Because, I Love You

Because, I Love You
#BILYS3 292



Sudah tiga hari berlalu. Joe menghilang tanpa kabar, meski Pelangi dan ketiga sahabatnya sedang nongkrong. Tidak ada yang tau kemana perginya Joe, beberapa kali kami mencoba menghubunginya, datang berkunjung, tak juga menampakkan diri.


"Nak. Apakah kau sibuk?" Tanya ku sembari mengetuk pintu Pelangi.


"Masuk aja, Ma."


Aku langsung memasuki kamarnya ketika dia menyuruhku masuk.


Kulihat dia sedang duduk santai dengan sebuah laptop di pangkuannya dan beberapa buku sedikit beratakan di sisinya.


"Yah... Mama ganggu dong."


"Enggak dong, Ma. Sebentar lagi selesai kok." Jawabnya lalu di letakkan kembali laptop itu di atas meja.


"Ehm, bagaimana? Joe masih belum ada kabar?"


Pelangi menggelengkan kepalanya pelan.


"Apakah kalian bertengkar lagi?"


"Enggak kok, Ma. Terakhir kali kami bertemu saat party kelulusan kami, semua baik-baik saja."


"Aneh... Tapi, ah sudah lah. Mungkin Joe sedang ada kesibukan lain. Atau mungkin sedang memiliki privasi yang hanya dia dan orang tuanya yang tau. Jadi mereka tak ingin di ganggu dulu."


Privasi? Apa itu? Bukan kah kita selalu saling terbuka sejak dulu? Eh tapi... Sekarang berbeda. Iya bukan? Persahabatan kami tidak sehangat dulu lagi.


Bathin Pelangi bergumam.


"Ah, mama hampir lupa. Ada hal yang ingin mama sampaikan." Ujarku kemudian setelah melihatnya terdiam dengan pikiran kosong. Sudah pasti, dia memikirkan tentang Joe yanh menghilang tanpa sebab.


"Apa, Ma?" Tanya nya meresponku dengan cepat.


"Om mu, Kevin. Malam tadi berbincang dengan papa mu cukup lama, dan dia bilang akan menyiapkan satu apartemen untuk mu tinggal dekat kampus. Disitu sudah akan tinggal satu orang asisten terpercaya oleh nya, hanya saja... Bisakah kau ajak Lisa tinggal bersama mu di apartemen itu? Mama masih khawatir kau tinggal hanya berdua saja dengan asisten."


Seketika kedua mata Pelangi berbinar-binar mendengar ucapan ku. Dia begitu bahagia dan senang sekali.


"Sungguh, Ma? Kyaaaaa... Om Kevin paling mengerti."


"Hmm... Dia bilang ini hadiah untuk mu, karena kau berhasil meraih nilai tertinggi dan beasiswa terbaik ini. Mereka akan menanggung semua fasilitas mu di apartemen itu, tidak perlu memikirkan apapun lagi. Sesekali dia dan tante Nia akan datang menjengukmu disana nanti. Disaat mama dan papa belum bisa berkunjung ke tempatmu nanti."


"Ma... Aku sedih, sebentar lagi aku akan tinggal berjauhan sama mama, papa, dan adik-adikku."


"Tuh kan, mama jadi ragu lagi deh pisah sama anak mama yang paaaaling cantik ini."


"Uugh, apapun itu. Ini ku lakukan demi masa depan, aku tidak akan mengecewakan kalian semua yang banyak melakukan hal untuk ku."


"Anak pintar. Papa dan mama sangat berharap kau selalu menjadi kebanggan kami, Nak."


"Tentu, ma. Aku akan lakukan dan kabulkan itu semua."


Aku semakin mempererat pelukan ku pada tubuh mungil puteri ku yang kini sudah akan beranjak dewasa, namun harus menjauh dariku. Ah, rasanya... Aku ingin sekali melarangnya saja, berada jauh dariku. Tapi... Tugasku saat ini ialah sebagai orang tuanya. Bagaimanapun aku hanya harus tetap memberinya dukungan, didikan, dan perlindungan selagi itu baik untuk masa depannya.


Dan Kevin... Ah, aku sangat malu padamu. Hingga sampai detik ini, kau selalu berupaya melakukan yang terbaik untuk Pelangi. Yang jelas bukan darah dagingmu, semoga Tuhan yang membalasnya.


🌻🌻🌻


Tiba hari pengambilan ijazah terakhir dan segala persyaratan serta perlengkapan lainnya bagi seluruh siswa-siswi lulusan tahun ini di sekolah.


Pelangi sudah tiba di sekolah dengan ketiga sahabatnya. Mereka sedang duduk santai di kantin setelah pengambilan ijazah mereka. Mereka ingin menikmati suasana di sekolah yang di penuhi dengan kisah unik, di detik-detik terakhir mereka akan benar-benar tidak lagi menginjakkan kakinya di sekolah kebanggan mereka itu.


"Ehm, Lucas. Apa kau sungguh tidak tahu kabar Joe belakangan ini?"


"E,eh.. Aku..."


Ya ampun, gimana dong. Kenapa harus aku yang pertama di tanyakan tentang Joe.


"Aku apa? Hayo... Apa kau sengaja mau mengarang cerita kebohongan?"


Lisa dan Jeni sudah memainkan jari jemarinya di atas meja. Mereka gelisah, mereka sedang menahan diri untuk tidak menceritakan apa yang sudah Joe lakukan di malam itu.


"Joe sudah mengambil ijazah nya lebih dulu dari kita, dan itupun bukan Joe yang datang. Tapi, Daddy nya." Lucas menjelaskan dengan ragu dan menundukkan wajahnya.


"Apa? Ke,kenapa bisa?" Pelangi terkejut bukan main. Dia semakin bertanya-tanya dalam hati, ada apa sebenarnya, kenapa Joe berubah. Pelangi menatap ketiga sahabatnya yang terlihat menahan gelisah sejak tadi.


"Sa, Jeni... Kalian menyembunyikan sesuatu dariku?" Pelangi kembali bertanya, namun kali ini mengintrogasi Lisa dan Jeni. Sedang Lucas sudah tak berani menatap wajah Pelangi.


"............."


Mereka masih enggan membuka suaranya.


"Hah, aku sudah menduganya. Sejak malam itu, kalian pun tidak pernah lagi mencari-cari ketika Joe tidak ikut berkumpul bersama kami. Apakah sungguh terjadi sesuatu?"


"Lisa, Jeni... Maafin aku, aku tidak bisa diam lagi. Aku harus menyampaikan surat terakhir Joe untuk Princess cold." Lucas angkat bicara lalu memberikan sebuah surat dengan tangan gemetaran. Tampak Jeni dan Lisa sudah memelototi Lucas, namun terlambat. Surat itu sudah dengan cepat Pelangi meraihnya dengan kesal.


Hai... Halo, huhuy. Senyum dong, jangan manyun begitu.


Ehm, aku tahu kau mungkin sedang marah saat ini. Aku pergi begitu saja tanpa memberi kabar dan salam perpisahan yang special padamu, Langi.


Tapi, ada satu hal yang tak bisa aku ceritakan padamu. Maafkan aku, maaf untuk semua yang pernah aku lakukan padamu selama ini. Maaf karena pernah melukai dan mengecewakan hatimu selama ini.


Aku mundur dari kompetisi ini, aku tidak akan mengganggu lagi, banyak hal yang harus ku benahi agar aku benar-benar hidup tanpa satu penyesalan seperti yang ku rasakan saat ini. Berbahagialah, kau bebas Langi. Kau tidak perlu menjaga perasaan ku lagi, tak perlu merasa tidak enak harus dengan siapa mau menjalin hubungan nantinya. Ku harap kau akan berhasil dan sukses, sebagai calon dokter terhebat di dunia. Karena saat nantinya aku jatuh sakit, aku akan mencarimu untuk mengobatiku.


Tersenyum lah selalu, nikmati hari-hari. Lisa, Jeni, dan Lucas. Mereka adalah bagian dari hidupku juga, senang bisa menjadi bagian dari persahabatan kalian.


Bye... Aku akan selalu merindukanmu!!!


Krekkkss!


Pelangi meremas kertas surat yang terisikan tulisan tangan Joe. Ketiga sahabatnya semakin gelisah, mungkin sudah saat nya mereka menyampaikan apa yang sudah mereka sembunyikan.


"Apa-apaan ini? Kau pikir dengan begitu laku selesai semuanya, Joe? Lagi-lagi kau pergi begini." Pelangi bersuara parau, dia menangis.


Brengsek, Joe. Lagi-lagi elu ngebikin sahabat gue nangis, Joe. Jangan harap elu bakal dapetin hati Pelangi lagi.


Jeni mengepalkan kedua tangannya dengan geram.


"Untuk apa, untuk kau masih menangisi cowok brengsek seperti dia." Ujarnya kemudian. Membuat Pelangi mendongakkan kepalanya seketika.


"Jeen..." Panggil Pelangi.


"Hah, sepertinya memang aku tidak bisa lagu menyimpan ini semua. Kami tidak ingin kecolongan lagi, membiarkan hal gila di lakukan Joe lagi padamu." Lisa ikut menjawabnya kali ini.


"Ada apa dengan kalian?" Pelangi masih kebingungan dengan kedua matanya yang sembab, basah oleh air mata.


Dengan tarikan nafas dalam, Jeni membuka mulutnya berbicara dengan tegas, padat dan jelas. Tak ada sedikitpun yang terlewatkan dari kejadian malam itu. Hingga rasanya Jeni sengaja menahan nafasnya untuk menceritakan segalanya.


"Apa kau tahu, luka di kepala Exelle saat itu adalah demi menyelamatkan mu dari keegoisan Joe yang ingin menodaimu, Princess cold." Ujar Lisa menambahkan. Lucas hanya diam menunduk karena dalam hatinya dia tau, Joe sangat mencintai Pelangi, sahabatnya.


"Dan, kunci mobilmu... Dia yang sengaja menyembunyikannya, salah stau staff karyawan tante ku yang menemukan di saku kemejanya." Ujar Lucas dengan suara lirih.


Aaah, maafkan aku.. Pangeran ku. Aku memang kasihan padamu, tapi kali ini kau sudah nekat dan keterlaluan.


Pelangi terdiam tanpa suara mendengar semua yang di sampaikan oleh ketiga sahabatnya itu. Bahkan nafasnya seolah terhenti, dia merasakan aliran darah dari sekunur tubuhnya pun melemah, hingga merasa sangat pusing, ingin berteriak, ingin marah, ingin meluapkannya dengan tangis, tapi kenapa tak bisa? Tanya nya dalam hati.


"Princess cold, maafkan kami. Ini semua permintaan Exelle, dia tidak ingin kami memberitahumu kelakuan Joe yang sangat fatal itu." Lisa menghampiri Pelangi lalu merangkul bahunya.


Tak apa kan, Tuhan... Aku hanya akan membeberkan kebejatan Joe saja, tapi tentang persaudaraan mereka... Aku akan tetap merahasiakannya, karena aku rasa Exelle jauh lebih baik.


Dalam hati Lisa bergumam. Lalu kemudian Jeni pun beranjak dari posisinya, dia pun memeluk tubuh Pelangi.


"Menangislah, jangan diam begini. Gue tahu, elu sangat shock dan marah kali ini. Tapi tolong, jangan marah pada Exelle juga. Dia ngelakuin ini hanya untuk tetap menjaga persahabatan kalian. Exelle tak ingin di pandang hanya karena dia sayang sama elu, lantas dia membiarkan elu benci sama Joe."


"Aku yang paling salah disini, aku terlalu percaya jika Joe benar-benar mencintaimu, Princess cold. Aku tidak tahu jika Joe akan begitu menggilanya hingga nekat akan menghancurkanmu." Ujar Lucas beranjak berdiri kemudian memeluk tubuh Pelangi juga.


Pelangi memejamkan kedua matanya kemudian, dia menitikkan air mata, nafasnya tersengal-sengal menahan emosinya yang meluap sembari memeluk ketiga sahabatnya.


Kau sahabatku, Joe. Kau bilang kau seperti kakak bagi ku, yang akan selalu melindungi adiknya, tapi kau justru nyaris menghancurkan hidupku. Kau hampir merenggut apa yang menjadi impian ku di masa depan. Kau jahat Joe, cukup sampai disini saja. Aku tak akan lagi mengenang dan mengingat semua tentang mu. Semua telah usai, semua berakhir.