Because, I Love You

Because, I Love You
#60



"Sialan! Awas aja kamu Kirana!" Umpat Siska dengan geram karena Rendy memarahinya lagi hanya karena nama Kirana.


Siska kembali ke mejanya dan menambahkan nama Kirana sesuai permintaan Rendy.


Sore harinya, semua karyawan Pradipta Grup berhamburan keluar untuk pulang.


Kirana baru saja menyelesaikan pekerjaannya dan menatap mejanya.


"Aku duluan ya! Udah ditungguin nih." Seru Yolanda sambil meraih tasnya.


"Hati-hati ya Yol." Ucap Kirana pada Yolanda.


"Jangan lupa beli pengaman!" Seru Rossa dengan keras dan Yolanda langsung melototinya lalu segera beranjak pergi.


Rossa pun tertawa terbahak-bahak. sedangkan Kirana hanya menyunggingkan sedikit senyumnya sambil menggelengkan kepalanya.


"Yuk Ki." Ajak Rossa pada Kirana sambil berjalan.


"Yuk." Kirana bangkit berdiri sambil meraih tasnya tapi saat berjalan, ia merasakan ponselnya bergetar didalam tasnya.


"Sebentar." Ucapnya pada Rossa lalu berhenti untuk merogoh ponselnya didalam tas dan melihat siapa yang menelponnya.


"Ecieee..kak Harismu telepon tuh." Pekik Rossa menggoda Kirana.


"Apaan sih kamu Ros." Ucap Kirana dengan terkekeh.


"Udah buruan angkat!" Ucap Rossa dan Kirana segera mengangkat telepon dari Haris sambil berjalan.


"Ya kak?"


"Kirana, kamu nggak lembur lagi kan?"


"Enggak kok. Nih aku baru jalan mau keluar. Kak Haris udah nungguin ya?" Tanya Kirana sambil masuk kedalam lift dan sinyal langsung hilang.


"Hallo Ki? Kirana?"


"Iya kak? Barusan keluar dari lift. Didalam nggak ada sinyal." Jawab Kirana begitu keluar dari lift.


"Oh, ya udah. Aku udah nunggu kamu didepan."


Ucap Haris.


"Ya udah kak, aku baru jalan ke..'BRUK!'"


"Aawh!"


Tiba-tiba ponsel Kirana terjatuh ketika tidak sengaja menabrak seseorang yang berjalan didepannya karena kakinya tersandung karpet dan Kirana juga hampir terjatuh kalau saja orang yang ditabraknya tidak sigap menangkapnya.


"Oh my God!" Pekik Rossa sambil melebarkan kedua matanya saat melihat Kirana yang menubruk orang yang ternayat Rendy sampai hampir terjatuh dan ditangkap oleh sang Presdir tampan yang menjadi idolanya.


Lagi-lagi Kirana menabrak Rendy dan hampir terjatuh kalau saja Rendy tidak langsung meraihnya dan menariknya hingga Kirana kembali jatuh dalam dekapan Rendy.


Tatapan mereka bertemu dan mereka terlihat sangat dekat hampir tidak ada jarak. Membuat semua karyawan yang sedang berjalan pun menghentikan langkahnya, melihat mereka dengan terbelalak. Lalu saling berbisik membicarakan Kirana.


"Ehem!" Beni sengaja berdehem dengan keras dan seketika Kirana melepaskan tangannya yang memegang lengan Rendy.


Rendy masih diam dan memperhatikan Kirana yang langsung mengalihkan pandangannya lalu mengambil ponselnya yang jatuh membentur lantai cukup keras.


"Yaaah pecah." Gumamnya dengan wajah sedih karena layar ponselnya pecah dan mati.


"Makanya kalo jalan liat-liat!" Ucap Rendy dengan ketus lalu kembali melanjutkan langkahnya keluar menuju parkiran mobilnya terlihat cuek dan tidak peduli dengan Kirana.


"Ki, kamu nggak apa-apa kan?" Tanya Rossa dengan perhatian.


"Aku nggak apa-apa kok Ros. Tapi HP aku rusak nih." Jawab Kirana mengeluh pada Rossa dengan wajah sedihnya.


"Makanya kalo jalan pake mata!"


"Demen banget sih nabrak Pak Rendy?!"


"Kayaknya sengaja tuh. Caper sama Pak Rendy!"


Kirana hanya diam dan terus menatap ponselnya tidak ingin mendengarkan ucapan mereka dan berusaha untuk tetap tenang.


"Ki, nggak usah dengerin mereka. Meraka cuma iri aja nggak bisa peluk Pak Rendy. Aku juga iri sih sebenernya. Kalo aja tadi aku yang nabrak Pak Rendy, bakal kayak kamu tadi nggak ya? Uuuh..gimana rasanya dipeluk Pak Rendy?" Tanya Rossa yang berusaha ingin menghibur Kirana yang terlihat muram dan sedih.


"Idih. Kamu ini apa-apa sih Ros. Aku malah lebih milih jatuh aja dari pada dipeluk sama dia." Jawab Kirana dengan kesal sekaligus merasa sedih karena ponselnya rusak.


"Kirana?!" Seru Haris yang tiba-tiba berlari kearahnya dengan wajah yang terlihat panik karena mengkhawatirkan Kirana.


"Kak Haris?"


"Aku pikir kamu.." Ucap Haris lalu tidak melanjutkan kalimatnya dan pandangannya tertuju pada ponsel Kirana.


"HP aku tadi jatuh dan rusak kak." Ucap Kirana dengan lemah dan wajah bersedih.


"Oh syukurlah kalo kamu baik-baik aja." Ucap Haris dengan menghela nafas lega.


"Kirana, aku duluan aja ya. Ehm, Haris aku duluan ya. Daaah!" Sahut Rossa dengan tersenyum lebar sambil melambaikan tangannya dan segera pergi.


"Ya udah ayo kita pulang. Masalah HP kamu yang rusak, kita pikirkan nanti aja." Ucap Haris sambil mengusap puncak kepala Kirana dengan sayang.


Kirana pun mengangguk lalu mereka berjalan keluar dan menuju motor Haris. Kemudian segera pergi.


...


"Bos, apa perlu aku anter kamu ke dokter?" Tanya Beni yang memperhatikan Rendy semakin pucat dari kaca spion didepannya.


"Nggak perlu. Anter aku ke apartment aja. Aku mau istirahat disana." Jawab Rendy sambil menyandarkan punggungnya kebelakang dan memijit pelipisnya karena kepalanya semakin terasa sangat pusing.


Ia memilih beristirahat di apartmentnya dari pada dirumah. Ia hanya tidak ingin membuat Bi Sumi khawatir dan membuat repot kalau Bi Sumi tau dirinya terlihat pucat karena merasa sedang tidak enak badan.


"Oke Bos." Jawab Beni menuruti perintah sang Bos.


Sesampainya di apartment, Rendy langsung menjatuhkan tubuh tingginya diranjang king sizenya lalu ia memejamkan matanya dan tertidur. Bahkan ia tidak melepas jas dan dasinya juga sepatunya.


Beni yang sejak tadi pagi mencemaskan keadaan sang Bos, ia masuk kedalam kamar Bosnya hanya ingin mengecek kondisinya.


Beni menempelkan punggung tangannya dikening Rendy dan ia sedikit terkejut karena suhu tubuh Rendy sangat panas. "Astaga! Bos demam." Gumamnya lalu ia keluar dari kamar Rendy merasa bingung.


Beni ingin menghubungi dokter, tapi tadi Rendy mengatakan tidak perlu. Beni pun jadi kepikiran dengan Kirana.


"Apa aku minta tolong mbak Kirana lagi aja ya?" Tanyanya dengan dirinya sendiri.


"Tapi, apa dia mau dateng?" Lanjutnya merasa tidak yakin karena semalam ia sudah membuat Kirana kecewa sudah menipunya.


Tapi Beni tidak punya pilihan lain lagi selain meminta Kirana datang. Beni pun segera menghubungi Kirana. Tapi nomor Kirana tidak aktif.


"Sial! HPnya tadi kan rusak?" Gumam Beni yang teringat kalau ponsel Kirana tadi terjatuh dan pecah.


Beni tidak punya waktu lagi. Ia pergi dan ingin menemui Kirana langsung kerumahnya.


Kirana baru saja mandi dan berganti pakaian. Ia mengambil ponselnya yang sudah rusak dan terus menatapnya dengan wajah sedih. "Hufff! Gimana aku bisa telepon ibu kalo HPnya mati?" Gumamnya dengan menghembuskan nafas beratnya.


'Tok Tok Tok!'


Kirana meletakkan ponselnya kembali diatas meja belajarnya lalu keluar dari kamar saat mendengar ada yang mengetuk pintu.


'Ceklek!'


"Pak Beni?" Pekiknya dengan melebarkan kedua matanya.


"Hallo mbak Kirana." Balas Beni dengan sedikit tersenyum menyapa Kirana.


Kirana pun melihat kebelakang Beni dan tidak melihat siapa-siapa selain hanya Beni seorang. Beni menoleh kebelakang lalu menatap Kirana kembali. "Aku sendirian mbak. Apa mbak Kirana berharap aku bersama seseorang?" Tanya Beni yang sepertinya mengerti maksud dari pandangan Kirana yang mencari seseorang.


"Apaan sih Pak!" Ucap Kirana menyangkal dengan mencebikkan bibirnya. "Pak Beni ngapain kesini? Pasti disuruh Bosnya ya?" Lanjut Kirana bertanya dengan sinis.


................