
Exelle menyeringai ketika Joe menatapnya dengan
tajam. Membuat Joe terlihat semakin geram, sementara Pelangi sudah terhalangi
oleh ketiga sahabatnya.
“Bisakah aku berbicara dengan
Langi berdua saja?” Ujar Joe dengan nada cetus.
“Ti-dak bo-leh!!!” Jawab Lisa dengan tegas.
“Sa, pliss...”
“Elu mau gue hajar lagi, Joe?” Bentak Jeni.
“Jen, elu tau dan yang paling mengerti gue kan?”
“Sorry, Joe. Itu dulu, sekarang
tidak lagi.”
Tanpa mendengar apapun lagi, Joe
mendorong Jeni dan Lisa yang sejak tadi
menghadang Pelangi yang di rangkul oleh Lucas. Dengan sangat kasar Joe menarik
tangan Pelangi, hingga berhasil dia tarik keluar dari tengah lingkaran ketiga
sahabatnya.
“Aw, Joe. Lepaskan, sakit. Kau
menarik tangan ku sangat keras.” Ucap Pelangi memekik. Dia berusaha
melonggarkan cengkraman Joe. Walau demikian Joe masih enggan melepaskan
cengkramannya pada pergelangan tangan Pelangi.
“Lepaskan tangan Pelangi.”
Tiba-tiba saja Exelle menarik tangan Pelangi dari belakang.
“Bagus, Exelle.” Bisik Jeni
dengan lirih, ia merasa puas karena Exelle kali ini yang tentu akan melindungi
Pelangi.
“Lepasin tangan lu dari pacar
gue.” Titah Joe setelah melihat tangan
Exelle menarik tangan Pelangi dari
belakang.
“Apa? Pa-car? Hahaha… Ayolah,
bro. jika dia masih menjadi pacar elu, apa harus sekasar ini?” Bantah Exelle melawan
ucapan Joe. Kemudian Pelangi menepis tangan Joe dengan kasar, membuat Exelle
menyeringai dengan puas.
“Joe, sudah lah. Tidak aada lagi yang perlu kita bicarakan, kita sudah
putus. Jangan membuatku semakin kesal padamu nantinya.”
“Apa salahku, Langi? Karena Maria? Dia hanya temanku, tidak ada yang lebih.
Kau hanya salah paham, percayalah.”
“Joe, kau dan Maria tentu sudah berteman sangat dekat saat dulu kalian di
LN. Jauh sebelum kau dan aku bertemu dan menjalin hubungan ini. Aku tidak ingin
kesalah pahaman ini terus berlanjut, itu hanya akan menyakiti kita semua bukan?
Apa kau tega terus membiarkan Maria
merasa terbayangi oleh adanya aku disisimu?”
“Tidak, aku tidak akan pernah menerima keputusan ini. Aku mencintaimu dan
hanya menyayangimu, Langi.”
“Joe, kita masih bisa berteman dengan baik. Jangan berpikir seakan kita
akan menjadi musuh setelah ini. Hanya saja, kali ini biarkan saja semua
berjalan sama seperti awal kita bertemu disini.”
Joe menundukkan wajahnya sesaat, kemudian kembali menatap Pelangi dengan kledua mata
berkaca-kaca. Kedua matanya begitu merah seakan sedang bercampur amarah dan
sedih yang begitu mendalam.
“Kau mau ikut bergabung?” Tanya Pelangi dengan santai, mencoba untuk
membuat keadaan jauh lebih tenang.
“Princess cold, untuk apa mengajaknya kembali bergabung dengan kita?” Ujar
Lisa dengan nada kesal.
“Baiklah, Langi. Jika itu yang menjadi pilihan mu, aku terima. Semoga kau
bahagia dengan orang yang tepat.” Jawab joe dengan suara lirih. Ia tampak lemah
terlihat jelas dari raut wajahnya. Joe melirik kearah Exelle, dan ditanggapi
senyuman nyengir meledeknya. Joe menyeringai kemudian merai ponsel di saku
celananya, mengutak-atik layar nya dengan jemarinya yang gemetaran.
“Halo, Maria. Ayo nanti malam kita dinner diluar, kau bebas memilih
restoran yang kau suka.”
Kau tahu, seolah Joe sudah merencakan segalanya. Sehingga dia langsung
langsung. Entah bagaimana reaksi Maria saat mendengar ajakan Joe demikian.
Kemudian Joe pergi melewati Pelangi dan semua sahabatnya begitu saja, rasanya
Pelangi sudah tidak tahan lagi melihat Joe sedemikian rupa.
“Joe, tunggu sebentar.” Panggil Pelangi dengan intonasi nada yang di tekan.
Joe menolehnya tanpa ragu, dalam hatinya merasa senang sesaat. Berharap
Pelangi akn berubah pikiran, namun siapa sangka. Pelangi melangkah maju hendak
menghampiri Joe.
“Princess cold, apa lagi yang akan kau lakukan?” Lisa menghalanginya.
Pelangi hanya tersenyum tipis mengabaikan Lisa yang berupaya menahan Pelangi
untuk mendekati Joe.
“Ada apa lagi, Langi?” Tanya Joe dengan nada sombong.
“Bolehkah aku memberikan satu hadiah perpisahan kitra sebagai pacar?”
Joe tampak kebingungan dengan menaikkan salah satu alisnya.
Apakah Langi sungguh sudah
menyiapkan itu semua untuk ku? Apakah itu berarti dia masih mengharapkan
hubungan kita akan kembali suatu hari nanti?
Bathin Joe bergumam.
Kemudian...
Plak !!!
Pelangi menampar wajah Joe dengan sangat keras. Joe terhentak kemudian,
begitupun ketiga sahabt Pelangi. Namun tidak dengan Exelle, dia justru tertawa
lepas hingga terpingkal-pingkal.
“Langi, apa-apaan ini? Kau menamparku?”
“Maafkan aku, Joe. Hanya itu hadiah yang ku rasa sangat pantas untuk cowok
plinplan sepertimu.” Jawab Pelangi.
“Aku tidak menyangka kau akan setega ini mempermalukan ku di depan
semuanya. Apa kini kau puas?”
“Apakah ini sungguh watak aslimu, Joe? Rasanya aku lebih malu pernah
menjadikan mu bagian dari hidupku.”
“Ternyata Maria jauh lebih lembut dan memahamiku sejak dulu.” Jawab Joe dengan tegas.
“Oh my God, Joe sungguh keterlaluan. Dia malah membela cewek tadi di
hadapan Pelangi, oh tidak. Aku ingin sekali merobek mulutnya itu.” Lisa yang
mendengar hal itu mengepalkan kedua tangannya dengan gertakan gigi.
“Ih.. Joe, bagaimana bisa dia berpikir cewek genit tadi jauh lebih baik,
padahal selama ini hanya aku yang selalu perhatian dan peduli padanya.” Ujar
Lucas menambahkan dengan gaya bicaranya yang masih saja seperti perempuan
manja.
“Kasihan, si cewek galak. Woah, sepertinya aku harus meemberikan pelajaran
untuk cowok itu.”
“Hei... Mau kemana kau hah? Jangan berani coba-coba membuat keributan. Kita
lihat saja, wa;au bagaimanapun kita tidak bisa terlalu ikut campur pada
hubungan mereka.” Ujar Jeni menghadang Exelle yang berniat untumk menghajara
Joe yang berkata demikian.
Pelangi terdiam sejenak, menarik nafasnya dalam-dalam. Dan mencoba untuk tetap
tersenyum manis, sedikitpun ia tak ingin menampakkan kesedihan, amarah, dan
hatinya yang kini bagai tersambar petir disiang hari.
“Cih, terimakasih Joe. Sudah mau jujur padaku akan persaanmu yang
sebenarnya, aku tidak menyangka kau akan mengatakannya langsung tanpa aku
memaksanya lebih dulu.” Pelangi mundur satu langkah dari hadapan Joe kemudian
berbalik badan untuk meninggalkan Joe.
“La,langi... Bukan seperti itu, bukan begitu maksudku.” Joe tampak kikuk,
cemas dan kebingungan menyadari apa yang telah ia katakan barusan. Sungguh
diluar dugaan nya, bukan itu yang akan dia katakan. Tapi kenapa???
Pelangi terus melangkah mengabaikannya di belakang. Melihat semua
sahabatnya tercengang tanpa sepatah katapun membuat Pelangi menahan malu yang sangat besar hingga ia berlari menuju
ruang toilet di kafe itu. Dalam hatinya tiada henti mengumpat kasar dengan dada
yang begitu sesak menyerang nya. Hingga sekedar menelan air liurnya saja ia
merasa tersendat dalam tenggorokannya, ucapan yang Joe katakan tadi, membandingkannya
dengan wanita yang sejak awal dicemburuinya, itu sungguh terkesan
merendahkannya.
“Tuhan, kali ini aku sungguh merasa sakit mendengar hinaan ini. Kenapa? Apa salahku padamu? Apa Tuhan???”