
Aku pernah membaca sebuah quote, entah siapa penciptanya. Tapi itu memang nyata, ada tiga hal yang tidak pernah bisa seorang wanita tahan. Air mata, cemburu, dan rasa ingin tahu...
Dan sepertinga tiga hal itu yang sedang ku alami saat ini. Tapi aku tidak akan pernah menunjukkan semua itu pada wanita yang kini berdiri dengan tersenyum lebar di hadapan ku, yang seolah menunjukkan dia baik-baik saja walau saat itu dia begitu geram melihat Irgy menciumku di depan nya juga teman-temannya.
Tak peduli kau wanita yang pertama yang membuat suami ku di masa lalu merasakan hal berbeda, tak peduli walau kau adalah cinta pertama di masa lalu suami ku saat ini. Aku tidak peduli, aku akan mempertahankan dan menunjukkan jika aku wanita yang jauh lebih baik dan pantas Irgy pilih.
"Hai, Hana. Kau disini? Ada apa? Wah, apa kau sungguh ingin merebut kekasihmu di masa lalu kembali?" Aku menyapanya dengan antusias.
"Hahaha. Lagi-lagi kau menyerangku dengan candaan begitu, ehm.. Aku disini karena mas Khery, kami tidak sengaja bertemu malam tadi. Jadi aku kemari untuk menagih janjinya pada ku," Jawab Hana dengan tersenyum melirik ke arah Khery.
Aku mengernyit dan menatap Khery dengan tajam.
"Eh, aku.. Aku berjanji untuk memberinya hadiah jika kami bertemu kembali."
Aku menyeringai mendengar jawaban Khery yang terdengar kikuk dan salah tingkah di depan ku.
"Woah, apa kalian juga pernah saling suka? Hahaha, astaga Khery..." Jawab ku kemudian.
"Tidak, tidak. Kami saling mengenal karena dulu dia berpacaran dengan.. Dengan Irgy, jadi kami akrab dan dekat. Sudah seperti hubungan kakak adik." Jawab Khery kembali.
Bahkan, Khery pun sampai mengenal dekat sosok Hana. Apakah karena ini juga Khery begitu emosi setiap kali saling bertatap dengan Irgy?
"Cih, hahaha. Ada apa kalian ini? Aduh, sepertinya kehadiran ku kembali di Indonesia menimbulkan banyak masalah datang. Hahaha, ini sangat seru. Hahaha,,"
Bisakah kau berhenti cekikian tertawa begitu, kau semakin terlihat seperti nenek lampir di tengah hutan.
Umpatku dalam hati.
"Apa kau sungguh berpikir begitu Hana? Aku setuju. Aku juga berpikiran demikian,"
"Eh..."
Hana menghentikan tawanya, raut wajahnya berubah seketika. Begitupun Khery, dia tampak kebingungan dan gusar.
"A,apa kau.. Kau mau menemui Irgy? Sepertinya dia sedang sibuk." Ucap Khery dengan terbata-bata, nada bicaranya sungguh berantakan terdengar.
"Tentu, aku kemari untuk menemui suami ku. Pagi tadi aku lupa memberinya satu kecupan mesra di bibir, jadi Irgy memintaku datang ke kantornya langsung hanya untuk memberinya satu kecupan yang terlewatkan." Jawab ku dengan tegas.
"Kau gila Fanny." Jawab Khery dengan spontan.
"Apanya yang gila? Bukan kah kau juga tahu sifat sepupu mu ini?"
"Hahaha... Mas, kau mengatakan Fanny gila barusan. Minta maaf padanya mas, itu sangat kasar. Hana tidak suka mendengarnya,"
Hana tidak suka mendengarnya, cih sok manja kau nenek lampir.
Aku kian mencibirnya dalam hati. Dan berusaha untuk tetap tenang dam tersenyum seolah aku baik-baik saja. Kemudian aku mengangkat kedua bahu ku setengan ke atas, dengan menyembikkan bibir ku.
"Baiklah Hana, aku harus menemui Irgy dulu. Sepertinya kita jadi sering bertemu tanpa di sengaja ya, atau kau memang mencari tempat untuk bertemu dengan ku dengan sengaja?"
Panggil Hana dengan nada serius ketika aku melewatinya masuk ke dalam untuk menemui Irgy. Aku harus memulai pembicaraan ini dengannya aku sudah tidak tahan. Aku menoleh ke belakang, menatap kembali wajah Hana yang menatapku lebih dulu.
"Apa kau sungguh serius dengan semua perkataan mu sejak di pesta reuni malam itu?"
"Apa kau menganggapnya demikian Hana?" Jawab ku melempar tanya kembali.
"Aku.. Aku, aku terkadang kau menggodaku dengan candaan itu. Tapi terkadang, aku merasa kau menyindirku."
"Hahahaha, ayo lah terserah kau saja jika begitu. Ehm, semua tergantung bagaimana kau menanggapinya. Tapi perlu kau ketahui Hana, sejak kecil aku sudah terdidik untuk selalu mengembalikan apa yang orang lain berikan padaku."
Hana terperangah dengan jawaban ku kali ini, sedangkan Khery mematung menyaksikan kami berbicara serius. Andai saja tubuh Khery terbuat dari tanah liat, aku ingin sekali menyenggolnya hingga retak. Dia tidak jauh berbeda dengan Irgy saat ini. Semua sama, semua sama...
Aku berteriak dalam hati, semakin memberontak hingga terasa perih di hati.
"Baik lah, maafkan aku. Setelah ini aku akan kembali ke LN, aku akan menikah. Ku harap kau dan Gigy, eh maksud ku Ir-gy berbahagia selalu."
"Terimakasih Hana. Semoga kau sungguh berbahagia nantinya tanpa harus memikirkan hal lainnya lagi yang menyebabkan pernikahan mu tidak berjalan baik."
"Fanny, apa yang kau katakan ini?" Jawab Khery menyela.
"Tidak apa mas, Fanny benar. Lagi pula aku sudah tidak perlu khawatirkan apapun lagi, sesuatu yang ku nantikan selama ini sudah aku dapatkan walau itu terlambat."
Degh !!!
Sesuatu apa yang dia maksud itu? Mungkin kah Irgy memberinya sesuatu? Atau sesuatu yang dia terima dari Khery? Aaarght... Menyebalkan. Ini sungguh menyebalkan, dia seolah sengaja mengajakku bermain sebuah teka teki.
"Tapi.. Apa kau sungguh akan segera menikah? Mengapa tidak memberi kabar mas daritadi. Ini mengejutkan,"
"Hahaha, Mas Khery ih. Sudah lah, lagi pula kau sudah memberiku kado ini. Aku akan menganggapnya ini sebagai hadiah pernikahan." Jawab Hana dengan tersenyum lebar sembari menunjukkan sebuah kotak perhiasan berwarna merah di tangan kanannya.
Wow... Kau sungguh keterlaluan Khery, apa kau sengaja memancing keadaan di tengah air yang keruh?
"Baik lah Fanny. Selamat tinggal, tolong kau jaga dengan baik hati Irgy. Dia begitu tulus dan baik, dia lelaki yang setia sekali mencintai."
Oh Tuhan, ucapannya ini justru semakin membuatku yakin jika dia masih menyimpan sebuah rasa untuk suami ku Irgy. Seakan dia tidak merelakan sebuah kenyataan ini terjadi padanya.
"Hem, baik lah. Dia bukan lagi urusan mu bukan?" Jawab ku dengan menyumbingkan bibir. Tampak jelas sekali Hana menarik nafasnya dalam-dalam.
"Mas, aku pamit." Ucap Hana kemudian pada Khery dan hanya tersenyum pada ku tanda perpisahan. Dia berlalu keluar dari ruangan dengan langkah yang sepertinya dia sengaja percepat, entah seperti apa ekspresi wajahnya di balik itu semua. Sebagai wanita aku tidak lagi respect, aku justru muak.
"Fanny, kau cemburu dengan kehadiran Hanna? Astaga, dia hanya masa lalu Irgy. Bahkan mereka belum sempat ada ikatan sebagai kekasih satu sama lain.
"Aku justru heran, kenapa kau tidak tercipta dan terlahir sebagai seorang wanita saja sejak awal?"
"Apa maksudmu? Kau menyamakan ku dengan seorang waria?" Bantah Khery padaku, membuat semua staff dan pengunjung menoleh ke arah kami.
"Perlu kau ketahui, tidak ada seorang wanita yang tahan melihat lelakinya dekat dengan wanita lain meski itu hanya sebagai teman." Jawab ku dengan tegas. Membuat Khery terdiam menatapku dengan menggertakkan gigi, tanpa berani menjawabnya kembali.