Because, I Love You

Because, I Love You
#15



Rendy melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar bisa segera sampai dan menemui Olivia untuk meminta maaf dan menjelaskan semuanya. Dia tahu kekasihnya ini sedang sangat marah padanya. Dia harus bisa membujuknya dan dia juga ingin memberi tahu Olivia jika dirinya akan pergi beberapa hari ke depan untuk mengurus cabang perusahaannya yang sedang bermasalah di Surabaya.


Rendy baru saja sampai. Saat ini dia sudah berdiri di depan pintu apartement Olivia. Dia menekan bel dua kali dan Olivia langsung membukakan pintu untuknya.


'Sial!' Umpatnya dalam hati.


Rasa kesal yang dirasakan Rendy seketika hilang karena teralihkan pada sosok cantik kekasihnya yang saat ini hanya memakai handuk yang dililitkan untuk menutupi tubuhnya yang polos. Rambutnya yang dibiarkan tergerai dan masih basah membuatnya semakin menggoda, karena Olivia baru selesai mandi.


Rendy langsung memeluk kekasihnya yang sudah sangat dirindukannya setengah mati. Dia mendorongnya masuk ke dalam dan menutup pintu apartemennya.


Namun, Olivia langsung melepaskan pelukan Rendy dan mendorongnya. Olivia mendengus kesal kemudian berbalik dan berjalan ke dapur untuk mengambil minum.


Wanita cantik itu sedang merajuk.


Rendy mengikutinya dari belakang sambil berusaha memberikan penjelasan pada sang kekasih tercinta. "Honey, i'am sorry. Aku benar-benar lupa, karena tadi ada rapat dadakan yang sangat penting."


Olivia berbalik dan menatap Rendy dengan kesal. "Oh, jadi aku tidak penting buat kamu?"


"C'mon, honey. Aku benar-benar minta maaf. Apa kamu nggak kangen sama aku? Aku kangen banget sama kamu." Rendy melangkah mendekat dan langsung mencium bibir ranum Olivia yang sudah lama ingin sekali ia cecap.


Olivia hanya diam membiarkan sang kekasih tercinta menciumnya. Dia mengalungkan kedua lengannya di leher Rendy dan membalas ciumannya.


Olivia paling tidak bisa menolak ciuman dari Rendy yang begitu memabukkan. Semarah apapun dia, jika Rendy sudah menciumnya seperti ini, maka dia akan langsung luluh.


Namun, seketika Olivia tersadar dan dia menyudahi ciumannya. Kali ini Olivia harus bisa menahan diri untuk tidak tergoda oleh pesona Rendy.


Olivia menatap lekat pria tampan di hadapannya ini. "Kamu lebih mementingkan kerjaan kamu daripada aku. Kamu selalu seperti itu, Rend. Bahkan kamu sampai melupakan aku. Apa itu yang kamu bilang kalau kamu kangen sama aku?"


"Lalu, aku harus bagaimana agar kamu bisa memaafkan aku? Katakan." Rendy memeluk erat sang kekasih dan menempelkan wajahnya di ceruk leher Olivia.


Rendy mencium dalam-dalam aroma yang begitu menggoda dari wanita cantik miliknya ini.


"Emmh...Rendyhh...akuhh..." Olivia kesulitan untuk mengatakannya karena ulah Rendy yang saat ini sedang menciumi dan menghisap lehernya dengan lembut, membuatnya tidak tahan untuk tidak melenguh.


Namun, Olivia segera tersadar kembali jika dirinya sedang kesal pada pria tampan di hadapannya ini. Dia berusaha untuk menahan diri dan menghentikan Rendy. "Rendy...stophh!"


Rendy menghentikan kecupannya di leher Olivia dan menatapnya dengan mata yang berkabut. "Kenapa? Bukankah kamu menginginkannya?"


Olivia mendorong Rendy dengan kesal dan membenahi handuknya yang hampir merosot. "Sebaiknya kamu jangan macam-macam! Bukankah selama ini kamu selalu menolak untuk menyentuhku? Kenapa? Kenapa sekarang tiba-tiba kamu seperti ini?"


Olivia menatap curiga pada Rendy.


Rendy terkekeh pelan kemudian mendekati Olivia kembali. "Aku udah bilang kalau aku kangen sama kamu."


Dia mengecup sekilas bibir ranum Olivia dan mengulurkan tangannya, membuka kulkas yang ada di samping Olivia berdiri. Rendy kemudian mengambil minuman kaleng dan berbalik lalu duduk di ruang tengah.


Tidak ingin menggoda kekasihnya lagi, atau wanitanya itu akan benar-benar marah dan berubah menjadi singa betina yang siap mencabik-cabik dirinya tanpa ampun.


Olivia masuk ke dalam kamar untuk memakain pakaiannya dan menyusul Rendy duduk di ruang tengan apartementnya.


Rendy tidak langsung menjawab. Dia terdiam dan seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Kenapa diam? Kalau kamu tidak mau ya sudah. Aku juga tidak memaksamu." Ucap Olivia lagi dengan tidak sabar.


Rendy meneguk minuman kalengnya hingga habis lalu meletakkan kaleng kosong itu di atas meja. Dia menoleh dan menatap Olivia dengan tatapan serius. "Untuk malam ini aku nggak bisa."


Olivia terdiam menatap Rendy dengan kecewa. Dia bangkit berdiri dan hendak pergi ke kamar, namun Rendy langsung menarik tangannya hingga Olivia terjatuh di atas pangkuannya.


"Rend, kamu apa-apaan sih? Lepas!" Olivia berusaha melepaskan diri, namun Rendy malah memeluknya dengan erat.


"Kamu dengerin aku dulu, setelah aku selesai bicara baru terserah kalau kamu mau marah sama aku." Pinta Rendy.


Seketika Olivia berhenti bergerak dan memberi kesempatan pada Rendy untuk berbicara.


Rendy melepas pelukannya dan menatap Olivia. "Ada masalah di cabang perusahaan yang ada di Surabaya. Malam ini aku harus berangkat ke sana untuk membereskan semuanya."


"What??" Pekik Olivia dengan melebarkan bola matanya. "Aku baru saja datang, tapi kamu malah ingin pergi? Kamu tidak benar-benar kangen sama aku, Rend!"


Olivia sangat kesal dan marah. Dia juga merasa sangat kecewa pada Rendy.


Rendy memintanya untuk segera datang menyusulnya, tapi saat dia baru sampai, Rendy malah ingin pergi meninggalkannya dengan alasan pekerjaan.


Olivia juga sangat merindukan Rendy. Ia sengaja meminta Rendy menginap di sini dan ingin menghabiskan waktu berdua dengannya malam ini. Namun, keinginannya harus ia singkirkan.


"Honey, please. Kamu ngertiin aku ya. Aku akan secepatnya kembali dan aku janji akan nemenin kamu setelah kembali nanti." Rendy berusaha membujuk Olivia.


Olivia menghela nafasnya panjang. Ia tidak boleh egois dan marah seperti ini. Bagaimanapun, sekarang ini Rendy seorang pimpinan perusahaan raksasa yang akan selalu disibukkan dengan pekerjaannya.


Tapi, Olivia tidak memiliki waktu banyak di sini.Ia juga memiliki pekerjaan dan harus segera kembali lagi ke London.


"Kamu berapa lama di sana?" Tanya Olivia yang tiba-tiba melembut.


"Aku belum bisa memastikan. Tapi aku janji akan secepatnya kembali untuk kamu." Jawab Rendy sambil membelai kepala Olivia penuh kasih sayang.


Olivia menghela nafasnya dan kembali berbicara. "Kamu tahu, kan? Aku tidak bisa lama-lama di sini. Aku juga punya pekerjaan dan harus segera kembali ke London."


Rendy terdiam. Malam ini ia harus terbang ke Surabaya dan segera membereskan kekacauan di sana. Tapi, sepertinya dia harus merubah waktu keberangkatannya.


Rendy bangkit berdiri dan mengeluarkan ponselnya dari saku jasnya. Dia berjalan menuju balkon sambil menghubungi Beni.


"Ben, kamu rubah jam keberangkatanku ke Surabaya menjadi besok pagi."


Olivia yang diam-diam mengintip dari balik pintu, dia kegirangan mendengar Rendy yang tidak jadi berangkat malam ini. 'Apa itu artinya, dia akan menginap di sini? Yes!'


................