Because, I Love You

Because, I Love You
#BILYS3 245



Exelle  menyeringai ketika Joe menatapnya dengan


tajam. Membuat Joe terlihat semakin geram, sementara Pelangi sudah terhalangi


oleh ketiga sahabatnya.


“Bisakah aku berbicara dengan


Langi berdua saja?” Ujar Joe dengan nada cetus.


“Ti-dak bo-leh!!!” Jawab Lisa dengan tegas.


“Sa, pliss...”


“Elu mau gue hajar lagi, Joe?” Bentak Jeni.


“Jen, elu tau dan yang paling mengerti gue kan?”


“Sorry, Joe. Itu dulu, sekarang


tidak lagi.”


Tanpa mendengar apapun lagi, Joe


mendorong  Jeni dan Lisa yang sejak tadi


menghadang Pelangi yang di rangkul oleh Lucas. Dengan sangat kasar Joe menarik


tangan Pelangi, hingga berhasil dia tarik keluar dari tengah lingkaran ketiga


sahabatnya.


“Aw, Joe. Lepaskan, sakit. Kau


menarik tangan ku sangat keras.” Ucap Pelangi memekik. Dia berusaha


melonggarkan cengkraman Joe. Walau demikian Joe masih enggan melepaskan


cengkramannya pada pergelangan tangan Pelangi.


“Lepaskan tangan Pelangi.”


Tiba-tiba saja Exelle menarik tangan Pelangi dari belakang.


“Bagus, Exelle.” Bisik Jeni


dengan lirih, ia merasa puas karena Exelle kali ini yang tentu akan melindungi


Pelangi.


“Lepasin tangan lu dari pacar


gue.” Titah Joe setelah melihat  tangan


Exelle menarik  tangan Pelangi dari


belakang.


“Apa? Pa-car? Hahaha… Ayolah,


bro. jika dia masih menjadi pacar elu, apa harus sekasar ini?” Bantah Exelle melawan


ucapan Joe. Kemudian Pelangi menepis tangan Joe dengan kasar, membuat Exelle


menyeringai dengan puas.


“Joe, sudah lah. Tidak aada lagi yang perlu kita bicarakan, kita sudah


putus. Jangan membuatku semakin kesal padamu nantinya.”


“Apa salahku, Langi? Karena Maria? Dia hanya temanku, tidak ada yang lebih.


Kau hanya salah paham, percayalah.”


“Joe, kau dan Maria tentu sudah berteman sangat dekat saat dulu kalian di


LN. Jauh sebelum kau dan aku bertemu dan menjalin hubungan ini. Aku tidak ingin


kesalah pahaman ini terus berlanjut, itu hanya akan menyakiti kita semua bukan?


Apa kau tega terus membiarkan  Maria


merasa terbayangi oleh adanya aku disisimu?”


“Tidak, aku tidak akan pernah menerima keputusan ini. Aku mencintaimu dan


hanya menyayangimu, Langi.”


“Joe, kita masih bisa berteman dengan baik. Jangan berpikir seakan kita


akan menjadi musuh setelah ini. Hanya saja, kali ini biarkan saja semua


berjalan sama seperti awal kita bertemu disini.”


Joe menundukkan wajahnya sesaat, kemudian kembali  menatap Pelangi dengan kledua mata


berkaca-kaca. Kedua matanya begitu merah seakan sedang bercampur amarah dan


sedih yang begitu mendalam.


“Kau mau ikut bergabung?” Tanya Pelangi dengan santai, mencoba untuk


membuat keadaan jauh lebih tenang.


“Princess cold, untuk apa mengajaknya kembali bergabung dengan kita?” Ujar


Lisa dengan nada kesal.


“Baiklah, Langi. Jika itu yang menjadi pilihan mu, aku terima. Semoga kau


bahagia dengan orang yang tepat.” Jawab joe dengan suara lirih. Ia tampak lemah


terlihat jelas dari raut wajahnya. Joe melirik kearah Exelle, dan ditanggapi


senyuman nyengir meledeknya. Joe menyeringai kemudian merai ponsel di saku


celananya, mengutak-atik layar nya dengan jemarinya yang gemetaran.


“Halo, Maria. Ayo nanti malam kita dinner diluar, kau bebas memilih


restoran yang kau suka.”


Kau tahu, seolah Joe sudah merencakan segalanya. Sehingga dia langsung


langsung. Entah bagaimana reaksi Maria saat mendengar ajakan Joe demikian.


Kemudian Joe pergi melewati Pelangi dan semua sahabatnya begitu saja, rasanya


Pelangi sudah tidak tahan lagi melihat Joe sedemikian rupa.


“Joe, tunggu sebentar.” Panggil Pelangi dengan intonasi nada yang di tekan.


Joe menolehnya tanpa ragu, dalam hatinya merasa senang sesaat. Berharap


Pelangi akn berubah pikiran, namun siapa sangka. Pelangi melangkah maju hendak


menghampiri Joe.


“Princess cold, apa lagi yang akan kau lakukan?” Lisa menghalanginya.


Pelangi hanya tersenyum tipis mengabaikan Lisa yang berupaya menahan Pelangi


untuk mendekati Joe.


“Ada apa lagi, Langi?” Tanya Joe dengan nada sombong.


“Bolehkah aku memberikan satu hadiah perpisahan kitra sebagai pacar?”


Joe tampak kebingungan dengan menaikkan salah satu alisnya.


Apakah Langi sungguh sudah


menyiapkan itu semua untuk ku? Apakah itu berarti dia masih mengharapkan


hubungan kita akan kembali suatu hari nanti?


Bathin Joe bergumam.


Kemudian...


Plak !!!


Pelangi menampar wajah Joe dengan sangat keras. Joe terhentak kemudian,


begitupun ketiga sahabt Pelangi. Namun tidak dengan Exelle, dia justru tertawa


lepas hingga terpingkal-pingkal.


“Langi, apa-apaan ini? Kau menamparku?”


“Maafkan aku, Joe. Hanya itu hadiah yang ku rasa sangat pantas untuk cowok


plinplan sepertimu.” Jawab Pelangi.


“Aku tidak menyangka kau akan setega ini mempermalukan ku di depan


semuanya. Apa kini kau puas?”


“Apakah ini sungguh watak aslimu, Joe? Rasanya aku lebih malu pernah


menjadikan mu bagian dari hidupku.”


“Ternyata Maria jauh lebih lembut dan memahamiku sejak dulu.” Jawab  Joe dengan tegas.


“Oh my God, Joe sungguh keterlaluan. Dia malah membela cewek tadi di


hadapan Pelangi, oh tidak. Aku ingin sekali merobek mulutnya itu.” Lisa yang


mendengar hal itu mengepalkan kedua tangannya dengan gertakan gigi.


“Ih.. Joe, bagaimana bisa dia berpikir cewek genit tadi jauh lebih baik,


padahal selama ini hanya aku yang selalu perhatian dan peduli padanya.” Ujar


Lucas menambahkan dengan gaya bicaranya yang masih saja seperti perempuan


manja.


“Kasihan, si cewek galak. Woah, sepertinya aku harus meemberikan pelajaran


untuk cowok itu.”


“Hei... Mau kemana kau hah? Jangan berani coba-coba membuat keributan. Kita


lihat saja, wa;au bagaimanapun kita tidak bisa terlalu ikut campur pada


hubungan mereka.” Ujar Jeni menghadang Exelle yang berniat untumk menghajara


Joe yang berkata demikian.


Pelangi terdiam sejenak, menarik nafasnya dalam-dalam. Dan mencoba untuk tetap


tersenyum manis, sedikitpun ia tak ingin menampakkan kesedihan, amarah, dan


hatinya yang kini bagai tersambar petir disiang hari.


“Cih, terimakasih Joe. Sudah mau jujur padaku akan persaanmu yang


sebenarnya, aku tidak menyangka kau akan mengatakannya langsung tanpa aku


memaksanya lebih dulu.” Pelangi mundur satu langkah dari hadapan Joe kemudian


berbalik badan untuk meninggalkan Joe.


“La,langi... Bukan seperti itu, bukan begitu maksudku.” Joe tampak kikuk,


cemas dan kebingungan menyadari apa yang telah ia katakan barusan. Sungguh


diluar dugaan nya, bukan itu yang akan dia katakan. Tapi kenapa???


Pelangi terus melangkah mengabaikannya di belakang. Melihat semua


sahabatnya tercengang tanpa sepatah katapun  membuat Pelangi menahan malu yang sangat besar hingga ia berlari menuju


ruang toilet di kafe itu. Dalam hatinya tiada henti mengumpat kasar dengan dada


yang begitu sesak menyerang nya. Hingga sekedar menelan air liurnya saja ia


merasa tersendat dalam tenggorokannya, ucapan yang Joe katakan tadi, membandingkannya


dengan wanita yang sejak awal dicemburuinya, itu sungguh terkesan


merendahkannya.


“Tuhan, kali ini aku sungguh merasa  sakit mendengar hinaan ini. Kenapa? Apa salahku padamu? Apa Tuhan???”