda Siti dan Haris begitu baik dan sangat perhatian kepadanya.


"Udah nggak apa-apa. Cepat kamu makan." Ucap Bunda Siti.


Mereka makan siang bersama sambil mengobrol dan becanda terlihat begitu menyenangkan.


"Makasih banyak sekali lagi ya Bun untuk makan siangnya. Aku sampai kekenyangan gini. Tapi masakan Bunda emang juara." Ucap Kirana dengan tersenyum tulus memuji masakan buatan Bunda Siti.


"Sama-sama. Kalo kamu nggak sempet masak, kamu dateng aja kesini. Kita makan bareng." Ucap Bunda Siti sambil merangkul Kirana berjalan keluar.


Haris berjalan dibelakangnya sambil terus tersenyum dan membayangkan seandainya suatu saat Kirana benar-benar menjadi istrinya, mungkin setiap hari dia akan melihat pemandangan indah seperti ini.


"Loh Ki, itu siapa?" Tanya Bunda Siti setelah keluar dan menunjuk kearah rumah Kirana dengan dagunya.


Kirana pun menatap kearah rumahnya dan merasa terkejut.


Mas Rendy?!


Pekiknya dalam hati.


Haris yang berdiri dibelakangnya mengangkat kepalanya dan melihat siapa yang berdiri didepan rumah Kirana.


"Em..itu..temen aku Bun." Jawab Kirana tergagap dan merasa cemas.


"Mau apa lagi dia kerumahmu Ki?" Tanya Haris yang terus menatap dingin Rendy yang sepertinya juga sedang menatapnya.


"Aku..juga nggak tau kak." Jawab Kirana. "Kalo gitu, aku pulang dulu ya Bun, kak." Lanjut Kirana yang diangguki Bunda Siti dan Haris lalu segera berjalan cepat menuju rumahnya.


Entah sejak kapan Rendy sudah berdiri didepan pintu rumah Kirana.


Rendy menatap Kirana dengan tatapan dingin. Membuat Kirana bergidik ngeri melihatnya. Tapi Kirana mengalihkan pandangannya menghindari tatapan Rendy ketika sampai didepan rumahnya.


"Ngapain Mas Rendy kesini?" Tanya Kirana sedikit menundukkan wajahnya.


"Cuma pengen mastiin keadaan pacarku aja. Nggak boleh ya?" Jawab Rendy dengan ketus.


Kirana mengerjapkan matanya dan mengangkat wajahnya menatap Rendy. "Aku udah baikan kok." Ucap Kirana dengan wajah tanpa ekspresi.


'Tin Tin!'


"Kirana, aku berangkat kerja lagi ya!" Teriak Haris sambil membunyikan klakson motornya dan melambaikan sebelah tangannya pada Kirana.


Kirana menoleh dan hanya tersenyum kepada Haris. Lalu ia melihat kearah Bunda Siti yang masih berdiri diteras rumahnya memperhatikan dirinya.


Rendy tersenyum sinis melihat Kirana yang tersenyum pada Haris yang berpamitan kepadanya dan melambaikan tangan. "Jadi ini alasan kamu?" Tanya Rendy dengan sinis.


"Alasan apa?" Tanya balik Kirana merasa tidak tau maksud pertanyaan dari Rendy.


"Alasan kamu mau pulang karena takut Harismu itu tau dan kecewa sama kamu." Jawab Rendy dengan merendahkan suaranya namun tatapannya semakistirahat menatap Kirana.


................