Because, I Love You

Because, I Love You
#18



Rendy mengambil gelas yang masih dipegang Olivia lalu meletakkannya dimeja kembali. Ia menarik Olivia dalam dekapannya lalu mengecup puncak kepalanya.


"Sebaiknya, jangan memikirkan dulu masalah bagaimana hubungan kita kedepannya. Kita jalani aja dan aku harap, kamu selalu percaya sama aku." Ucap Rendy sambil mengusap lembut punggung Olivia.


Ting Tong Ting Tong!


Terdengar suara bell apartment berbunyi. Mereka pun mengurai pelukan mereka dan menatap kearah pintu bersamaan.


"Mungkin pesanan makanan yang kamu pesan tadi udah datang. Aku buka pintu dulu." Ucap Olivia dengan tersenyum dan bangkit berdiri namun Rendy menghentikannya.


"No! Apa kamu mau orang lain melihatmu dengan pakaian seperti ini?" Tanya Rendy dengan menatap tidak suka lalu ia bangkit dan segera berjalan menuju pintu untuk membukanya.


Olivia hanya menghela nafas dan tersenyum saja melihat Rendy.


"Permisi Mas. Saya mengantar pesanan makanan atas nama Rendy." Ucap seorang laki-laki yang usianya terlihat tidak jauh beda dengan Rendy membawa paper bag berlogo restoran ternama dikota ini.


"Ya. Saya Rendy yang memesan tadi." Ucap Rendy dengan ramah.


Laki-laki yang mengantar pesanan tersebut memberikan pesanan Rendy lalu segera pamit setelah mendapat tips dari Rendy.


Rendy menutup pintunya dan berjalan masuk kedalam. "Ayo makan dulu." Ajak Rendy sambil menunjukkan paper bag yang dibawanya pada Olivia.


"Oke." Jawab Olivia dengan tersenyum lalu melangkah menghampiri Rendy dimeja makan. Mereka pun makan melam bersama.


Setelah makan malam, Rendy berpamitan untuk segera pulang karena ia harus mempersiapkan untuk keberangkatanannya besok pagi ke Surabaya mengurus masalah pada cabang perusahaannya disana.


"Aku pulang dulu ya?" Pamit Rendy sambil mengusap sisi wajah Olivia yang kembali terlihat kesal.


Olivia hanya diam bersedekap dan mendengus kesal. Baru sebentar bertemu sudah mau ditinggal.


"Honey, kenapa cemberut sih? Beri aku semangat dong." Ucap Rendy lalu mengecup sekilas bibir merah Olivia.


"Ya sudah sana pulang." Ucap Olivia dengan acuh.


"Kok gitu sih?" Tanya Rendy yang menjadi berat untuk pergi meninggalkan sang kekasih hati.


"Kamu yang gitu. Baru juga sebentar ketemu, sudah mau ditinggal. Kenapa harus buru-buru sih?" Gerutu Olivia yang masih menginginkan Rendy lebih lama lagi bersamanya.


Rendy menghela nafasnya lalu tersenyum dan mencium kembali bibir merah Olivia. Tanpa ada penolakan, Olivia langsung membalas ciuman sang kekasih dengan mengalungkan kedua tangannya dileher Rendy.


"Emmhh.." Olivia tak tahan untuk tidak mendesah disela-sela ciumanya ketika merasakan tangan Rendy meremas pantat sintalnya dan ciuamannya turun ke leher jenjangnya yang harum.


Rendy mengecup basah leher Olivia dan membuat Olivia terus mendesah sambil memeluk kepala dan meremas rambut bagian belakang milik Rendy.


Ciuman mereka semakin panas dan Olivia mendorong Rendy hingga terduduk disofa lalu ia duduk dipangkuan Rendy.


Ciuman Rendy kembali turun keleher jenjang Olivia dan menjelajah disana dengan sebelah tangannya bermain didada Olivia membuat Olivia semakin tidak tahan dengan sentuhan Rendy.


Olivia menarik tali lingerienya hingga kain tipis yang menutupi tubuh bagian atasnya tadi terperosot turun memperlihatkan lebih jelas lagi tubuh molek bagian atasnya yang begitu menggoda.


Olivia menatap sayu Rendy lalu memeluk kembali lehernya dan menciumnya dalam.


Tangan Olivia juga tidak tinggal diam Ia mengusap dada bidang Rendy lalu melepas kancing kemeja yang dipakai Rendy hingga terbuka memperlihatkan dadanya yang bidang dan perut kotak-kotaknya yang membuat Olivia selalu menginginkannya selama ini.


Tubuh Rendy yang tampak sempurna dimatanya, memang jauh jika dibandingkan dengan Andreas. Meski Andreas juga memiliki tubuh yang atletis, tapi melihat tubuh Rendy yang jauh lebih kekar membuat Olivia sering merasa frustasi karena lagi-lagi Rendy menolaknya untuk berhubungan badan dan harus menyudahi cumbuannya.


"I'am sorry honey. Jangan diteruskan atau aku akan benar-benar hilang kendali." Ucap Rendy dengan suara seraknya menatap lekat Olivia.


Olivia terlihat begitu kesal karena lagi-lagi Rendy menolaknya. "Kalau begitu lakukan aja. Aku sama sekali nggak keberatan." Ucap Olivia yang kembali ingin mencium Rendy, tapi Rendy memalingkan wajahnya untuk menghindari ciuman Olivia hingga bibir merah Olivia mendarat dipipi Rendy.


"Oliv, aku harap kamu masih menghargai prinsipku selama ini." Ucap Rendy dengan serius menatap Olivia.


Olivia mendengus kesal lalu ia bangkit turun dari pangkuan Rendy tanpa bicara, lalu membenahi kembali lingerienya dan merapikan rambut panjangnya yang sedikit berantakan.


Sangat munafiq kalau Rendy tidak menginginkan melakukan lebih jauh lagi bersama Olivia. Tapi, ia memiliki prinsip yang selama ini selalu ia jaga dengan baik. Ia tidak akan pernah melakukan hubungan badan kepada kekasihnya sebelum menikahinya.


Iya kalau memang pada akhirnya mereka benar-benar berjodoh dan menikah. Kalau tidak? Sama saja Rendy akan merasa sangat bersalah seumur hidupnya karena telah melakukan hubungan badan dengan wanita yang bukan jodohnya.


Ia juga selalu mengingat pesan dari Mamanya, wanita pertama yang dicintainya didunia ini dan begitu ia hormati. Kalau sampai ia berbuat macam-macam dengan wanita diluar sana, itu berarti ia tidak lagi menghargai dan menghormari Mamanya yang juga sebagai seorang wanita.


"Jangan marah. Akan ada waktunya nanti saat kita udah nikah." Ucap Rendy sambil bangkit berdiri dan memeluk Olivia.


"Aku juga nggak yakin kita bakal nikah." Celetuk Olivia sambil melepaskan pelukan Rendy.


"Kok kamu ngomongnya gitu sih? Perkataan adalah doa." Ucap Rendy dengan mengernyit menatap Olivia.


Olivia lalu ia menghela nafasnya karena tidak ingin lagi berdebat dengan Rendy. "Ya sudah, kalau kamu mau pulang silahkan. Aku capek, mau istirahat. Kamu hati-hati dijalan ya. Jangan lupa kabari aku." Lanjut Olivia dengan sedikit tersenyum sambil mengancingkan kembali kancing kemeja Rendy yang telah ia buka lalu mengusap-usap bahu Rendy seolah menyingkirkan debu yang menempel disana.


"It's OK. Aku pulang dulu." Pamit Rendy lalu mengecup kening Olivia penuh kasih sayang.


Olivia hanya mengangguk dan tersenyum kecil. Rendy berbalik dan segera pergi meninggalkan gedung apartment tempat tinggal Olivia.


................