
Tiga hari berlalu Jeni ijin tidak masuk sekolah, dan selama itu pula hubungan Pelangi dan Joe muncul sebuah jarak. Mereka tidak lagi terlihat akrab dan dekat seperti biasanya, saat pulang dan pergi ke sekolah Pelangi selalu membawa mobil pribadinya.
"Ehm, Princess cold.. Aku, aku ingin bicara dengan mu." Lisa terlihat gugup dan ragu ketika niatnya tidak bisa lagi di tahan untuk ikut campur dalam masalah ini.
"Hem, ada apa Sa?" Tanya Pelangi saat mereka sedang melakukan sebuah praktek di ruang lab.
"Tentang Jeni.."
Pelangi menoleh Lisa seketika.
"Lalu?"
"Apa kalian sedang bermusuhan?"
"Apa kami terlihat seperti itu saat ini?"
"Ti,tidak. Hanya saja, kalian terlihat aneh. Kau dan Joe pun saat ini terlihat saling menjauh bukan?" Ucap Lisa setelah melirik ke arah Joe yang kini posisinya berhadapan sedikit jauh dari Pelangi.
Namun selama tiga hari ini, Joe masih saja berusaha bersikap seperti biasanya pada Pelangi meski tidak terlalu memaksa untuk tetap berdekatan dengan Pelangi.
"Aku dan Joe..." Ucapan Pelangi terhenti lalu melihat ke arah Joe yang kini sibuk dengan tugas prakteknya.
"Princess cold, aku masih sahabat mu bukan? Jika kau ingin mengatakan sesuatu, katakan lah, ceritakan lah jika kau ingin berbagi."
"Sa, aku hanya tidak ingin membuat suasana kita semakin rumit. Tapi jujur, aku capek Sa." Jawab Pelangi yang kemudian meletakkan berbagai alat yang di gunakannya tadi, lalu beranjak pergi dari ruangan.
"Pak, permisi. Saya ke toilet sebentar," Pamit Pelangi memohon izin pada guru pembimbingnya.
"Baik. Jangan lama-lama ya," Titah pak guru.
"Ehm, pak. Aku juga harus ke toilet,"
"Haduh, Lisa. Kau ini, selalu saja ikut-ikutan. Cepat lah sedikit,"
"Hehe. Terimakasih pak," Lisa menyusul Pelangi dengan cepat menuju toilet.
Saat tiba di toilet Pelangi mencuci kedua tangannya lalu menarik nafasnya dalam-dalam menghadap ke arah cermin di depannya saat ini.
"Huhft.. Pelangi, ayo lah jangan kau pendam sendiri masalah diantara kalian yang sebenarnya." Ujar Lisa saat tiba di sisinya.
"Sa, hari itu. Dimana Jeni dan Joe datang terlambat menyusul kita yang menunggunya di pintu gerbang, aku berniat menyusul Joe ke ruang perpustakaan seperti yang di katakannya. Karena dia begitu lama ku pikir dia mengalami kesulitan, tapi setelah aku menyusulnya dia tidak ada diruangan itu. Aku mencobanya mencari ke seluruh ruangan juga di kantin, dan ternyata dia di kelas bersama... Jeni,"
"So what? Jadi hari itu mereka sengaja janjian dan mengelabui kita?"
"Sssttt... Pelankan suaramu, Lisa.."
"Ups, maafkan aku. Aku hanys sedikit shock, aku tidak percaya jika mereka..."
"Aku tidak sengaja mendengar semua obrolan mereka, Sa. Aku sungguh merasa bersalah dan terjebak sendiri, Jeni mengungkapkan perasaan nya pada Joe, tapi Joe langsung menolaknya dengan alasan bahwa dia... Mencintaiku, entah sejak kapan dia pintar berbohong hanya untuk menghindari seseorang."
Lalu kemudian Pelangi terus berlanjut menceritakan semua yang dia lihat, yang dia dengar, yang dia lakukan dan yang Joe perbuat setelah itu padanya. Dia menceritakan tanpa sedikitpun ada jeda, dia nyerocos tanpa menyadari jika Lisa hanya melihatnya dengan senyuman nakal untuk menggodanya.
"Sa, kamu dengerin aku gak sih?" Tanya Pelangi kemudian setelah dia menyadari sikap sahabatnya itu.
"Aku mendengarnya, Princess cold. Tapi sungguh kau baik-baik saja?" Lisa mencoba mendettenya.
"Hemm.. Aku, aku baik-baik saja."
"Yakin, jantungmu tidak terasa berdegub lebih cepat dari biasanya?"
"E,eh.. Itu, aku.. Dih, apaan sih Sa? Aku baik-baik saja. Itu karena aku terkejut saja, sampai gemetaran. Karena ini pertama kali nya aku melihat sikap Jeni yang begitu beda di hadapan Joe hari itu."
"Aku tanya sekali lagi, hatimu merasakan debaran yang berbeda tidak, saat Joe mengucapkan kata cinta pada mu dan berani mendekatkan wajahnya padamu saat itu?"
"............." Lisa masih berdiri menatap wajah Pelangi dengan senyuman nakal.
"Lisaaa... Jangan nyebelin deh, ah. Berhenti menatapku dengan nakal begitu!"
"Princess cold ku tersayang, bagaimana jika Joe bersungguh-sungguh atas ucapannya saat itu pada Jeni?"
"Itu tidak mungkin, kita sudah bersahabat dan seperti kakak beradik saat kecil dulu."
"Itu dulu, bukan sekarang."
"Itu tidak mungkin, aku akan mengalah untuk Jeni. Aku tidak mau merusak persahabatan kita selama ini, Sa."
"Tapi bagaimana dengan Joe? Berkorban tentang perasaan itu gak enak baby, kau tidak akan mampu menahan diri. Aku sudah pernah mengalami dan merasakannya itu butuh waktu lama untuk memulihkan hatiku sendiri. Dan tentang Jeni, walau bagaimanapun jika Joe tidak bisa menerima cintanya lalu apa bedanya dengan merusak persahabatan kita? Sikapnya saat ini saja sudah membuatku kesal, aku tahu dia sengaja melakukannya."
"Sa, Jeni bukan orang yang seperti itu. Kau tahu itu, kau lebih mengenal Jeni. Kalian bersama sejak kecil bukan?"
"Oleh karena itu aku tahu, jika Jeni sedang memanfaatkan keadaan."
Pelangi terdiam menundukkan wajahnya yang mendadak murung.
"Aku bahkan tidak tahu bagaimana rasanya jatuh cinta, Lisa. Aku tidak pernah berpikir untuk berpacaran selama ini."
"Kau harus memikirkannya mulai detik ini, Pelangi. Kau harus belajar mencintai dan merasakan indahnya dicintai, paling tidak saat kita sudah dewasa nanti, kita memiliki sebuah kenangan untuk kita ceritakan kepada anak-anak kita sebagai pengalaman berharga."
"Cih, apaan sih. Pikiran mu terlalu jauh, kita baru SMA. Bukan mau menikah, hahaha. Lisa, Lisa..."
"Dih, aku hanya berniat membantu orang-orang yang ku sayangi. Khususnya kau, Princess cold. Aku pun sangat menyayangi Jeni, tapi caranya kali ini aku sangat kecewa. Ini bukan Jeni yang ku kenal, cinta memang selalu mampu merubah orang menjadi gila."
"Maka itu aku tidak ingin merasakan cinta itu seperti apa, bagiku.. Cinta hanya lah sebuah kata saja, yang pada akhirnya nanti akan terpisah dan terlupakan. Itu akan lebih menyakitkan, Lisa."
Lisa mengerutkan kedua alisnya mendengar ucapan Pelangi. Dia mulai bertanya-tanya dan berpikir dalam hati.
Mungkinkah sebelum nya Pelangi sudah pernah mengalami sakit hati karena mencintai seseorang? Tapi siapa? Siapa cowok yang tega menyakiti hatinya, dasar brengsek.
"Princess cold, apakah hatimu sudah kau siapkan untuk cowok lain? Hmm... Siapa cowok beruntung itu?"
"Ti,tidak. Aku tidak pernah begitu, aku bahkan selalu menutup hatiku pada cowok siapapun itu. Bukan kah kau juga tahu hal itu, Lisa?"
"Tapi mendengar ucapan mu barusan, seolah kau pernah jatuh cinta namun harus terpisah dengan paksa."
"Huuh, kau ini.. Banyak bertanya sejak tadi. Ayo kita kembali ke kelas saja, nanti pak guru menghukum kita lagi." Pelangi beranjak pergi dari hadapan Lisa.
"Pelangi, tunggu..."
"Hemm, apa lagi Sa?" Pelangi menoleh kembali ke arah Lisa dengan wajah malas.
"Pikirkan lah, Joe sungguh mencintaimu dan menganggapmu lebih dari sekedar sahabat biasa. Aku bisa menangkapnya dari kedua matanya yany selalu menatapmu diam-diam."
"Aduuuh, jangan konyol deh Sa. Ayo ke kelas,"
"Pokoknya aku mau kau dan Joe jadian, tentang Jeni biar jadi urusan ku dan Lucas."
"Kagak." Jawab Pelangi sembari mempercepat langkahnya.
"Princess cold, ih.. Nyebelin deh,"
"Bodo amat!!!" Jawab nya lagi setengah cetus.
Dalam hati Lisa bertekad untuk menjadi mak comblang Joe dan Pelangi agar mereka sungguh terikat dalam suatu hubungan pacaran nantinya.
Maafkan aku Jen, kali ini aku harus membuatmu sadar.