Because, I Love You

Because, I Love You
#63



Sesaat kemudian, Kirana mengulurkan sebelah tangannya keatas kearah kepala Rendy. Reflek Rendy memundurkan kepalanya dan mengernyit menatap Kirana.


"Jangan gerak!" Tegas Kirana dan Rendy terdiam terus memperhatikan tangan Kirana.


Ia mengira kalau Kirana ingin memukulnya. Tapi tanpa ia duga, Kirana menempelkan punggung tangannya dikeningnya untuk mengecek suhu tubuhnya.


"Ya ampun Mas! Panas banget!" Pekik Kirana dengan terbelalak. "Kamu ada thermometer nggak?" Lanjutnya bertanya dengan wajah yang terlihat cemas.


Rendy tidak langsung menjawab malah masih terus memandangi Kirana sambil tersenyum sendiri.


"Maaas! Kamu ditanya malah senyum-senyum! Udah ayo, kamu balik kekamar!" Ucap Kirana merasa kesal sekaligus mencemaskan kondisi Rendy.


Ia menarik tangan Rendy begitu saja membawanya kekamar untuk beristirahat. Rendy masih diam membiarkan Kirana melakukan apa saja semaunya.


"Aku keluar bentar beli obat ya?" Ucap Kirana setelah Rendy berbaring dikamarnya.


"Nggak usah! Obat sama thermometer ada dikotak obat. Kamu cari aja dilaci sebelah sana." Ucap Rendy sambil menunjuk kearah lemari samping TV dan Kirana segera mencarinya.


Setelah ketemu dan mengambilnya, Kirana meletakkannya diatas nakas samping tempat tidur. "Ini, kamu cek sendiri dulu suhunya Mas! Aku ambil minum dulu." Ucap Kirana sambil menyodorkan thermometer kepada Rendy kemudian keluar mengambil minum.


Rendy bangkit duduk dan bersandar pada kepala ranjang. Ia mengecek suhu tubuhnya sendiri dengan thermometer. Kirana dengan cepat sudah kembali masuk kedalam kamar dengan membawa segelas air mineral dan meletakkannya diatas nakas.


Setelah mendengar bunyi suara dari thermometer, Kirana meraihnya dan melihat. Ia terbelalak lagi karena suhu badan Rendy mencapai 39,8°C.


"Ya ampun Mas. Sebaiknya kamu periksa deh! Demam kamu tinggi loh. Aku takut kamu kenapa-napa!" Ucap Kirana terlihat panik dan semakin cemas.


"Nggak usah lebay. Aku baik-baik aja. Bentar lagi juga sembuh. Nggak perlu diperiksa." Ucap Rendy terdengar lemah.


Kirana berdecak kesal. "Terserah kamu." Ucapnya lalu meletakkan thermometernya diatas nakas dan mengambil obat. "Nih kamu minum obatnya." Lanjut Kirana dengan ketus sambil menyerahkan obatnya pada Rendy.


Rendy sedikit tersenyum. "Suapin dong." Godanya membuat Kirana mau tidak mau menyuapi obat penurun panas ke mulut Rendy lalu meraih air minum dan memberikannya pada Rendy.


Rendy memegangi tangan Kirana yang memegang gelas lalu mengarahkan ke mulutnya dan meminumnya. "Makasih sayang." Ucap Rendy dengan tersenyum seketika membuat Kirana terpaku dan hatinya menjerit.


Jangan ditanya bagaimana keadaan jantungnya yang terasa ingin lompat dari sarangnya. Bahkan tangannya sampai gemetar dan gelas yang digenggamnya hampir terlepas.


Tapi ia dengan cepat meletakkan kembali gelasnya diatas nakas lalu ingin beranjak pergi.


Rendy dengan cepat meraih tangannya dan menahannya untuk tidak pergi. "Mau kemana?"


"A aku..kebelet pipis." Jawab Kirana tergagap dan salah tingkah.


Rendy menahan tawanya. Tidak ingin membuat Kirana kesal. Melihat reaksi Kirana saat ia menggodanya membuatnya semakin tertarik untuk terus menggodanya.


Kirana segera melangkah keluar dari kamar.


Rendy pun terkekeh geli sambil menggelangkan kepalanya. Ia merasa sangat terhibur bersama Kirana.


Didalam kamar mandi, Kirana menatap dirinya pada cermin lalu menekan dadanya dan menghela nafasnya dalam dalam untuk menormalkan detak jantung dan segala rasa didalam hatinya. "Apa tadi aku nggak salah denger? Mas Rendy panggil aku sayang?" Gumamnya bertanya pada dirinya sendiri.


Kirana menggelengkan kepalanya. "Nggak nggak! Nggak mungkin! Dia pasti cuma becanda. Nggak mungkin beneran!" Lanjut Kirana mencoba tidak ingin menganggap serius ucapan sayang Rendy kepadanya.


Kirana membasuh wajahnya lalu meraih tisu dan mengeringkannya dengan tisu. Ia menghela nafasnya lagi sebelum keluar dari kamar mandi.


Kirana keluar dari kamar mandi dan menghampiri Rendy. "Mas, sebaiknya kamu istirahat. Aku harus pulang. Udah malem." Ucap Kirana berpamitan pada Rendy.


Rendy mengangkat wajahnya dan menatap Kirana. "Hmm. Biar Beni nganter kamu." Jawab Rendy yang sudah merubah wajahnya menjadi dingin.


Ia sebenarnya ingin Kirana tetap disini menemaninya. Merasa tidak rela ditinggal oleh Kirana. Tapi ia juga tidak bisa memaksanya.


"Nggak usah. Aku naik ojek aja." Ucap Kirana merasa sangat sungkan harus merepotkan orang lain.


Rendy menatapnya tidak suka. "Ya udah terserah kamu!" Ucapnya terdengar marah dengan suara sedikit serak.


Kirana kembali terpaku dan ia juga sedikit terkejut melihat Rendy yang tiba-tiba menjadi marah.


Rendy bangkit berdiri lalu berjalan melewati Kirana dan keluar dari kamar. Kirana berbalik dan menyusul Rendy keluar.


Ia melihat Rendy berjalan kedapur lalu membuka kulkas. Ia mengambil minuman kemasan dalam kaleng. Kirana memicingkan matanya melihat apa yang diambil Rendy.


Dengan cemas dan sedikit panik, Kirana langsung berlari dan menahan tangan Rendy yang baru saja membuka minuman kalengnya dan ingin meminumnya.


"Mas! Kamu kan baru aja minum obat. Jangan minum ini!" Ucap Kirana dengan cemas karena Rendy masih demam dan baru saja minum obat tapi dia sudah ingin minum beer.


Rendy melirik dan menghempaskan tangan Kirana. "Udah sana pulang!" Ucapnya dengan dingin.


"Kamu..kenapa jadi marah?" Tanya Kirana dengan sedikit gugup dan takut. Ia masih tidak mengerti kenapa Rendy tiba-tiba marah seperti ini kepadanya.


Rendy menghela nafasnya lalu meletakkan minuman kalengnya dan menatap Kirana. Ia tidak bicara apa-apa. Hanya mendengus lalu berbalik dan kembali membuka kulkas. Didalam kulkas hanya ada minuman kaleng dan air mineral saja.


Ia jarang tinggal di apartemennya jadi tidak menyediakan makanan atau cemilan disana.


Rendy mengambil sebotol air mineral dan menutup lagi pintu kulkasnya. Ia membuka tutup botolnya dan meminumnya hingga setengah botol.


Tiba-tiba perutnya berbunyi membuat Kirana mengulum senyumnya. "Kamu laper ya Mas?" Tanya Kirana dengan wajah polosnya.


................