
Rendy merasa sangat malu dan ia memalingkan wajahnya untuk menyembunyikan wajah malunya dari Kirana.
Kemudian ia meletakkan botol air mineralnya lalu berjalan melewati Kirana. "Nggak ada makanan. Cuma ada minuman." Ucapnya sambil berjalan melewati Kirana dan menuju ruang tengah lalu duduk disana.
Kirana terkekeh pelan. Ia berbalik dan menyusul Rendy. "Jadi, kamu marah karena laper ya?" Tanya Kirana merasa geli.
Rendy menoleh dan mengernyit menatapnya. Bisa-bisanya gadis polos yang sudah menjadi kekasihnya ini mengira kalau ia marah karena merasa lapar.
Ia memang lapar tapi ia marah bukan karena itu!
"Kenapa kamu nggak delivery order aja?" Tanya Kirana lagi yang melangkah mendekati Rendy lalu duduk disampingnya. "Atau mau aku pesenin sebelum aku pulang?" Lanjutnya yang membuat Rendy semakin kesal.
"Kamu kalo mau pulang, pulang aja sana. Nggak perlu lagi sok peduli." Ucap Rendy membuat Kirana semakin serba salah.
"Ya udah kalo gitu aku pulang!" Ucap Kirana sambil mendengus kesal lalu bangkit berdiri.
Rendy merasakan seperti ada cairan kental yang keluar dari hidungnya. Ia menyentuhnya dan ternyata darah. Ia mimisan.
Kirana yang belum melangkah pergi melihat kalau Rendy mimisan, menjadi kembali panik dan cemas.
"Mas, kamu mimisan?!" Pekiknya lalu ia mengambil tisu yang ada diatas meja lalu ingin mengelap darah yang keluar dari hidung mancung Rendy.
Rendy memegang tangan Kirana. "Nggak usah. Aku bisa sendiri. Kamu pulang aja." Ucap Rendy sambil meraih tisu dari tangan Kirana dan mengusap darahnya sambil mendongak.
"Gimana aku bisa pulang kalo liat kamu seperti ini?" "Sini aku bantu kamu." Kirana kembali duduk dan mengambil tisu, membantu Rendy mengusap sisa darah yang keluar.
Kemeja putihnya sedikit terkena tetesan darahnya. Rendy tidak lagi menolak Kirana karena ia merasakan pusing dan tubuhnya melemas.
"Aku anter kamu kerumah sakit ya?" Tanya Kirana yang sangat mencemaskan Rendy.
"Nggak usah. Aku kalau demam memang sering seperti ini." Jawab Rendy yang masih mendongak sambil menempelkan tisu di hidungnya.
"Baju kamu kena darah." Ucap Kirana yang melihat kemeja putih Rendy terkena darah.
"Bisa kamu ambilin bajuku dikamar?" Ucap Rendy pada Kirana.
Kirana mengangguk. "Bisa. Aku ambil dulu." Jawabnya dan langsung dengan cepat masuk kedalam kamar Rendy menuju lemari.
"Ya ampun. Semua baju-bajunya bermerek." Guamamnya setelah membuka lemari didalam kamar Rendy lalu mengambil kaos lengan panjang berwarna abu-abu dan segera keluar menghampiri Rendy lagi.
"Ini Mas bajunya." Kirana menyerahkan baju pada Rendy.
Sepertinya mimisannya sudah berhenti. Rendy menurunkan tangannya.
"Sini Mas, biar aku buang tisunya." Kirana pun langsung meraih tisu yang terkena darah dari tangan Rendy lalu segera membuangnya ketempat sampah didekat situ.
Rendy baru tersadar kalau kancing kemejanya sudah hampir terlepas. Sesaat ia terbengong lalu menoleh pada Kirana.
"Apa kamu yang buka kancing kemejaku?" Tanya Rendy terlihat bingung.
"Idih ngapain aku buka-buka kemeja kamu?" Jawab Kirana sewot.
Rendy pun teringat Olivia. Tadi, ada Olivia juga disini dan mengatakan kalau ia menelponnya. Seingatnya, ia tadi masih memakai setelan jasnya lengkap. Bahkan belum melepas sepatunya juga.
"Oliv." Gumam Rendy dengan pelan namun masih dapat didengar oleh Kirana.
"Mungkin dia yang berani melakukan itu sama kamu." Sahut Kirana dengan melirik sinis. "Pas aku sampai tadi udah ada dia disini." Lanjutnya menahan rasa cemburu.
"Oh." Ucap Rendy datar seolah tidak mempermasalahkan hal menurutnya sepele ini dan tidak mempedulikan bagaiaman perasaan Kirana saat ini.
Kirana berdecak dan mengalihkan pandangannya kearah lain dengan kesal.
Rendy sedikit menyunggingkan senyumnya melirik pada Kirana. Melihat reaksi Kirana seperti ini, ia yakin kalau Kirana sedang cemburu.
Kirana seperti mendengar suara nada dering ponsel dari kejauhan. Ia melebarkan pendengarannya dan memang ia mendengarnya. Suaranya dari arah dalam kamar Rendy.
"Biarain aja. Paling Mama yang telepon." Ucap Rendy dengan santai.
Kirana mengerjapkan matanya dan menjadi gugup. "Emm..sebaiknya kamu..angkat dulu Mas. Siapa tau..penting."
Rendy menoleh dan melihat Kirana yang ternyata sedang memandangi tubuhnya.
'Pletak!'
"Aaawh! Mas! Sakiiiit!" Pekik Kirana sambil mengusap usap keningnya karena Rendy menyentilnya.
"Kenapa? Kamu mau liat? Boleh kok." Ucap Rendy dengan menyeringai lalu memiringkan duduknya dan menghadap Kirana.
"Iih. Apaan sih kamu Mas! Buruan kamu pake bajunya!" Seru Kirana lalu langsung bangkit berdiri karena ia bisa terkena serangan jantung kalau terus-terusan dibuat senam jantung seperti ini oleh Rendy.
Tapi Rendy malah menarik tangannya hingga Kirana berbalik dan terjatuh dipangkuan Rendy dengan kedua tangannya memeluk leher Rendy.
Kirana terbelalak karena terkejut. "Mas! Kamu..apa-apaan sih? Lepasin!" Pekik Kirana sambil menahan pundak Rendy dan ingin bangkit berdiri lagi tapi Rendy memeluk pinggangnya dan menahannya.
Rendy terkekeh lalu melepaskan Kirana. Kirana pun langsung berdiri dan mendengus kesal. Tapi ia masih saja tetap perhatian kepadanya.
"Mas, sebaiknya kamu cepat pake bajunya terus tiduran dikamar dan pake selimut." Ucap Kirana.
"Hmm." Jawab Rendy sambil mengangguk lalu memakai bajunya.
"Emm..aku pamit palang ya?" Tanya Kirana dengan pelan.
"Terserah!" Jawab Rendy yang kembali berubah dingin kepadanya.
Disini Kirana langsung mengerti kalau ternyata Rendy marah karena ia pamit mau pulang. Seketika, Kirana tersenyum sendiri merasa sangat senang dengan hati yang kembali berbunga-bunga.
"Ngapain senyum-senyum? Udah sana pulang!" Ucap Rendy sambil berdiri dan berjalan menuju kamarnya.
Tapi ia kembali ingin terjatuh dan langsung berpegangan pada dinding.
"Mas!" Pekik Kirana sambil berlari pada Rendy. "Sini aku bantu."
"Aku baik-baik aja."
"Mungkin kamu belum makan jadi lemes gini. Aku pesenin makanan buat kamu ya?" Tanya Kirana sambil memeluk lengan Rendy dan berjalan bersama masuk kedalam kamar.
Rendy hanya diam tidak menjawab.
"Aku juga laper belom makan tadi." Lanjut Kirana dengan menyengir.
"Terus?" Tanya Rendy setelah duduk diranjangnya.
"Kamu dari tadi nggak ada inisiatif pesen makanan buat aku. Aku disini kan tamu. Aku bela-belain kesini karena juga khawatir sama kamu. Tapi kamunya nyebelin gini. Jadi, sebaiknya aku pulang aja bikin indomie dirumah." Gerutu Kirana sambil cemberut mengungkapkan isi hatinya.
Rendy terbengong mendengar omelan Kirana. Rendy merasa kalau Kirana ini sangat mirip dengan adik perempuannya yang sangat manja dan bawel juga suka mengomel.
Hatinya merasa senang karena ternyata Kirana memang mengkhawatirkannya. "Ya udah, kamu jangan pulang dulu. Aku pesen makanan buat kamu." Ucap Rendy sambil meraih ponselnya diatas nakas dan segera memesan makanan.
"Sini duduk." Rendy meminta Kirana duduk didepannya dan Kirana menurut saja. "Boleh aku peluk kamu?" Tanya Rendy dengan menatap lekat Kirana.
Seperti terhipnotis dengan tatapan Rendy, Kirana pun mengangguk dan Rendy tersenyum lalu menariknya dalam pelukan.
Kirana terpaku dan terdiam. Senang dan bahagia yang dirasakan Kirana saat ini. Apa Rendy sudah mulai membuka hati untuknya? Apa kini Rendy akan bisa mencintainya seperti dirinya mencintainya? Entahlah,Kirana tidak tau dan tidak ingin terlalu berharap.
Ia sudah merasa sangat senang bisa sedekat ini dengan Rendy. Laki-laki tampan yang terlihat sempurna, yang telah membuatnya jatuh cinta dalam sekejap.
Perlahan Kirana mengulurkan tangannya dan membalas pelukan Rendy lalu memejamkan matanya dan tersenyum.
................