Because, I Love You

Because, I Love You
#BILYS3 298



Pelangi duduk bersebelahan dengan Lisa tentunya saat sudah berada di meja makan, berhadap-hadapan dengan Exelle. Begitupula Lisa dengan Lucky, bibi Yasmin masih menyiapkan beberapa makanan tambahan dan minuman untuk mereka.


"Terimakasih, bibi Yasmin." Ujar Pelangi kemudian.


"Kalian makan lah yang banyak, bibi tinggal dulu ya. Jika ada hal lainnya jangan sungkan panggil bibi." Ujar bibi Yasmin yang kemudian beranjak pergi.


"Wow, masakan ini sangat enak. Apakah dia asisten yang kau bawa dari Indonesia?" Tanya Exelle kemudian.


"Oh, tidak. Bibi Yasmin bertemu kami setelah kami sampai disini, beliau di perintah oleh om ku. Untuk mengurus dan menjaga kami selama disini."


"Ehm, baik sekali om mu. Padahal aku saja yang menjagamu lebih dari cukup, hihi." Ucap Exelle dengan tawa cekikikan.


"Dasar gombal." Balas Pelangi menatapnya dengan sinis, lalu pandangannya kembali teralihkan pada wajah Lucky yang sedang menikmati makan malamnya dengan penuh hikmat juga mengunyahnya dengan pelan, begitu lembut sehingga tak terdengar sedikitpun suara dari aktifitasnya yany mengunyah makanan sejak tadi.


Dia... Sangat pendiam sejak tadi, tapi Exelle bilang dia sangat baik dan kompak dengan Exelle. Bagaimana bisa? Sedangkan Exelle banyak bicara.


"Ehhem, cowok cuek. Makan yang banyak, ini. Aku ambilkan khusus untukmu." Lisa mendehem kemudian memberikan sepotong daging di atas nasi piring Lucky.


"Ma,makasih." Ujarnya dengan menundukkan wajahnya dengan santun.


Lalu kemudian, beberapa menit setelahnya mereka menyelesaikan makan malam. Pelangi dan Lisa merapikan segala piring dan sendok juga perlengkapan lainnya yang kotor. Exelle dengan sigap hendak membantu, begitupun Lucky yang menyusulnya.


"Princess cold, lihat aku sebentar. Bagaimana dengan make up ku? Apakah masih normal?" Ujar Lisa berbisik pada Pelangi. Lalu Pelangi memandangnya sejenak.


"Sedikit berantakan di bagian bibir, juga berminyak tepat di bawah kelopak matamu." Jawab Pelangi dengan jelas.


"Iih, kau menyebalkan. Aku akan ke kamar sebentar untuk merapikan make up ku lagi." bisiknya lagi kemudian setengah berlari menuju kamar.


"Cewek galak, dimana toiletnya? Aku harus membuang racun sebentar. Hehe," Tanya Exelle kemudian setelah Pelangi masih merapikan semua alat makan yang kotor tadi.


"Tuh, pojok depan." Jawab Pelangi sembari menunjuk ke arah toilet. Lalu Exelle langsung beranjak pergi dengan cepat, dia sudah tidak tahan. Makan malam tadi dia makan terlalu banyak dan sedikit buru-buru.


Hanya ada Pelangi dan Lucky. Mereka saling menatap satu sama lain kembali, suasana jadi canggung. Pelangi mengalihkan suasana di hatinya dengan berniat hendak mencuci segala alat makan tadi yang sudah kotor.


"Maaf, mau ku bantu?" Tanya Lucky mengeluarkan suara, membuat Pelangi terhentak karena sejak tadi dia menahan kecanggungannya.


"E,eh.. Tidak, tidak usah. Aku, aku bisa sendiri kok." Jawab Pelangi dengan nada bicara yang masih saja kikuk.


"Oh, baiklah. Aku, aku harus apa?" Tanya Lucky lagi dengan sangat lembut dan santun, namun tetap tak bisa di bohongi jika suaranya memang sedikit gemetaran.


Pelangi menghentikan aktifitasnya mencuci piring dan gelas kotor sejenak, lalu mencoba memberanikan diri menoleh ke arah Lucky. Mereka saling memandang satu sama lain, dalam hati mereka seketika merasa sesak. Mereka saling merasakan hal yang aneh, seakan ingin menangis.


"Loh, nona. Kenapa mengotori tangan nona Pelangi, biar bibi saja yang melakukannya nanti. Astaga, jika tuan Kevin tahu bibi bisa di tegurnya nanti nona." Bibi Yasmin datang membuyarkan pandangan mereka.


"Eh, bibi. Gapapa, Pelangi bisa melakukan sendiri. Kasihan bibi, ini sudah mau selesai kok."


"Aduh, sudah. Nona lanjutkan saja mengobrol dengan teman-teman nona di ruang tamu, nanti bibi akan bawakan cemilan dan minuman hangat. Ruang penghangat disini sepertinya tidak bisa melawan cuaca dingin diluar."


Pelangi berjalan dengan menahan sesak di dada nya yang seakan sudah bergemuruh menabuh gendang.


Tiba di ruang tamu, kembali Pelangi di kejutkan oleh adanya Lucky yang berdiri di belakangnya karena dia mengikuti langkah Pelangi menuju ruang tamu.


"Maafkan aku, sepertinya kau sejak tadi tidak nyaman dengan kehadiran ku. Apakah aku mengganggu penglihatanmu?" Ujar Lucky dengan santun tanpa menatap mata Pelangi. Justru ia sedang menundukkan wajahnya dengan mundur satu langkah dari hadapan Pelangi.


"Oh.. Enggak, enggak. Bukan begitu, aku.. Aku hanya sedikit canggung dengan orang asing. Apa lagi yang baru ku temui." Jawab Pelangi gugup.


"Aah, maafkan aku jika menyinggungmu."


"Hahaha, kau terus saja meminta maaf sejak tadi. Santai saja, rilex dong. Aku jadi semakin canggung."


Lucky tersenyum tipis menanggapi ucapan Pelangi dengan wajah nya yang merah jambu. Dia sedang bersusah payah menahan detak jantungnya.


"Dih, malah senyum."


"Eh, maaf. Maafkan aku, aku hanya.. Ehm, wajah mu memerah dan itu sangat lucu."


"A,apa? Oh, ini.. Aah... Ini karena, karena aku kedinginan. Ya, ya sudah. Aku akan ke dapur sebentar. Kau, duduklah dulu." Pelangi kian terbata-bata berbincang dengan Lucky. Hampir saja dia jatuh pingsan. Lalu pergi menuju dapur kembali.


Dia memencet tombol air panas di sebuah dispenser tanpa menambahkan air dingin lagi untuk terasa hangat, tak tanggung lagi Pelangi menegaknya kemudian memuntahkannya lagi.


"Eh, nona. Ada apa?" Sontak bibi Yasmin mendekatinya setelah Pelangi memuntahkan air panas tersebut dari mulutnya.


"Aaakh, sial. Panas sekali, aku lupa menambahkan air dingin terdahulu, bi." Ujar nya menjelaskan. Bibi Yasmin terbahak-bahak kemudian, melihat tingkah Pelangi yang mudah di tebak olehnya.


"Jadi anak muda itu yang lebih menarik hati dan membuat jantung rasanya mau meledak? Bibi sudah menduganya." Tebak bibi Yasmin.


"Eh, bibi. Apa maksud bibi?" Pelangi melongo, tidak memahami apa yang di ucapkan bibi Yasmin.


"Hihi, bibi juga pernah muda nona. Bibi paham betul bahasa tubuh nona Pelangi, hihihi. Apakah tebakan bibi benar kali ini, nona?"


Pelangi masih terdiam, dengan mengedipkan kedua matanya berkali-kali lebih cepat. Kemudian dia berhasil menangkap maksud bibi Yasmin kepadanya.


"Aaah, bibi. Bibi salah paham, aku.. Aku tidak berpikir kesitu ih. Bahkan aku juga tidak mengenalnya bi, dan Exelle... Dia, dia sahabat ku. Kami cukup dekat, dan dia suka bercanda."


"Hmm.. Ya sudah, maafkan bibi sudah berani menggoda nona Pelangi." jawab bibi Yasmin.


"Eh, jangan meminta maaf bi. Gapapa, aku justru senang jika bibi bersikap sebagai orang tua kami disini, jangan merasa jika bibi hanyalah seorang asisten saja. Karena saat nanti aku butuh teman cerita disini, bibi bisa menemaniku sebagai pengganti mama."


"Terimakasih nona Pelangi, benar kata tuan Kevin. Nona anak yang baik, sangat sopan, selain pintar dan berprestasi."


Pelangi tersenyum dengan kembali meneguk segelas air putih panas yang mulai mendingin sejak tadi.