Because, I Love You

Because, I Love You
#52



Beni hanya minum sedikit karena ia harus tetap mengawasi Rendy. Melihat Rendy yang asyik mengobrol dengan Lena sambil terus minum dan terlihat sudah sedikit mabuk, kalau saja ia menuruti Bosnya untuk terus minum bisa-bisa mereka berdua akan terjebak disini bersama Lena atau mungkin wanita nakal lainnya.


"Hai! Keliatannya asyik banget nih ngobrolnya." Tiba-tiba Berta teman Lena menghampiri mereka.


"Hai Ta!" Balas Lena dan Rendy hanya sedikit tersenyum menanggapi Berta. "O ya Ren, kenalin ini temen baik aku Berta. Dan ini Rendy yang pernah aku ceritain ke kamu waktu itu. Dan yang disebelahnya Beni, temen Rendy." Lanjut Lena memperkenalkan mereka.


"Hai ganteng! Aku Berta." Sapa Berta dengan centil sambil mengulurkan tangannya pada Rendy.


"Hai." Balas Rendy sambil menjabat tangan Berta sekilas.


"Hai juga." Sambung Beni juga menjabat tangan Berta sekilas.


"Senang berkenalan dengan cowok-cowok ganteng seperti kalian." Ucap Berta diselingi canda tawanya.


"Bos, kamu udah banyak minum. Sebaiknya kita pulang sekarang. Udah hampir jam dua belas." Bisik Beni pada Rendy, mengingatkan sang Bosnya kalau sudah hampir tengah malam karena besok pagi Rendy ada rapat penting dengan para dewan direksi.


"Hmm." Rendy hanya sedikit mengangguk menanggapi ucapan Beni lalu melanjutkan minumnya seolah tidak peduli dengan perhatian dari Beni.


Beni memilih untuk tidak bicara lagi. Ia merasa bingung harus bagaimana membujuk Rendy untuk berhenti minum dan segera pulang karena Rendy masih saja terus minum dan sudah terlihat mabuk.


Apa aku minta tolong mbak Kirana aja ya? Dia yang udah bikin Bos galau seperti ini. Mungkin aja kalau mbak Kirana yang membujuk Bos, Bos mau dengerin.


Gumam Beni sambil berfikir.


Beni pun terpaksa harus meminta bantuan pada Kirana. Ia menelpon Kirana. Tidak peduli kalau Kirana sudah tidur atau belum. Ia hanya mengkhawatirkan Bosnya.


Kirana yang sudah tidur harus terbangun karena ponselnya yang ia letakkan disamping bantalnya terus bergetar. Ia mengambil ponselnya dan memicingkan matanya melihat siapa yang sudah mengganggu tidurnya.


"Nomer siapa ini? Gangguin orang tidur aja!" Gerutu Kirana dan mereject panggilan telepon dari Beni lalu meletalkan ponselnya kembali disamping bantalnya.


Tapi ponselnya kembali bergetar. Kali ini ada notifikasi pesan yang masuk. Kirana kembali mengambil ponselnya dan membuka pesan yang masuk lalu membacanya.


"Mbak Kirana, ini aku Beni. Tolong angkat teleponnya, ini penting!"


"Hah? Jadi ini nomer Pak Beni? Ada apa malem-malem gini telepon?" Gumam Kirana bertanya pada dirinya sendiri sambil bangkit duduk dan ponselnya kembali bergetar. Kirana segera menjawab telepon dari Beni.


"Pak Beni? Ada apa?"


...


Kirana dengan terpaksa harus datang ke Club malam. Tadi Beni sudah memesankan taksi untuknya dan Beni menunggunya didepan.


"Mbak Kirana, sekali lagi maaf udah ganggu waktunya dan terimakasih banyak udah mau dateng." Ucap Beni begitu Kirana turun dari taksi dan menghampirinya.


"Iya nggak apa-apa Pak. Sekarang dimana Mas Rendy?" Tanya Kirana yang sudah tidak canggung memanggil Rendy dengan tambahan Mas bukan Pak lagi.


Semakin malam, semakin ramai suasana di Club malam ini. Ini pertama kalinya Kirana menginjakkan kaki di Club malam. Begitu masuk, telinganya langsung berdengung karena mendengar suara musik dj yang begitu keras dan juga bau alkohol.


Beni dengan hati-hati menggiring Kirana berjalan melewati dance floor yang semakin ramai. Banyak pria dan wanita yang berjoget dan banyak pula yang mabuk. Kirana merasa cemas saat berjalan melewati lantai dansa. Ia memegang erat lengan Beni sambil menunduk mengikuti langkah Beni menuju tempat Rendy berada.


Kirana merasa penasaran dengan tempat ini. Ia pun mengangkat wajahnya dan melihat sekeliling. Ia bergidik ngeri dan langsung memalingkan wajahnya kearah lain saat melihat disudut tempat ada beberapa pasangan yang sedang bercumbu disana.


"Gila! Nggak malu apa mereka?" Gumamnya pelan merasa ngeri sekaligus jijik.


"Bos!" Seru Beni ketika sudah kembali menghampiri Rendy.


Rendy menoleh dan ia mengernyit sedikit terkejut ketika melihat Kirana yang masih sibuk mengamati sekeliling tempat itu.


Rendy berbalik dan bangkit berdiri. "Ngapain kamu kesini?" Tanya Rendy dengan keras dan tidak suka.


Bukan tidak suka dengan Kirana. Hanya saja Rendy tidak suka jika Kirana berada disini. Ditempat seperti ini. Sangat tidak cocok untuk gadis polos seperti Kirana. Karena Rendy yakin kalau Kirana adalah gadis baik-baik dan belum pernah pergi ketempat seperti ini.


"Loh? Kamu? Kamu bukannya pingsan?" Tanya Kirana dengan melebarkan kedua matanya sambil menuding Rendy.


Rendy mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan Kirana. Seketika ia menoleh dan menatap Beni yang berdiri diam sambil menaikan jari telunjuk dan jari tengahnya pada Rendy. Kirana pun ikut menoleh menatap Beni.


"Sorry Bos." ✌️


"Apa maksudmu nyuruh dia kesini Ben?!" Tanya Rendy dengan menatap tajam Beni.


"Siapa cewek ini?" Tanya Berta dengan pelan bertanya pada Lena yang juga ikut bangkit berdiri memperhatikan mereka. Lena hanya menggedikan bahunya karena juga tidak tau.


"Maaf Bos. Aku terpaksa minta mbak Kirana kesini untuk membujuk kamu supaya kamu berhenti minum dan mau pulang." Jawab Beni dengan sedikit menunduk merasa bersalah karena harus menipu Kirana agar Kirana mau datang kemari.


"Kamu!" Geram Rendy.


"Oh jadi Pak Beni bohong? Keterlaluan banget sih Pak? Tengah malem telpon dan gangguin orang lagi tidur!" Kirana pun ikut geram dibuatnya.


"Maaf mbak! Aku cuma mengkhawatirkan Bos Rendy." Ucap Beni merasa bersalah pada Kirana.


"Ben! Kamu pikir aku ini anak kecil?!" Bentak Rendy dengan sangat marah pada Beni. Kemudian Rendy menoleh menatap Kirana. "Sebaiknya kamu pulang sana!" Tegas Rendy menyuruh Kirana untuk pulang dengan wajah galaknya.


"Nggak perlu kamu suruh aku juga udah mau pulang!" Ucap Kirana dengan marah dan sangat kesal. "Pak Beni, lain kali jangan pernah lagi minta aku buat mengkhawatirkan dia! Dia seorang pimpinan, udah pasti bisa ngurus dirinya sendiri sekalipun pingsan beneran! Aku nggak peduli!" Lanjut Kirana dengan geram lalu berbalik dan pergi.


Tapi saat berjalan tiga langkah, ia berhenti merasa ragu. Ragu karena harus kembali berjalan melewati lantai dansa yang begitu ramai orang-orang berjoget tidak karuan disana.


................