
Keesokan harinya.
Kirana berangkat ke kantor tampak lesu dan sedikit pucat. Karena dia merasakan tidak enak badan.
Kirana sering susah tidur saat malam dan harus bangun pagi-pagi sekali.
Semenjak batal menikah karena Rendy kecelakaan dan sama sekali tidak ada kabar darinya hingga saat ini, Kirana menganggap kalau hubungan mereka sudah berakhir saat itu juga.
Meski Beni pernah menemuinya dan membujuknya untuk ikut bersamanya menemui Rendy agar tau bagaimana keadaan Rendy. Bahkan meminta Kirana untuk bertemu dengan orang tuanya Rendy. Tentu saja Kirana tidak bisa melakukan itu. Seharusnya kalau memang Rendy benar-benar serius dengannya, dia yang akan datang bersama orang tuanya menemuinya. Bukan malah sebaliknya.
Yang membuat Kirana yakin kalau memang hubungan dengan Rendy sudah berakhir, saat dia melihat sosok Rendy dirumah sakit waktu itu. Rendy seolah tidak mengenalnya. Bahkan dia sudah bersama perempuan lain yang terlihat lebih cantik dan menarik.
Kirana kembali sadar siapa dirinya meski dirinya selalu ingat siapa dirinya ini. Kirana hanya anak kampung yang merantau ke kota ingin mengejar impiannya menjadi wanita karir. Tapi, dia merasa kalau takdir mungkin sedang mempermainkanya hingga dia merasa kecewa dan terpuruk.
Ditambah lagi saat dikantor. Dia harus selalu bisa menahan rasa sakit hatinya mendengar omongan-omongan yang buruk tentangnya.
Entah dari mana mereka tau tentang pernikahan dadakannya dengan Rendy yang kemudian batal.
Banyak yang menyebutnya pembawa sial dan banyak juga yang masih mengungkit perihal pelet yang dilakukan oleh Kirana yang menginginkan tumbal ketika mereka tau Rendy kecelakaan saat dalam perjalanan kerumahnya untuk melangsungkan pernikahan.
Sejujurnya, Kirana sudah tidak tahan dengan semua ini dan sempat berencana ingin resign. Tapi, disisi lain, dia juga tidak ingin membuat ibunya kecewa.
Kirana memaksa ingin kembali ke Jakarta karena ingin mengejar mimpinya menjadi karyawan di perusahaan Pradipta yang merupakan perusahaan yang menjadi impian banyak orang ingin bisa bekerja disana.
Kirana harus bisa membuktikan kalau dirinya bisa sukses dan membahagiakan ibunya.
Setelah sarapan, Kirana beranjak pergi. Seperti biasa, dia berangkat bersama Haris. "Ki, kamu baik-baik aja? Muka kamu pucet loh." Tanya Haris merasa khawatir.
Kirana menunjukkan kalau dirinya baik-baik saja dengan tersenyum manis. "Aku baik-baik aja kak. Mungkin karena...
"Begadang?" Sambung Haris menyela ucapan Kirana.
Kirana menghela nafasnya pelan dan mengangguk.
"Astaga Ki. Buat apa sih kamu masih mikirin dia? Rugi. Masih banyak laki-laki baik yang bisa menghargai kamu." Ucap Haris yang selalu tau tentang Kirana karena orang terdekat Kirana selama ini Haris.
"Iya kak. Aku tau. Kak Haris orang yang baik. Baik banget malah. Makasih ya kak, udah selalu ada buat aku. Maaf, aku belum bisa membalas kebaikan kak Haris." Ucap Kirana dengan tersenyum membuat Haris menghela nafas memakluminya.
Asal kamu masih selalu bisa tersenyum buat aku, aku udah seneng Ki.
Batin Haris.
Mereka pun segera pergi dengan berboncengan seperti biasa.
...
Sesampainya di perusahaan, saat berjalan melewati pintu masuk, Kirana melihat para karyawan berkerumun dan bersemangat menyapa pimpinan mereka yang baru datang.
Setau Kirana, pimpinan perusahaan semenjak Rendy mengalami kecelakaan adalah Pak Sony. Tapi, yang membuat Kirana heran, tidak biasanya mereka begitu semangat dan terlihat sangat senang menyapa pimpinan perusahaan.
"Selamat pagi Pak Rendy!"
"Pagi!"
Eh tunggu!
Langkah Kirana terhenti saat mendengar ada karyawan lagi yang menyapa pimpinan Pradipta Group.
Jantungnya berdegup cepat saat mendengar suara Rendy membalas sapaan mereka.
Ya! Itu suara Rendy. Benar-benar suara Rendy.
"Tapi, makin ganteng tau nggak?!"
"Aku nggak nyangka kalau Pak Rendy datang bersama mantannya. Apa mereka udah balikan ya?"
"Kalau dilihat harusnya sih mereka udah balikan. Pak Rendy jauh lebih cocok sama Olivia."
"Ya jelaslah! Cowok seganteng dan setajir Pak Rendy emang cocoknya sama cewek yang berkelas seperti Olivia Alexandra."
Mereka sedang membicarakan Rendy dan Olivia setelah pimpinan muda nan tampan itu masuk kedalam lift bersama Olivia diikuti Beni dan sekertaris barunya.
Kirana kembali melangkah dan kini langkahnya semakin cepat menerobos kerumunan para karyawan yang sedang membicarakan Rendy.
"Awas minggir!"
"Eh apaan sih kamu!" Seru karyawan dengan yang terdorong Kirana menatap sinis.
"Apa Mas Rendy..maksud aku Pak Rendy udah kembali?!" Tanya Kirana dengan menggebu sambil menatap mereka.
"Emangnya kenapa kalau Pak Rendy kembali? Udah bukan urusan kamu!"
"Kasihan banget ya kamu. Aku kalau jadi kamu pasti udah malu banget dan milih pergi dari jauh dari sini."
"Lagi pula, Pak Rendy tadi ngenalin calon tunangannya ke kita semua. Sayangnya, kamu baru dateng."
Mereka pun sengaja ingin memanas-manasi Kirana. Meski sejujurnya, hatinya terasa sakit dan semakin kecewa. Tapi, Kirana berusaha untuk tidak peduli dengan omongan mereka.
Kirana memilih tidak ingin bertanya lagi dan pergi menuju ruangan divisinya.
Mereka beralih membicarakan Kirana seolah mereka adalah orang-orang yang paling baik saja.
"Ki, kamu udah datang?!" Seru Rossa sambil beranjak menghampiri Kirana yang baru melangkah masuk menuju mejanya.
"Kenapa Ros?" Tanya Kirana dengan malas karena dia sedang dalam suasana hati yang tidak baik.
"Ki, kamu ini nggak tau atau emang pura-pura nggak tau sih?" Sahut Yola yang sedang duduk dikursinya sambil melihat dokumen.
"Apaan sih kalian ini? Kalau kalian mau ngomongin Pak Presdir yang udah kembali, mending nggak usah deh. Aku nggak minat." Ucap Kirana dengan benar menanggapi kedua teman baiknya.
Kirana kemudian duduk dan meletakkan tasnya tanpa menghiraukan mereka lagi yang sedang menatapnya heran.
Rossa pun mendekatinya, berdiri didepan meja kubikelnya. "Ki, jadi kamu udah tau? Pak Rendy udah balik. Tapi dia..."
"Cukup Ros! Aku udah bilang aku nggak minat ngomongin dia!" Kirana menyela ucapan Rossa hingga Rossa terdiam dan merasa terkejut karena baru pertama ini Kirana terlihat sangat marah.
Yolanda menatap Rossa sambil menggelengkan kepalanya bermaksud meminta Rossa untuk tidak membahas Rendy didepan Kirana.
Rossa hanya menghela nafasnya lalu kembali duduk dikursinya.
Kirana tidak bisa untuk tidak memikirkan Rendy dan juga perkataan para karyawan tadi.
Mas Rendy balikan sama mantannya? Setauku mantan dia kan Olivia. Lalu dia datang dan ngenalin Olivia ke semua orang sebagai calon tunangannya? Bahkan Mas Rendy sama sekali nggak kasih kabar ke aku. Apa selama ini, dia memang sengaja mau mempermainkan aku?
Gumam Kirana dalam hatinya.
Kirana merasa kalau kecelakaan itu hanyalah sebuah rekayasa saja karena Rendy tidak ingin menikahinya. Dia ingin lari dari tanggung jawab dan membiarkan Kirana sendirian menghadapi omongan-omongan buruk dari semua orang. Orang sekaya Rendy, dengan mengeluarkan uangnya, pasti bisa melakukan apa saja yang dia inginkan bukan?
Kirana merasa kalau Rendy benar-benar sangat berengsek!
................