
"Nak, kau ingat siapa beliau?" Ujar ku pada Pelangi.
Pelangi menggelengkan kepala nya dengan ragu.
"Iih, Pelangi puteri ku yang jelita. Ini aunty Abel, Nak. Apakah wajah dan postur tubuhku begitu banyak berubah? Sehingga dia melupakan ku begitu saja."
Pelangi tampak mengerutkan kedua alisnya. Lalu Irgy menghampiri kami di susul oleh suami Abel.
"Tuan puteri, apakah kau percaya jika kakak Tama mu yang kau rindukan itu sudah tiba di Indonesia." Ujar Irgy membuat Pelangi terhentak seketika.
"Eh, siapa Tama? Apakah Princess cold kita pernah menyebut nama itu?" Ketiga sahabat Pelangi berbisik saling bertanya kebingungan di belakang Pelangi.
"Aunty, di..dimana kakak Tama?" Tanya Pelangi dengan antusias melihat sekeliling para tamu undangan.
"Uugh, cantik ku. Kau tidak menanyakan kabar kami dulu? Hikzt... Darling, lihat. Aku sudah menduganya jika Pelangi kita ini hanya akan mengingat Tama saja." Ujar Abel merengek manja pada suami nya.
"Sssttt... Jangan bertingkah seperti anak kecil, Tama kita sudah menginjak remaja. Biarkan mereka saling bertemu secepatnya."
"Nak, sabar lah. Dia masih di jalan menuju kemari, dia bilang sedang menyiapkan kado special untuk Pelangi kecilnya dulu."
Pelangi mulai gusar meremas kedua tangannya dan matanya tampak berkaca-kaca.
"Cucu oma yang cantik, sambil menunggu Tama sebaiknya kau sapa dulu para tamu undangan disinu. Tuh liat, oma dan opa mu sejak tadi melambaikan tangan kemari." Ucap ibu ku sembari menunjuk ke arah depan, dimana kedua orang tua Irgy dan Ira berkumpul.
"Iya oma. Pelangi akan menemui mereka dulu, Ayo teman-teman." Ajak Pelangi kemudian pada ke tiga sahabatnya itu.
Aku dan Irgy menyusulnya untuk menemani Pelangi bertemu dengan oma dan opa nya, ada sedikit rasa rsgu dan takut melihat ekspresi Ira dan puterinya yang begitu tajam melihat Pelangi.
"Hai oma, hai opa." Sapa Pelangi,
"Kau membuat kami iri, Nak. Kau lebih dulu menyapa oma baik mu, tanpa melihat ke arah kami sejak tadi." Ujar mama Irgy.
"Hem, opa ingin marah. Tapi malam ini kau begitu cantik luar biasa, selamat ulang tahun cucu opa. Semoga kebahagiaan selalu menyertaimu Nak, kau harus jadi dokter sukses dan handal nantinya."
"Harus dong, cucu siapa dulu? Oma dan opa sudah menyiapkan kado special untuk mu Nak,"
"Apa itu oma?"
"Kemarikan tangan kiri mu," Ujar mama Irgy. Pelangi menurutinya dengan menatap ke arah ku dan Irgy.
Kemudian mama Irgy memakaikan sebuah gelang berlian di tangan Pelangi yang bertuliskan inisial nama nya. Kembali terdengar seruan dari ketiga sahabatnya di belakang.
"Kau menyukainya, Nak?" Tanya papa Irgy.
"Indah sekali, terimakasih opa, oma." Jawab Pelangi dengan senyuman manis.
"Opa juga memberinya sama dengan kakak mu Cantika, agar kalian memiliki simbol yang sama para cucu kesayangan kami."
"Hai, Pelangi. Selamat ulang tahun, ini kado dari tante." Ucap Ira kemudian dengan senyum sinisnya, memberikan sebuah kotak kado besar.
"Ehm, terimakasih tante Ira. Dan kak Cantika, mana kado untuk ku?"
"Cih, aku malas mikir dan ribet. Kau kan sudah memiliki segalanya, kado apa lagi yang kau inginkan dari ku hah?" Jawab nya dengan cetus.
"OMG, apakah dia sepupu princess cold yang judes itu?" Ucap Lucas dengan setengah berbisik.
"Ssst, pelankan suara mu Lucas. Ini urusan keluarga Princess cold kita," Ucap Lisa dengan berbisik pula.
"Cih, lihat penampilannya sangat terbuka." Jawab Jeni dengan menyeringai.
Pelangi tetap tenang dan melempar senyum pada Cantika, ku tahu jika sifatnya ini tidak jauh berbeda dengan Ira. Oleh sebab itu aku sungguh tidak ingin membuat Pelangi berlama-lama disini. Ku lihat sekeliling para tamu undangan untuk mencari sosok Kevin, karena sesuai yang kita sepakati untuk membawa acara ini hingga selesai aku menunjuk Kevin.
Dari arah pojok sana, ku lihat Kevin melambaikan tangan pada ku dengan menujuk jam di pergelangan tangannya. Aku mengangguk tanda mengerti.
"Ayo, Nak. Acara sudah akan di mulai, kasihan teman-teman mu yang lain. Mereka sudah hadir disini selama satu jam, besok mereka harus pergi ke sekolah bukan?" Ujar ku.
"Tapi, Ma. Kakak Tama belum hadir disini," Jawab Pelangi dengan wajah sedih.
"Cih, siapa itu Tama? Namanya sungguh norak, apakah dia pacarmu? Hahaha, pasti orangnya pun norak." Ucap Cantika menyeletuk.
"Dia tampan, dia juga baik saat kecil dulu. Kau pasti akan menyukainya," Jawab Pelangi dengan lantang.
"Oh ya? Huh, mendengar namanya saja aku sudah ingin menertawainya." Jawab Cantika membuang wajah di depan Pelangi.
"Cantika, jaga sikap. Kau tidak lihat sejak tadi kau jadi pusat perhatian dari gaun mu yang minim itu," Ucap Irgy dengan tegas.
"Kakak, apaan sih? Memangnya puteri ku salah apa hah?"
"Sudah hentikan, kalian ini. Jangan merusak acara special Pelangi." Ujar mama Irgy dengan tegas membuat Ira semakin bersungut-sungut. Ingin rasanya aku mengumpat pada nya, tapi aku tidak ingin merusak suasana pesta ini.
"Ayo, Nak." Ajak ku kembali.
"Tapi, Ma..."
"Sudah lah, kakak Tama mu pasti hadir Nak. Tante Abel sudah berjanji, jadi ayo kita potong kue nya." Kali ini Irgy yang berusaha membujuk Pelangi. Ia menurut dengan melangkah ragu.
"Baik lah, para tamu undangan sekalian. Terimakasih telah bersedia hadir dalam pesta special puteri kami, Pelangi yang ke 17 tahun. Semoga kelak dia menjadi sosok yang selalu membanggakan kami, keluarga nya."
Sontak para tamu undangan bertepuk tangan dengan gembira menanggapi ucapan Kevin yang tengah berdiri di dekat sebuah meja yang diatasnya telah di penuhi hiasan cantik. Sebuah kue tart berwarna putih dan hiasan warna pink di setiap sisinya menjulang tinggi hingga menutupi bagian dada Pelangi saja.
"Berbahagialah, Nak. Ayo kita semua menyanyikan lagu ucapan selamat ulang tahun untuk Pelangi kita." Ucap Kevin kembali.
*Selamat ulang tahun, kami doakan... xxxxxxxxx*
Semua tampak bahagia riang gembira bernyanyi untuk puteri ku, Pelangi. Namun Pelangi terlihat tidak fokus, dia seolah sedang mencari sosok yang sangat jelas dia nantikan sejak tadi. Ya, dia menunggu kedatangan Tama yang sejak awal aku pun ingin bertemu dengannya.
"Pelangi, sekarang kita potong kue nya Nak." Ujar Nia dengan senyuman bahagia, sejak awal kedatangannya dia lah yang begitu antusias mengantur ini semua. Bahkan kur tart indah ini, adalah hasil karya tangan Kevin sendiri.
"Tante, kue nya begitu cantik. Sangat sayang jika aku memotongnya," Ujar Pelangi dengan wajah memelas membuat kami menertawainya hingga terkekeh-kekeh.
"HAPPY BIRTHDAY, MY PRINCES COLD." Tiba-tiba ketiga sahabat Pelangi berucap kompak mengucapkannya, kemudian mereka bernyanyi untuk segera memotong kue tersebut. Di susul oleh tamu undangan teman-teman Pelangi lainnya.
"Ok, ok. Baik lah, ini demi kalian semua. Aku akan rela memotong kue cantik ini," Jawab Pelangi dengan meraih sebuah pisau potong untuk memotong kue tart tersebut.
"Tunggu !!!"
Tak tak tak..
Langkah kaki nya seolah begitu di hentakkan berjalan menyusup di tengah para tamu undangan menghampiri ke arah Pelangi.
Suara yang begitu lantang terdengar di balik para tamu undangan yang mengelilingi tubuh Pelangi. Seseorang datang, namun wajah dan setengah badannya hampir tertutupi oleh bucket bunga mawar yang begitu besar, dia seolah hampir tidak mampu membawanya.
Kami tercengang sejenak, begitu pun Pelangi yang masih memegang pisau pemotong kue tart tadi. Lagi lagi terdengar seruan beberapa tamu undangan melihat bucket bunga yang begitu besar tersebut berjalan ke arah Pelangi. Begitupun ketiga sahabat Pelangi yang mulai bertingkah konyol berdecak gemas.
"Selamat ulang tahun, Langi. Maaf, aku datang terlambat." Ujar nya sembari mengesampingkan bucket bunga tersebut agar terlihat wajah nya.
"JOE?" Pelangi terkejut bukan main saat di ketahuinya di balik bucket bunga mawar yang begitu besar tadi.
"Hehe, kenapa? Kau terkejut?"
"Cih, gak usah lebay deh." Ujar Pelangi cetus.
Kemudian Abel dan suami nya mendekat ke arah Joe yang tengah berdiri di depan Pelangi saat ini. Membuat kami semakin kebingungan.
"Fanny, Irgy, dan puteri jelita ku Pelangi. Ini Tama, putera tampan ku." Ucap Abel memperkenalkan, dengan sikap santainya Joe tersenyum ngenyir bak kuda.
"OMG, jadi Joe..." Ucapan serentak ketiga sahabat Pelangi terhenti dan saling menoleh satu sama lain.
"Maafkan aku, Langi. Selama ini aku tidak segera jujur pada mu, karena aku ingin kau yang mengenaliku sejak awal."
"Nak, sejak awal kau menyapa kami di sekolah Pelangi aku sudah merasa jika kau bagian dari orang terdekat ku. Kau nakal, kau masih saja suka jahil. Kemari," Ucap ku kemudian dan memeluknya dengan penuh kasih sayang.
"Kau sungguh hebat dalam berakting, Nak. Lihat, kau tumbuh begitu gagah dan tampan dengan kumis tipis mu ini." Ujar Irgy dengan mengacak gemas rambut Joe.
"Hihihi, maafkan kelakuan putera kami. Dia lah yang bersikeras menahan dan mengancam kami untuk tidak membocorkan identitasnya. Dan sejak kami tinggal di LN, di mengubah nama panggilan depannya menjadi panggilan sehari-hati yang ia banggakan disana."
"Kau, kau menyebalkan." Ucap Pelangi dengan menitikkan air mata, sejak tadi dia hanya tercengang seolah tidak mempercayai kejutan ini. Joe lalu menghampirinya, menyentuh kedua pipi Pelangi dan menyeka air matanya.
"Ssssttt... Aah, kenapa kau selalu saja mudah menitikkan air mata di depan ku? Kau terlihat jelek sekali."
"Kau nakal, kau jahat, kau mempermainkan ku." Pelangi memukuli tubuh Joe tanpa ampun. Lalu kemudian tak tanggung lagi, tanpa menyadari keadaan sekitar mereka Joe memeluk tubuh Pelangi.
"Maafkan aku, Langi." Ujarnya dengan lirih.
"Huwaaaaaaah... Mereka seperti pasangan kekasih yang telah lama di pisahkan lalu bertemu kembali, aku terharu. Hizt, ini pemandangan romansa yang begitu mengharukan." Ujar Lisa dengan sesunggukan.
"Hikzt, kau betul. Sa, mungkinkah harapan ku untuk mendapatkan hati Joe sudah pupus". Ucap Lucas bersandar pada pundak Lisa.
"Kau jangan gila, hikzt... Joe mana mau dengan waria sepertimu." Jawab Lisa lagi.
Namun Jeni, begitu terlihat gusar dan gelisah tanpa mampu mengeluarkan sepatah dua kata pun. Ia hanya terus berusaha menahan gemuruh di hati nya.