Because, I Love You

Because, I Love You
#BILYS3 208



Di dalam kelas, hanya tinggal Jeni dan Joe berdua. Suasana hening dan Joe dengan sikap santainya menghampiri Jeni yang berdiri dengan kikuk sejak tadi.


"Bicaralah, Jen. Apa yang ingin kau katakan padaku?" Tanya Joe dengan santai.


"Eh, ah, ehm.. Jjoe, aku.. Ehm, aku tidak tahu apakah kau akan senang mendengarnya atau.. Tidak." Ucapan Jeni mulai terbata-bata. Dia kebingungan harus memulai darimana untuk mengungkapkan perasaannya.


"Hahaha, Jen. Kau sampai gugup begitu? Aah, aku tahu. Apa kau jatuh cinta ada teman kita di kelas? Dan kau butuh solusi dariku, sebagai sesama lelaki. Iya kan? Aku paham. Siapa dia Jen? Wah.. Pelangi dan yang lainnya pasti akan senang mengetahui hal ini, apa kau malu memberitahu mereka lebih dulu? Hahaha..."


"Ya, Joe. Aku jatuh cinta, dan ini cinta pertama ku. Selama ini aku memang banyak kenal dan berteman dengan seorang cowok, tapi dia.. Dia berbeda, dan aku jatuh hati padanya. Tak peduli meski banyak saingan yang ingin memiliki cowok tersebut."


"Waow, siapa dia Jen? Apakah dia lebih tampan dariku? hihihi. Sepertinya iya, ehm.. Lalu kenapa kau terlihat buruk hari ini?"


"Karena aku ingin mengungkapkan perasaan ku pada nya, Joe. Aku ingin mengatakannya lebih dulu, tapi aku takut."


"Aah, apa yang kau takutkan. Katakan saja jika kau menyukainya, jika dia juga menyukaimu dia pasti akab sangat senang Joe."


"Justru karena itu, Joe. Karena dia mungkin tidak akan menyukaiku." Suara Jeni semakin lirih menundukkan wajahnya. Joe mencoba untuk lebih dekat dengan tubuh Jeni saat ini.


"Jen, kau baik, kau juga cantik. Meski dia tidak menyukaimu, tapi dia akan berpikir ulang nantinya. Sebaiknya kau memberanikan diri saja, katakan pada cowok itu."


Jeni beranjak dari duduknya. lalu menatap wajah Joe yang kini berdiri di hadapannya dengan tatapan lekat, Joe tersenyum padanya.


"Aku.. Aku menyukaimu, Joe."


Joe terhentak dengan membelalakkan kedua matanya, mulutnya mengatup rapat.


"Hahahaha, Jen. Apa kau sedang menggoda atau mengerjaiku?" Joe tertawa terbahak-bahak kemudian.


"Joe, aku serius. Aku sungguh menyukaimu, aku jatuh cinta padamu Joe. Aku sangat mencintaimu," Jeni mulai menggenggam tangan Joe dengan erat.


Dengan cepat Joe melepas genggaman tangan Jeni yang saat ini raut wajah Jeni berubah penuh keseriusan.


"Jen, ada apa ini? Ada apa dengan mu hah?"


"Iya, Joe. Sejak pertemuan kita di kafe Lucas malam itu, aku pikir kita hanya akan bisa berteman baik layaknya seorang sahabat seperti yang lainnya. Tapi semakin hari aku semakin tidak bisa mengendalikan hatiku, Joe."


"Tidak, Jen. Maafkan aku, selama ini aku sungguh hanya menganggapmu sebagai sahabat. Tak lebih bagai seorang adik bagi ku, Jen. Ayo lah, jangan menakutiku. Jangan membuatku merasa bersalah, tidak pernah ada yang terjadi bukan diantara kita?"


"Ada, Joe. Ada, kau selalu baik padaku. Kau begitu peduli dan perhatian padaku, di kafe malam itu pun kau mengantarku pulang. Kau begitu melindungi dan menjagaku, Joe."


"Oh astaga, pliss. Come on, jangan berlebihan Jen. Pada siapapun itu aku juga akan memperlakukan hal yang sama, karena kita semua sahabat." Joe mulai menarik nafasnya dalam-dalam serta menjambak lembut bagian rambut di kepalanya ia membalikkan badan.


"Kau, bohong Joe. Kau bilang kita sahabat, tapi sikapmu terhadap Pelangi lebih dari itu."


Joe kembali di kejutkan oleh ucapan Jeni, dan menolehnya kembali.


"Kenapa Joe? Kenapa ekspresi mu berubah ketika ku singgung nama Pelangi?"


"Aku..."


"Kau menyukainya kan, Joe. Iya?" Jeni mulai meninggikan suaranya.


Joe terlihat bingung, seolah ia tak bisa mengeluarkan suara dari dalam tenggorokannya.


"Jawab aku, kau menyukainya bukan? Kau menyukai Pelangi." Ucap Jeni kembali dengan setengak teriak, kedua matanya begitu merah. Sepertinya dia sedang berusaha menahan tangis dan amarah.


"Ok, iya. Kau menyukainya, aku jatuh cinta dengan Pelangi. Selama ini aku pikir hubungan kami hanya akan sebatas kakak dan adik, tapi sepertinya aku mencintainya semenjak aku tinggal di LN. Yang ku pikirkan hanya dia, dia dan dia. Aku sedang berusaha menahan diri, maafkan aku Jen."


"Tak bisakah kau menyukaiku saja, Joe. Bisakah kau lebih mencintaiku daripada Pelangi? Aku akan berusaha agar bisa sepertinya."


"Jen..."


Gebrrukkk !!!


Terdengar seperti benda yang sedang jatuh, membuat ucapan Joe terhenti. Kemudiab mereka menoleh ke arah darimana asal suara tersebut.


Ya, tampak Pelangi berdiri mematung di pintu kelas dan buku-buku berjatuhan di lantai.


"Pe-la-ngi.." Jeni pun terkejut dengan kedua mata melotot.


Dengan cepat Pelangi menyadarkan diri lalu membereskan semua buku-buku yang berjatuhan tadi. Dia terpaksa menyusul Joe ke ruang perpustakaan seperti yang dikatakan Joe tadi, karena begitu lama Pelangi pikir Joe mengalami kesulitan dan membuatnya berpikir untuk menyusulnya saja. Namun Joe tidak ada di ruang perpustakaan.


Pelangi kembali berjalan berkeliling dan langkah kaki nya justru seolah di ajak untuk menuju ruang kelas kembali. Sungguh dia terkejut dan tidak menyangka dengan apa yang dia lihat dan dia dengar kali ini, membuatnya kikuk dan gemetaran. Dengan cepat memberekan buku-bukunya lalu hendak berlari pergi.


"Ma,maafkan aku. Aku tidak mendengar apapun, anggap aku tidak melihatnya."


Setelah bersusah payah mengeluarkan suaranya. Pelangi berlari sekuat tenaga meski dengan langkah sedikit goyah, hatinya seolah bergemuruh. Hatinya kosong, pikirannya kacau. Entah apa dan harus bagaimana dia menanggapi yang dia lihat dan didengarnya tadi.


Semakin berlari suara percakapan mereka semakin terngiang di telinga Pelangi, akan ungkapan perasaan Joe yang tidak dia duga. Dan tentang ucapan Jeni yang begitu memaksanya, semua itu menyesakkan dada Pelangi.


"Aku tidak mendengar apapun, aku tidak mendengar apapun.. Tidak..." Pelangi terus berucap pada dirinya sendiri sembari berlari dengan memejamkan kedua matanya. Hingga dia terjatuh karena kaki nya saling beradu.


"Aw !!!" Ia memekik dan lututnya lecet hingga berdarah.


"Awh, hikzt... Mama, sakit..." Dia meniup lututnya yang terluka dan menitikkan air mata. Kemudian dia kembali terkejut ketika menyadari tubuhnya seperti sedang melayang.


"Eh, eh.. Joe, turunkan aku. Apaan sih, aku masih bisa berjalan. Turunkan aku Joe, tidak perlu menggendong ku." Pelangi meronta-ronta ketika dilihatnya Joe menggendongnya bak seorang bayi. Dia terus memukuli bagian dada Joe saat ini dengan buku yang di bawanya sejak tadi.


"Terus saja pukul, aku tidak akan membiarkan mu turun. Luka mu harus segera di bersihkan," Ucap Joe dengan cuek.


"Itu hanya luka kecil, turunin aku Joe. Turunin aku gak?" Pelangi mulai membentaknya. Joe menghentikan langkahnya yang menggendong tubuh Pelangi dan menatapnya tajam.


Pelangi gugup akan tatapan Joe yang mendadak berubah tajam seperti sedang ingin memarahinya.


"Aku bisa jalan sendiri." Jawab Pelangi dengan lirih.


Lalu perlahan Joe menurunkan nya saat sudah tiba di halaman sekolah, Pelangi mencoba untuk melangkah dan berjalan sendiri tanpa bantuan Joe. Namun, lagi-lagi dia memekik dan merasakan sakit. Luka di lututnya mulai melebam, sedikit merah kebiruan.


"Aw !!!"


Mendengar hal itu Joe sengaja mengabaikannya dan terus berjalan meninggalkan Pelangi di belakang. Meski hatinya sangat tidak tega, dan bergumam lirih.


Dasar keras kepala, cewek bodoh. Coba saja, sampai kapan kau akan bertahan dengan sakit itu. Sejak kecil kau paling benci saat lututmu terluka, dan selalu memintaku untuk menggendong mu, Langi. Apa kau lupa itu???


"Joe.." Panggil Pelangi kemudian dengan suara pelan. Langkah Joe terhenti, dia tersenyum sumringah di balik sikapnya yang sengaja mengabaikan Pelangi. Posisinya berada sedikit jauh dari Pelangi saat ini.


"Joe.. Kakiku sakit, huhuhu.." Kembali Pelangi berucap dengan lirih sembari mengadu.


Dengan tarikan nafas dalam-dalam, Joe berbalik menghampiri Pelangi kemudian memapahnya untuk membantunya berjalan menuju mobil.


"Dasar manja." Ujar Joe dengan sengaja di hadapan Pelangi.


Plak !!!


Pelangi memukul bahu Joe dengan buku-buku yang dia bawa dari perpustakaan tadi.


"Aw, kenapa lagi sih? Sejak tadi kau memukulku."


"Kau mengataiku manja tadi, ini beneran sakit tau."


"Aku sudah membantu mu bukan," Jawab Joe dengan setengah kesal.


"Gendong aku." Balas Pelangi dengan mengulurkan tangannya seperti saat kecil dulu. Saat terluka dia selalu mengulurkan kedua tangannys agar Joe menggendong nya di belakang.


Dalam hati Joe teriak kegirangan. Sesekali dia tersenyum diam-diam memalingkan wajahnya agar Pelangi tidak melihatnya tersenyum puas. Kemudian Pelangi digendongnya di belakang punggung Joe sembari berjalan menuju mobilnya.


Sementara di kelas..


Jeni terpaku menatap ke arah pintu, menatap sisa-sisa bayangan Joe yang berlari meninggalkannya untuk mengejar Pelangi.


"Aku belum kalah, Joe. Kau meninggalkan ku tanpa jawaban kepastian akan perasaan ku, ku anggap kau masih memberiku harapan. Iya kan Joe?"


Jeni memejamkan kedua matanya, dan air mata nya mengalir deras membasahi pipinya.