
Rendy tidak menjawab pertanyaan Beni karena kapalanya terasa sangat pusing. Ia pun masuk kedalam mobilnya disusul Beni yang masuk dibagian kemudi dan menyalakan mesin mobilnya.
Ia melirik Rendy melalui kaca spion didepannya. Sepertinya Rendy terlibat sangat mabuk karena tadi terlalu banyak minum. Tapi Rendy tetap berusaha menjaga kesadarannya. Mungkin hanya merasakan pusing dan ingin tidur.
Beni pun melajukan mobilnya meninggalkan parkiran Club malam tersebut dan mengantar Rendy pulang.
Setelah mobil melaju, tak lama tubuh tinggi Rendy ambruk kesamping dan Rendy tertidur. Entah tertidur atau pingsan karena kebanyakan minum? Beni tidak tau pasti. Karena ia baru sekali ini menemani Bosnya minum dan Beni merasa kagum dengan Rendy yang ternyata kuat minum.
"Ki..." Gumam Rendy dengan pelan tapi Beni masih bisa mendengarnya.
Beni melirik Rendy kembali melalui kaca spion sambil memposisikan arah kaca spionnya mengarah kepada Rendy. Ia melebarkan pendengarannya untuk mendengarkan gumaman Bosnya kembali.
"Kirana..."
"Ma af..."
Beni mengernyit ketika mendengar dengan jelas apa yang diucapkan Rendy barusan. "Kirana? Barusan Bos panggil mbak Kirana kan?" Gumamnya bertanya pada diri sendiri.
Beni pun semakin yakin kalau Bosnya ini sudah benar-benar jatuh cinta pada Kirana. Hanya saja, Bosnya masih belum menyadarinya karena terlalu sibuk dengan pekerjaannya ditambah harus mengurusi permasalahannya dengan Olivia.
Saat mabuk begini, malah terus saja menyebut nama Kirana.
"Mbak Kirana?" Gumamnya saat melihat sosok Kirana yang berjalan sendirian di trotoar sambil memeluk lengannya sendiri seperti orang yang sedang kedinginan.
Beni menepikan mobilnya dan berhenti lalu keluar menghampiri Kirana. "Mbak Kirana!" Serunya dan Kirana terperanjat kaget lalu berhenti dan menoleh.
"Pak Beni?" Balas Kirana menyapa Beni lalu melirik kearah mobil yang dibawa Beni.
"Mbak, sebaiknya ayo biar aku anter mbak Kirana pulang. Bahaya jalan sendirian disini mbak." Ucap Beni penuh perhatian juga merasa cemas kalau sampai terjadi apa-apa dengan pacar baru Bosnya ini.
"Nggak usah Pak, makasih." Ucap Kirana sambil kembali melirik kearah mobil merasa cemas kalau sampai Rendy keluar dari mobil dan mendekatinya. Ia sedang tidak ingin melihat Rendy yang sudah bersikap sangat kurang ajar kepadanya.
"Mbak Kirana, kalau sampai terjadi sesuatu sama kamu, Bos Rendy pasti akan memarahiku. Ayo mbak, biar aku anter." Ucap Beni yang terus membujuk Kirana.
"Apa dia yang udah nyuruh Pak Beni?" Tanya Kirana dengan ketus.
"Bukan mbak. Ini murni inisiatifku. Bos Rendy tertidur dimobil." Jawab Beni apa adanya. "Aku pastikan, Bos nggak akan terbangun dan nggak akan tau kalau aku nganter kamu karena dia banyak minum dan mabuk." Lanjut Beni. "Aku janji nggak akan bilang ke Bos!" Imbuhnya untuk membuat Kirana mau diantar karena ia benar-benar khawatir kalau Kirana berjalan sendiri ditempat sepi seperti ini dan sering sekali preman muncul untuk mengganggu.
"Wah wah, ada yang lagi janjian disini rupanya."
Baru saja Beni mengkhawatirkan Kirana, tiba-tiba sekelompok preman muncul menghampirinya.
Kirana melebarkan kedua matanya merasa terkejut dan reflek dia menarik lengan Beni lalu berdiri dibelakang Beni sambil mencengkeram lengannya karena ketakutan sekaligus panik. "Mbak Kirana, jangan kenceng-kenceng pegangnya. mbak. Sakit." Ucap Beni sedikir berbisik pada Kirana dan seketika Kirana melonggarkan cengkramannya.
"Ma maaf Pak." Ucapnya dengan tergagap dan panik.
"Ayo mbak, kita masuk ke mobil!" Ajak Beni dan Kirana langsung mengangguk.
Saat Beni berjalan melewati para preman, salah satu preman yang berdiri didepan mencekal tangan Kirana.
"Biar cewek cantik ini ikut kami." Ucap preman tersebut dengan menyeringai.
Kirana langsung menghempaskan tangan preman tersebut dan Beni menarik Kirana dengan sigap lalu berdiri dihadapan preman tersebut untuk menghalanginya menjangkau Kirana.
"Maaf Mas. Tolong bersikap sopanlah sedikit." Ucap Beni dengan menatap lurus preman itu.
Beni menyeringai. "Ini jalan umum. Dan nggak seharusnya aku bayar denda ke kalian." Ucap Beni dengan santai lalu sedikit menoleh kebelakang. "Mbak, sebaiknya mbak Kirana masuk duluan ke mobil." Ucap Beni menyuruh Kirana untuk masuk kedalam mobil dan Kirana hanya mengangguk lalu melepas tangannya yang memegang erat lengan Beni.
Perlahan Kirana berjalan mundur lalu berbalik dan berjalan cepat ke mobil. Tapi gerakannya kalah cepat dengan dua preman yang tiba-tiba menghadangnya dengan tertawa.
"Minggir kalian!" Seru Kirana dengan wajah paniknya.
Beni menoleh dan langsung melompat menendang kedua preman yang ingin menyentuh Kirana.
"Aahh!" Teriak Kirana sambil mengangkat kedua tangannya menutupi kepalanya dan berjongkok.
"Kurang ajar!" Geram preman yang tadi sambil membanting rokok yang baru saja dihisapnya. "Hajar dia!" Lanjutnya memberi perintah kepada teman-teman premannya dan mereka langsung mengepung Beni dan mengeroyoknya.
Beni hanya menyeringai dan mengeluarkan kembali kehebatannya untuk memberi pelajaran kepada sekelompok preman yang suka menghadang orang-orang dan memalak didaerah ini. Tak hanya memalak. Mereka juga sering melecehkan perempuan yang terlihat melewati tempat ini.
Beruntung, Beni tepat waktu melewati tempat ini dan melihat Kirana sebelum para preman ini lebih dulu melihatnya. Kalau tidak, mungkin saja Kirana sudah dibawa paksa oleh mereka dan entah apa yang akan terjadi setelahnya.
Jumlah preman yang mengeroyok Beni lebih banyak dari sekelompok laki-laki yang dihajarnya tadi saat di Club. Beni merasa kualahan dan sepertinya ia butuh bantuan. Tapi ia tidak tau harus minta tolong kepada siapa.
'BUGH!'
Ada yang memukul Beni dari belakang hingga Beni hampir tersungkur dan Beni juga diserang dari depan. Beni menghindar tapi tiba-tiba ia mendapat serangan lagi dari depan dan terkena tendangan diperutnya hingga melangkah mundur lalu diserang lagi dari belakang.
Kirana menurunkan tangannya dan bangkit berdiri. Ia semakin takut, panik, cemas dan khawatir melihat Beni yang dikeroyok banyak preman seperti itu.
Ia teringat saat Beni memberitahunya kalau Rendy tertidur dimobil. Kirana pun berlari kesisi mobil dan membuka pintu mobil bagian belakang lalu membangunkan Rendy.
"Pak Rendy! Bangun Pak!" Seru Kirana dengan panik sambil menepuk-nepuk lengan Rendy membangunkannya. "Hufff! Kenapa nggak bangun sih?" Gerutu Kirana semakin panik. "Mas! Mas Rendy bangun dong Mas!" Kirana pun merubah panggilannya dari Pak menjadi Mas untuk membangunkan Rendy sambil menarik-narik tangan Rendy dan Rendy pun membuka sedikit matanya sambil sedikit mengangkat kepalanya melihat kearah Kirana tapi ia tidak bisa melihat dengan jelas wajah Kirana karena ia masih mabuk dan merasa sangat pusing.
Kirana sedikit lega saat melihat Rendy sudah terbangun. Tapi, Rendy kemudian menjatuhkan kepalanya lagi dan memejamkan matanya. "Eeeh Mas! Kenapa malah tidur lagi sih?!" Pekik Kirana yang kembali panik.
"Hey, ayo ikut!" Tiba-tiba ada preman yang tadi saat pertama mencekalnya menarik tangan Kirana kembali dari belakang dan menyeretnya dengan paksa.
"Eeeh lepasin! Mas Rendy tolong aku!" Teriak Kirana sambil memberontak dan memukul-mukul tangan si preman yang memegangnya erat.
"Diam!" Bentak si preman tersebut.
"Toloooong!" Teriak Kirana dengan keras meminta tolong.
Beni tidak bisa menolong Kirana karena ia sedang berusaha melawan para preman seorang diri dan sulit untuk menghampiri Kirana. Para preman tersebut sengaja mengepung dan mengeroyok Beni tidak membiarkan Beni lolos untuk menolong Kirana.
"Percuma kamu teriak sekeras apapun! Nggak akan ada orang yang nolongin kamu!" Ucap preman yang menyeret Kirana lalu tertawa.
"Lepasin!! Tolooooong!" Kirana terus memberontak dan berteriak minta tolong.
Si preman yang menyeret Kirana hanya tertawa mendengar teriakan Kirana. "Simpan suaramu ini untuk berteriak nanti sayang! Hahaha!" Ucap si preman tersebut lalu tertawa dengan bangga.
'BRUKKK!'
"Aahk!" Pekik si preman saat tiba-tiba ia jatuh tersungkur karena marasakan ada yang menendangnya dengan keras dari belakang.
................