Because, I Love You

Because, I Love You
#BILYS3 209



Joe menghentikan mobilnya tepat di persimpangan jalan yang dekat dengan sebuah Apotek. Ia setengah berlari menuju Apotek tersebut, Pelangi hanya melihatnya di balik kaca mobil Joe yang menghalanginya. Lalu Pelangi kembali terngiang-ngiang akan percakapan Joe dan Jeni di kelas tadi. Pikirannya mulai termenung jauh.


Bagaimana mungkin? Aku harus apa? Benar kata Lisa, Joe memiliki perasaan lebih pada ku. Dan Jeni, ah bagaimana dengan Jeni? Aku tidak ingin merusak persahabatan kami yang telah lama hanya karena satu orang cowok, itu memalukan.


Tak berapa lama kemudian, Pelangi di kejutkan oleh ketukan di balik kaca mobil yang menutupinya. Lamunan nya buyar, ia menoleh ke arah samping. Dilihatnya Joe memintanya untuk membuka pintu mobil, Pelangi kikuk lalu membukakannya untuk Joe.


Sebaiknya aku berpura-pura saja tidak mengetahui perihal tadi, agar semuanya baik-baik saja.


"Kemarikan lututmu." Titah Joe, setelah duduk di bawah menghadap ke arah lutut Pelangi yang terluka tadi. Pelangi menurut, sesekali dia menahan desahnya karena rasa perih dari obat yang di oleskan oleh Joe dengan sangat baik. Sebelumnya dia membersihkannya dengan perlahan lalu menempelkan sebuah plester kecil untuk menutupi luka lecet tadi.


"Terimakasih, Joe." Ucapnya dengan pelan.


Lalu kemudian Joe berdiri dengan sedikit mencondongkan wajahnya lebih dekat ke arah Pelangi yang duduk di kursi mobil.


Pelangi kikuk dan salah tingkah, dia berusaha memalingkan wajahnya ke sekitar. Meski Joe semakin mendekatkan wajahnya lebih dekat dengan wajah nya. Tiba-tiba Pelangi merasakan jantungnya berdegub lebih kencang, wajahnya mendadak merasakan panas dingin. Kedua tangannya meremas bagian kulit kursi mobil yang di dudukinya.


"Pfftt... Hahaha, kenapa dengan wajahmu itu, Langi? Lihat, kau seperti kepiting rebus yang di bumbui saos balado. Hahaha," Joe tertawa tiada henti saat melihat Pelangi kikuk dengan wajah memerah.


Dengan menarik nafasnya dalam-dalam, Pelangi mendorong tubuh Joe hingga hampir tersungkur pada pintu mobil.


"Apaan sih, Joe? Gak lucu ya, menggodaku seperti ini." Jawab Pelangi dengan wajah kesal.


"Upz, ehm.. Maafkan aku, Langi. Aku hanya, ingin menjahilimu saja. Sejak tadi kau diam saja, seperti sedang marah padaku."


"Cih, siapa juga yang marah.. Lagipula untuk apa marah pada mu hah?"


"Cih, hahaha. Hemm, baiklah. Kali ini aku akan serius dan tidak menggodamu lagi, ehm.. Apakah tadi.. Eh, kau.. Mendengar semua yang ku katakan pada Jeni?"


Pelangi semakin salah tingkah, kedua matanya terbelalak namun dia berusaha untuk tetap tenang dan santai. Iya memutuskan untuk tetap berpura-pura meski dalam hatinya kini semakin gelisah.


"A,apa? Aku tidak mendengar apapun pembicaraan diantara kalian." Jawab Pelangi dengan terbata-bata.


"Sungguh?" Joe menatapnya lebih tajam, mencoba menelaah dan membaca sikap Pelangi yang sejak tadi memainkan jemari tangannya diam-diam.


Pelangi melirik Joe sesekali, Ia menyadari jika sejak tadi Joe terus menatapnya tanpa henti. Membuatnya semakin gusar, kali ini Joe berbeda dari biasanya.


"Berhenti mandangin aku terus, nanti cantik ku hilang. Ayo kita pulang saja, aku sudah ngantuk."


"Dih, jawab dulu."


"Apaan lagi sih, Joe?"


"Kamu mendengarnya tidak?"


"Enggak!!!"


"Tuh kan, kamu pasti mendengarnya tadi."


"Joe, aku pukul lagi nih." Pelangi mengangkat tangan kanannya dengen kepalan hendak memukul Joe.


"Lalu apakah barusan kau merasa bergetar atau jantungmu berdegub lebih kencang mungkin, saat aku mendekatkan wajahku ke hadapan mu tadi."


"Aduuuh, jangan konyol deh. Apaan sih Joe, kau berbicara hal konyol sejak tadi. Ayo pulang," Bantah Pelangi mencoba mengalihkan sikapnya yang semakin tidak bisa lagi di kontrol


"Lihat aku, tatap mata ku, Langi." Ucap Joe dengan lembut.


Pelangi terpaku sesaat, dalam hatinya semakin menggila, jantungnya semakin berdegub kencang hingga terasa sesak baginya. Mata mereka bertemu dan saling memandang penuh kehangatan, begitu lekat dan mencoba saling memahami getaran yang kini menguasai hati mereka. Keduanya begitu dekat, sangat dekat.


Ya ampun, ada apa dengan jantungku ini? Kenapa berdetak sekencang ini, dan sejak kapan? Aku baru merasakannya detik ini.


Bathin Pelangi.


Berbeda dengan bathin Joe yang terus bergejolak mendorongnya agar segera menyatakan perasaan nya selama ini pada wanita yang kini duduk di hadapannya, menatapnya dengan wajah lugunya.


"Apa yang elu rasain?" Tanya Joe dengan lembut, suaranya begitu lirih dengan bibirnya yang merah lembut. Nafasnya terasa sudah memburu terhirup memasuki lubang hidung Pelangi.


"Aku..."


Bibir Pelangi mulai tampak jelas gemetaran. Joe tersenyum lembut, hatinya semakin yakin jika Pelangi yang dicintainya selama ini merasakan hal yang sama. Sudah pasti jantungnya berdetak lebih cepat, sama sepertinya saat ini.


"Langi, aku men..."


"Joe, aku lapar. Ehm, aku juga mengantuk."


Dengan cepat Pelangi menyela ucapan Joe lalu melepaskan kedua tangan nya yang sejak tadi menyentuh pipi Pelangi.


"Huhft..." Joe tampak melenguh dengan nafas panjang.


"Joe, ayo cepat antarkan aku pulang. Aku sudah sangat lapar dan ngantuk," Pelangi merengek manja seperti biasanya seolah tidak pernah terjadi hal apapun sejak tadi.


"Hmm... Baik lah, ayo kita pulang. Atau kau mau mampir ke suatu tempat dulu untuk makan? Aku akan menemanimu."


"Eh tidak tidak. Tidak perlu, aku ingin makan masakan mbok saja dirumah lalu cepat tidur."


"Hemm, baiklah." Jawab Joe dengan menutup pintu mobilnya untuk Pelangi, dan berjalan menuju pintu di sebelahnya untuk melajukan mobilnya.


Huhft, syukurlah. Aku hampir mati karena spot jantung sejak tadi, ada apa dengan ku? Ini sugguh gila. Tidak mungkin aku akan jatuh cinta dengan Joe, begitu juga dengannya. Sejak dulu, kami sudah seperti kakak beradik bukan?


Joe lalu melajukan mobilnya dengan cepat, sesekali dia melirik ke arah Pelangi dan tersenyum melihatnya sejak tadi menarik nafas dalam-dalam.


Langi, aku akan bersabar lagi. Untuk memastikan jika kau juga memiliki perasaan yang sama pada ku, aku tahu sejak tadi kau berusaha mengontrol hatimu, detak jantung mu yang terus berdegub kencang saat kita berpandangan satu sama lain.


Bathin Joe kembali bergumam.


Hingga sampai memasuki halaman rumah Pelangi, mereka tidak saling berbicara. Hanya saling melirik satu sama lain diam-diam, dengan cepat Pelangi turun dari mobil Joe tanpa sepatah dua kata pun.


"Eh, Joe. Ma,makasih ya. Hati-hati di jalan, bye..." Ucap Pelangi melambaikan tangannya lalu berbalik badan berlarian menuju rumahnya.


"Oh astaga, apa ini? Sikap apa itu barusan? Kenapa sikapnya kali ini sungguh menggemaskan jika sedang malu begitu. Hahaha, Langi.. Aku mencintaimu."


Joe menarik nafasnya kembali dalam-dalam setelah Pelangi menghilang dari pandangannya di balik pintu rumah megahnya. Lalu kemudian dia melajukan mobilnya untuk segera pulang kerumah.


Baginya hari ini merupakan hari yang cukup mengejutkan dan sedikit menguras tenaga di hati. Bagaimana tidak? Dia masih sedikit heran dan tidak mempercayai akan sikap dan ungkapan hati Jeni padanya di kelas tadi. Oelh karena itu, gara-gara itu... Joe hampir saja tidak bisa menahan diri untuk mengungkapkan perasaannya yang selama ini terhadap teman kecilnya, Pelangi.


"Hah, bodohnya aku. Gegabah, huh hampir saja..."