Because, I Love You

Because, I Love You
#BILYS3 217



POV


Kehidupan Ammar masih saja di penuhi dengan berbagai penyesalan dan kenangan masa lalu nya bersama Fanny, meski kini statusnya bukan lagi sebagai single daddy. Melainkan suami dari Hana, hasil perjodohan yang terpaksa dia jalani dan terima.


"Good morning Honey," Sapa Hana setelah melihat Ammar menuju meja makan.


"Hem, pagi." Balasnya dengan cuek. Bagi Hana sikap Ammar yang demikian sudah biasa dia dapati.


"Nak, ayo sarapan dulu." Titah mama Ammar kemudian.


"Dimana Lucky, Ma?"


"Ehm, pagi sekali tadi dia sudah berpamitan untuk pergi ke sekolahnya."


"Apa? Huhft, lagi-lagi dia melewati sarapan paginya." Jawab Ammar dengan helaan nafas panjang.


"Ehm, tenang saja tuan. Aku akan membawakannya sarapan ke sekolah setelah ini." Ucap Hana mencoba menarik perhatian dengan senyuman genit.


"Ehm, tidak perlu Hana. Itu akan membuat Lucky semakin menjauh darimu,"


"Ma, kenapa sih mama selalu membiarkan sikap Lucky yang seperti itu. Aku kini ibu nya, Ma. Dia sudah bukan anak kecil lagi, mau sampai kapan dong tidak menganggapku dirumah ini?"


"Sabar lah, Lucky hanya butuh waktu saja. Dia belum dewasa, sejak awal kau tahu bagaimana sifatnya."


"Tapi, Ma.."


"Hana, sudah lah. Ambilkan sarapan ku,"


"E,eh.. Baik," Hana menghentikan aksi protesnya setelah Ammar angkat bicara. Selama pernikahan, sikap diantara mereka bagaikan posisi atasan dan bawahannya dalam suatu perusahaan.


Walau Hana mulai geram ingin menuntutnya dengan banyak hal, tapi selama ini dia menyadari jika perjodohan ini terpaksa Ammar jalani demi membalas budi kebaikan orang tua angkatnya. Yakni, kakek dan nenek kandung Lucky yang kini sudah mengetahui keberadaan Lucky. Dan Ammar berhasil membuat mereka menerima keberadaan Lucky.


Sungguh suatu keberuntungan, walau demikian orang tua angkat Ammar begitu sangat menyayangi Ammar dan segala aset perusahaan yang di pimpinnya diatas namakan Ammar. Sementara Lucky mempunyai 50% saham di dalamnya, entah apa yang membuat mereka begitu menyayangi Ammar.


Setelah pernikahannya dengan Hana, dia semakin menjadi sosok yang terkenal dan di kenal di kalangan orang-orang terhebat dalam perusahaan manapun. Dengan kemampuan Ammar yang tak terduga, sejak dia mengambil alih memegang penuh perusahaan milik orang tua angkatnya. Seolah Tuhan masih saja memperlakukan Ammar dengan baik, perusahaan mereka maju pesat dan beberapa kali meraih proyek terbesar di dunia.


"Aku ke kantor dulu ya," Ucap Ammar ketika hendak pergi ke kantor.


"Honey, malam nanti kita dinner diluar yuk."


"Dinner? Bukannya kau sibuk di kantor mu?"


"Iya sih, tapi aku sebagai managernya disini. Memangnya siapa yang akan melarangku untuk pulang lebih cepat, hem?"


"Hah, kau selalu begitu."


"Kenapa? Kau menolak untuk dinner dengan istrimu yang cantik ini, tuan?"


"Ayo lah Hana, jangan memulainya. Aku malas berdebat,"


"Paling tidak kau peka sedikit dong, kita sudah bertahun-tahun menikah tapi sampai detik ini aku hanya sebagai penjaga mu saja. Sedikitpun aku tidak pernah di sentuh oleh mu, Ammar."


"Kau sudah selesai bicara? Jika begitu aku akan berangkat ke kantor."


"Tuan, Kau belum menjawabnya. Bagaimana dengan dinner kita malam nanti?"


"Terserah kau saja." Jawab Ammar sembari memasuki mobilnya tanpa menoleh lagi ke belakang.


"Oh Tuhan, sampai kapan? Bahkan hingga kini aku belum mendapatkan hak ku sebagai seorang istri. Apakah ini tidak keterlaluan?" Hana menggerutu sendiri kemudian memasuki mobil pribadinya.


Di sekolah Lucky...


Dia tumbuh menjadi sosok lelaki remaja yang begitu tampan, gagah, jenius, pintar, cuek dan dingin. Namun dia selalu di kelilingi oleh para cewek cantik juga pintar di sekolah nya. Dia menempuh pendidikan SMA nya di sekolah elit dan terbaik di luar negeri tempatnya tinggal, bahkan dia sudah berhasil meraih banyak medali dan penghargaan di setiap perlombaan yang dia ikuti.


Bahkan tidak hanya di kalangan para murid perempuan saja yang mengejarnya, para murid laki-laki pun mendambakannya. Terkadang itu membuatnya kesal dan ingin menegur sikap mereka yang begitu genit padanya.


"Lucky, kamu gak capek nih selalu sarapan pagi di kantin sekolah kita. Hanya dengan sepotong roti tawar dan sebotol air mineral saja?" Sapa Thomas. Sahabatnya sejak dia menjalani kehidupannya di luar negeri selama ini.


"Yah, mau bagaimana lagi."


"Haha, luar biasa. Walau begitu, kau masih tetap gagah. Lihat tuh, para siswi di depan sana. Mereka berduyun-duyun menatapmu, kau selalu membuat suasana gusar setiap kali duduk di suatu tempat dimana pun itu."


"Hem, biarkan saja. Itu urusan mereka, ayo kita ke kelas." Ajaknya pada Thomas dan beranjak bangun dari duduknya.


"Lucky, ayo lah Man. Sekali saja, kau gubris salah satu dari mereka. Mereka itu cewek-cewek paling cantik dan pintar di sekolah kita ini, masa gak ada satupun yang nyangkut di hatimu."


"Thomas, berapa kali aku memberikan jawaban yang sama padamu? Aku tidak tertarik untuk berpacaran dengan para cewek disini." Jawab Lucky dengan suara khasnya, lembut dan penuh santun. Itu yang membuatnya begitu di gemari para siswi di sekolahnya.


"Kenapa? Rindu Indonesia? Hihi.."


Langkah kaki Lucky terhenti, dia menoleh pada Thomas dan melempar senyuman manisnya. Itu yang selalu dia lakukan ketika Thomas memberinya pertanyaan yang sama sebelumnya.


"Hallo, Lucky. Bisa bicara sebentar?"


Tiba-tiba datang seorang siswi yang di kenal tercantik dan paling jenius di sekolah ini, dia berbeda kelas dengan Lucky. Erin beauty, begitu di panggilnya. Parasnya selalu ceria dan energik, murah senyum namun terkadang sangat galak. Banyak para siswa dan siswi yang menjodohkannya dengan Lucky, namun tak sedikit juga diantara mereka yang iri dan berniat membuat membuat kegaduhan diantara mereka berdua. Namun sayang, itu tidak pernah berhasil.


"Wow, kayaknya aku harus pergi nih." Ucap Thomas mundur satu langkah lalu pergi melewati mereka begitu saja.


"Ada apa, Beauty?" Tanya Lucky dengan lembut.


"Malam nanti aku mendapat undangan pesta, bisakah kau menemaniku sebagai pasangan?"


"Mohon maafkan aku, sepertinya aku tidak bisa. Sebaiknya kau mengajak yang lain saja, terimakasih sebelumnya." Jawab Lucky membungkukkan tubuhnya setengah dengan santun.


"Lucky, ayolah. Pliss, aku tidak bisa mengajak yang lain. Aku tidak percaya dengan sikap baik mereka, mereka pasti hanya ingin mengambil kesempatan dalam kesempitan." Bantah Erin mencoba memaksanya.


"Maafkan aku, Beauty. Aku tidak bisa, sangat di sayangkan. Aku pun tidak menyukai kebisingan dalam pesta, maafkan aku."


Lucky kemudian pergi melewati Erin yang masih berdiri menatapnya penuh harap, tanpa memikirkannya lagi Lucky pergi begitu saja. Meski Erin terus menatapnya, Lucky terus melangkahkan kakinya dengan cepat menuju kelas.


"Huh, dia menyebalkan sekali. Tapi dia juga tampan sekali, ah.. Bagaimana aku bisa mencuri perhatiannya? Aku yakin. Di balik sikapnya yang selalu santai dan juga santun, dia memiliki sisi yang lemah. Aku akan mencari tahu itu," Ucap Erin penuh keyakinan.


Malam pun tiba, seperti dugaan Hana. Ammar tak kunjung menghubunginya untuk memberikan jawaban menemaninya dinner diluar malam ini.


Hana benar-benar kesal dan tidak bisa lagi mengontrol dirinya, dia bergegas pulang dari kantor dan hendak menuju kantor Ammar. Tidak peduli setelah ini Ammar akan semakin kesal dan bersikap dingin padanya, membuatnya malu sekalipun di depan semua orang kantor, Hana tidak peduli hal itu.


"Selamat sore, Nyonya Hana. Ada yang bisa saya bantu?"


Sapa seorang laki-laki dengan sopan ketika Hana sampai di ruangan Ammar, laki-laki tersebut di ketahuinya sebagai sekretaris Ammar.


"Hem, sore. Tuan mu ada di dalam bukan?"


"Mohon maaf, Nyonya. Tuan sudah berpesan untuk tidak di ganggu dulu sore ini, karena ada sedikit pekerjaan yang harus selesaikannya sore ini juga."


Hana menarik nafasnya dalam-dalam, dia pun sudah menduganya. Ini bukan hal yang pertama yang pernah Ammar lakukan ketika diketahuinya Hana datang untuk menemuinya di kantornya.


Dengan sikap angkuh Hana menerobos masuk, mengabaikan sekretaris Ammar yang menahannya. Dia terus berjalan dan membukan pintu ruangan pribadi Ammar tanpa mengetuknya lebih dulu.


Hana semakin geram setelah tiba di dalam, dilihatnya Ammar sedang berkutat dengan laptopnya. Tanpa ekspresi apapun menyambut kedatangan Hana.


"Tuan, apa kau sungguh akan selalu begini?" Hana mulai menegurnya dengan nada sedikit lantang.


"Apa lagi, Hana? Maafkan aku, tapi aku sungguh sibuk." Balas Ammar dengan tetap fokus pada layar laptop di depannya.


Oh my God. Bahkan ketika dia sedang sibuk, dia tetap keren dan tampan sekali dengan kaca mata itu. Tak peduli sikapnya selalu cuek dan mengabaikan kedatangan ku kali ini. Uugh, aku tetap ingin marah. Tapi dia sungguh menggoda, tahu gak siih...


Bathin Hana bergumam sebelum dia melanjutkan kekesalannya lagi.


"Tuan, lihat ku doong. Apa kau ingin aku berteriak saja, hah?"


Ammar menarik nafasnya dalam-dalam lalu membuka kaca mata minus yang sejak tadi di kenakannya.


"Kau tahu ruangan ini kedap suara, Hana. Kau hanya akan menyakiti dirimu sendiri dengan menghabiskan suaramu yang indah itu."


"Aku tidak peduli!!!" Ancam Hana.


"Lalu apa mau mu? Kau sudah makan malam?" Ammar kembali bertanya, berusaha menahan diri untuk tidak menyakiti Hana dengan sikap dinginnya.


"Kenapa? Kau masih peduli aku makan atau tidak, ku pikir kau justru akan senang jika aku mati dengan cepat."


"Hana, apa yang kau bicarakan?"


Hana menatapnya dengan tajam dan melangkah maju mendekatinya yang saat ini duduk di kursi kebanggaannya sebagai CEO di perusahaan megahnya.


Lalu Hana merangkul manja pada leher Ammar, hendak memberikannya satu kecupan. Namun Ammar perlahan menepisnya dengan lembut.


"Ehm, Hana. Aku masih penuh dengan keringat, aku belum mandi."


"Aku tidak peduli, bagiku.. Suami ku ini tetap wangi dan tampan." Jawab Hana lalu mengecup bibir Ammar dengan paksa.


"Ayo lah, Hana. Ini di kantor, jaga sikapmu."


"Memangnya kenapa? Kita ini suami istri, bahkan seluruh dunia pun sudah tahu bukan? Bahkan dirumah saja kau tetap memintaku menjaga sikap."


"Hana, berulang kali aku mengatakan jika aku..."


"Terpaksa menjalani perjodohan ini karena kau ingin membalas budi,"


Ammar terdiam setelah mendengar ucapan Hana dengan sedikit cetus.


"Sampi kapan, tuan? Apa kau sungguh hanya kan menganggapku patung dalan rumah tangga kita hah? Aku berhak menuntut kewajiban mu sebagai suamiku."


"Maafkan aku, Hana. Aku telah menyakitimu dalam hubungan ini, tapi sungguh aku sangat berterimakasih atas kesabaran mu selama ini. Kau berhak bahagia, akupun sudah pernah memberimu penawaran bukan? Kau boleh menjalin hubungan dengan laki-laki manapun untuk memuaskan hatimu, yang akan mencintaimu, kau bebas walau dalam ikatan pernikahan sebagai istri sah ku."


Plak!!!


Kini Hana kembali memberikan sebuah tamparan keras di pipi Ammar setelah sebelumnya dia melalukannya untuk yang pertama kalinya. Dia tidak lagi mampu menahan amarah nya setiap kali Ammar berkata demikian. Ammar diam tak bergeming meski tamparan Hana begitu sangat keras hingga ujung bibirnya terluka dan berdarah.


"Apa kau sungguh menganggapku wanita serendah itu, tuan? Kau sungguh keterlaluan."


"Bencilah aku, Hana. Aku akan menerimanya, itu justru lebih baik."


"Ammar!!!" Hana mulai berteriak dengan kedua mata terpejam. Nafasnya tersengal-sengal akibat menahan emosinya.


"Apakah begitu special nama Fanny di hatimu, hah? Apakah dia begitu istimewa hingga detik ini kau masih menyimpannya di dalam hatimu, apakah aku sungguh tidak mampu menggesernya? Apakah aku sungguh tidak mampu menyainginya di hati suami ku sendiri? Jawab aku, jawab aku !!!" Ucap Hana kembali dengan menarik kerah baju yang di kenakan Ammar.


"Hana, jangan gila. Kontrol emosi mu. kendalikan sikapmu ini, kau sudah menunjukkan sikap yang memalukan sebagai menantu dari orang tua angkatku."


"Apa kau pikir aku peduli hah? Mereka justru akan lebih murka padamu jika mereka tahu, menantu yang mereka banggakan belum juga mendapatkan hak nya sebagai istri."


"Apa kini kau mengancamku?"


"Kau takut?"


"Ayolah, Hana.. Jangan semakin mempersulit keadaan kita saat ini. Ku mohon,"


"Heh, baguslah. Terus lah kau memohon demikian, jika kau ingin semu baik-baik saja lakukan tugasmu. Berikan hak ku, selama ini aku kurang sabar bagaimana lagi, Tuan?"


Ammar berulang kali menarik nafasnya dalam-dalam dengan menjambak rambut di kepalanya, dia sungguh merasa terjebak dalam situasi yang selama ini sudah bertahun-tahun berhasil dia hindari.


"Baiklah, Hana. Baiklah, aku akan mencobanya. Berikan aku waktu dan kesempatan lagi, aku akan lebih berusaha menjalankan status dan kewajiban ku sebagai suami." Kini suara Ammar terdengar pasrah, seketika Hana melempar senyuman puas ke arah Ammar. Meski di lihatnya, tatapan Ammar begitu berat dan ragu.


Apapun itu, Tuan. Aku tidak akan pernah kalah dengan wanita di masa lalu mu itu, Fanny. Ya, Fanny. Aaarght, entah kenapa.. Walaupun ini sudah berlalu begitu lama, bersusah payah aku melupakan serta merelakan Irgy bahagia dengannya, tapi tetap saja dia menjadi penghalang kebahagiaan ku. Apa dia sungguh seistimewa itu di hati para lelaki ini? Menyebalkan. Ku benci!!!


"Jika begitu, cium aku."


"Hana, ini di kantor. Kau lihat banyak camera di setiap sudut ruangan ini,"


"Kau menolakku lagi, tuan?"


"Hah..." Terdengar kembali helaan nafas Ammar yang begitu dalam. Kemudian dia menurut melangkah maju, lebih dekat pada tubuh wanita yang kini sebagai istri sahnya. Tapi walau demikian, memberinya satu kecupan saja masih sangat sulit bgi Ammar.